Satu bulan kemudian.
Hari ini adalah hari pernikahan antara Liam dan Lilith. Seperti yang mereka sepakati bersama, pernikahan ini hanya dilakukan di KUA, serta makan-makan sederhana setelahnya. Tidak ada resepsi, tidak ada perayaan besar-besaran. Tidak ada apa pun.
Sebenarnya Opa berharap pernikahan Lilith tidak sesederhana ini. Bagaimanapun juga, Lilith adalah cucu kesayangan. Namun, Lilith berkata resepsi pernikahannya akan dilakukan di masa depan. Perusahaan sedang sibuk, sehingga resepsi pernikahan besar tidak mungkin diadakan dalam waktu dekat. Sementara ini, untuk mengikat keseriusan hubungannya terhadap Liam, menikah via KUA sudah menjadi pembuktian niat mereka.
"Baiklah. Nanti jika perusahaan lebih santai, saatnya kamu mengatur resepsi!" Akhirnya Opa berkompromi.
"Iya." Lilith mengangguk setuju. Dia menggenggam sepasang surat nikah di tangannya. Satu berwarna hijau. Satu berwarna merah. Mata Lilith memiliki jejak emosi samar.
"Ada sesuatu yang salah?" Sentuhan hangat hinggap di lengan Lilith, menyadarkan dirinya dengan cepat. Lilith menggeleng kepalanya kuat-kuat, sedikit linglung oleh sentuhan Liam yang tiba-tiba.
"Tidak. Semuanya baik-baik saja!" Hanya masih terkejut saat ini kita telah menikah, diakui secara hukum sebagai suami istri yang sah, batin Lilith di dalam hati.
Jari jemari Liam melingkupi tangan Lilith yang mungil, meremàsnya perlahan, seolah menenangkan kegugupan Lilith yang berusaha ia sembunyikan diam-diam.
"Ikuti Opa!"
Mereka bertiga berkendara selama dua puluh menit, meninggalkan kerabat lain di rumah utama. Azrial, sang Papa, menatap kepergian mereka bertiga tanpa ekspresi. Sementara Fiska, mengerutkan bibirnya secara tersembunyi.
Dari dulu, selalu Lilith. Seolah selain Lilith, semua orang di keluarga ini tak memiliki fungsi.
"Sudah, ayo kita semua masuk dulu ke dalam rumah. Biar Opa dan pasangan baru itu melakukan urusannya sendiri!" Oma yang merasakan fluktuasi negatif dari beberapa orang, mencoba mengarahkan mereka semua ke dalam rumah.
Terkadang di dalam sebuah keluarga, banyak konflik intern yang terjadi. Meskipun Oma tidak menyukai konflik, mau tak mau hal seperti itu muncul tanpa bisa dikendalikan.
Sementara itu, di tempat lain, Opa membawa pasangan pengantin baru ke sebuah rumah di kawasan Thamrin yang memiliki gerbang tinggi.
"Ayo, Opa tunjukkan sesuatu!" Opa meminta seorang security membuka gerbang tinggi di depan mereka, mengisyaratkan agar Lilith dan Liam mengikuti di belakangnya.
Sebuah rumah berdesain modern tradisional berdiri anggun dikelilingi oleh taman dengan bohlam lampu di beberapa titik. Ada jalan setapak menuju teras, dibatasi oleh rumput jepang yang lembut.
Rumah di depan Lilith adalah bangunan dua lantai di mana material utamanya campuran kayu berkualitas dan batu bata yang dicat merah tanpa disemen. Terdapat dua tiang besar di teras dan di area carport, serta memiliki teras yang didesain seperti pendopo multifungsi. Di sisi kiri, terdapat kolam ikan dengan patung kuda yang mengalir jernih, dikelilingi oleh satu set bangku taman dari kayu.
Senyum Lilith merekah sempurna. Dia jatuh cinta hanya dalam sekali pandang.
"Suka?" Opa yang melihat jejak antusiasme cucunya, tertawa renyah. Selera Lilith tak jauh dengan Opa. Karena itulah tak sulit bagi Opa untuk mengejutkannya.
"Ya!" Melihat ke timur, Lilith langsung membayangkan suasana senja di tempat ini. Pasti cahaya keperakan mengalir lembut, jatuh dengan sempurna dari sudut yang ia inginkan. Duduk di tempat ini, dengan kursi ayun yang nyaman, menatap matahari berguling sedikit demi sedikit, mau tak mau membuat wajah Lilith dipenuhi obsesi.
"Ini hadiah untuk pernikahan kalian!"
"Benarkah?" Meskipun bahagai, Lilith yang terbiasa menahan diri, tak mengijinkan dirinya terlalu ekspresif.
"Berbahagialah! Jadikan pernikahan ini pondasi bagi jalan kalian selanjutnya." Tepukan lembut jatuh di bahu Lilith, memberikan semangat dan nasehat khas Opa.
"Terimakasih!" Tak ingin berbasa-basi, Lilith menerima hadiah ini dengan kerendahan hati.
"Kalian, lihatlah pelan-pelan rumah ini. Jika ada sesuatu yang tidak cocok atau kurang, lengkapi saja sesuai selera kalian! Besok, pengacara Opa akan mentransfer aset ini pada kalian!"
Dengan kebijaksanaan Opa, dia memutuskan untuk kembali pulang, meninggalkan sepasang pengantin baru di tempat ini.
"Bagaimana menurutmu?" Lilith masuk ke dalam rumah dengan kunci yang baru saja diserahkan Opa, melihat ruang tamu berukuran delapan kali lima meter dengan dua set kursi kayu berukir rumit.
Di atas, terdapat lampu gantung bercahaya orange. Dinding ruang tamu dari material kayu berpelitur, menguarkan aroma yang sangat disukai Lilith. Bau cendana dan jati saling berpadu, membentuk kecocokan satu sama lain.
"Bagus!" Liam menyapu sekeliling secara sekilas, dalam hati mengagumi selera Opa. Di jaman sekarang ini, desain modern dan kontemporer sudah mendominasi dalam banyak kalangan. Tidak mudah menemukan rumah tradisional modern seperti ini.
"Bagaimana jika … kita tinggal di sini?" tawar Lilith, berusaha bernegosiasi. Meskipun mereka menikah sebagai formalitas belaka, bukan berarti Lilith berniat mengambil hak-hak Liam begitu saja. Masalah rumah dan tempat tinggal, Lilith berniat untuk melakukan kesepakatan.
"Ya." Liam duduk di kursi, menopangkan salah satu kakinya ke kaki yang lain, menyilangkan kedua tangannya di d**a, setengah menyipit memandangi Lilith yang sekarang melawan arah cahaya. Sosok Lilith menjadi samar-samar, membentuk siluet dengan sudut-sudut indah.
"Aku akan mengatur seseorang untuk mengambil barang-barangmu secara pribadi!"
"Ya." Anggukan Liam menunjukkan kerja sama yang baik.
"Jika kamu punya pendapat apa pun untuk rumah ini, furniture, hiasan, lukisan, apa pun itu, katakan saja! Kita akan melengkapinya!" Lilith terbayang beberapa produk furniture yang cocok dengan rumah ini, mencoba memasangkannya di dalam hati. Jika cocok, sepertinya tak masalah mengganti beberapa perabot utama.
"Tidak. Semuanya mengikuti kata-katamu!" Liam menggelengkan kepala, tak terlalu berniat ikut campur.
Rumah ini bukan rumah Liam. Perabotan yang akan dipasang juga bukan perabotannya. Pendapatnya tak terlalu dibutuhkan.
"Liam, mari kita luruskan beberapa hal!" Lilith duduk di depan Liam, menatap laki-laki itu dengan serius.
"Ya?" Bibir Liam merekah sempurna, siap mengikuti apa pun perkataan Lilith.
"Liam, meskipun aku membayarmu untuk pernikahan ini, bukan berarti aku mengambil semua hak dasarmu. Jika kamu ingin sesuatu, katakan! Jika kamu ingin melakukan sesuatu, lakukan saja! Jika kamu ingin mengusulkan saran, kritik, argumen, atau hal-hal semacamnya padaku, kamu bisa."
Satu-satunya hal yang tidak pernah ingin Lilith lakukan adalah mematikan kehendak seseorang. Dia tak butuh b***k, dia hanya butuh kerja sama yang baik. Bukankah lebih baik mulai sekarang mereka bersikap seperti rekan satu sama lain?
Bibir Liam kaku. Dia menatap Lilith ragu-ragu, terkejut oleh kalimat yang baru saja ia dengarkan.
Sepanjang hidupnya, Liam belum pernah dipersilakan untuk melakukan apa pun yang ia mau. Mengutarakan apa pun yang ia inginkan. Mengkritisi apa pun semau hatinya.
Terutama sejak menjadi lelaki malam, sebagian besar perintah dan kontrol dipegang oleh sang wanita. Harus begini. Harus begitu. Diminta begini diminta begitu. Dikritik begini dikritik begitu.
Mendengar kalimat Lilith yang terbuka, ramah, dan tulus, hati Liam merasakan semacam fluktuasi baru.
"Tidak. Aku tidak memiliki pendapat apa pun. Pendapatmu adalah pendapatku!"
Pada akhirnya, meskipun Liam tergerak oleh kata-kata Lilith, dia tetap sadar di mana posisinya.
Rumah ini bukan rumah Liam.
Pernikahan ini bukan pernikahan Liam yang sesungguhnya.
Pada akhirnya, bahkan Lilith pun bukan milik Liam.
Untuk apa memiliki permintaan pada sesuatu yang bukan menjadi milikmu sendiri?
Liam diciptakan sendiri, tanpa siapa pun. Baik itu sebagai latar belakang maupun sebagai pemandu.
…