Part 26 - Secret Women (Mimpi Rosy)

1063 Words
"Ya sudah, saya pergi dulu ya. Kalau ada apa-apa panggil saya. Kontak nomor saya ada di situ," Mei menunjuk ke smartphone yang telah diberikan kepada Rosy. "Terima kasih," ucap Rosy. "Iya. Sama-sama. Mulai sekarang... jangan sedih lagi, ya? Baca buku yang banyak. Kalau bosan, bermainlah smartphone. Nanti saya akan isi kuota internet rutin buat kamu. Ok?" Rosy tersenyum. Mei pergi dan mengunci pintu ruangan gudang. Rosy sedikit merasa lebih baik sekarang. Setidaknya, ia masih bisa bertemu dengan orang baik seperti Mei. Ia tak tahu lagi bagaimana akan bertahan hidup di gudang. Sesuai arahan dari Rosy, Alana mencoba membuka aplikasi f*******:. Ia ingin membuat akun baru. Tentu bukan atas nama Rosy. "Nama apa yang cocok ya?" ucap Rosy. "Oh ya! Aku tahu!" Rosy membuat akun beberapa sosial media dengan nama Secret Women. "Ya! Ini cocok. Biarlah seperti dunia fantasi. Aku ingin hidup lebih baik. Meskipun di dunia fantasiku. Oh, temani aku berselancar di dunia maya." Ucap Rosy pada dirinya sendiri. Sekarang Alana mempunyai akun i********: dan faceboom. Sebuah akun yang ia gunakan untuk menyapa orang di luar sana. Rosy ingin hidup bebas. Meskipun, ia hanya berada di gudang. Kemudian, ia mengikuti beberapa penulis idolanya. Ada Okky Madasari, Dee Lestari, Jostein Gaarder, Sayaka Murata dan Andrea Hirata. Rosy sangat menyukai penulis itu. Ia sangat berharap suatu saat bisa bertemu dengan salah satunya. "Oh... sepertinya pemandangan dari jendela lebih baik," ucap Rosy. Rosy pun mendekati jendela. Dari sana ia melihat pemandangan luar Villa. Nampak sangat sepi. Hanya pepohonan lebat dan kicau burung yang bernyanyi. "Di luar sana apakabar? Aku ingin suatu saat belajar di Universitas. Seharusnya... impian ini terdengar biasa, bukan mustahil," gumam Rosy. "Ayah... maafkan aku. Karena aku Ayah jadi tiada. Karena aku juga, Ayah tak bisa melihat aku melanjutkan kuliah nanti seperti apa yang Ayah harapkan." "Ayah... semoga ayah bahagia dan tenang di alam sana. Aku rindu ayah. Sangat rindu." Rosy kembali menghabiskan waktunya dengan membaca buku. Ia cari buku satu per satu di rak buku milik ayahnya itu. Selesai membaca satu buku, ia lakukan kembali pada buku lainnya. Dalam sehari ia bisa menyelesaikan membaca buku setidaknya dua buku. Rosy menikmati aktivitasnya. Lewat buku pula, ia merasa dunianya tak sesempit ruangan gudang itu. Rosy merasa lebih baik dengan terus membaca. "Permisi... Nona... waktunya makan siang. Mau makan di sini atau keluar?" tanya Mei. "Emang boleh keluar?" "Ibh Kei barusan pergi. Jadi di Villa ini cuma ada Nona Rosy dan saya. Ada sih satu orang lagi. Satpam baru. Tapi di luar. Tak akan tahu kalau Rosy keluar gudang. Ok? Pasti bosan kan di dalam ruangan terus?" ajak Mei. Rosy tersenyum bahagia. Ia merasa beruntung bisa bertemu dengan Mei. Satu-satunya orang yang mengerti tentangnya. "Gimana? Sudah pakai smartphonenya?" tanya Mirna. "Sudah. Aku bikin akun f*******: dan instagram." "Tapi bukan atas nama Rosy kan?" "Bukan dong. Tenang. Aku pakai Secret Women!" "Wow! Nama yang unik." "Haha... dulu... Ibu suka menceritakan berbagai cerita indah. Anggap saja ini seperti sebuah cerita. Bahkan, saat sudah besar dan aku merasa bosan, aku meminta Ibu untuk membacakannya." "Oh ya? Ibu Kei?" Rosy menggelengkan kepala, "Tidak, tapi Ibu kandungku." "Ouh, Maaf." "Tidak apa, Bu Mei. Bolehkan aku panggil Ibu juga?" "Tentu saja Nona." "Sabar, ya. Pokoknya jangan segan cerita atau minta tolong apapun pada saya. Saya pasti akan bantu. Kalau pengin buku