Lilith sebenarnya tidak mudah membuka diri dan menjelaskan banyak hal. Dalam banyak kasus, jika ia menemui hal-hal buruk, paling jauh yang bisa ia lakukan adalah membaginya dengan Mia. Satu-satunya teman dan satu-satunya asisten. Tetapi itu pun tidak semua bagian cerita mampu dibagi dengan Mia. Seolah-olah ada pembatas transparan yang menjaga jarak Lilith untuk membuka diri dengan orang-orang sekelilingnya.
Namun, malam ini, duduk di sisi Liam, membawa rasa kedekatan yang unik. Lelaki itu seolah memiliki sihir yang ia bisikkan melalui udara, mengikis jarak antara dia dengan Lilith perlahan-lahan. Sihir yang lambat laun bekerja merasuk ke dalam setiap pembuluh dan nadi Lilith.
"Aku melakukan janji dengan seseorang." Jelas Lilith.
"Terus?"
"Ternyata dia lelaki hidung belang yang ingin melakukan hal-hal kotor di balik nama bisnis!" Lilith mengerutkan bibirnya, menahan rasa jijik yang luar biasa.
Lilith tidak pernah menghakimi orang yang memiliki gaya hidup hedonis dan pemuja kesenangan duniawi. Silakan saka jika ada orang yang seperti itu. Yang tidak dia suka adalah pemaksaan, kemunafikan, dan manipulasi yang berujung dengan hal-hal kotor.
Tampaknya wajah-wajah seperti itu sekarang mulai ada di mana-mana.
"Siapa orang itu?" Mata Liam berubah suram, ada niat menghancurkan yang mulai beriak di manik matanya.
"Pak Sudewo. Dia punya tanah di sisi perusahaanku. Tadinya tanah itu mau aku beli, cuma melihat keadaan sekarang, kayaknya udah nggak bisa deh." Lilith tidak menyesali ini. Dia hanya canggung harus mengatakan apa pada Opa tentang kejadian ini.
"Daerah mana?" tanya Liam kemudian.
Lilith menyebutkan sebuah tempat di daerah kawasan industri. Liam menyipitkan mata, mengingat-ingat alamat ini dengan baik.
Pak Sudewo. Nama itu telah tertanam di kepala Liam dalam sekejap.
"Liam!" Lilith mendorong piring yang telah kosong ke sudut meja, ragu-ragu untuk sesaat.
"Ya?" Membenahi kerah kaosnya, Liam terlihat sedikit tak nyaman.
"Bagaimana perasaanmu dulu saat kamu pertama kali menjadi laki-laki malam?" Kelopak mata Lilith bergetar, seperti sayap kupu-kupu. Dia menatap Liam dengan penuh rasa ingin tahu.
Satu detik berlalu. Dua detik berlalu. Tiga detik berlalu. Detik berakumulasi hingga berubah menjadi menit.
Liam menghentikan gerakannya membenahi kerah, meletakkan kedua tangan ke atas meja, sikapnya berubah kaku dalam sekejap.
Menyadari respon Liam yang lama, Lilith berdaham untuk menutupi kecanggungan. Tampaknya dia baru saja melewati batas yang tak seharusnya.
Kehidupan Liam adalah milik Liam. Setiap hal yang berhubungan dengan jalan hidup dan keputusannya, tidak selayaknya dipertanyakan oleh Lilith.
Untuk pertama kalinya, Lilith merasa bersalah karena bertindak di luar batas. "Maaf, aku—"
Belum sempat Lilith menyampaikan permintaan maaf, Liam memotong Lilith dengan sebuah penjelasan.
"Risih. Jijik. Mual."
Liam memejamkan mata, bibirnya membentuk lengkungan sinis. Dia seolah-olah teringat pada pengalaman pertama ia menjual dirinya sendiri. Saat itu, bukan hanya tubuhnya yang ia jual, tetapi juga moralitas dan nilai diri.
"Risih?" Lilith yang tak menyangka akan mendapat jawaban, masih belum bisa menangkap maksud Liam dengan baik.
Liam merasa risih. Dalam pikiran Lilith, mungkin orang pertama yang menggunakan jasa Liam adalah orang amoral yang memiliki banyak permintaan aneh dan tidak seharusnya. Lilith tahu dengan cukup baik bagaimana dunia malam bekerja. Meskipun terlihat glamor dan penuh keindahan, pada kenyataannya, banyak hal memuakkan di dalamnya. Sesuatu yang belum tentu bisa ditanggung orang normal pada umumnya.
"Ya. Risih. Bukan pada orang yang membayarku, tetapi risih dan jijik pada diri sendiri." Suara Liam terdengar enggan dan dipaksakan. "Percaya atau nggak, aku belum pernah melakukan hubungan intim dengan lawan jenis sebelumnya. Menjadi lelaki malam, semuanya bergantung dengan intuisi. Jangan tanya berapa kali aku membuat kesalahan karena minimnya pengetahuan. Dua bulan pertama masuk ke dunia itu hampir seperti mimpi buruk yang datang tanpa akhir!"
Kalau begitu, kenapa kamu menjerumuskan diri dalam dunia itu? Lilith membatin dalam hati, ingin melemparkan pertanyaan ini, tetapi segera ia tahan karena merasa tak seharusnya ia mempertanyakan keputusan orang lain sejauh itu.
"Tapi setiap orang harus beradaptasi, kan. Aku udah ambil jalan ini, jadi ya, aku harus menerima keadaan dengan baik!" Mencibir pada diri sendiri, Liam tertawa getir. Ayah telah melindunginya dari banyak hal buruk dan wilayah abu-abu di masa lalu. Pada akhirnya, Liam tetap terjun ke dunia laknat seperti sekarang. Bukankah ini lelucon kejam?
"Setidaknya, aku pembelajar yang cepat! Aku bisa menyesuaikan diri dalam banyak kondisi sulit!" Salah satu mata Liam berkedip, seolah-olah menggoda Lilith. Tindakannya menunjukkan kenakalan, tetapi Lilith menangkap kesuraman yang sempat berkelebat di mata lelaki itu.
"Kamu punya nurani yang baik!" Lilith menepuk lengan Liam secara refleks, menyampaikan pendapat pribadinya.
"Nurani? Lelaki yang memiliki nurani tak akan pernah menjual dirinya sendiri!" Siapa di sini yang terlalu naif? Jika Lilith ingin menghibur Liam, apa yang baru saja ia katakan terlalu munafik untuk didengar, terutama untuk lelaki berpengalaman seperti Liam.
"Kalau kamu nggak punya nurani, kamu nggak mungkin merasa risih dan jijik pada diri sendiri. Semua respon itu kan indikasi kamu melawan kata hatimu sendiri. Sebenarnya, di dalam hatimu, setidaknya ada kecenderungan untuk menilai mana yang benar, mana yang salah!"
Ada kejujuran dalam sikap Lilith. Opa telah mengajari Lilith tentang apa sesungguhnya "rasa". Suatu intuisi di dalam hati yang kita miliki, tanpa terkait dengan bagaimana mata dan telinga kita mendengar.
Mata tak selalu melihat kebenaran karena kebenaran tak selalu disampaikan melalui visual. Telinga tak selalu mendengar kebenaran karena kebenaran tak selalu diteruskan melalui kata-kata.
Namun, rasa adalah suatu keadaan batin yang sering kali menembus itu semua. Mampu menilai hal-hal baik dari setumpuk keburukan. Mampu mengambil hal-hal positif yang terkubur.
Namun, tampaknya kata-kata Lilith justru membuat suasana hati Liam jatuh ke titik rendah.
"Apa gunanya nurani jika pada akhirnya seseorang tetap terjerumus pada kehidupan yang gelap? Mari kita realistis, Lilith. Sekalipun aku punya nurani, itu toh percuma juga. Apa fungsinya? Apa gunanya? Apa efeknya? Aku makan dari menjual jasa tubuh, menyambung hidup dengan cara ini. Nurani toh tidak menghidupiku. Nurani juga tidak mengenyangkanku." Liam mengumpulkan piring di meja makan, menumpuknya menjadi satu, kemudian menempatkannya di bak cuci piring yang tak jauh dari Lilith.
"Satu lagi. Jika aku menggunakan nurani, aku tak akan mengambil kesepakatan menjadi suami bayaranmu untuk sementara waktu. Nurani tidak mengijinkan seseorang mempermainkan ikatan sakral seperti pernikahan." Liam meninggalkan setumpuk piring yang sedang ia cuci setengah jalan, kemudian datang mendekat ke arah Lilith.
Liam memutar kursi yang Lilith gunakan, kedua tangannya mengunci Lilith di sisi kanan dan kiri. Tubuh Liam membungkuk, mensejajarkan kepala mereka sehingga mata mereka saling terpaut satu sama lain.
"Nurani tidak akan memberikan keuntungan apa pun. Seandainya kamu tau, Lilith, ayahku menjaga hati nurani, menyambung hidup dengan menjadi kuli tukang angkat beban di pasar. Dia cacat. Kakinya sebelah kanan cidera. Tapi … apakah ada hal-hal baik yang datang pada kami?
"Tidak. Tidak sama sekali. Setiap hari kami kelaparan, setiap hari kami diolok-olok orang, setiap hari kami berpikir berpikir besok hidup dengan apa. Sulit membayar sewa kontrakan rumah bulanan, nasi belum tentu ada setiap sarapan, uang saku sekolah untukku tidak tersedia. Pernah beberapa kali kami mengais sampah, hanya untuk mencari sisa makanan orang lain, berebut dengan kucing jalanan.
"Hidup sulit hanya karena masih menjaga nurani yang tersisa. Berharap suatu hari nanti, hidup akan memiliki cahaya lebih untuk kami, membawa hal-hal baik yang belum pernah kami dapatkan.
"Tapi … apa yang terjadi? Hidup tetap sulit, makan pun kami seperti pengemis jalanan. Apa fungsi nurani? Apa untungnya memiliki nurani? Nurani hanya istilah semu untuk membenarkan seseorang menjadi lemah.
"Aku selalu berpikir. Seandainya saat itu kami membuang nurani, menjadi pencuri, maling, atau merampok. Mungkin … hidup kami saat itu bisa lebih baik.
"Sekarang kamu mengagung-agungkan nurani, seolah-olah nurani mampu mencukupi hidupmu. Jangan terlalu naif, Lilith. Orang yang terlalu naif biasanya akan hancur. Hancur karena dimanipulasi orang lain! Hancur menjadi alat orang lain!"
Liam menyentuh sudut mata Lilith, terus turun ke bawah, mengagumi fitur kerangka wajahnya, kemudian berhenti di ujung dagu.
"Hidupku lebih sulit darimu. Lebih berwarna darimu. Lebih rumit darimu. Jika kamu berniat mengajariku sesuatu tentang kehidupan, aku jauh lebih berpengetahuan dan berpengalaman darimu. Aku pernah dipuji, pernah diolok-olok, pernah dipaksa memohon, pernah dipermainkan, pernah ditinggikan setinggi langit, dan dijatuhkan sedalam palung Mariana!
"Dengan dunia kelam yang kujajal, kamu pikir, berapa wanita yang mengatakan mencintaiku? Memotovasiku? Mengatakan aku memiliki nilai? Menyanjungku ke awan? Bahkan menyebut aku menyimpan hati mereka?
"Banyak, Lilith. Banyak. Tapi kata-kata mereka menghilang secepat mereka membalikkan punggung. Jika aku mempercayai mereka, sama saja aku menghancurkan hatiku berulang kali.
"Sekarang, katakan padaku! Apakah kamu termasuk satu dari mereka? Mengatakan hal-hal baik, kemudian berbalik pergi dan mencemoohku di belakang?!"
Sebenarnya selain cacian dan makian, atau serangan verbal yang biasa Liam dapatkan, banyak juga yang memberinya harapan kosong dan meninggalkannya begitu mudah. Hati Liam telah mengeras. Memahami dengan baik bagaimana sepasang bibir mampu membolak-balikkan kata-kata sesuai keadaan.
Setiap kali Liam nyaris mempercayai seseorang, setiap kali itu pula ia dihempaskan dengan keras. Hidup selalu mengajarkan pada Liam bahwa ia sendiri, tak pantas untuk kasih sayang orang lain. Jangankan kasih sayang, simpati pun tak layak.
Lilith menatap mata Liam yang dipenuhi kegelapan, seolah-olah ada kekuatan tak kasat mata yang mencoba mengungkapkan keberadaannya melalui kebencian dan rasa sakit dari masa lalu.
"Tidak. Aku nggak pernah omong omong kosong!" Kebohongan bukan salah satu kelebihan Lilith. Dia cenderung mengatakan apa adanya, menyampaikan apa yang ia pikirkan.
"Oh ya? Kalau gitu, seberapa besar aku memiliki nilai di matamu?" Liam mencondongkan tubuhnya ke depan, membuat wajah mereka semakin dekat, bibir bersentuhan dengan bibir.
Malam telah larut. Bintang bertebaran di langit sana. Sinar bulan tertumpah melalui jendela ruang makan, jatuh pada lantai kayu yang mengkilap.
Ciuman itu terjadi lagi. Kali ini, lebih dalam, lebih lama, dan lebih berkesan.
Saat kata-kata tak diperlukan, tindakan bisa menjelaskan banyak hal. Saat jawaban tak diberikan, tindakan mewakili segalanya.
Hanya saja, baik Lilith dan Liam, tidak ada yang tahu apakah kali ini ciuman mereka merupakan sebuah kesalahan atau tidak.
Apa standar sesuatu disebut salah? Dan apa standar sesuatu disebut benar? Bagaimana jika sesuatu itu ada di tengah-tengah? Di antara keduanya?
…