Pulang

1059 Words
"Jika ini harga yang Bapak minta, saya tidak tertarik membeli tanah Bapak!" Jari-jari Pak Sudewo yang merambati tubuh Lilith terasa menjijikkan. Napas lelaki itu membuat Lilith ngeri, memberikan semacam noda tak kasat mata. Dengan sekuat tenaga, Lilith melepaskan diri, mendorong Pak Sudewo menjauh darinya. Dress Lilith sempat tertarik, robek di bagian ujungnya. "Ayolah, Bu. Jangan terlalu munafik. Hanya beberapa malam. Saya dapat kesenangan, Ibu dapat tanah saya. Bukankah ini win-win solution?" Tak ingin menyerah, Pak Sudewo berusaha meraih pinggang Lilith kembali, tetapi segera ditampar oleh wanita itu. Kedua mata Pak Sudewo menyipit penuh amarah. Dia mengusap sisi kiri wajahnya, tempat di mana Lilith menamparnya. Masih ada jejak panas di pipi. "Kamu berani!!" Pak Sudewo berdiri, menuding Lilith penuh emosi. Bisa-bisanya wanita itu menamparnya? "Kamu lupa! Tanah dan bangunan itu milik saya! Kalau kamu berani menyinggung perasaan saya, jangan harap saya mau melepaskannya ke kamu!" "Pak! Maaf, saya tidak tertarik untuk berbisnis dengan orang tidak bermoral seperti Bapak!" Dengan anggun, Lilith membenahi tas kecil yang ia kenakan, bersiap pergi kapan saja. "Heh! Kamu pikir kamu siapa? Kamu pikir, hanya karena kamu putri sulung Akbar Syah, kamu bisa bersikap sombong!?" "Tidak! Menjadi putri Akbar Syah membuat saya memahami banyak hal, salah satunya adalah menjauhkan diri dari lelaki sampah seperti Bapak!" Tak ingin berlama-lama lagi di dekat Pak Sudewo, Lilith berbalik pergi meninggalkan Pak Sudewo. Langkah-langkahnya masih anggun, gerakan tubuhnya seperti putri. "Dasar sombong! Jangan harap kamu bisa membeli tanah itu! Cih! Liat saja nanti! Kamu akan mengemis lagi di depanku! Saat itu terjadi, mari kita lihat siapa yang akan merendahkan diri!" Pak Sudewo membanting gelas kristal yang berisi red wine, membuat lantai cerah ternoda cairan merah dan serpihan gelas. Lilith tak terlalu memperhatikan makian Pak Sudewo. Dia mengeluarkan kunci mobil, masuk ke dalamnya, dan keluar dari gerbang utama vila. bibi-bibi pembantu yang tadi menyambutnya, kini membantu Lilith membuka gerbang. Ekspresi bibi itu rumit, sepertinya tak menduga Lilith akan pergi dengan cara ini. Setelah menghabiskan beberapa waktu untuk berkendara, Lilith tiba di rumah. Malam telah tiba. Cahaya keemasan lampu di halaman yang biasanya memberi kesan lembut, kali ini tidak terlalu berpengaruh banyak pada kondisi psikis Lilith. Lilith keluar dari mobil, sebelah tangannya memegang perut, wajahnya pucat pasi tak ada warna sama sekali. Lilith terhuyung nyaris jatuh ke tanah saat ia menginjakkan kaki, turun dari mobil untuk pertama kalinya. Lilith telah menahan diri. Dia menganggap apa yang ia alami terkait dengan Pak Sudewo sebagai tragedi acak di luar rencana. Seperti resiko yang lahir di luar variabel yang telah ditentukan, hal-hal itu sebenarnya wajar terjadi. Tapi getaran tubuhnya tak bisa berbohong lebih lama lagi. Kedua mata Lilith berubah nyalang, memerah karena rasa takut dan trauma lama. "Hoek. Hoek!" Lilith menopang sebelah tangannya ke dinding sudut rumah, tak kuasa menahan muntah. Enam tahun telah berlalu. Lilith menjalani hari dengan baik, menghilangkan semua kenangan buruk, berbaur luwes ke dalam banyak jenis hubungan sosial. Dia pikir masa lalu gelap itu telah terkubur lama, tak akan membuat pikiran bawah sadarnya mengulik lagi. Lilith kira semuanya baik-baik saja. Sepertinya tidak begitu. Membayangkan tangan kotor Pak Sudewo yang sebelumnya meraba-raba pinggang Lilith, napas menjijikkan yang sengaja mengotori dirinya, dan keinginan amoral lelaki itu yang memuakkan, membuat pertahanan Lilith hampir jebol. Bayangan enam tahun lalu kembali terbuka lagi, seperti film lama yang diputar dengan efek slow motion. "Ada apa? Kamu kenapa?" Suara magnetis Liam terdengar tak jauh dari Lilith. "Tidak apa-apa." Berusaha berdiri tegak, Lilith mengusapkan kedua telapak tangan di dressnya untuk menghilangkan keringat dingin. Mata Liam menatap bagian ujung dress Lilith yang terkoyak, bibirnya tegang dalam sekejap. Meskipun kondisi Lilith sudah lebih baik, tetapi wajahnya menunjukkan keletihan dan kelelahan yang sangat. Manik-manik keringat dingin masih terlihat di pelipis Lilith, menandakan ia baru saja mengalami hal-hal yang mengguncang mentalitas. "Ayo masuk. Sudah malam!" Liam meraih lengan Lilith, setengah menopang bobot wanita itu pada dirinya sendiri. Ada bekas muntahan samar di tanah, yang segera Liam abaikan. Tampaknya Lilith baru saja mengalami hari yang buruk. Lilith membeku, menatap lama di mana lengan Liam berada, sementara keningnya berkerut dalam. Sentuhan Liam entah kenapa tidak terasa menjijikkan seperti Pak Sudewo. Bahkan jika disadari lebih jauh, ada semacam ketenangan yang lelaki itu salurkan pada Lilith melalui gerakan sederhana ini. Liam membimbing Lilith duduk di sofa tunggal ruang tengah, sementara dia menyiapkan air hangat dengan minyak esensial untuk berendam Lilith. "Berendam memiliki efek menenangkan." Liam mendorong Lilith menuju kamar mandi utama, membiarkan wanita itu menikmati waktu untuk kenyamanan. Dua puluh menit lebih Lilith menghabiskan waktu di bathroom. Liam benar. Air hangat dan aroma minyak esensial mampu menenangkan hatinya, mengurangi tekanan yang sempat Lilith tanggung atas ingatan buruknya terkait Pak Sudewo. Meskipun ingatan itu masih belum hilang, setidaknya sekarang kondisi psikis Lilith sudah mendekati normal, jauh lebih baik daripada sebelumnya. Lilith membuang dress kuning pucat di tong sampah, mengenakan piyama sutra berwarna putih polos tanpa renda, kemudian berjalan ke luar menuju meja makan. Rambut Lilith sudah disisir, tetapi masih setengah basah. Aroma shampo menguar ke udara, masuk ke indera penciuman Liam. "Sudah lebih baik?" tanya Liam, melihat ekspresi wajah Lilith lebih santai daripada sebelumnya. "Ya. Masak apa kali ini?" Lilith menyapukan pandangannya ke seluruh meja makan. Ada nila goreng, sambal goreng kentang udang, dan urap sayuran. "Urap sayuran?" Lilith terkejut, tak menyangka menu itu masuk dalam kategori selera Liam. "Ya. Dulu Ayahku suka masak menu itu." Jejak nostalgia tampak di mata Liam, ada kehangatan dan kelembutan di wajahnya. "Ayah?" Sejak Lilith tinggal bersama Liam, dia belum pernah mendengar Liam menyebut-nyebut tentang keluarganya sama sekali. Ini adalah pertama kalinya. "Ya. Sekarang dia sudah meninggal!" Liam menjawab santai, tetapi jejak kehangatan dan kelembutan di matanya hilang dalam sekejap. "Oke, nggak apa-apa. Hidup terus berjalan. Ayahmu pasti bahagia di alam sana!" Menepuk lengan Liam sebagai dukungan, Lilith mendapati tubuh lelaki itu tegang. "Ya. Hidup terus berjalan." Apa yang tidak bisa diselesaikan Ayah saat hidup, itu semua akan menjadi tanggungan yang akan Liam selesaikan. Liam bertekad dalam hati. Tidak semua orang tahu bagaimana hati Liam beriak. Tidak semua orang tahu seluruh rencana yang ia mainkan bertahun-tahun lamanya. "Lilith!" Liam menatap wanita itu, melihat mata yang jernih dan tak terkotori oleh hal-hal buruk. "Ya?" "Kamu pulang dalam keadaan kacau." "Tidak. Aku hanya—" "Ya, kamu kacau! Kalau boleh tau, apa yang terjadi sebelumnya?" "Liam!" "Lilith. Terkadang, dalam hidup, sesekali kita harus mencoba untuk berbagi dan percaya pada seseorang!" …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD