"Toloong!!" pekik salah seorang perempuan. Suara itu pula yang membangunkan Rosy.
"Ah, aku ketiduran lagi. Kenapa pake mimpi itu? Pria itu? Ah... semuanya gapenting! Itu cuma mimpi!" gerutunya.
Sejenak, ia mengucek matanya. Melihat area depan dimana pohon-pohon masih menari indah. Sesekali, angin turut membelainya.
Tak ada yang tahu, kekawatiran terbuat dari apa. Terkadang, kita merasa bisa kawatir, karena pemicu orang lain. Namun, tak jarang pula ia hadir begitu saja. Bahkan, tanpa alasan apapun yang bisa dicerna mata dan rasa.
"Bu Mei? Sebenarnya kamu kemana?" gumam Rosy.
"Ah, kenapa aku harus memikirkan mereka? Tidak! Ini cuma mimpi! Aku sudah sampai sejauh ini. Aku harus lupakan mereka!" pekiknya sendiri.
"Tolooong!! Siapa saja tolong!!" pekik salah seorang perempuan, tak jauh dari Rosy duduk.
"Suara itu lagi? Tapi, bukan terdengar seperti suara Lily? Itu seperti seorang perempuan yang lebih dewasa. Aku harus kesana!"
Tak perlu waktu lama, gadis itu mengunci rambutnya seadanya. Ia tak begitu pedulikan bagaimana cara menatanya. Rambutnya yang terlanjur panjang, akan repot kalau tak dikuncirnya.
"Toloong!!" Suara meminta tolong kembali Rosy dengar. Ia pun tergopoh-gopoh berjalan sembari sesekali berlarian.
Sampailah ia di sebuah pemukiman. Sebuah desa nan asri, tapi seperti ada yang tidak beres. Perempuan yang meminta tolong itu sedang diintrogasi dua orang lelaki.
"Laki-laki itu? Bukankah mereka yang sebelumnya mengintrogasiku?"
"Tidaaak!! Aku tak mau menjual sawahku!! Sampai matipun aku gak sudi!!" pekik perempuan berdaster merah dengan kerudung yang terlihat sedikit berantakan di kepalanya.
"Jangan melawan! Untung saja kami menawarkan baik-baik! Bisa saja kami langsung bangun pabrik disana. Dan ibu.... tak punya kompensasi apapun!" hardik salah satu dari laki-laki bersenjata itu.
"Apa? Kalian mau maling di negeri sendiri? Kalian sudah gila, hah?! Siapa?! Siapa yang bayar kalian?!! Sini!! Saya hadapi!!"
Seolah tak mau kalah dengan hardikkan dua laki-laki bersenjata itu, perempuan berdaster merah itupun balik mengardiknya.
"Apa kalian gak mikir pake otak 'hah? Otak kalian dimana?! Kalian besar darimana? Hah?!"
Melihat pertikaian kian ramai, muncul beberapa warga yang mulai menyaksikan adu opini dan emosi antar ketiganya.
"Bu, Ibu itu siapa? Kenapa ia marah-marah?" tanya salah seorang anak yang kebetulan melihat dan menyaksikan kejadian itu pada Ibunya yang berdiri di sampingnya.
"Dia Bu Ratmi. Pahlawan kampung ini, Nak. Dia sedang berjuang melawan penjajah," jelasnya pada anaknya.
"Melawan penjajah? Berarti dua bapak yang bawa s*****a itu penjajah? Aku boleh ikut marahin penjajah, Bu?" tanyanya polos.
"Sssst... kamu di sini saja. Mereka itu jahat dan kejam. Bisa saja kamu didor sama senjatanya. Sudah. Disini saja."
"Tapi, Bu. Kasian Bu Ratmi gak ada yang nolongin. Gak ada yang bantuin," sangkal anak laki-laki nan polos itu.
"Kita doakan saja Bu Ratmi bisa melawan penjajah itu ya, Nak. Kalau penjajah itu mulai terlihat berbahaya, kita baru beraksi," jelasnya.
"Semoga Bu Ratmi bisa menang melawan penjajah, seperti pahlawan di buku pelajaran di sekolah." Jawabnya lugu.
Suasana kian tak karuan. Adu debat masih sulit. Dua laki-laki itu terus memaksa Bu Ratmi untuk menjual lahan miliknya.
Ia memang perempuan desa yang tak biasa. Kesehariannya sebagai petani, mendidiknya untuk lebih tabah dan kuat hati.
Kepedihan dan ketidakpastian sudah lumrah dalam benaknya. Bukankah itu juga dialami petani lainnya? Betapa tidak? Saat seorang petani begitu antusias menanam padi, misalnya. Namun, dalam perjalanannya hama dan cuaca buruk menyerangnya.
Alhasil, gagal panen pun mau tak mau harus diterima. Ya, ketidakpastian nasib dan kepedihan sudah jadi resiko atau konsekwensi hidup yang dijalani petani.
Apa yang membuat Bu Ratmi dan para petani di sana bertahan menjadi petani? Bahkan menitipkan kepercayaan dan keberaniannya pada Bu Ratmi? Seperti saat itu, dimana tiba-tiba diumumkan sawah akan dijual.
Terdengar agensi wisata akan membangun wisata dengan konsep pedesaan. Dimana hal itu akan menggusur lahan pesawahan untuk dibuat beragam bangunan wisata. Tak hanya itu, pabrik-pabrik pun mulai mendirikan di pedesaan.
Entah apa yang membuat percepatan teknologi dan kemajuan manusia menjadi seolah timpah sebelah. Satu sisi mereka punya niat baik. Namun, tak selamanya kebaikan mereka juga memikirkan kebaikan bahkan sekadar kebutuhan orang lain saja sudah.
Hak hidup dan penghidupan orang lain. Ya, sesuatu yang mulai mengikis para pebisnis dan konglomerat itu. Tak lain, mereka memang seperti penjajah yang menjajah di negeri sendiri.
Prinsip ekonomi menghadirkan keuntungan sebanyak-banyaknya dan menekan modal serendah-rendahnya, agaknya sudah jadi prinsip hidup dan jalannya menjalani hidup.
Mereka seperti tak punya hati memikirkan orang lain. Bahkan hak hidup dan penghidupan orang lain. Hasrat hidupnya semata adalah keuntungan, keuntungan, dah keuntungan.
"Kalian berdua dengar, ya!! Saya bersama warga desa ini di belakang, akan terus melawan kalian!! Menjual sawah kami untuk wisata?" cecar Bu Ratmi sembari telunjuknya dihadapkan pada kedua laki-laki bersenjata itu.
"Lalu kami semua disini setelah menjualnya suruh jadi apa, hah?! Pedagangnya? Kalian kira kami jadi cuma buat nyari keuntungan kayak kalian, hah?!!"
"Sawah itu harta berharga bagi kami. Tempat kami mencari penghidupan. Kalian pikir dengan tiba-tiba memaksa kami semua menjual sawah di sini hal mudah?!"
"Lalu kami jadi seolah-olah kaya raya dapat banyak uang, tapi mental kami lemah karena merelakan diri dijajah kalian para cukong ini, hah?!"
Tak kuat terus dicaci maki Bu Ratmi, salah satu dari laki-laki bersenjata itu mulai mengangkat senjatanya lagi.
"Apa? Hah? Mau tembak saya, hah?! Ayo, tembak kalau berani!!" pekik Bu Ratmi.
Suasana makin memanas begitu para warga yang menyaksikan mulai mendekat Bu Ratmi dan kedua laki-laki bersenjata itu.
"Saya tahu siapa kalian berdua ini! Kalian juga dari desa ini 'kan? Hah?! Kalian pikir saya tak tahu? Kalian dibayar berapa jadi cukong kayak gini, hah?!"
"Dasar pemuda gak tahu malu!! Otaknya dipake!! Kalian mau merelakan masa muda hanya untuk jadi cukong mereka yang ngaku konglomerat itu 'hah?!"
"Mau atas nama seragam, s*****a, dinas sekalipun kalau yang dikatakan hanya menyengsarakan rakyatnya, sebagai pemuda, kalian harusnya melawan dong! Bukan jadi cukong!!" hardik Bu Ratmi.
Kembali, begitu kata cukong disebut, salah satu dari laki-laki itu mulai mengangkat senjatanya. Ia tersulut emosi.
"Jangan. Tahan emosimu. Kita masih bisa pakai cara lain," ucap temannya itu.
Akhirnya, ia kembali menurunkan senjatanya itu.
"Apa, hah?! Kalian masih disini ngapain? Tanda tangan surat perjanjian ini?!" Bu Ratmi menunjukkan surat di tangannya. Di depan kedua laki-laki bersenjata itu, ia merobek dan melemparkan potongan kertas itu di depan wajah mereka.
"Pergi kalian dari sini! Pergi!!" Pekik Bu Ratmi.
Sementara, dari kejauhan, Rosy masih memerhatikan situasinya. "Bagaimana ini bisa terjadi? Inikah awal dari misi suci itu? Tapi, Lily dan Cleon dimana? Apa aku harus menghadapi masalah di desa ini sendiri?"