Tolong, Lupakan!

1286 Words
Sinar matahari menyusup ke dalam ruang makan, masuk melalui jendela besar dan tinggi tanpa tirai. Beberapa masakan yang masih panas dan mengepul tersaji di meja makan, menguarkan aroma sedap yang menggoda indera pembau. Liam duduk di meja makan, melipat celemek biru polos, dan melemparkannya ke sudut ruangan, persis mengenai rak kecil. Suara langkah-langkah familier terdengar mendekat ke ruang makan, diikuti penampilan sesosok wanita menawan dengan rambut digelung di belakang kepala, blazer gelap, dan celana kain sepanjang mata kaki. "Sarapan," tawar Liam, menunjuk sajian di atas meja makan. Lilith menatap Liam lama, bahasa tubuhnya menunjukkan ketidaknyamanan. Setelah menimbang-nimbang beberapa saat, Lilith memutuskan untuk mengambil kursi di depan Liam untuk diduduki. "Kita perlu bicara!" Lilith melipat kedua tangannya di atas meja, seperti anak sekolah yang serius membahas suatu masalah. "Um?" Liam mengambil nasi dengan tenang, membubuhinya dengan masakan yang ia buat sendiri. "Apa yang terjadi semalam adalah suatu kesalahan. Aku nggak mau hal itu terjadi lagi di masa depan!" Lilith menjelaskan, kedua tangannya mengepal tanpa sadar. Namun meski begitu, secara keseluruhan, ekspresi Lilith masih menunjukkan ketenangan. "Apa kamu mengacu pada ciuman?" Liam menaikkan salah satu alisnya, membuat wajahnya yang terpahat sempurna memiliku jejak keliaran. Lilith menghindari pandangan matanya dari Liam, sebelum akhirnya menjawab pelan, "Ya." "Mari kita anggap kejadian semalam nggak pernah terjadi. Di masa depan, tolong hargai batasan yang udah aku sampaikan di awal kesepakatan kita. Pernikahan ini hanya formalitas. Jangan membuat semuanya rumit!" Liam melahap sarapannya dengan santai, mendengarkan setiap kata yang Lilith sampaikan, memilih untuk tidak menanggapinya. "Liam!" Lilith memanggil lelaki di depannya, merasa terganggu saat Liam tak juga merespon kata-katanya. "Um?" Liam mengambil air putih di sisinya, meneguknya pelan, kembali menatap Lilith dengan serius. "Lilith, mungkin apa yang terjadi semalam adalah kesalahan. Tapi apa yang udah terjadi, nggak bisa semata-mata dianggap nggak terjadi sama sekali. Itu dua hal yang berbeda. Selain itu, seperti yang sudah aku katakan, aku nggak nyesel." "Liam! Jangan melangkahi apa yang nggak seharusnya kamu langkahi!" "Itu hanya ciuman, oke? Apa salahnya? Hanya sentuhan bibir ke bibir, kulit ke kulit, bagian tubuh ke bagian tubuh. Itu hal yang lumrah terjadi antara wanita dan laki-laki!" "Tapi itu nggak akan pernah bisa terjadi di antara kita!" "Kenapa? Karena aku lelaki malam yang terbiasa menjual hal-hal seperti itu sehingga nilaiku rendah di matamu? Karena aku lelaki bayaran sehingga dianggap najis di depan kamu? Karena tubuhku kotor, sehingga akan menodaimu?" "Liam!" "Aku tidak tau kenapa, aku sempat berpikir kamu berbeda dengan wanita lainnya!" Liam memejamkan matanya, menertawakan diri sendiri. "Sepertinya aku salah!" Liam mendorong gelas kristal di depannya yang telah kosong, tersenyum sinis, kemudian berjalan ke luar dari ruang makan. Lilith duduk di depan meja makan, menatap punggung Liam yang lebar, menjauh selangkah demi selangkah darinya. Kepalan di kedua tangan Lilith semakin mengerat, menahan emosi yang perlahan-lahan meluap dari hatinya. Tidak. Dia tidak pernah berniat merendahkan nilai Liam sama sekali. Beberapa hari ini, hidup bersama Liam, membuat Lilith menemui banyak kelebihan-kelebihan Liam. Lilith cenderung bertanya-tanya kenapa lelaki seperti Liam memilih mengandalkan kehidupan malam sebagai mata pencahariannya. Padahal menurut Lilith, jika Liam mau, tidak sulit baginya mencari pekerjaan lain sebagai upaya bertahan hidup. Liam memiliki modal dalam hal wajah. Kenapa tidak mencoba masuk dunia modelling? Liam bisa musik. Kenapa tidak mengambil profesi itu? Liam memiliki intuisi tinggi dalam hal desain, kenapa tidak memanfaatkannya? Dan baru dua hari ini saat Lilith tak sengaja bertemu dengan Mami Rena, Mami mengatakan Liam menggondol ijazah S1 Akuntansi. Kenapa tidak menggunakan latar belakang pendidikannya sebagai akuntan? Mami mengatakan keputusan Liam sebagai lelaki malam karena jalan itu adalah jalan mudah di antara semua pilihan yang tersedia. Menghasilkan uang dengan cepat, jumlahnya pun besar. Dengan kata lain, dunia malam adalah jalan pintas Liam. Alasan Mami masuk akal. Tetapi entah kenapa, hati nurani Lilith menolak penjelasan ini. Setiap kali ia menatap pupil mata Liam, Lilith mendapati kegigihan tinggi dan kekuatan yang tersembunyi. Orang dengan mata seperti itu, jelas bukan orang berkepribadian lemah yang menolak untuk berjuang. Semakin Lilith memikirkannya, semakin bingung ia menilai Liam. Sepertinya lelaki itu bukan sosok yang sederhana. "Liam." Lilith menyebut sata nama tersebut, tatapan matanya penuh perenungan. "Aku nggak menilai kamu rendah." Lilith memejamkan matanya, bermonolog seorang diri. Dia ingin melupakan sentuhan Liam. Menghapus ciuman Liam. Semata-mata bukan karena jijik. Tapi justru ia merasa ada emosi yang mulai terbangun dalam dirinya setiap kali ia bersinggungan dengan Liam. Dan emosi ini membuatnya takut. Seolah-olah jika Lilith membiarkan semuanya berkembang, dia akan memasuki suatu periode yang ia hindari selama ini. Terjebak dalam perasaan. … "Soni, kamu pulang!" Suara seorang wanita memerintah Soni melalui sambungan telepon, menunjukkan kemarahan dan kekesalan. "Nggak perlu repot-repot urusi Soni lagi, Ma. Soni udah hidup dengan baik tanpa perlindungan Mama!" Soni menjawab dengan nada sarkasme. Dia mencibir, menertawakan Mama. Memangnya Mama pikir Soni siapa? Anak kecil yang kerika disuruh melakukan sesuatu akan langsung melakukannya? "Kamu ini! Dua hari lagi Mama atur pertemuanmu dengan Reihan. Masih mau memberontak juga?! Pertunanganmu dua bulan lagi. Jangan bikin ulah. Mama pusing dengan tingkah kamu!" Vivian memijat kepalanya sendiri, kesal setengah mati oleh pemberontakan satu-satunya putri yang ia miliki. Soni bukan hanya keluar dari rumah dan melepaskan diri dari pengaruh Vivian. Anak itu juga menentang semua kata-kata Vivian. Setiap kali Vivian berkata A, Soni akan melakukan B. Jika Vivian mengatakan B, Soni sengaja melakukan A. Soni seolah mengejek Vivian terang-terangan. "Huh! Belum puas Mama atur hidup Soni? Asal Mama tau, Soni sudah punya pacar sendiri. Jauh lebih baik dari Reihan yang kata Mama penuh pesona di sana-sini!" "Sonia Siranata!" Kali ini Mama sangat marah. Setiap kali kemarahan Mama melonjak tak terkendali, dia selalu memanggil Soni dengan nama panjangnya. "Ma! Reihan yang Mama sebut lelaki kompeten, kalau Mama cari tau riwayat hidupnya, laki-laki itu punya kekasih di mana-mana. Simpanannya lusinan. Anak gelapnya juga enggak tau berapa. Tongkrongannya di klub malam, hiburannya wanita bayaran, dan mainannya judi. Seperti itu Mama mau nikahin Soni ke dia? Ma! Dengan lelaki seperti itu, kalau Soni bisa hidup lebih sari satu tahun setelah pernikahan, sudah sangat luar biasa!" "SONIA SIRANATA!" Kali ini teriakan Mama berhasil membuat gendang telinga Soni berdenging. Dari mana anak ini memiliki informasi salah kaprah tentang Reihan? Jelas Vivian tidak percaya sama sekali. Vivian telah mencari tahu latar belakang Reihan. Meskipun lelaki itu tak terlalu bersih—mana ada di dunia ini lelaki yang hidupnya seperti biarawan—tapi yang jelas, tidak separah yang Soni katakan. Sejauh ini, Reihan beehasil lulua standar tinggi Vivian. Setidaknya Reihan masih memiliki kualitas nyata untuk bersanding dengan Soni. Kekayaan Reihan juga memungkinkan Vivian mendapatkan keuntungan lebih. Bukankah ini win win solution? "Tau nggak sih, Ma? Ada yang namanya club b**m. Itu club pukul-pukul dan kekerasan dalam hubungan. Reihan itu anggota VIP club itu!" Omongan Soni semakin ngawur. "Jangan ngomong sembarangan!" "Itu orang juga sering ngupil di depan umum. Nggak punya attitude. Sikapnya bikin Soni illfeel. Dia punya epilepsi. Emosinya juga naik turun nggak terkontrol. Mungkin dia bipolar. Mungkin juga punya dua kepribadian. Mungkin juga punya sisi lain. Mungkin dia monster yang belum terdeteksi radar. Mungkin—" "Cukup!" Jika diteruskan, Vivian tak tahu lagi list apa saja yang akan Soni katakan sebagai objek keburukan-keburukan Reihan. Vivian tahu mulut Soni tak dapat dipercaya, tetapi ia tak pernah menyangka kebohongan Soni akan sejauh ini. Imajinasi anak ini sungguh luar biasa. Vivian selalu bertanya-tanya kenapa Soni tak memilih profesi sebagai novelis saja. "Intinya, Ma! Jangan harap Soni mau nikah sesuai kehendak Mama!" Setelah selesai memfitnah Reihan yang tidak bersalah, Soni merasa puas. "Bagaimanapun juga, kamu masih anak Mama!" "Kalau begitu, coret aja Soni dari KK, Ma. Nggak masalah!" Di seberang sana, Mama membanting ponsel dengan emosi. Membiarkan sambungan itu terputus secara sepihak. Mari kita lihat ke depan. Akan sejauh mana anak liar itu tahan hidup di luar. …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD