Lilith memasuki area halaman vila di daerah Bogor. Dia membawa mobilnya masuk ke dalam gerbang, memarkirkannya di depan teras utama. Dress kuning pucat membalut tubuh ramping Lilith, menonjolkan wajah ayunya yang dipulas make up dengan baik.
Mia telah membuat janji dengan Pak Sudewo untuk membahas masalah tanah dan bangunan yang akan dijual di sisi perusahaan Lilith. Tadinya Lilith berinisiatif mengadakan pertemuan ini di tempat umum seperti restoran atau kantor. Namun, Pak Sudewo sedang tidak sehat. Dia sedang beristirahat di salah satu vilanya dan tak ingin keluar. Mau tak mau, Lilith yang harus mendatangi Pak Sudewo di tempat ini.
"Bu Lilith?" Seorang bibi-bibi pembantu rumah tangga menyambutnya, mengangguk dalam-dalam sebagai bentuk penghormatan.
"Ya. Saya." Bibir Lilith tertarik sempurna, memberikan senyum menawan.
"Sudah ditunggu Pak Sudewo di ruang tengah. Silakan, Bu!" Bibi setengah baya itu membimbing Lilith ke ruang dalam, tempat di mana Pak Sudewo berada.
Vila ini merupakan bangunan modern yang didesain dengan interior menonjol. Sepanjang dinding, banyak hiasan dan lukisan terpajang. Vas-vas keramik ditata mencolok, dan karpet persia tebal digelar sepanjang ruangan. Warna-warna emas dan kristal di mana-mana, seolah menunjukkan kemewahan dan keglamoran.
Lilith sendiri tak terlalu suka kemewahan yang berlebihan. Dia menilai vila ini terlalu vulgar.
"Silakan, Bu!" Bibi pengurus rumah tangga berhenti di perbatasan ruang tengah, kembali berbalik arah dan meninggalkan Lilith tanpa ragu.
Seorang lelaki berusia lima puluhan duduk di kursi besar, membelakangi jendela tinggi yang tirainya dibiarkan terbuka. Senja membayang di cakrawala. Langit menunjukkan warna keemasan dengan semburat merah yang mempesona.
"Bu Lilith Akbar Syah?" Suara bariton lelaki menyapa Lilith dengan santai.
"Ya. Bapak Sudewo?" Melihat seorang lelaki bertubuh sedang dengan wajah oval di depannya, Lilith mengerutkan dahinya dalam-dalam.
Lelaki di depan Lilith terlihat sehat, duduk dengan pakaian kasual dan bersikap santai. Tak ada jejak kelelahan dan kelemahan sama sekali di wajahnya. Kedua pupil matanya justru menunjukkan vitalitas yang bagus. Jika ini Pak Sudewo, apakah kabar dia sakit dibuat-buat?
"Duduk duduk! Jangan malu-malu!" Pak Sudewo menunjuk kursi di sisinya, memberikan isyarat pada Lilith untuk menempati tempat tersebut.
Sebagai bentuk kesopanan, Lilith duduk di sisi Pak Sudewo. Dia mengapit sedikit ujung dress, menahan agar penampilannya cukup sopan.
"Kamu mau menawar tentang lokasi bekas perusahaan saya dulu?" Tanpa Lilith membuka topik, Pak Sudewo telah melakukannya dengan baik.
"Ya. Saya dengar lokasi itu mau dijual. Saya ingin memastikan itu ke Bapak. Jika benar mau dijual, saya bersedia membeli dengan harga yang wajar. Buka saja penawarannya, biar nanti saya ikuti harga Bapak." Lilith menyebut lokasi tempat itu, dalam hati membuat perhitungan kasar kisaran harga pasaran lokasi tersebut. Jika Pak Sudewo orang yang mudah didekati, seharusnya proses jual beli ini tak akan memakan waktu lama.
"Ya. Lokasi itu memang mau dijual, tetapi saya akan menjualnya langsung dari tangan saya. Tidak ada broker, tidak ada agen, tidak ada perantara."
Lilith yang tak terlalu mengerti maksud dari kata-kata Pak Sudewo, mengangguk ringan dan menanggapi pelan. "Baik. Saya akan membeli dari Bapak langsung!"
"Ya. Tanah dan bangunan itu hanya bisa saya jual langsung, dan harganya juga sesuai dengan permintaan saya!"
Menyadari hal ini, Lilith tak ingin berbelit-belit. Opa telah mendengar situasi ini dan beliau mendorong Lilith untuk membeli tanah tersebut. Perusahaan Lilith perlu berkembang dan diperluas. Kesempatan membeli tanah yang sesuai tidak mudah ditemukan. Bahkan jika harganya di atas rata-rata, Opa tetap ingin membeli tempat tersebut. Apalagi lokasi tanah itu persis di sebelah perusahaan Lilith berada. Bukankah ini sesuai yang diharapkan?
