Part 27 - Pemantik Kebahagiaan??

1044 Words
"Wow! Menakjubkan!" teriak Rosy dengan memegang buku yang sedang dibacanya. "Ada apa?" tanya Mei. "Bukunya. Aku suka cara penulis menceritakannya. Aku sangat suka Dee Lestari. Dia penulis Indonesia yang hebat!" ucap Rosy bersemangat. "Ya. Dia memang penulis Indonesia yang hebat. Kamu mengidolakannya?" "Ya! Aku pengin sekali bertemu dan minta tanda tangannya. Pasti akan sangat membahagiakan. Oh Tuhan... andai saja aku bisa bertemu dengannya." Ucap Rosy. "Semoga suatu saat kamu bisa bertemu dengannya." "Terima kasih, Bu Mei." "Gimana main Instagramnya? Smartphonenya normal kan? Tidak ada yang rusak?" tanya Mei. "Ouh... tidak. Tidak ada yang rusak. Semuanya berjalan dengan lancar." "Oh ya. Aku juga sudah follow akun i********: penulis favoritku. Jadi, aku bisa lihat jadwal tour workshopnya. Keren kan?" Mei tersenyum. Ia bahagia bisa melihat Rosy bahagia. Mei sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri. "Tinggalkan smartphonenya dulu. Sana, mandi. Sudah sore," ucap Mei. "Iya, Bu. Rosy nitip ponselnya, ya." Rosy segera pergi mandi. Merapikan diri. Mei membereskan buku-buku di rak buku besar itu. Betapa banyak koleksi buku ayahnya Rosy. "Oh... banyaknya. Pasti Ayah Rosy sangat senang membaca. Menular ke anaknya." Gumam Mei. Mei merapikan satu per satu buku itu. Memastikan tak ada debu dan kotoran yang menggangunya. Tak lupa menaruh kamper di rak buku untuk mengusir serangga dan kutu buku. Rosy kembali ke ruangan gudang dengan pakaian rapi. Terlihar Mei yang masih membersihkan buku-bukunya. "Bu Mei... sudah bersih bukunya, Bu." "Oh... iya tak apa. Biar lebih terjaga." Rosy tersenyum. Ia melihat smartphonenya. Membuka i********:. Betapa terkejutnya dia. Melihat jadwal penulis idolanya. "Oh... menakjubkan! Bu... Lihat! Dee Lestari, penulis yang saya impikan itu akan datang ke Bandung. Bu Mei bisa bantu kan? Please..." Rosy memohon Bu Mei sambil memeluknya. "Ya? Bu Mei bisa bantu aku kan?" Rosy terus memohon. "Ibu sih pengin saja melihat kamu senang. Tapi gimana caranya?" "Iya ya... gimana caranya?" Rosy dan Bu Mei terdiam. Mereka saling memikirkan bagaimana cara terbaik untuk datang ke workshop kepenulisan penulis idolanya Rosy itu. "Ya! Gimana kalau kalau aku pura-pura sakit?" tanya Rosy. "Lalu?" "Lalu Bu Mei ajak aku ke rumah sakit di Bandung. Gimana?" "Apa tidak berlebihan? Ibu Kei pasti akan curiga. Kenapa harus ke Bandung?" "Ya... Bandung kan area perkotaan. Pasti banyak rumah sakit yang lebih bagus dari pada wilayah sini. Gimana?" "Memangnya Ibu Mei punya ide lain?" Mei terdiam. Kemudian berkata. "Ibu punya saudara di Bandung. Apa Ibu cari alasan harus kesana dan mau tak mau Rosy juga ikut karena di sini tak ada yang menjaga?" "Boleh! Boleh tuh, Bu. Tapi apa Ibu Kei akan setuju?" "Ya... kita coba dulu aja. Memang acaranya kapan?" "Lima hari dari sekarang, Bu. Masih ada waktu. Tenang aja. Usahakan ya. Please. Bantu aku." "Iya. Aku akan usahakan untuk kebahagianmu." "Yeay! Terima kasih Bu Mei." Keesokan harinya, tepat saat Ibu Kei berkunjung ke Villa, Mei menemuinya. Ibu Kei adalah pekerja kantoran. Ia memang cukup sibuk dan hanya sebentar saja mengunjungi Villa. Tak lain untuk memastikan Rosy tidak keluar darinya. "Bu... ada yang mau saya bicarakan. Bisa minta waktunya?" ucap Mei. "Boleh." Ibu Kei mengajak Mei duduk di sofa tamu. Mereka berdua duduk dan saling menunggu. Mei memulai percakapan terlebih dahulu. "Begini, Bu. Kemarin saya baru dapat kabar saudara saya di Bandung sedang mengalami musibah. Sakit parah. Saya kasihan tidak ada yang menjaga." "Lalu? Kamu mau kesana?" "Iya, kalau Ibu Kei memperbolehkan." "Memangnya kalau saya tidak memperbolehkan, kamu tak akan kesana?" "Saya berharap boleh, Bu. Kasihan... saudara saya di sana hidup sendirian. Suaminya merantau jauh dan hanya pulang dua tahun sekali. Anak-anaknya juga sudah merantau jauh." Mei menceritakannya dengan raut wajah sedih. Penuh iba. "Oh... apa boleh buat. Lalu gimana dengan Rosy? Kamu mau cuti?" "Kalau Ibu perbolehkan saya akan mengajak Rosy, Bu. Saya akan pastikan dia hanya bersama saya di rumah saudara saya." "Tidak! Aku tak ijinkan dia menyentuh dunia luar selain Villa ini!" "Tapi, Bu... kalau dia di sini... siapa yang akan menjaganya?" "Saya bisa sewa orang sementara!" "Ibu yakin akan menyewa orang lain dalam waktu yang mendadak? Ibu yakin orang baru akan mudah dipercaya tidak merahasiakannya?" Mei terus meyakinkan Ibu Kei agar memperbolehkan Rosy ikut bersamanya. "Zaman sekarang susah nyari orang yang bisa dipercaya, Bu. Apalagi ini eranya sosial media. Tempat ini boleh saja jauh dari kerumunan orang. Namun, bisa saja orang baru itu haus akan konten sosial media lalu menyebarkan kondisi Rosy?" sangkal Mei meyakinkan Ibu Kei. Ibu Kei pun terdiam memikirkannya. "Kamu benar juga. Tapi saya masih perlu memikirkannya. Nanti saya kabari lagi. Terus jaga anak pembunuh itu! Jangan sampai keluar bebas tanpa ijin saya!" "Iya, Bu. Saya akan menjaganya dengan baik." "Ada yang mau dibicarakan lagi?" "Tidak, Bu. Itu saja." "Ok. Saya akan kabari kamu besok. Saya mau ke kantor." Ibu Kei kembali ke mobilnya dengan seorang sopir yang mengendarainya. Setelah memastikannya pergi, Mei kembali ke ruangan gudang. Ia ingin segera mengabari Rosy. "Rosy!! Ibu punya kabar gembira!" ucap Mei senang. "Ada apa, Bu Mei? Ibu setuju aku keluar ke Bandung?" "Belum. Tapi... tadi saya sudah mencoba membujuknya. Sepertinya ia akan setuju dengan permohonan saya tadi. Dia nampak bingung dan menyetujuinya. Hanya saja dia bilang akan mempertimbangkannya." "Tapi tenanglah... saya yakin Ibu Kei akan memperbolehkannya. Jadi... lebih baik sekarang kamu carikan baju yang pas buat nanti. Ok?" "Tapi, Bu... Rosy gak punya baju bagus." "Tenang. Ibu yang akan belikan. Kamu pilih saja. Ini." Mei menunjukkan sebuah aplikasi marketplace di smartphonenya. "Kamu pilih saja mana yang Rosy suka. Nanti Ibu yang belikan." "Memang boleh? Tak masalah?" "Tak apa. Pilihlah. Ibu sudah anggap kamu seperti anak Ibu sendiri." Ucap Mei penuh kasih. Rosy tersenyum bahagia. Ia melihat baju di marketplace yang ditunjukkan Mei itu. "Ini, Bu." "Ok. Masih ada lima hari lagi kan? Nanti bajunya tiga hari pasti sudah sampai. Ibu belikan dulu, ya?" "Bu... Mei... Terima kasih. Maaf, merepotkanmu." Rosy mendekap Mei seperti seorang anak yang sangat merindukan Ibunya. "Sama-sama, Sayang. Ibu sudah anggap kamu seperti anak sendiri. Tidak masalah. Tidak merepotkan sama sekali." "Aku sangat rindu kasih Ibu. Semoga Ibu cepat sembuh dari traumanya. Aku rindu Ibu. Dia dahulu sangat lembut. Meski bukan ibu kandungku, sebenarnya aku sedang belajar menyayanginya," tutur Rosy sedih. "Sudah... Rosy berdoa saja untuk Ibu Kei. Dia pasti akan sembuh dan kembali seperti dulu. Ya?" "Jangan pernah berhenti mendoakannya." "Sudah. Jangan nangis." Ucap Mei menenangkannya. "Sekarang, bersiaplah. Adalagi yang mau dibicarain?" *** Rosy masih terlelap dalam mimpinya. Semilir angin terus meninabobokan penatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD