Satu hari ini digunakan Lilith untuk menyiapkan rumah dan menempatkan barang-barang pribadi. Liam ikut membantu, menyingsingkan lengannya yang berotot, bahkan membersihkan beberapa area rumah yang menurutnya kotor.
Semenjak Lilith hidup sendiri sepuluh tahun yang lalu, ia tak pernah sekalipun memiliki asisten tumah tangga. Entah karena dia merasa privasinya dilanggar, atau merasa lebih nyaman melakukan apa pun sesuai kemauannya sendiri, yang mana pun itu, membuat Lilith lebih suka tidak menggunakan ART. Jika pekerjaan sedang menumpuk dan tak memiliki waktu mengurus rumah, biasanya dia menggunakan jasa loundry untuk mengurus baju kotor, dan mengorder makanan cepat saji untuk memenuhi hasrat perutnya. Lebih praktis, bukan?
Lilith mendesah panjang, setengah berbaring di sofa ruang tengah. Lilith baru saja selesai merapikan kamar. Manik-manik keringat muncul di pelipisnya yang putih, seperti kristal yang tembus pandang.
"Lelah?" Liam membawakan air es yang segera diminum oleh Lilith dalam beberapa tegukan.
"Lumayan. Kamarmu sudah selesai dirapikan?" Lilith menempatkan Liam di kamar sebelahnya, sebuah ruangan berukuran sedang yang menghadap arah matahari tenggelam.
"Sudah! Berbaringlah. Biar aku memijatmu!" Liam mendorong bahu Lilith untuk kembali berbaring di sofa, menekannya dengan cukup lembut.
"Tidak perlu!" Suhu telapak tangan Liam yang hangat menembus kemeja Lilith, membuat tubuhnya menegang untuk sesaat. Sentuhan Liam ini terlalu mendominasi, padahal ini hanya sentuhan kecil. Lilith terguncang mendapati kenyataan ini.
"Ini hanya pijatan." Liam menenangkan, tanganya yang kuat mulai bergerak pelan menekan bahu Lilith di titik-titik yang membuatnya pegal.
"Tidak, Liam. Aku—"
"Ini hanya pijatan, Nyonya Akbar Syah. Apa yang kamu takutkan? Aku bukan predator yang akan memangsa setiap wanita dalam setiap kesempatan!" Liam tidak mengendurkan pijatannya, semakin menekan bagian-bagian yang membuat Lilith perlahan-lahan rileks. Sepertinya Liam sudah terbiasa dengan gerakan ini. Mungkin pijatan adalah salah satu kemampuan Liam yang tersembunyi.
"Bukan. Aku tidak berpikir seperti itu!" Lilith sedikit malu. Jujur, tindakan Liam memang sedikit agresif saat ini. Lilith sempat waspada, khawatir mereka entah bagaimana melewati batas.
"Sebagian besar wanita yang mengenalku, selalu berpikir bahwa tindakan yang aku lakukan mengarah pada godaan. Menurutmu, apakah itu anugerah atau kutukan?" Suara Liam samar, kedua matanya menatap Lilith yang kini mulai memejamkan matanya karena kelelahan.
"Setiap kali aku memawarkan simpati pada mereka, aku dianggap menggoda. Setiap kali aku bersikap sopan menawari mereka minum, aku dianggap menggoda. Bahkan setiap kali aku menyapa mereka karena kesopanan, jatuhnya tetap sama!" Tawa Liam terdengar getir dan suram.
Sejak tujuh tahun yang lalu ia memasuki dunia malam, tindakan yang ia lakukan selalu diarahkan pada hal-hal negatif. Hampir tak ada yang mempercayai ketulusannya. Bahkan pernah sekali ia menolong seorang wanita di depan club karena kekerasan dari orang lain, cara wanita itu membalas adalah dengan membookingnya selama beberapa hari.
Bagaimana mengatakan semua ini? Lama-lama Liam lelah untuk tetap mempertahankan ketulusan. Orang-orang di sekelilingnya selalu menganggap tindakannya sebagai sebuah transaksi.
Benar kata Ayah. Setelah kamu tenggelam dalam dunia kotor, hal baik apa pun yang kamu lakukan, semuanya akan dipertanyakan.
Sejak itu, Liam mulai bersikap dingin. Dia berhenti untuk bersimpati, berhenti untuk peduli, berhenti untuk berempati. Senyumnya masih ada, tawanya selembut biasanya, kedua manik matanya pun tetap penuh kehangatan. Tapi tak ada lagi ketulusan. Hati nuraninya mulai terkikis perlahan-lahan oleh dunia malam.
Dalam dunia kotor milik Liam, Liam belajar bermain peran. Dia seperti aktor yang segala tindakannya dianggap sebagai tuntutan akting. Senyumnya adalah modal dirinya menggaet pelanggàn, tawanya adalah modal dirinya menaikkan nilai. Semua yang ada dalam tubuhnya, dinilai sebagai aset. Komoditas. Tak lebih.
Karena ketika seseorang mulai menjual dirinya dalam dosa, ia sama saja dengan menjual jiwanya yang tersisa. Orang yang tanpa jiwa, seperti cangkang kosong tanpa nilai.
"Jangan pedulikan pikiran orang lain. Tindakanmu adalah kontrol milikmu sendiri. Pikiran orang lain adalah kontrol miliknya. Selama kamu tidak berniat melakukan sesuatu, biarkan saja mereka berpikir apa." Lilith menepuk tangan Liam, mengutarakan pikirannya.
Gerakan Liam sedikit melambat. Dia tak pernah mengira jawaban inilah yang akan Lilith berikan. Sebagian besar orang yang telah mengetahui profesinya, hanya akan menyalahkan Liam atas semua hal. Dia tak ubahnya seperti iblis. Setiap kali orang melakukan kesalahan, selalu dinisbatkan kepada iblis. Setiap kali orang melakukan dosa, selalu ditudingkan pada peranan iblis.
Padahal dalam hal-hal tertentu, terkadang hati seseorang bisa menyamai gelapnya sang iblis sendiri, tanpa harus digoda dan dirayu lebih dulu.
"Sebenarnya, posisi kita memiliki beberapa kesamaan!" Lilith mengerutkan kening. "Aku bukan orang yang melankolis dan terkadang, tak mudah menjelaskan banyak keputusanku pada orang lain. Sebagian besar dari mereka sering kali menghakimi keputusanku, menganggapku tak memiliki kepekaan dalam banyak hal."
Dibandingkan dengan Fiska yang lembut dan perasa, Lilith jelas seperti mawar berduri. Kata-katanya selalu terang-terangan, kritiknya selalu langsung, sehingga banyak orang yang membandingkan keduanya menganggap merek sebagai dua sisi mata uang yang saling bertolak belakang.
"Mungkin kita ditakdirkan bersama?" Alis Liam terangkat, membentuk pose menggoda. Pijatan di bahu Lilith semakin lembut, pelan, dan tidak lagi seperti sebelumnya.
"Aku tidak terlalu percaya pada takdir!" Lilith menyeringai. Dengan bijak, dia beringsut pelan untuk bangkit, duduk dan menjauh dari Liam.
"Sama. Aku juga tidak!" Seringai Liam terlihat santai dan nakal. "Ngomong-ngomong tentang pernikahan, Fiska, adikmu, memberiku hadiah arloji!"
"Arloji?" Lilith tertegun sejenak.
"Ya. Arloji. Sepertinya edisi terbatas!"
"Hahaha. Aku menyarankan arloji itu untuk tidak digunakan!" Lilith mencibir. Dia menggerakkan lengannya beberapa kali untuk menggerakkan sendi-sendi yang pegal, matanya menyorot tajam saat ia teringat akan tindakan Fiska.
"Fiska tidak sesederhana itu!" Lilith menambahkan. Memberikan arloji itu pada Liam secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan Lilith hanya berarti satu hal. Adiknya mulai bermain dan mengarahkan Liam sebagai target utama.
"Ya. Aku tau!" Untuk seseorang yang telah bekerja lama di dunia malam, sebuah dunia abu-abu yang tidak lagi mengkotak-kotakkan benar dan salah, Liam telah banyak melihat wajah. Termasuk wajah-wajah yang di dalamnya menyimpan banyak intrik dan manipulasi. Fiska termasuk salah satunya.
"Liam, selama kita menikah, kamu tidak bisa kembali pada profesimu sebelumnya!" Nada Lilith menunjukkan ketegasan, tak ingin dibantah.
"Aku adalah lelaki bayaran. Kesepakatan akan mengikatku! Orang bayaran selalu terikat dengan tuannya!" Liam mengangguk dalam-dalam, memberikan janjinya dengan rendah hati. Meski begitu, matanya yang biasanya hangat dan menggoda memiliki tatapan sinis dan merendahkan diri sendiri.
Lelaki bayaran. Itulah statusnya.
Bibir Lilith terbuka ingin mengatakan sesuatu, tetapi kemudian ia urungkan. Dia berdiri, mengambil sebuah kartu debet dari tas pribadinya, dan menyerahkannya pada Liam.
"Kamu telah membayar sebagian tarifku di awal. Sisa yang dijanjikan akan dibayarkan saat kontrak kita berakhir, bukan sekarang!" Liam menolak kartu yang disodorkan Lilith.
"Tidak. Ini uang tambahan untuk hidupmu sehari-hari. Ambil saja. Nomor pin kartunya lima lima dua dua satu dua!"
Senyum Liam berubah dalam dan penuh arti. Dia tertawa kecil, sebelum akhirnya meraih kartu tersebut.
"Pelayanan apa lagi yang perlu aku lakukam untuk tunjangan tambahan ini?" tanyanya serius.
"Tidak ada!"
"Kamu yakin?" Liam membuka kancing kemejanya satu demi satu, menatap Lilith dengan mata mengundang, kemudian berhenti untuk sejenak.
Tak ingin merespon tindakan Liam, Lilith hanya bisa bebalik dan pergi ke kamar, meninggalkan Liam seorang diri. Tanpa diketahui Liam, Kedua tangan Lilith terkepal di sisi tubuhnya dengan kuat.
Sementara di belakang Lilith, tawa getir Liam terdengar memantul di setiap dinding ruangan.
Setiap kali Liam lupa, kenyataan selalu menyadarkan dia siapa dia sesungguhnya. Sebatas orang bayaran. Jasa yang diambil seseorang dengan harga tertentu.
…