Prolog
“MAS KAMU GAK BISA GINIIN AKU!!”
Teriakan itu membahana di sebuah sisi rumah mewah yang sepi, terdengar melengking memecah malam. Seorang perempuan dengan gaun satin berwarna merah, terseok-seok mengikuti langkah pria yang mencengkram lengannya teramat kencang. Cukup kencang hingga kuku-kuku yang menekan kulit itu acap kali meninggalkan goresan panjang seiring berontakam perempuan itu. Sang pria yang masih mengenakan jas lengkap dengan rambut tersisir rapi ke belakang itu, seolah menjadi tuli. Abai akan teriakan dan rontaan perempuan yang notabene istrinya sendiri.
Rumah besar yang memiliki ratusan pekerja dan penghuni, untuk pertama kalinya tampak sunyi seolah tempat itu menjelma menjadi sebuah rumah kosong. Namun, lampu-lampu yang menyala dan terlihat dari jendela yang ada. Jelas menunjukkan bahwa hampir sebagian besar penghuni masih terjaga. Sadar bahwa sang suami tak kunjung membalas sahutannya, perempuan itu mulai bergetar ketakutan. Terlebih ketika dia perlahan menyadari kemana sang suami membawanya pergi.
”Leiden…”
Ketika kaki-kaki kotor sang puan akhirnya menyentuh permukaan berjerami, keringat dingin mulai mengalir dari pelipisnya. Ada beberapa pria yang berdiri menunggu di depan sebuah ruangan berjeruji besi. Pandangan mereka semua menunduk, enggan bersitatap mata dengan sang puan yang penampilannya sudah berantakan bukan main. Berbanding terbalik dengan seperti apa perempuan itu terlihat. “Leiden.”
”Aku sudah bilang sampai kapan pun aku akan memaafkan kesalahanmu demi putra kita.” Sang pria, Leiden, untuk kali pertama bersitatap mata dengan sang istri. Ini mungkin kali pertama keduanya kembali bertemu pandang, sejak mereka mulai terikat dalam hubungan pernikahan. Tatapan sang pria tetap sama, dingin dan kosong tanpa adanya afeksi apapun pada sang puan. Namun kali ini amarah tampak dalam tatapannya, sukses membuat sang puan bergetar. Bisa merasakan bahwa dia sungguh berada dalam masalah besar.
”Ka-kamu mau apa?” tanya sang puan mulai berjalan mundur, namun alih-alih dapat melarikan diri. Salah seorang suruhan suaminya itu mencengkram tangan, dan menendang bagian belakang lututnya. Membuatnya mengaduh dan tersungkur ke tanah yang kotor dan kasar. Air mata mulai mengalir dari ujung matanya. “Leiden aku bisa jelasin-“
”Aku bisa selalu memaafkan kamu Hera.” Leiden maju, bersimpuh seraya mencengkram lembut rahang sang istri. “Kamu menolakku di ranjang aku menerimanya, kamu membawa pria-pria lain ke ranjang kita aku menerimanya, kamu enggan menjadi seorang ibu untuk putra kita aku menerimanya. Hanya satu yang kubilang padamu takkan pernah aku terima kalau kamu lakukan. Dan itu adalah pengkhianatan.”
”KAMU TAU AKU GAK BISA APA-APA MELAWAN KEMAUAN ORANG TUA KU!”
”Sudah cukup berbohongnya Hera,” gumam Leiden dingin. “Kamu tau aku tidak sebodoh itu untuk membedakan siapa yang salah dan benar.”
Untuk kesekian kalinya, Hera kembali diseret. Kini semua pria yang berdiri menunggu di depan jeruji besi mulai menyingkir. Pintu jeruji sudah terbuka lebar. Perlahan Hera bisa melihat apa yang ada di balik jeruji besi itu. Ada sebuah cekungan cukup dalam, dan dari tempatnya Hera bisa melihat seekor singa sedang berdiri di salah satu sudut. Matanya menatap ke arahnya dengan tajam, seolah menanti dia bergabung ke dalam sana. Menunggu ‘hidangan’ yang sudah lama tak dia terima.
”Kamu tidak perlu khawatir,” bisik Leiden teramat dekat di telinga sang istri. “Aku akan pastikan setelah ini putra kita mendapat hidup yang layak dari kedua orang tuanya.”
Ucapan itu membuat Hera tertawa terbahak-bahak di tengah air matanya yang terus bercucuran. “Kamu bicara soal pengkhianatan, tapi kami juga mengkhianatiku Leiden. Perempuan yang terus kamu lindungi, hingga ayahku menghabiskan sebagian besar kekayaannya secara percuma demi menyingkirkannya itu. Kamu pikir aku tidak tau hubungan yang terlibat di antara kalian?”
”Kamu harus ingat satu hal Hera.” Leiden menatap sang istri dingin. “Kamu orang pertama yang mengkhianati pernikahan kita, kamu yang pertama mencintai dan menghabiskan malam dengan pria-pria lain selain diriku. Aku memaafkan pengkhianatanmu itu, selama kamu tidak mengkhianatiku, keluargaku dan keluarga kita. Kamu sudah mencoreng harga diri keluargaku bahkan sampai menyeret anak kita. Pengkhianatanmu kali ini tidak bisa kutolerir lagi.”
”Baj-“
Belum selesai Hera berbicara, tubuhnya mendadak didorong. Terbentur beberapa kali di tangga yang terbuat dari tanah dan bebatuan. Sukses membuat seluruh badannya terasa sakit. Darah mulai mengucur sana-sini, dan Hera nyaris kehilangan kesadaran. Di tengah matanya yang kabur akibat darah yang mulai mengalir dari pelipis hingga mengenai mata. Dia bisa melihat bagaimana singa di ujung sana mulai mendekat dengan air liur yang menetes. Suara derik pintu besi yang kembali tertutup menjadi apa yang perempuan itu dengar sebelum ia mulai merasakan sesuatu mulai mengigit pundaknya.
”Bajing-“
”LILIAN!”
Teriakan yang berada tepat di dekat telinganya membuat Lilian berjengit kaget. Setengah melempar ponsel di tangannya, membuat benda itu terbanting dengan cukup keras ke atas meja. Entah apa alas mouse di atas mejanya itu cukup membantu mengurangi efek benturan. Lilian menghela napas, menatap kerjanya lelah. “Kenapa Mbak Suci?”
”Kamu ituloh, mantengin terus hp.” Suci, yang duduk tepat di bilik sebelah Lilian menunjuk kertas nasi berisikan gado-gado yang permukaannya mulai mengering akibat terlalu lama diabaikan. “Gado-gado kamu tuh sampai mau kering.”
”Duh Mbak aku lagi seru banget,” ujar Lilian segera menyeret kursinya mendekati sang rekan kerjanya. “Kamu udah liat update terbaru novel Asmara Tuan Leiden nggak sih Mbak? Hera akhirnya mati!”
”Hah? Serius?” Bergegas Suci meraih ponselnya, mulai mencari aplikasi novel daring yang dia dan Lilian sama-sama gunakan. Membuka novel yang berada di daftar teratas koleksinya. Asmara Tuan Leiden. “Akhirnya… Berarti sekarang Nayla sama Tuan Leiden gak ada hambatannya lagi ya?”
”Iya Mbak! Makanya aku baca sekarang,” gumam Lilian melihat bagaimana penulis kegemarannya ternyata melakukan publikasi chapter cukup banyak. Menyadari masih ada 3 chapter yang tersisa menuju akhir novel, dengan dua chapter terakhir bertanda adegan khusus dewasa. Cepat-cepat ia mematikan layar ponselnya.
”Pokoknya hari ini aku bakal cepet-cepet selesein kerjaanku, biar bisa selesaiin dan baca ulang novelnya.”