Part 31 - Aku Harus Kemana?

1012 Words
"Dia berkulit coklat, rambut sedang dan bersweater merah," jawab Rosy. "Oh baiklah. Ayo kita cari lagi bersama." "Ya." Mereka berdua mencari dari satu tempat ke tempat lainnya. Dari satu rumah makan ke rumah makan lainnya. Dari satu warung ke warung lainnya. Dari satu halte ke halte lainnya. "Oh... kita sudah mencarinya hampir satu jam. Kalau terus begini kita bisa kemaleman. Bahaya. Bagaimana kalau kamu kuantar pulang?" Rosy sangat bingung sekarang. Bagaimana kalau ia pulang, sementara Bu Msi belum pulang? Apa yang akan dikatakan Ibunya kalau ia pulang dengan orang lain? Bagaimana kalau kebohongannya terbongkar? Rosy terlihat sangat cemas memikirkannnya. Ia lalu terdiam. "Kamu melamun lagi. Sebenarnya ada apa? Kamu bisa ceritakan biar lebih tenang," tutur Kinan menawarkan. "Aku tidak kenapa-napa. Aku cuma kawatir dengan perawarku. Dia satu-satunya orang yang menemaniku di Villa. Aku akan sangat bersedih kalau nanti pulang dan dia belum ada di sana," tutur Rosy menundukkan kepala. "Tenanglah... perawatmu pasti akan segera ketemu. Kalaupun tidak, aku yakin dia sudah menunggumu di Villa. Percayalah." Kinan berusaha menenangkan Rosy. Ia berusaha memahami perasaan gadis manis di depannya itu. "Jangan kawatir. Kita akan mencarinya lagi. Semangat!" "Di sana ada sebuah warung lagi. Siapa tahu pelayan di sana pernah melihat perawatmu." "Ya. Kamu benar. Kita perlu kesana." Rosy dan Kinan berjalan menuju sebuah warung yang cukup ramai. Kinan meminta ijin untuk bertanya pada salah seorang pelayan di sana. "Maaf, boleh saya bertanya sebentar?" "Ya? Ada apa?" "Apa kamu pernah melihat sosok perempuan memakai sweater merah dan berambut sedang lewat atau makan di sini?" tanya Kinan dengan sopan. "Di sini sangat ramai. Saya tidak bisa mengingat dengan baik ciri-ciri tiap pembeli yang makan ke sini. Apalagi orang yang sekadar lewat. Maaf, saya sibuk. Ada perlu lagi?" "Oh... tidak. Terima kasih. Maaf mengganggu." "No problem." Rosy nampak mulai putus asa. Wajahnya lemas dan mulai menyerah. Drrrt... Sebuah ponsel bergetar. Panggilan dari ponsel Kinan. "Kamu dimana? Pulang sekarang! Ayah bilang kamu pulang sekarang!!" "Apa ayah menelponku hanya untuk berkata seperti itu? Aku tak akan pulang ke rumah itu lagi!!" Klik. Kinan langsung mematikan panggilan dari ponsel itu. "Kenapa dimatikan?" tanya Rosy. "Bukan apa-apa. Ayo kita cari lagi. Sebelum matahari tenggelam." Kinan mengajak Rosy ke sebuah tempat lagi. Sebuah kedai kopi yang cukup sepi. "Sepertinya hanya tinggal tempat ini yang belum kita tanyakan. Sabarlah. Pasti perawatmu ketemu," ucap Kinan kembali meyakinkan dan menguatkan Rosy. "Permisi..." "Ya? Ada apa? Mau pesan apa?" "Maaf. Kami kesini cuma mau tanya apa kamu melihat seorang perempuan bersweater merah dan berambut sedang kemari?" Pelayan kedai kopi terdiam sebentar. Ia seolah berusaha mengingat sebelum ia menjawabnya begitu saja. "Oh... perempuan bersweater merah yang membawa tas dan koper?" Kinan menengok kepada Rosy. "Ya! Dia membawa koper warna merah. Kamu melihatnya?" tanya Rosy bersemangat. "Ya. Perempuan itu datang ke sini sekitar satu jam yang lalu. Wajahnya nampak sangat cemas. Mungkin itu sebabnya dia kesini untuk sedikit menenangkannya." "Dia pesan kopi latte tadi saat itu." "Kamu yakin itu?" Kinan memastikan. "Ya. Dia kesini." "Lalu? Dia kemana?" "Saya tidak tahu persis dia mau kemana. Tapi sepertinya dia mencari sesorang juga. Wajahnya nampak kehilangan. Aku kasihan padanya," jawab pelayan di kedai kopi itu. "Dia pergi ke arah mana?" "Kesana!" Pelayan itu menunjuk ke arah utara. "Terima kasih. Kami permisi." Kinan dan Rosy segera berjalan cepat menuju arah utara. "Satu jam yang lalu. Itu artinya dia masih di sini saat kita mencarinya. Bahkan, saat hujan itu juga besar kemungkinan dia masih di sini. Tapi itu satu jam yang lalu. Apa mungkin kita masih bisa mengejarnya?" tanya Kinan. "Bu Mei... apa kamu benar-benar pergi meninggalkanku?" gumam Rosy. Tak disangka, sebuah mobil pick up berhenti begitu saja di depan Kinan dan Rosy. "Ayah?" ucap Kinan refleks. "Itu ayahmu?" tanya Rosy. Tanpa bertanya atau berkata apapun, laki-laki berjaz rapi itu segera turun dari mobilnya. Disusul dua orang seperti bodyguard yang dengan sigap menarik tangan Kinan dan membawanya masuk ke mobil. "Ki! Kinan!" panggil Rosy. "Maaf, Rosy! Aku tak bisa melanjutkannya!" ucapnya pasrah begitu melihat isi pesan di ponselnya. Entah, apa yang membuat Kinan menjadi begitu luluh, padahal sebelumnya sangat bersikukuh tak ingin pulang dengan ayahnya. Kini, Rosy sendirian. Ia tak punya pilihan lain. Hujan kembi mengguyur deras. "Semua orang meninggalkanku. Bahkan, disaat kupikir itulah malaikatku. Lalu buat apa lagi aku hidup? Buat apa?" pekiknya dengan dirinya sendiri. "Daripada kembali ke rumah, kenapa tak kubuat rumah sendiri? Ya! Kesendirian. Bukankah itu rumahku paling nyaman?" Lanjutnya. Rosy pun berjalan kembali menuju arah hutan. Tak pernah menyangka acara yang begitu ia tunggu-tunggu, akan berakhir sembilu. Sebaik apapun rencana diciptakan, pada akhirnya memang dunia ini berisi segala kemungkinan dan ketidakpastian. Kita merencanakan hal apa hari ini, belum tentu esok juga akan sama dengan rencana itu. Kita bebas menciptakan rencana, tapi Tuhan Maha Perencana. "Lalu, aku harus bagaimana? Rasanya.... ini sangat memuakkan!" gumam Rosy seraya menatap wajah ke langit. Membiarkan deras hujan membasahi kebingungan, ingin, dan angan. Tak berapa lama kemudian, ia menundukkan wajahnya. Sesekali melihat kakinya yang mulai terasa kedinginan. Hanya blazer yang tertinggal dari Kinan. Seseorang yang hadir merasa sebagai teman, lalu pergi sebagai ketidakjelasan. Lalu, apa sebenarnya yang benar-benar jelas di dunia ini? Adalah ketidakjelasan itu sendiri. Pun, seandainya seluruh isi dan rahasia bumi sudah diketahui manusia, pastilah tak ada lagi perkembangan. Tak akan lagi yang namanya peradapan. Karya tulis, karya lukis, kriya, patung, dan lainnya. Itu tak lain adalah wujud dari kesungguhan manusia menekuni rasa penasaran akan ekspresi dan ketidaktahuannya. "Kalau aku pulang, Ibu Kei pasti bakal lebih membenciku. Aku pun ragu, sebenarnya apakah Bu Mei tulus mengajakku atau sengaja meninggalkanku?" "Kalaupun berencana meninggalkanku, untuk apa? Apakah ia kerjasama dengan Ibu Kei? Apakah ia mendapat semacam uang pelancar pekerjaan?" gumam Rosy. Ia terus bertanya pada dirinya sendiri. Tak berapa lama, Rosy sudah sampai di tempat berbeda. Matanya ia arahkan ke kanan dan kiri. Mengitari segala yang berada di sisi. Sesekali, kepalanya mendongak ke atas, tapi tak ada apapun selain suara hujan yang masih deras. Kembali, ia menundukkan wajahnya. Ia pandangi pula jemari tangannya yang mulai keriput terkena hujan dan angin sedari tadi. "Aku ini siapa sebenarnya? Kenapa Ibu Kei begitu membenciku? Kenapa semua orang meninggalkanku? Lalu, untuk apa lagi aku hidup di dunia ini?!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD