04. Andika

1101 Words
Aku baru saja memastikan bahwa Arez sudah tidur, kemudian kembali ke kamarku sendiri dan membaringkan diri. Untuk beberapa saat aku memainkan ponselku untuk mengecek hal-hal yang cukup penting terkait kampus ataupun mahasiswa. Saat hendak tidur, tiba-tiba terlintas di ingatanku mengenai ucapan Risma tadi yang mendorongku untuk segera mengirim pesan kepada pemilik nomor yang sudah ia berikan. Jujur, sebenarnya aku cukup ragu untuk mengenal seseorang dari orang lain apalagi dari sosial media, tetapi aku juga sudah menyerah mencoba berhubungan langsung dengan teman atau orang yang kukenal sendiri. Mereka langsung menolakku mentah-mentah karena aku memiliki Arez dan mereka tak ingin menerima itu. Dengan beberapa pertimbangan, aku akhirnya memutuskan untuk mencoba menghubungi pemilik nomor itu. Aku mengecek nomor dan profilnya. Ia tidak memasang foto sendiri, tetapi menggunakan foto dengan sebuah kutipan yang cukup membuatku tersenyum. ‘Orang tua suka nanya anaknya, kapan nyusul kapan nyusul pas lagi kondangan? Boleh nggak sih kalau anak nanya balik, kapan nyusul kapan nyusul pas ke pemakaman?’ Sepertinya pertanyaan tentang kapan nikah memang membuat orang-orang jadi kesal juga. Aku jadi bisa menduga kalau ia juga sama denganku yang selalu dituntut Mama untuk segera mencari pacar. Tidak salah sih kalau orang tua mendorong anaknya dengan bertanya begitu, tetapi terkadang anak bisa menjadi stress karena pertanyaan mereka. Aku melihat namanya dan bergumam sendiri, “Erina Carreno.” Aku segera membuka kolom chat dan berpikir beberapa saat untuk mempertimangkan apa yang perlu kukatakan kepadanya. Aku takut kalau kesan pertama kami jadi tidak baik karena aku salah menggunakan kata atau Bahasa. Andika : Selamat malam Erina. Saya Andika. Saya mendapat nomor kamu dari Risma. Maaf kalau saya mengganggu, tetapi saya hanya ingin menganal kamu saja. Aku langsung menutup kolom chat begitu selesai mengirim pesan itu. Aku terlalu takut kalau nantinya dia langsung membalas pesan itu dan mendapati aku dalam hitungan detik sudah membacanya. Walau bagaimanapun, aku harus menunjukkan sikap bahwa aku tidak terlalu berharap lebih padanya. Ya, walaupun aku lebih yakin kalau dia akan membalas pesanku besok dibandikan waktu selarut ini. Tidak kuduga saat ia terbukti online dan sudah membaca pesanku. Bahkan kini terlihat jelas bahwa ia sedang mengetik dan aku menantikan balasannya dengan sedikit takut. Aku bukan orang yang pandai membawa suasana apalagi dengan orang baru. Bahkan teman dekatku bilang kalau orang lain akan merasa bosan jika berbincang denganku. Erina : Gila ya, baru kenal udah mau anal aja. Aku membaca chat itu tanpa kubuka dan aku cukup terkejut dengan tanggapannya sehingga aku langsung mengklik pesan itu dan membaca ulang pesanku dengan mata terbelalak begitu melihat typo yang sangat meresahkan. Aku mengatakan ‘ingin menganalnya, bukan mengenalnya’. Oh aku pasti sudah gila dan kehabisan akal. Matilah aku. Orang dewasa mana yang tidak mengerti kata itu? Orang dewasa mana? Astaga. Matilah dirimu Andika. Buru-buru aku mengetik balasan untuk pesannya. Aku tidak ingin membuatnya salah paham dan menganggapku sebagai pria b******k. Andika : Itu typo. Aku nggak tahu kalau aku justru mengetik kalimat itu. Maaf. “Nggak akan dibalas Andika b**o. Lo makan apa sih sampai ngetik aja nggak beres begitu.” Aku memaki diriku sendiri, “Gimana bisa lo mengirim kata b******k itu di waktu pertama kali kenalan.” Aku benar-benar tak habis akal dengan diriku sendiri. Masih menyesali satu kata g****k yang akan merusak citraku sebagai duda baik-baik. Dengan penuh penyesalan aku meletakkan ponselku begitu saja. Ting “Chat?” aku sontak kembali mengambil ponsel dan langsung membuka notifikasi yang masuk. Cukup terkejut melihat gadis itu masih membalas pesanku. Erina : It’s okay, aku ngerti betapa gugupnya kamu chattingan sama orang cantik sekalipun aku nggak pasang foto sendiri. Walaupun kamu udah tau nama aku, tapi lebih akurat kalau aku yang ngasih tahu kan. Nama aku Erina Carreno. Aku terkekeh membaca pesannya karena tampaknya ia adalah orang yang sangat kepedean dan ramah. Aku menebak kalau dia adalah orang yang menyenangkan di kehidupan nyata, tapi entahlah, siapa tahu dugaanku salah. Andika : Menurutmu lebih efektif berbicara lewat chat atau bertemu langsung. Aku sendiri berpikir bahwa bertemu langsung akan lebih baik, tetapi mengingat bahwa kami masih belum kenal sama sekali, alangkah lebih baiknya kalau lewat chat terlebih dahulu. Setidaknya aku bisa mengenal dan memahaminya secara virtual. Erina : Sepertinya lebih baik lewat chat dulu. Setidaknya kita bisa saling membayangkan dan penasaran dengan wajah satu sama lain kalau belum bertemu. Aku suka tanggapannya. Belum apa-apa saja, aku sudah penasaran dengan wajahnya karena sikapnya yang menghibur dan sepertinya tidak secuek yang Risma bilang. Andika : Aku 34 tahun. Berapa umur kamu? Aku sengaja memberitahukan usiaku dan bertanya kembali padanya. Aku tidak ingin menjalin hubungan dengan wanita yang terlalu muda karena mungkin akan lebih berat untuk menyatukan pola pikir kami. Erina : Tua ya. Kamu udah kerja kan? Kenapa jomblo? Aku cukup terkejut dengan pertanyaannya yang terang-terangan karena terkejut dengan umurku. Ia bahkan tak sempat menjawab pertanyaanku, berarti umur kami memiliki jarak yang cukup banyak sampai dia mengatakan aku tua. Andika : Ya, aku kerja. Kamu sendiri kenapa jomblo? Aku balas bertanya. Erina : Biasalah, orang cantik pasti banyak yang menganggap udah punya pacar, jadi mereka nggak berani deketin. Aku menatap pesan itu dengan kehilangan kata-kata. Bagaimana bisa aku menjelaskan perasaan yang sulit untuk aku katakan sendiri setelah melihat tanggapannya. Sepertinya Risma salah ngasih nomor telepon. Tidak mungkin gadis yang kuhubungi ini sama dengan cerita Risma. Andika : Kamu asli orang Jakarta? Erina : Enggak, aku orang Medan yang kebetulan dulu kuliah di Jakarta dan akhirnya nyari kerja di sini. Kamu? Andika : Aku asli Jakarta tapi pernah tinggal di Medan selama beberapa tahun karena kuliah di sana. Erina : Sekarang kamu kerja apa? Andika : Aku dosen. Umur kamu sendiri berapa? Erina : Dosen? Seharusnya gaji kamu lumayanlah. Aku 28 tahun. Andika : Apa wajar di hari pertama berkenalan langsung membahas gaji? Aku menutup ponselku sambil menatap langit-langit kamar dengan bingung. Jujur, aku sudah lama jomblo dan tidak dekat dengan wanita, jadi aku tidak tahu kalau ternyata pola pendekatan sekarang sangat berbeda dengan dulu ketika aku masih lajang. Itu hal yang wajar untuk dipertanyakan ketika berpacaran, tapi masalahnya kami bahkan baru kenalan dan dia sudah menanyakan itu. Aku bingung harus berpikir positif atau negatif. Erina : Ah, itu, wajar kalau kamu terganggu, tapi aku ingin memastikan kalau cowok yang deketin aku nantinya bisa menuhin kebutuhan sehari-hari keluarga. Aku nyari calon suami bukan pacar, jadi aku nggak mau banyak membuang waktu dengan bermain-main. Andika : Aku juga nyari calon sitri, jadi tidak bermaksud main-main juga. Aku menatap ponselku setelah pesan itu tidak terbalas selama lima menit, akhirnya aku memilih menutup ruang chat karena aku yakin dia mungkin sudah tertidur atau memang sengaja tidak mengirim pesan lagi. Lagipula ini sudah sangat malam, jadi wajar saja kalau ia sudah terlelap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD