Aku memainkan ponselku sembari menikmati waktu santai dengan rambut basah yang masih kubiarkan terbungkus dalam handuk pink milikku. Tubuhku kusandarkan pada kepala ranjang dan kaki bergoyang-goyang. Ponsel adalah salah satu alat yang membuatku lupa waktu dan aku senang dengan kenyataan bahwa aku terkadang membuang uang dengan hal tak berharga.
Bodohnya lagi, ponsel itu bahkan tak mendapat notif dari someone special, tapi tetap saja aku seolah memiliki kepentingan hingga terus membuka aplikasi chat. Ketika hendak meletakkan ponsel dan membalur tubuh dengan body lotion, ponselku berbunyi.
Aku melihat nomor asing yang sampai saat ini belum kuberi nama. Dia adalah pria yang mengirimiku chat seminggu yang lalu dan aku belum sempat menyimpan kontaknya. Sepertinya ia tidak terlalu berniat mendekatiku melihat bagaimana usahanya mendekati terlalu terlihat tidak tertarik.
Aku segera menyimpan nomornya dan membuka chat yang ia kirim.
Andika : Hai Erina. Sedang apa?
Aku memutar bola mata dengan malas karena pertanyaannya terkesan sangat membosankan. Aku memilih mengabaikan pesannya untuk beberapa saat supaya tidak terkesan buru-buru dan membuatnya berpikir bahwa aku menantikan chat darinya. Begitu dua menit berlalu, aku membalas pesannya.
Erina : Sedang berkedip membaca pesan sedang apa dari seseorang tak dikenal.
Andika : Maaf, saya hanya merasa canggung.
Erina : It’s okay. Oh ya, aku ingin bertanya.
Andika : Silahkan.
Aku cukup ragu sebenarnya untuk bertanya banyak hal pada orang asing karena mungkin saja pertanyaanku akan mengusiknya atau bahkan menyinggung.
Erina : Kenapa kamu mencari seorang istri melalui orang lain?
Jujur, aku merasa bingung dengan orang yang bisa berhubungan secara virtual karena untuk mengenal orang secara nyata saja aku masih ragu. Bukannya aku tidak pernah dekat dengan seorang pria secara virtual, tetapi sejauh ini aku tidak pernah berpikir bisa menjalin hubungan yang lebih.
Terkadang aku hanya menanggapi karena bosan atau kebetulan sedang ada waktu dan niat. Aku tidak pernah berpikir bisa menjalin hubungan lebih dari teman dengan orang yang bahkan tak kulihat secara nyata. Jadi wajarkan kalau aku mempertanyakan hal itu kepada Andika. Yang dia cari adalah seorang istri, bukan teman, jadi seharusnya dia mencari yang nyata.
Aku memang sering menggoda teman-temanku untuk memperkenalkan aku pada salah satu teman pria mereka, tetapi aku tidak pernah berpikir serius tentang itu. Aku hanya bersikap seolah aku memang sangat membutuhkan teman kencan, padahal nyatanya tidak.
Aku kembali membuka ruang obrolan dan membaca pesan Andika.
Andika : Karena saya tidak bisa mencari sendiri. Oke, itu terdengar memalukan, tetapi saya sudah mencobanya beberapa kali dan gagal. Kalau kamu tidak nyaman dengan hal ini, kita bisa bertemu langsung.
Aku tersenyum kecil dan membayangkan seberapa buruk dirinya hingga tidak bisa mencari calon sendiri. Seberap buruk dirinya hingga gagal membangun hubungan beberapa kali. Atau sebenarnya dia sedang berpura-pura supaya bisa menutupi sifat playboy-nya mungkin.
Erina : Nggak bisa sekarang. Aku nggak bisa langsung ketemu sama orang yang hanya kenal di ponsel.
Andika : Tapi aku merasa canggung untuk memulai percapakan lewat chat.
“Aku juga canggung, kampret.” desisku padanya hanya dengan menatap namanya di ponsel.
Erina : Anggap saja kita teman dekat. Aku akan menjawab kalau mau dan akan menolak jika tidak ingin menjawabnya. Kamu juga bisa begitu.
Andika : Baiklah. Kita mulai dari awal. Umur?
Kalau saja aku sedang chattingan dengan temanku dan dia mempertanyakan hal yang pernah dia tanya, aku akan mengatakan “kamu udah pikun ya?” bukannya membalas dengan sok sabar seperti ini.
Erina : 28. Aku udah pernah menjawabnya.
Andika : Aku 34 tahun, itu artinya kamu lebih muda 6 tahun. Apa nggak canggung kalau kamu memanggil orang yang usianya 6 tahun di atas kamu dengan nama saja?
Aku tersenyum tak menyangka kalau ia akan mengatakan hal seperti itu. Bukankah lebih canggung lagi kalau tiba-tiba aku memanggilnya abang dengan sok akrab padahal kami baru kenal. Aku jelas sudah mengerti kode itu, bahwa ia ingin dipanggil dengan sebutan abang. Entah kenapa aku langsung bepikir seperti itu.
Erina : Abang. Kamu mau dipanggil abang kan?
Aku melihat tanda bahwa dia sedang mengetik balasan. Apa dia punya banyak waktu senggang sampai membalas pesanku dengan begitu cepat? Aku jadi takut kalau dia pengangguran. Oh, tapi mengingat ia baru mengirimiku chat setelah satu minggu berlalu, itu cukup membuktikan bahwa dia sibuk dengan pekerjaan atau justru gebetan online yang lain.
Andika : Eh, saya hanya bertanya saja.
“Alasan.” desisku tak bisa mempercayai pembelaan dirinya begitu saja.
Erina : Maaf kalau adek terlalu peka, bang.
Aku bergidik membaca pesanku sendiri.
Andika : Kenapa kamu langsung berpikir saya ingin dipanggil abang, bukan Mas?
Aku mengangkat bahuku sendiri dengan wajah kebingungan, lalu membalas pesannya.
Erina : Tiba-tiba aja ngerasa begitu.
Andika : Berapa bersaudara?
Melihat ia membahas hal lain, itu artinya dugaanku memang benar. Kalau tidak, ia pasti akan mengoreksinya.
Erina : 2 bersaudara. Abang?
Aku mengernyit ketika menunggu balasan pesan itu hampir dua menit. Kenapa dia tiba-tiba lama membalasnya. Apa pertanyaanku sulit dijawab? Atau dia sedang punya kesibukan.
Andika : Saya anak tunggal.
Erina : Kenapa pakai bahasa baku saya, rasanya jadi justru lebih canggung.
Protesku terus terang. Aku tidak terlalu suka mendengar seseorang menggunakan bahasa baku jika ingin mengakrabkan diri.
Andika : Oh iya, maaf, udah kebiasaan.
“Rin, ayo makan” teriakan Mama membuatku mengernyit dan melihat jam dengan terbelalak. Astaga, bisa-bisanya aku tidak tahu kalau ini sudah hampir jam tujuh. Aku dengan cepat melepaskan handuk di kepalaku dan menyisir rambutku dengan rapi.
Aku menatap Mama yang sudah menyantap makananya lebih dulu. Aku duduk di depan Mama dan menatap wajah tua itu dengan lemah.
“Kenapa kamu?” tanya Mama dan aku membuang pandangan ke arah lain.
“Nggak papa.”
“Papa mau datang ke sini kata abangmu.” Aku langsung mengangkat kepala dan menghentikan kegiatan menyendok nasi ke piring. Tiba-tiba saja suasana hatiku menjadi buruk dan aku jadi tidak berselera makan mendengar berita itu.
“Kapan? Biar aku tau untuk nggak di rumah selama berapa hari.”
“Kamu tuh nggak boleh begitu sama Papa kamu. Kamu bisa tinggal dengan enak di sini karena Papa kamu.”
Aku tersenyum miring mendengar ucapan Mama, “Aku nggak perlu tinggal di sini. Kalau bukan karena Mama tinggal sendiri, aku nggak akan mau mijakin kaki di rumah ini.”
“Erina. Walau bagaimanapun dia itu Papa kamu.”
“Aku nggak nolak kenyataan bahwa dia Papa aku Ma, tapi aku cuma menolak bertemu. Kalau Mama masih mau ketemu sama Papa, jangan ajak aku.”
“Abang kamu juga datang. Kamu nggak kangen sama abang?” tanya Mama masih berusaha membujukku dengan iming-iming abangku akan datang.
Aku menggelengkan kepala, “Abang bakalan nyari aku kalau memang abang ikut ke Jakarta. Mama cukup bilang kapan Papa ke Jakarta.” balasku. Aku jelas lebih mengenal Rendi Carreno, abangku satu-satunya yang sudah menikah dan tinggal di Medan.
“Mama nggak akan kasih tau.”
“Yaudah, aku juga bisa nyari hotel, penginapan atau bahkan kolong jembatan buat tempat tinggal. Rumah ini bukan satu-satunya tempat berteduh di kota ini.” Aku meninggalkan meja makan.
Aku bisa mendengar hela nafas Mama yang terasa kasar dan berat, tapi aku tidak peduli karena yang kuinginkan adalah menghindari Papa. “Papa datang dua hari lagi.” ujar Mama dan itu cukup untuk membuatku merasa menang karena Mama mengalah.
Aku benci ketika harus menjelaskan kepada semua orang bahwa aku memiliki ayah b******k, tapi aku ingin memberitahukan hal itu. Papaku yang b******k itu berhasil merusak keluarga kecilnya yang bahagia dan Mama yang bodoh justru mempertahankannya.
Kalau bukan karena kebodohan Papa, mungkin saat ini aku tinggal sendirian di Jakarta, bukannya bersama Mama yang seharusnya mendampingi Papa di Medan. Aku benci kalau orang lain tahu bahwa pria b******k yang berselingkuh dan menikah dengan selingkuhannya itu adalah Papaku, tapi aku justru ingin sekali berteriak atau menghampiri orang-orang untuk memberitahukan bagaimana perlakuan brengseknya kepada Mama.
Ya, Papaku berselingkuh dengan wanita yang hampir sebaya dengan abangku. Evan Carreno, papaku, berselingkuh dengan wanita bernama Maya yang kusebut jalang dan mereka bahkan tinggal bersama di rumah yang harusnya menjadi tempat tinggal keluarga kecil kami. Usianya bahkan hanya berbeda empat tahun dari abangku yang usianya 31 tahun.
Rasanya menjijikkan mengenal sosok ayah yang dulu kubanggakan. Wajahnya yang tak seberapa itu membuatku mengutuknya karena kebodohannya berselingkuh dengan wanita yang jelas-jelas lebih jelek dari Mama.
“Sialan.” Makiku kesal dan membaringkan tubuhku menatap langit-langit kamar sambil merenung.
Setiap kali ingat hubungan Papa dan Mama, aku sering kali berbicara sendiri dan bertanya pada angin yang berlalu, “Apakah hubunganku nantinya akan sama seperti hubungan Mama dan Papa?”
“Apa aku bisa menjalani hubungan rumah tangga tanpa memandang negatif karena teringat hubungan Mama dan Papaku sendiri?”
Pemikiran negatif itulah yang menghancurkan hubunganku dengan Alka. Dia dengan segala kesibukannya dan sikap cueknya membuatku banyak berpikir untuk mempertimbangkan hubungan kami ke arah yang lebih jauh. Kesibukannya itu terkadang membuatku kesal karena aku takut ia juga mengkhianati aku, hingga akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami. Aku tidak bisa menahan diri untuk berpikir buruk mengenai Alka.