baru? Bilang saja. Nanti saya belikan ke kota." "Terima kasih, Bu Mei." "Ibu Mei punya anak juga?" tanya Rosy. Raut wajah sedih melandanya. Seakan pertanyaan Rosy membawanya mengingat sesuatu hal yang pedih. "Dulu... saya punya anak perempuan. Mungkin, sama sepertimu. Seumuran. Namun, karena saya meninggalkannya bersama nenek di kampung, dia meninggal." "Karena apa?" "Saya merantau bekerja di kota. Saya tidak tahu persis kondisi anak saya saat itu. Ternyata menderita penyakit parah. Pada saat itu, nenek saya tak punya uang untuk pergi ke rumah sakit. Akhirnya, meninggal dunia." "Tapi sudahlah... itu sudah berlalu. Makanya saya kembali memutuskan hidup di desa. Untuk menebus segala kesalahan saya pada anak saya." "Mulai sekarang, anggap saja saya seperti Ibumu. Kalau tak keberatan." "Terima kasih, Ibu Mei." Ia tersenyum. Ia membayangkan senyum itu ada pada anaknya. Namun, bagaimanapun takdir sudah berbeda. Anaknya sudah meninggal dunia. Sekarang, Rosylah yang harus ia jaga dengan baik. "Silakan dimakan, Nona." Ucap Mei. Rosy pun makan denga lahap. Ia habiskan seluruh makanan di piringnya tanpa sisa. Ia ingin membuat Ibu Mei merasa bahagia melihatnya. "Terima kasih ya, Bu." Ucap Rosy. Mei pun mendekap Rosy seperti anaknya sendiri. Ia merasakan haru di wajahnya. Hatinya merasa bahagia seperti bertemu dengan anaknya sendiri. "Mei!!!" teriak Kei. "Oh, tidak! Ibu sudah datang. Ayo, Rosy masuk lagi ke gudang! Cepat! Sebelum ketahuan Ibu!" ucap Mei. "Iya." Rosy berlari dengan gugupnya masuk ke gudang. Tepat ketika Kei sampai di ruangannya. "Bagaimana? Aman?" tanya Kei. "Aman, Bu." "Bagaimana Rosy di dalam?" "Ehm... dia nampak kesepian sekali, Bu. Murung dan bersedih sepanjang waktu," ucap Kei berbohong. "Hahaha! Itu balasan untuk gadis pembunuh sepertinya! Hahaha!" Kei tertawa seperti seorang monster. "Buka pintunya. Saya penasaran dengan wajah malangnya!" Mei membuka ruangan gudang. Kei pun masuk. Rosy berbaring di sebuah sofa. Ia sengaja menutup dirinya dengan kain. Pura-pura tertidur. "Oh... dia bisa tidur juga di ruangan pengap seperti ini. Dasar pembunuh!" "Mungkin karena habis makan jadi ngantuk, Bu." "Siapa yang suruh kamu bicara?" ucap Kei padanya. "Maaf, Bu." Drrrrtt "Suara apa itu?" teriak Kei. Rosy lupa tidak mematikan suara ponselnya. Untungnya, ponselnya tertindih. Mei pun segera membuat alasan untuk menutupinya. "Oh... ini ponsel saya bergetar, Bu. Maaf, saya lupa mematikannya." Ucap Mei. "Oh... yasudah. Jaga dia! Jangan sampai kabur apalagi berinteraksi lewat smartphone! Kalau saya tahu dia bisa menjangkau dunia luar. Saya tak segan untuk membunuh kamu!" ancam Kei pada Mei. "Hahaha... rasakanlah gadis pembunuh!" ucap Kei sambil berjalan keluar dari ruangan gudang. Mei mengikutinya sampai pintu luar rumah. "Ingat, jaga dia jangan sampai menyentuh dunia di luar Villa ini! Kalau ada orang yang tak sengaja melihatnya ataupun bertanya, katakan saja seperti apa yang saya katakan!" "Maksudnya, Bu?" "Katakan saja dia punya penyakit menular yang tak bisa disembuhkan. Dengam begitu aku tak akan terlihat buruk dimata siapapun. Mengerti?" ucap Kei. "Mengerti, Bu." Mei berjalan keluar. Satpam menyambutnya. "Jaga baik Villa ini. Jangan biarkan siapapun masuk selain kalian berdua di sini. Awas kalau saya lihat ada orang asing masuk. Saya tak segan membunuh kalian!" Ancam Kei. *** Apa yang sebenarnya Rosy lalui sebelum ia berada bersama dengan Lily dan Cleon? Apakah ia memang memiliki luka batin begitu parah seperti di mimpinya? Simak selanjutnya, ya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD