Kei kembali datang ke Villa tiga hari setelahnya. Ia datang dengan pakaian khas kantoran. Blazer hitam dan sepatu hak tinggi. Bergaya rapi.
"Mei!!"
"Iya. Ada apa nyonya?"
"Kamu masih menunggu saya untuk menjawab permintaanmu?"
"Permintaan? Oh ijin itu. Iya, saya masih menunggu Ibu Kei memperbolehkannya."
"Duduklah." Kei menyuruh Mei duduk di sofa tamu.
"Waktu saya tidak lama di sini. Saya hanya memastikan kondisi Villa sekaligus mengatakannya padamu."
Mei menanti jawaban dari Ibu Kei dengan penuh cemas. Berharap ia mengijinkan Rosy ikut bersamanya ke kota Bandung.
"Kenapa? Kamu sangat menunggu jawaban itu?"
"Iya, Bu. Saya sangat berharap Ibu akan mengijinkannya."
"Ya."
"Ya? Ibu mengijinkannya?"
"Ya. Saya ijinkan tapi dengan satu syarat."
"Apa itu?"
"Kamu harus pastikan Rosy tidak keluar dari rumah saudara perempuan kamu. Saya tidak mengijinkan Rosy menikmati dunia luar. Untuk alasan apapun! Saya hanya terpaksa mengijinkannya karena saya tak punya pilihan lain."
"Saya juga mempertimbangkan alasanmu. Tak semua orang akan mudah menjaga rahasia untuk merawat Alana. Seperti katamu. Makanya saya memperbolehkannya. Ingat. Hanya tiga hari."
"Baik, Nyonya. Saya janji tiga hari kemudian saya akan kembali membawa Rosy pulang ke sini."
"Baiklah. Rosy masih di atas bukan? Masih di ruangan gudang?"
"Masih."
Kei memastikan Rosy benar-benar masih di gudang. Ia membuka pintu gudang. Ternyata benar. Rosy tertidur pulas.
"Mungkin dia capek dan bosan, Bu. Tak ada hal lain yang bisa dilakukan selain tidur."
"Haha... saya justru senang melihat dia makin menderita seperti ini! Kamu jaga dia!" Ucap Kei.
Kei segera keluar Villa dan kembali pergi kerja dengan mobilnya.
Melihat Kei pergi, Mei segera menemui Rosy. Ternyata Rosy tak benar-benar tertidur. Ia hanya pura-pura tidur.
"Kamu kenapa Rosy? Kenapa menangis?"
"Sampai kapan Ibu akan memperlakukanku seperti ini? Rasanya sakit sekali mendengar Ibu memperlakukanku seperti seorang penjahat." Ucap Rosy sedih.
Matanya menangis penuh derita. Ia sangat merindukan sosok penuh kasih dari Ibu Keira.
"Sabar, ya. Ibu Keira pasti akan sembuh."
"Tapi kapan? Kapan?" ucap Rosy sangat putus asa.
"Ssst... sudah, ya. Saya punya kabar baik. Mau dengar?"
"Apa itu?"
"Ibu Keira mengijinkan kita pergi ke kota Bandung bersama!" ucap Mei penuh bahagia.
"Oh ya? Serius?"
Raut wajah sedih yang tadi menyelimuti Rosy, tiba-tiba memudar. Ia berubah menjadi lebih baik setelah mendengar kabar itu.
"Oh... akhirnya aku bisa melihat dunia luar," tutur Rosy.
"Kenapa Ibu bisa mengijinkannya?"
"Saya bilang tidak semua orang mudah menjaga rahasianya tentang menyembunyikan kamu seperti ini. Siapapun bisa saja melaporkannya. Ini sudah masuk kejahatan."
"Kenapa Ibu Mei tidak pernah melakukannya? Kenapa tak melaporkan Ibu?"
"Karena saya sayang kamu, Rosy. Saya juga melihat Ibu Keira sebenarnya adalah orang baik. Makanya kita bersabar ya. Saya tak mau menyelesaikan masalah dengan hal seperti ini."
"Tenanglah. Saya akan menjaga dengan baik seperti anakku sendiri, Rosy. Kamu tak perlu kawatir. Kamu hanya perlu lebih banyak bersabar. Ya?"
Rosy mengangguk. Ia peluk Mei dengan penuh rasa terima kasih.
"Kamu sudah mempersiapkannya? Dua hari lagi kita akan pergi."
"Masih ada tiga hari. Masih lama."
"Oh ya. Bajumu harusnya datang hari ini. Semoga saja. Kita tunggu ya. Sambil nunggu, saya akan buatkan makanan dulu. Mau makan apa?"
"Terserah saja, Bu."
"Mau sup?"
"Boleh."
Mei pergi ke dapur. Membuatkan sup untuk Rosy. Dari luar terdengar satpam berbicara dengan seseorang.
"Dari siapa ini?" tanya Satpam.
"Oh ini dari onlineshop tertera atas nama Mei Astuti."
"Oh punya Mei. Saya panggilkan dulu sebentar ya."
"Ok."
"Mei!!" panggil Satpam.
"Sebentar..."
Mei keluar menemui panggilan satpam.
"Oh paketnya sudah sampai. Terima kasih."
"Tanda tangannya dulu di sini, Bu."
"Oh iya."
Mei menandatangani bukti penerimaan paket. Ia dekap paket itu dengan perasaan bahagia.
"Apa sih isinya? Kok seneng banget sepertinya." Tanya Satpam.
"Penasaran ya?"
Mei tak mempedulikannya. Ia segera masuk menuju ruangan gudang.
"Lihat apa yang saya bawa!" ucap Mei dengan sebuah bungkusan.
"Apa itu?" tanya Rosy penasaran.
"Ini baju yang kamu pesan tiga hari yang lalu. Bukalah."
Rosy membukanya dengan terburu-buru. Ia sangat penasaran karena lama sekali tak membeli baju baru. Ia sangat bersyukur bisa bertemu dengan Mei. Seorang perawat yang sudah seperti Ibunya sendiri.
"Oh... menakjubkan! Ini keren sekali! Aku suka," ucap Rosy.
"Kamu suka?"
"Ya. Aku sangat suka. Terima kasih." Rosy dekap Mei dengan perasaan bahagia.
"Aku pun ikut senang melihatmu senang," tutur Mei.
"Saya kembali ke dapur dulu, ya. Sepertinya supnya sudah matang."
"Iya, terima kasih."
Mei tersenyum. Ia segera pergi ke dapur untuk memastikan supnya sudah matang atau belum.
Rosy memerhatikan bajunya. Sebuah baju yang manis. Berwarna biru pastel yang sangat lembut.
"Oh... ini sangat keren sekali. Rasanya senang sekali bisa punya baju baru lagi. Lama sekali aku tak membelinya." Ucap Rosy.
Tiba-tiba, pandangannya tertuju pada pakaian yang ia kenakan. Sebuah rok dan kaos yang sangat sederhana. Ujung rok itu sudah ada yang robek karena tertarik paku. Rosy sangat merasa terharu.
"Terima kasih, Tuhan. Engkau masih mengirimkan orang baik untukku seperti Ibu Mei. Dia sangat berhati malaikat." Ucap Rosy sambil memegang baju barunya.
"Rosy... supnya sudah siap. Mau makan di situ atau di sini?" panggil Mei memanggilnya untuk makan.
"Sebentar... Rosy kesitu."
Rosy melipat baju barunya. Menaruhnya dengan rapi. Ia segera menemui Mei di ruang tengah dekat dengan dapur.
"Aromanya enak sekali. Pasti sangat sedap supnya." Ucap Rosy.
"Makanlah."
"Ayo makan bersama," pinta Rosy.
Mei pun mengambil piring dan makan bersama Rosy.
"Kamu sangat mirip anak saya," lirih Mei.
"Apa?" tanya Rosy penasaran.
"Oh tidak... kamu terlihat lebih baik sekarang. Saya ikut senang melihatnya."
"Itu semua karena kebaikanmu, Bu Mei. Terima kasih sudah begitu baik padaku. Padahal kalau Ibu tahu kamu bisa diusir dari sini." Ucap Rosy.
"Bagi saya.... kebahagiaanmu lebih penting Rosy. Saya akan selalu menjagamu, Rosy."
Rosy tersenyum.
Setelah makan, Rosy kembali ke ruangan gudang.
"Saya tak akan mengunci pintunya. Saat kamu bosan di sini, kamu bisa keluar ke ruangan lainnya. Tenang saja, saya pastikan Ibu Keira tak akan tahu."
"Yakin? Sungguh aku boleh? Kamu tak takut?"
"Tidak. Aku justru sangat takut saat melihatmu bersedih. Merasa sangat tertekan. Aku tak bisa melihatmu seperti itu, Rosy. Nikmatilah selagi Ibu Keira tak ada di sini."
"Jangan lupa bawa ponselmu. Jika sewaktu-waktu ada hal mendesak, saya akan memberitahumu. Ok?"
"Baik."
"Jangan lupa satu hal."
"Apa?"
"Persiapkanlah untuk menyapa dunia luar dua hari lagi. Ingat? Jangan pernah sia-siakan kesempatan ini. Persiapkanlah dengan baik. Ok?"
"Siap!" seru Rosy tersenyum bahagia.
"Kebahagiaan. Apakah benar ini kebahagiaan atau awal kesedihan baru untukku?" Gumamnya.