"Tentu saja saya akan menghargai permintaan Bapak. Katakan saja, dan kita akan membahasnya bersama-sama!" Lilith tersenyum profesional, menunjukkan keseriusan pada niat bisnis yang ia lakukan sekarang.
"Santai saja. Santai saja. Permintaan saya tidak besar!" Pak Sudewo bangkit, berjalan ke arah lemari besar dengan bingkai kaca yang tembus pandang.
Meskipun usia Pak Sudewo setengah abad, tetapi tubuh lelaki itu masih bugar dan kuat. Tidak ada lemak berlebihan di sana-sini. Lilith menebak Pak Sudewo adalah orang yang rutin berolah raga dan memperhatikan bentuk tubuhnya dengan baik.
Sebotol red wine dengan dua gelas kristal tinggi baru saja diambil oleh Pak Sudewo dari lemari besar. Dia membawa semua itu ke meja, menatap Lilith dengan senyum kecil.
"Jangan terlalu serius. Mari kita menenangkan syaraf kita sebentar." Setelah membuka sumbat botol dengan hati-hati, Pak Sudewo menuangkan cairan itu ke dalam gelas kristal, memberikan salah satunya pada Lilith.
Kedua mata Lilith menyipit. Ada kewaspadaan yang mulai terbentuk di hatinya. Sepertinya banyak informasi yang didapatkan Lilith salah.
Pak Sudewo jelas tidak sakit. Orang sakit tidak mungkin seenerjik ini. Pak Sudewo juga tidak memiliki kesopanan. Orang yang menjaga moralitas tidak akan menawarkan minuman keras pada tamu bisnis yang ia temui begitu saja.
"Pak, saya di sini untuk membahas bisnis. Bukan untuk bersenang-senang!" Jika Pak Sudewo ingin bermain-main, Lilith tak mau menemaninya. Kedatangan Lilith ke tempat ini murni urusan profesional. Alkohol jelas bukan tujuannya.
"Jangan terlalu kaku. Bisnis tidak akan manis tanpa pemanis! Ayo kita bersulang!" Tak merasa bersalah sama sekali, Pak Sudewo mengangkat gelasnya tinggi-tinggi, menyesap cairan merah itu dengan ekspresi tergila-gila.
"Ini diproduksi tahun enam puluhan. Rasanya kuat dan memberi kesan manis yang unik!" komentar Pak Sudewo, matanya penuh kepuasan.
"Pak Sudewo, saya ingatkan, tujuan saya ke sini untuk membentuk kesepakatan tentang jual beli tanah Anda. Jika Bapak bisa menyingkirkan minuman itu sekarang, saya akan lebih menghargainya!" Lilith bukan orang yang polos. Dia tahu banyak jenis kesenangan terselubung. Tetapi Lilith orang yang sangat berkomitmen. Dia memiliki batasan-batasan yang jelas pada tindakannya. Berbisnis dengan cara ambigu seperti ini jelas bukan hal yang ia inginkan.
"Bu Lilith, jangan terlalu kaku. Saya sudah mendengar selentingan tentang Ibu. Di usia Ibu, sepertinya Ibu terlalu serius menyikapi banyak hal. Ayolah! Mari kita bicarakan tanah dengan suasana yang sedikit rileks. Ibu tau, red wine solusi yang sempurna untuk itu!" Pak Sudewo mengangsurkan gelas berisi alkohol pada Lilith, setengah memaksa wanita itu untuk menerima.
Lilith mendorong gelas yang ditawarkan Pak Sudewo, membiarkan sebagian isinya tumpah, membasahi dress kuning pucat yang ia kenakan.
"Saya ingatkan, Pak. Jangan paksa saya bersikap kasar!" Lilith menggemeretakkan giginya.
"Ayolah, Bu. Tanah itu hanya bisa dijual sesuai kehendak saya. Harganya tidak akan mahal. Saya akan beri harga pasaran. Tapi … kita perlu saling mengenal satu sama lain, kan? Anggap saja itu harga lain yang saya minta." Tangan Pak Sudewo bergerilya ke pinggang Lilith, mengusapnya maju mundur beberapa kali, membuat Lilith membeku.
"Bagaimana jika satu minggu kita bersama?" Pak Sudewo menyarankan, kedua matanya menunjukkan keserakahan. Wanita di sisinya jelas memiliki kualitas tinggi. Sepertinya dia akan memanen hal bagus kali ini.
…