Part 30 - Teman dari Takdir?

1012 Words
"Hey! Tunggu!!" Pria bertubuh tinggi itu mencegah Rosy. "Ok. Panggil saja aku Kei," ucapnya sembari menahan tangan Rosy. "Kei?" Rosy bertanya dengan ekspresi yang tak biasanta. Matanya seolah mengalirkan kebencian tersendiri. "Sebenarnya namaku Kinan. Tapi... orang lebih suka memanggilku Kei." "Tidak. Aku lebih baik memanggilmu, Kinan saja." "Baiklah. Tak masalah, tapi kenapa kamu mau kesini? Ini bahaya." "Bahaya? Lebih bahaya lagi kalau aku masih hidup!" Rosy kemudian terdiam. Ia melihat tangannya masih tergenggam olehnya. Tak lama kemudian, ia memintanya melepaskannya. "Lepaskan!" Gerimis mulai turun. Rosy dan Kinan berteduh di sebuah pohon. Namun, karena mulai deras Kinan mengajak Rosy mencari tempat lain. "Hujannya makin deras. Aku takut kenapa-napa kalau kita tetap berteduh di sini. Ayo kita cari tempat lain!" pinta Kinan. "Oh.. Baiklah." Kinan berlarian di samping Rosy. Ia menutup kepala Rosy dengan jaketnya. Mereka melewati jalanan kembali. Sebuah mobil lewat dan membuat lumpur melesat ke dress Rosy. "Oh ya Tuhan. Kamu tidak apa-apa?" tanya Kinan cemas. "Ayo kita berteduh di warung sana. Sebentar lagi. Bersabarlah." Rosy dan Kinan kembali berlarian di bawah hujan. Angin pun mulai sangat mengusik sore itu. Akhirnya, sampailah mereka di sebuah warung. "Oh... dressmu?" "Tidak masalah. Aku hanya tak membawa baju ganti. Semuanya ada di perawatku," jawab Rosy pasrah. "Tenanglah. Maaf, kamu masih memakai T-shirt? Dressmu kotor. Kamu bisa melepas dress dan tetap memakai t-shirt dan celanamu. Jangan kawatir. Aku ada blazer panjang di tas. Cukup untuk menutupinya," saran Kinan. Rosy sepertinya merasa sedikit tenang. Kinan bertanya pada pemilik warung untuk meminta ijin menyewa ruangan untuk Rosy ganti baju. Pemilik warung itu sangat ramah. Ia mempersilahkan Rosy masuk dan berganti pakaian di sana. Kinan menunggu di luar warung. "Mau minum teh hangat?" sapa pemilik warung. "Oh.. boleh. Tapi nanti tunggu teman saya dulu." "Baiklah. Dia temanmu?" "Uhm... sebenarnya..." "Tidak usah dijelaskan. Teman atau bukan... kalian nampak serasi. Tampan dan cantik," ucap pemilik warung itu. "Duduklah... capek berdiri terus." "Terima kasih." Hujan masih turun. Bahkan bertambah deras. Kesejukan hujan mengingatkan Kinan pada Ibunya. Ia sangat merindukan sosok Ibunya. "Bu... andai kamu masih hidup," gumam Kinan sambil memandang turunnya air hujan. "Sorry... maaf membuatmu menunggu lama," sapa Rosy datang dengan t-shirt berwarna hijau dan blazer yang dipinjamkan dari Rosy. "Terima kasih blazernya. Ini sangat membantuku." Kinan tersenyum. "Syukurlah. Silakan duduk. Kamu pasti kedinginan. Saya pesan teh hangat dulu." "Bu... teh hangatnya dua," pinta Kinan. Tak lama kemudian, pemilik warung itu membawakan dua cangkir teh hangat. "Minumlah selagi masih hangat. Kalian ini darimana?" "Kami dari acara workshop." "Oh... mau pulang?" "Ya. Tapi kehujanan." "Oh ya. Bersabarlah. Hujannya pasti akan segera reda. Nikmatilah dahulu teh hangatnya. Ok?" "Terima kasih, Bu." "Minumlah, Rosy." Kinan menyebut nama Rosy pertama kalinya. Rosy kembali menatap Kinan dengan tatapan canggung. Baru pertama kalinya ia berjalan dengan pria asing bahkan di saat tak terduga seperti ini. "Hallo... kamu baik-baik saja, Rosy?" tanya Kinan. "Oh... Ya. Saya baik-baik saja." "Apa ada yang salah? Namamu benar Rosy?" "Ya. Benar." "Ehm.. Minumlah. Biar sedikit menghangatkan tubuhmu." Rosy mengangguk. Ia meraih cangkir teh hangat itu. Perlahan ia meminumnya. "Maafkan aku." "Kenapa?" "Maafkan aku yang mengajakmu berlarian tadi, dressmu jadi