Mimpi Masa Lalu

1056 Words
Malam merengkuh dunia dalam kegelapan. Awan menggantung, menandakan sebentar lagi akan hujan. Mendung membuat langit malam terlihat samar. Angin berembus kencang, meniup dedaunan beterbangan ke segala arah. Seorang anak berusia enam tahun dikunci di dalam rumah, sementara sekelompok laki-laki berpakaian hitam sibuk menghajar seseorang. "Ayah! Ayah!" Anak itu menggedor pintu, berusaha keluar dari benda yang membatasinya. Dengan lubang kecil di pintu kayu, sang anak melihat ayahnya terpuruk di depan rumah kontrakan, dipukul oleh orang-orang jahat, hingga kepalanya terkulai lemah. "Jangan pukul! Jangan pukul! Hentikan! Hentikan! Hentikan!" Anak itu melihat seorang lelaki bertubuh kekar menarik rambut ayahnya, mengatakan kata-kata yang tidak jelas, kemudian menendangnya. Sang ayah berkerut dahinya. Tubuh Ayah bukannya kurus. Sebagai seorang lelaki, Ayah cukup kekar. Tetapi sejak kakinya cacat dan mengalami lumpuh sebelah, kekuatannya jadi tak seimbang. Menghadapi lima orang yang mengeroyoknya secara bersama, jelas mustahil bagi Ayah untuk mengalahkan mereka. "Sampah! Kemampuan loe cuma segini!" Seorang lelaki dengan tato pedang di lehernya menendang Ayah, kemudian mengisyaratkan dua temannya untuk memegang kedua tangan Ayah. "Tidak! Jangan! Tidak!" Sang anak yang masih terjebak di belakang pintu, mati-matian memukul daun pintu, berharap benda k*****t ini bisa ia hancurkan dalam sekejap. Tetapi tangannya masih kecil. Pukulannya tak banyak berpengaruh. Bahkan jika pintu ini kayunya telah mengeropos, dengan kekuatan anak enam tahun, tentu saja tak bisa dihancurkan. Pemandangan di luar rumah membuat sang anak semakin frustasi. Dua tangan ayahnya dipegang erat oleh lelaki besar, sementara seorang lelaki sengaja menginjak-injak perut dan d**a Ayah dengan tawa gila yang menakutkan. Darah gelap telah menodai kepala Ayah, menjadi satu dengan keringat dan kotoran. Wajahnya bengkak, bibirnya sobek. Ayah menatap sepatu lelaki yang diangkat ke atas dari posisi kepala, kemudian dengan kekuatan besar, kaki itu menekan dadanya perutnya, limpanya, dan area ginjalnya dengan kecepatan tinggi. Tawa bahagia terdengar di sekeliling. Seolah-olah penderitaan Ayah membuat para lelaki ini senang, seperti meraih prestasi tinggi. Pukulan demi pukulan. Tendangan demi tendangan. Injakan demi injakan. Semua diterima sang Ayah dengan mata terpejam. Rasa sakit telah membuatnya kebal. Pukulan tidak lagi menjadi hal asing baginya. Tendangan sudah menjadi bagian dari hidupnya. Tapi usia tua sering kali membuat masalah lebih serius, sehingga luka-luka ini pasti akan mempengaruhi kesehatan beberapa hari ke depan. Setelah orang-orang ini puas bersenang-senang, mereka meninggalkan Ayah begitu saja. Masih tertawa puas, senang oleh keterpurukan lawan. Awan yang menggantung kini mencurahkan hujan. Deras membasahi bumi, membasuh darah dan kotoran yang ada di tubuh Ayah, mengalirkannya ke tempat lain. Dengan terhuyung, Ayah mencoba berjalan ke rumah, gerakannya gemetar hebat dan sesekali terjatuh. Satu kakinya yang cacat membuat gerakannya yang sudah lambat semakin lambat. Ada kunci di bawah alas kaki di depan pintu. Tubuh Ayah yang babak belur bersandar sebentar, kemudian mengambil kunci dengan susah payah. Setelah beberapa kali gagal, ia akhirnya bisa membuka kunci dengan benar. Pintu kayu terbuka, menampakkan sosok kecil di baliknya. "Ayah! Ayah!" Tangan kecil sang anak mencoba menopang Ayah, melihat bagaimana wajah orang tuanya kacau dalam sekejap mata. Air mata bergulir. Dia meraih Ayah, menbantunya ke dipan kecil di ruang tengah, dan berlari ke kamar mereka yang hanya berisikan kasur dan dua bantal tipis. Seonggok pakaian ditempatkan di sudut ruangan. "Uang. Uang. Uang!" Sang anak memeriksa setiap saku celana, mencari uang yang tersisa. Ayah sakit. Harus berobat. Darahnya meskipun sudah dibasuh hujan, masih saja keluar dari pelipis dan lengan kirinya. Anak sekecil itu harus menanggung beban di usia dini. Pikirannya yang masih sederhana dipaksa dewasa sebelum waktunya. Setelah mengobrak-abrik kamar, hanya ada tiga lembar uang kertas di tangan. Dua lembar seribuan. Satu lembar lima ribuan. Tujuh ribu. Mana mungkin cukup untuk berobat? Sang anak berlari menuju ayahnya, menangis sesenggukan, marah oleh keadaan. Tidak ada tetangga yang peduli. Tidak ada kerabat yang bersimpati. Mereka semua selalu berpura-pura tak tahu. Meminta tolong pun sering kali tak berhasil. Orang-orang hanya akan melengos dan mengabaikannya. Profesi ayahnya sebagai mantan tukang pukul telah membuat banyak orang merasa jijik dan antipati. "Tujuh ribu. Liam belikan hansaplast dan obat merah, ya. Pasti uangnya cukup!" Anak itu tersenyum kecil, tangan kurusnya mengusap matanya yang terus mengalirkan air mata. "Jangan!" Ayah melarang. "Itu uang buat makan." … Liam yang sedang tidur tersentak bangun, napasnya tak terkendali. Keringat dingin membasahi punggungnya, dadanya naik turun tak beraturan. Mimpi itu datang lagi. Setelah setahun lebih dia tak dihantui mimpi buruk tentang masa lalu, malam ini hadir lagi merongrong jiwanya yang rapuh. Tubuh Liam yang mulai stabil beranjak dari ranjang, menekan sakelar lampu, membuat kamar berukuran empat kali empat meter itu berpendar cahaya keemasan. Kamar apartemen ini berada di pusat kota, memiliki fasilitas yang baik, keamanan terjamin, sangat berbeda dengan rumah kontrakan kecil dan bobrok yang dulu ia tempati bersama ayahnya. Liam berjalan ke luar, menuju dapur, mengambil air dingin untuk menenangakn sarafnya yang tegang. Jakun Liam berguling-guling, bersamaan dengan suara minuman memasuki tenggorokan. Setelah cukup minum, Liam menatap sekeliling, menyimpan kepiluan. Kulkas. Satu set kursi makan. Dapur modern dengan kitchen set minimalis. Lantai marmer. Dinding berlapis walpaper mahal. Bergaya dan modern, tetapi tak memiliki kehangatan sama sekali. Berbeda dengan kontrakan kecil bobrok yang dulu pernah ia tinggali. Kontrakan kecil itu membawa kesan hangat kekeluargaan. Tapi selain kehangatan, juga membawa kenangan akan rasa sakit dan ketidakberdayaan. Liam mengatur napasnya, mengendalikan emosinya yang tersisa, kemudian berjalan ke balkon untuk merokok. Hidup seseorang bisa berubah, tetapi riwayat masa lalu tak akan pernah berubah. Statis. Menjadi kenangan kuat dan memori yang tak akan pernah bisa disingkirkan. Suara ponsel berdering memecah keheningan suasana. Liam menatap jam dinding, melihat jam yang menunjukkan pukul tiga pagi. Siapa yang kurang kerjaan mengganggu dirinya di jam segini? Mami? Tidak mungkin. Sejak Liam menyetujui menikahi Lilith, Mami menarik diri dan tak mengikutsertakan Liam ke dalam bisnis malamnya lagi. Liam melihat identitas ID pemanggil, kemudian mengerutkan keningnya, tak terlalu suka dengan kenyataan ini. "Ada apa?" tanya Liam asal-asalan saat ia membuka percakapan. "Kak Liam! Soni dengar Kakak udah nggak kerja di bawah Mami Rena lagi. Kakak di mana sekarang?" Suara seorang wanita yang lebih muda beberapa tahun darinya bertanya dengan nada khawatir. "Bukan urusanmu!" "Kakak! Soni cuma pengen tau!" "Jangan pernah hubungi aku lagi!" "Gimanapun juga, Soni kan adik Kakak!" Sambungan terputus. Liam memblokir nomor Soni, memasukkan kembali ponsel itu ke kantong celana. Hidupnya hanya berdua dengan sang ayah dari dulu. Setelah Ayah tiada, dia tak membutuhkan keluarga lain. Termasuk adik yang muncul tiba-tiba dan memiliki keterkaitan dengan wanita kejam itu. …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD