Hari yang ditunggu itu akhirnya tiba. Rosy berdandan di depan cermin. Dress manis berwarna biru pastel yang dipesankan Mei terlihat sangat anggun sekali.
"Bu Mei... apa ini sudah cukup?" Rosy bertanya memastikan penampilannya.
"Oh... ini menakjubkan. Kamu sangat cantik, Rosy. Apa kita akan langsung pergi ke workshop?"
"Mungkin kita bisa sampai lebih awal untuk makan terlebih dahulu. Aku tak mau telat nanti."
"Baiklah. Ayo. Aku sudah siapkan taksi online di luar." Ucap Mei.
"Bu Mei... terima kasih banyak sudah membantuku selama ini."
"Tidak mengapa. Aku tahu kamu kesepian dan sangat bosan di gudang. Pasti sangat menyebalkan? Tapi sabarlah. Yakinlah Ibumu akan berubah. Suatu saat nanti."
Rosy tersenyum. Ia merasa sedikit lebih tenang setiap kali Mei meyakinkannya. Meyakinkan bahwa suatu saat Ibunya akan berubah. Meskipun entah kapan itu.
"Ayo! Taksinya sudah menunggu di luar. Tak ada yang ketinggalan?"
"Tidak."
"Ayo."
"Baiklah."
Rosy dan Mei segera melaju menuju ke taksi online yang sudah menunggu di luar Villa. Satpam melihat Rosy dari atas ke bawah. Ia sangat takjub melihat Rosy dengan riasan.
"Heh! Jaga Villa! Kami akan pergi tiga hari. Awas! Kalau ada masalah!" Seru Mei pada satpam.
"Ish! Dasar perawat galak!"
"Ayo, Bu Mei. Taksinya sudah menunggu."
"Oh iya."
"Ingat! Jaga baik Villanya!"
Mei dan Rosy melakukan perjalanan itu. Sebuah perjalanan yang sangat diimpikan Rosy. Sudah hampir setengah tahun ia tak menyentuh langsung dunia luar.
Dunianya terasa luas, hanya karena membaca buku-buku di rak buku ayahnya di gudang. Sungguh, Rosy sangat merindukan perjalanan ini.
Rosy meneteskan air mata dan berkata, "Aku sama sekali tak bermimpi akan keluar dari Villa. Namun, hari ini aku tak akan mengubur mimpi itu lagi. Terima kasih, Bu Mei."
"Oh... berbahagialah anak manis." Ucap Mei menenangkan Rosy.
Setelah perjalanan itu, akhirnya mereka sampai di lokasi acara. Acara workshop kepenulisan itu akan dimulai sekitar tiga puluh menit lagi.
"Tepat. Ayo kita makan siang dulu," ucap Mei.
"Ya. Ayo."
Mei dan Rosy pergi mencari tempat makan siang. Sebuah kedai masakan khas jepang membuat mereka berhenti. Rosy memakan ramen dan jus stroberi. Mei melahap dengan nikmat chicken katsu dan jus lemonnya.
"Apa acaranya akan ramai banget?" tanya Rosy.
"Oh... aku tak tahu. Aku akan menunggu di sana." Mei menunjuk sebuah tempat duduk tak jauh dari lokasi acara workshop.
"Ya. Aku akan menunggu kamu di sana, nanti. Jangan lupa berkabar kalau sudah selesai. Ok?"
"Ok!" Rosy menjawabnya dengan sangat bersemangat.
Mereka menyelesaikan makannya tiga menit sebelum acara workshop kepenulisan dimulai. Rosy pamit pada Mei.
"Kabari kalau sudah selesai. Aku akan menunggumu di sini. Ok?"
"Mei mengatakannya dua kali. Aku sudah besar. Tak akan mungkin hilang seperti anak kecil. Jangan kawatir. Aku akan kesini setelah acara selesai." Jawab Rosy dengan raut wajah cerianya.
Suara pengumuman acara sudah terdengar.
"Rosy!! Nikmatilah!" Ucap Mei melihat Rosy berjalan menuju lokasi acara.
Rosy tersenyum bahagia dari kejauhan. Rosy masuk ke acara workshop kepenulisan itu. Tak terduga, lokasinya sudah sangat penuh. Rosy terpaksa harus berdesakan.
Seorang pria dengan tubuh tinggi dan berwajah tegas menyapa. Ia mempersilahkan tempat duduknya untuk Rosy.
"Duduklah. Aku bisa mencari kursi lain." Ucap pria itu.
"Oh... terima kasih."
Rosy tersenyum ramah. Ia langsung fokus pada workshop acara kepenulisan itu. Tak disangka, Rosy bisa bertemu langsung dengan salah satu penulis idolanya. Penulis novel Indonesia yang juga sangat populer karena karya-karyanya yang luar biasa.
Akhirnya, acara itu selesai. Ada sesi book signing. Setiap orang berbaris untuk menunggu giliran tanda tangan sang penulis idola.
Di belakang Rosy ada seorang pria bertopi yang mencurigakan. Ia juga berbaris, tapi matanya seperti sangat was-was. Rosy tak menyadari hal apapun. Sebelum salah seorang dari peserta workshop itu menyadari.
Ya. Laki-laki bertopi yang mencurigakan itu telah mengambil ponsel dan dompet Rosy.
"Hei, Bu Mei... dia mengambil dompetmu. Copet!!" Pria itu sudah lari ketakutan karena ketahuan. Seluruh ruangan itu berhamburan. Sesi acara booksigning yang tadinya tenang berubah menjadi sangat kacau.
Rosy berlari mengejar pria bertopi yang baris di belakangnya itu. Ia bahkan mengejar sampai tak tahu dimana.
"Oh... aku dimana? Oh tidak." Ucap Rosy cemas.
Acara workshop kepenulisan DEE LESTARI itu memang cukup berbeda dari acara biasanya. Kalau biasanya acara dilakukan di gedung, mall, hotel, atau toko buku, tapi acara itu dilakukan outdoor.
Acara itu dilakukan di sebuah daerah tempat terbuka dimana sangat dekat dengan alam. Ciri khas penulis itu memang sangat menyukai hal detail tentang alam dan begitu berkarakter.
Rosy melihat sekitar tempat ia berhenti. Ia merasa takut karena tak tahu dimana.
"Oh... bagaimana ini? Dimana? Bu Mei... dia pasti menungguku."
"Oh tidak... ponselku dicuri. Bagaimana aku menghubunginya?" Rosy sangat cemas.
Seorang pria bertubuh tinggi dan berwajah tegas itu datang di belakang Rosy. Ia berdiri di sana memperhatikannya. Ternyata, ia turut berlari menyusul Rosy.
"Apa sudah tertangkap? Maaf, aku terlambat." Ucapnya.
"Oh... tidak. Aku tidak menangkapnya." Ucap Rosy pasrah.
"Kamu cemas karena dompet dan ponselmu hilang?"
"Ya."
"Kamu bisa menelponnya dengan ponselku. Mau kuantar pulang? Tidak usah kawatir soal uangnya."
"Bukan itu."
Rosy menunduk. Ia menangis seketika. Rosy teringat saat dimana ia pernah diculik dan hilang. Kejadian itu sangat menyayat hatinya.
"Ayah... aku rindu ayah," gumamnya.
"Kamu rindu ayahmu? Mau menelponnya?" ucap pria itu.
Rosy terdiam. Ia tak menjawab apapun. Pria itu kembali berkata.
"Maaf. Saya tak bermaksud ikut campur urusanmu. Saya hanya mau menolongmu."
"Kamu rindu ayahmu? Mau meneleponnya dengan ponselku?" tanyanya menawarkannya kedua kali pada Rosy.
"Aku tak bisa menelepon Ayah."
"Hum?"
"Ayahku sudah meninggal dunia."
"Oh, Sorry. Aku tak bermaksud membuatmu sedih."
"No problem."
"Sekarang apa yang ingin kamu lakukan? Biar aku bantu."
"Kamu akan pulang? Kamu ingat rumahmu kan?"
"Ya. Tapi ada perawatku tak jauh di acara workshop tadi. Aku tak bisa meninggalkannya begitu saja. Dia pasti sangat cemas."
"Kamu mau menelponnya?"
"Aku tak ingat nomor ponselnya."
"Baiklah. Kalau begitu ayo kita cari bersama!"
Pria itu bersama Rosy kembali ke lokasi acara workshop kepenulisan itu. Namun, di sana sangat sepi. Hanya tertinggal beberapa orang yang lewat dan berkemas.
"Oh... dia berjanji aku menungguku di sini. Kenapa sekarang tak ada? Ada apa dengannya?" Ucap Rosy sangat mencemaskan Bu Mei.
"Kamu yakin dia di sini?" tanya pria itu.
"Ya. Dia berpesan akan menungguku di sini. Dia orang yang menepati janji dan bisa dipercaya. Tapi kenapa tak ada? Kemana Bu Mei?"
"Bu Mei?"
"Ya. Dia nama perawatku."
"Oh... kalau kamu?"
Rosy terdiam. Ia menatap wajah pria di depannya. Sebuah wajah terukir sempurna. Pria dengan wajah tegas dengan hidung mancung dan mata bulat yang sempurna.
"Oh... Saya Rosy."
Pertemuan tak sengaja hari itu mempertemukan Rosy dengan pria yang belum menyebutkan namanya itu. Namun, pertemuan itu sekaligus membuat kebencian baru padanya. Rosy berpikir, satu per satu orang yang ia anggap baik meninggalkannya.
"Maaf, aku harus pergi," pamit Rosy.
"Hei!! Kamu mau kemana? Di sana arah hutan!" pekik pria itu.
Rosy tak memedulikannya. Pikirannya yang kacau dan segala kebencian sudah memenuhi benaknya.
"Aku benci dunia ini! Aku benci kenapa Ibu tak mau menganggapku? Apa hanya karena aku anak tirinya? Dan sekarang Bu Mei? Kenapa ia meninggalkanku?!"
"Arrrrrrghhh!!! Aku benci dunia ini!!" Pekiknya sembari berjalan memasuki arah hutan.