kotor." "Oh... tidak masalah. Ini bukan salahmu. Aku yang kurang berhati-hati." "Aku janji aku akan menggantinya." "Tidak perlu. Nanti saya cuci dan pasti akan kembali seperti sedia kala." "Sekali lagi maafkan saya," ucap Kinan. "Saya yang minta maaf." "Kenapa?" "Karena saya kamu jadi terjebak hujan. Kamu yang akan menolong saya menangkap pencopet itu, bukan?" Kinan tampak canggung. Ia sedikit bersalah tingkah. "Oh... tidak saya hanya membenci perbuatan jahatnya. Makanya saya berlari ingin sekali menangkapnya," tutur Kinan gugup. "Sekali lagi, maafkan saya." "Tidak masalah." "Terima kasih." "Terima kasih untuk apa?" "Terima kasih sudah mau menolong saya dan meminjamkan blazernya padahal kita tak saling kenal. Aku sangat berterima kasih." "Tidak usah dipikirkan. Kamu bisa mengembalikannya nanti." "Ya. Aku akan mengabarinya nanti." "Kamu tinggal dimana? Mau saya antar pulang nanti?" Kinan menawarkan diri. "Saya tinggal jauh di sebuah Villa terpencil. Saya takut nanti kamu tersesat," Rosy sengaja mencari alasan agar Kinan tidak mengantarnya. "Ada taksi online. Dia yang akan mengantarkan kita kalau kamu mau. Saya kawatir denganmu. Bukankah dompet dan ponselmu hilang?" ucap Kinan. Rosy tak bisa membuat alasan lagi. Kini ia terdiam. Berusaha memikirkan alasan lainnya agar Juna tak mengantarnya pulang. "Oh ya! Perawatku pasti mencariku. Kasihan dia. Aku tak mungkin pulang lebih dahulu tanpanya." "Bukannya kamu tak bisa menghubungi? Mungkin dia sudah pulang lebih awal dan menunggu di rumahmu. Pulanglah. Nanti biar saya antar. Ok?" Rosy kembali terdiam. Sekarang dia sangat canggung dan gugup dalam situasi itu. Apakah Rosy perlu bercerita sebenarnya? Namun, apa pentingnya bagi Kinan mengetahui semuanya? Bukankah Kinan hanya orang asing yang kebetulan menolongnya? "Oh... tidak!" seru Rosy. "Kenapa? Tidak kenapa?" "No. No problem." "Kamu tidak keberatan saya antar?" "Oh bukan. Aku hanya merasa tak enak hati terus merespotkanmu. Padahal kita tak saling kenal." "Anggaplah kita teman yang ditakdirkan. Jangan canggung. Aku bukan orang jahat. Ok?" Kinan mengulurkan tangannya pada Rosy. "Hari ini kita teman. Ok?" Kunan tersenyum dan masih mengulurkan tangannya pada Rosy. Rambut Rosy yang panjang itu nampak mulai sedikit mengering. Rosy masih sangat canggung dengan pertemuan tak terduga itu. Rosy pun menyambut uluran tangan Juna. "Jadi jangan canggung lagi. Kita berteman. Ok?" Rosy mengangguk dan tersenyum kecil. Dia memandangi wajah Kinan yang sangat lembut dan hangat. Wajah penuh kasih yang ia rindukan dari Ibunya. "Tadi kamu bilang ayahmu sudah meninggal dunia. Berarti kamu tinggal dengan Ibumu?" tanya Kinan. "Tidak... aku tinggal dengan perawatku." "Perawat? Kenapa?" "Karena dia orang kepercayaan Ibuku. Dia sudah dipercaya lama untuk merawatku," jelas Rosy. "Ibumu?" Rosy terdiam. Cangkir yang masih dalam genggamannya turut berhenti. Suasana tiba-tiba terasaa sangat sepi. Waktu tiba-tiba seakan berhenti untuknya. Meminta jawabannya. "Rosy? Kenapa melamun? Kamu capek?" tanya Kinan. "Maaf." "Maaf juga mungkin aku terlalu ikut campur. Pasti perawatmu itu sangt berharga bagimu, ya?" "Ya. Sangat berharga." "Pantas saja kamu sangat cemas memikirkannya." "Baiklah. Sebelum memutuskan pulang, aku akan berusaha sekali lagi mencari perawatmu itu. Kita cari bersama. Ok?" Rosy sepertinga merasa sedikit lega. Ia pun mengangguk menyetujui rencana Kinan. Setelah hujan reda, Kinan dan Rosy kembali melakukan pencarian. Kinan mencari sekuat tenaga menemukan perawatnya Rosy. "Ciri-ciri perawatmu seperti apa?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD