Pertemuan

1176 Words
"Liam. Kekasihku ingin bertemu denganmu! Aku akan menjemputmu dua jam lagi!" Lilith mendesah lemah, wajahnya tak berdaya. "Baik." Suara di seberang terdengar stabil dan lembut, mau tak mau mengurangi ketidaknyamanan Lilith. "Sebisa mungkin, jangan berkonfrontasi dengan dia, oke?" Lilith kembali waspada. Emosi Reza meledak-ledak, liar, dan mudah dipancing. Lilith tak ingin ada keributan. "Oke. Aku tipe pengalah." Suara Liam masih lembut, tak ada jejak tersinggung sama sekali. Sambungan terputus. Lilith menatap semua dokumen di depannya, bersandar lemas di kursi putar besar, mengalihkan tatapannya ke langit-langit ruangan. Lilith baru saja menjelaskan semuanya pada Reza. Bagaimana Opa mendesaknya untuk menikah, apa konsekuensi jika tak segera menikah, dan rencana demi rencana yang telah ia susun rapi selama dua tahun ke depan. Masa tahanan Reza masih dua tahun. Jika ada keringanan hukuman, mungkin tidak sampai dua tahun. Lilith berharap selama waktu ini Reza bisa menerima rencananya dengan baik. Setelah melalui bujukan yang cukup alot, Reza akhirnya bersedia menerima keputusan Lilith. Tapi sekarang laki-laki itu mengajukan syarat. Dia ingin bertemu dengan Liam. Tak bisa menolak, Lilith hanya bisa berharap Reza tak membuat keributan dengan Liam nanti. Terkadang kecemburuan Reza terlalu besar. Hal-hal kecil bisa memicu amarahnya. "Soni nggak keliatan di mana-mana!" Mia masuk ke dalam ruangan, melihat wajah teman sekaligus atasannya yang sedikit pucat. "Kamu baik-baik saja?" tanya Mia khawatir. Dia menyentuh dahi Lilith, memastikan wanita itu tidak mengalami demam. Setelah menyadari suhu tubuh Lilith normal, Mia mendesah lega dan duduk tak jauh darinya. "Baik. Cuma lelah. Soni nggak ada?" tanya Lilith, tak terlalu terkejut dengan informasi ini. "Nggak ada. Nggak ada yang tau di mana dia!" "Coba cari ke mushola samping." Lilith pernah melihat dua kali Soni berada di mushola, mengenakan mukena, katanya sholat Dhuha. Tapi dari jam tujuh sampai jam setengah dua belas. Hanya Tuhan yang tahu apa sebenarnya yang wanita itu lakukan. Berdoa untuk kedamaian dunia mungkin. "Soni? Ke mushola? Bukannya dia non muslim? Sejak kapan dia mualaf?" Mia semakin bingung. "Cari saja di sana!" Lilith tak terlalu peduli. "Aku kadang heran dengan orang satu itu. Setiap lebaran selalu mengajukan cuti lebih, setiap natalan juga mengajukan cuti lebih, setiap nyepi juga mengajukan cuti lebih, dan setiap hari besar apa pun selalu seperti itu. Identitasnya ambigu!" "Sudah, kamu cari dia dulu! Suruh buat proposal. Dan Mia, sebentar lagi aku mau keluar. Pending semua agendaku sampai nanti sore!" … Maksimal kunjungan hanya lima belas menit. Itulah aturan untuk berkunjung. Dua orang lelaki berusia tiga puluhan saling berhadapan, menghasilkan semacam aura dingin dan tekanan. Perawakan mereka hampir sama, tinggi dengan tubuh ramping berotot, berkulit sawo matang, dan sepasang mata hitam yang tajam bagaikan elang. Perbedaannya yang satu memiliki jejak keliaran, agresif, dan kasar. Sementara yang satu elegan, lembut, dan penuh pesona. Dua lelaki. Dua perbedaan. Dua sosok yang kini saling berhadapan. Mata mereka saling bertaut, melewati batas kaca, mengamati satu sama lain. Seolah-olah mereka dua predator yang berada dalam wilayah yang sama. "Jadi loe Liam!" Suara Reza sedikit serak, bibirnya mencibir sinis. Reza tak terbiasa merasakan krisis, tapi sekarang tampaknya dia tenggelam dalam perasaan itu cukup dalam. "Ya." Liam mengangguk, menatap Reza tanpa menunjukkan jejak terintimidasi. Liam penasaran dengan sosok lelaki yang mampu meraih hati Lilith. Sekarang, ia dihadapkan pada sosok ini secara langsung. Lelaki yang kuat, memiliki arogansi alami, liar, dan maskulin. Lelaki yang masih menunjukkan kemerdekaan di kedua matanya, meski statusnya masih menjadi tahanan yang tak memiliki kebebesan. Kemerdekaan di matanya adalah kemerdekaan jiwa, sesuatu yang terbentuk melalui banyak proses mentalitas berulang. Pantas Reza mampu mendapatkan hati Lilith. Lelaki seperti itu adalah lelaki kuat yang menolak menyerah dalam semua keadaan. "Loe mungkin bisa menikah dengan Lilith. Tapi loe harus tau posisi loe! Pernikahan itu hanya status. Hanya nama. Hanya posisi sementara." Mata Hitam Reza berkilat ganas, mengingatkan identitas Liam yang sebenarnya. "Cinta Lilith. Hati Lilith. Emosi Lilith. Kasih sayang Lilith. Hanya untuk gue. Jangan melangkahi apa yang nggak layak untuk loe langkahi!" Reza menopang dagunya dengan sebelah tangan, tersenyum provokatif pada lawan bicaranya di depan, mencermati dengan seksama setiap ekspresi yang muncul di wajah Liam. Liam tidak memberikan jawaban. Dia hanya tersenyum simpul, menutupi semua ekspresi dengan baik. Matanya yang jernih seperti bintang malam, memiliki cahaya unik yang menawan. "Nggak ada tanggapan?" Salah satu alis Reza dinaikkan, bertanya sinis, membiarkan arogansinya mendominasi. "Tidak." Liam tersenyum kecil, senyumnya sangat berbeda dengan Reza. Jika senyum Reza membawa kesinisan, senyum Liam membawa kelembutan. Tapi Tuhan tahu ada apa di balik jenis kelembutan yang Liam tunjukkan. "Gue bukan orang yang sederhana. Sekali gue memiliki mangsa, akan gue buru ke mana pun. Jadi, bijaklah membawa diri. Pahami batasan-batasan dan jangan jadikan nama loe sebagai buruan gue!" Reza memutus percakapan, berbalik, dan meninggalkan Liam begitu saja. Tidak banyak orang yang memperhatikan. Aktifitas di sekeliling masih sama seperti sebelumnya. Setelah setengah menit berlalu, Liam mundur, pergi meninggalkan ruangan. Senyumnya masih lembut seperti sebelumnya, bertahan hingga ia tiba di area parkir, bertemu dengan sepasang mata penasaran milik Lilith. "Gimana?" tanya Lilith, menggerakkan kepalanya ke belakang, mengisyaratkan agar Liam masuk ke dalam jok penumpang. "Baik." Liam beringsut duduk di jok belakang dan menutup pintu mobil dengan lembut. "Reza tanya apa aja?" Nada suara Lilith tenang, tetapi matanya menunjukkan fluktuasi emosi yang samar. Tampaknya wanita itu cukup khawatir pada pertemuan antara Liam dan Reza. "Cuma meminta aku untuk menjaga kamu dengan baik!" Liam memilih berbohong. Percakapan antara Liam dan Reza, biarlah hanya menjadi milik mereka berdua saja. Kening Lilith berkerut. Sepertinya dia tak terlalu percaya Reza mengatakan kalimat itu. Dengan kepribadian Reza yang mendominasi, tidak mungkin dia meminta sesuatu pada orang lain dengan mudah. "Um." Lilith mengangguk, berpura-pura mempercayai. "Opa telah membicarakan pernikahan." Lilith teringat masalah ini, tanpa sadar tangannya menggosok kepala beberapa kali. "Ya?" "Pernikahan seperti apa yang kamu inginkan?" Hening sejenak. Pernikahan selalu berada di luar bayangan Liam. Bahkan sekarang pun dia masih sulit untuk mempercayainya. Dihadapkan dengan masalah ini, Liam sendiri tak memiliki banyak pendapat. "Terserah. Apa pun yang kamu atur, seharusnya itu baik-baik saja!" Senyum Liam kembali merekah, membawa kehangatan yang khas. Senyum ini memiliki pesona unik. Campuran antara kelembutan, kemaskulinan, dan kehangatan. "Tapi mengingat latar belakangku, tidak baik melakukan resepsi besar-besaran!" lanjut Liam kemudian. Liam mengenal banyak wanita kalangan atas yang sebelumnya pernah ia layani. Lilith juga merupakan kalangan atas, di mana sebagian besar rekanan dan kenalannya dalam ruang lingkup yang sama. Jika resepsi ini diadakan besar-besaran, bukannya tidak mungkin Liam akan bertemu "tidak sengaja" dengan salah satu pelanggan yang menggunakan jasanya. Ini bukan hal yang baik. "Ya. Pernikahan ini akan sederhana!" Lilith yang memiliki kecerdasan tinggi, membaca maksud Liam dengan baik. Memperkenalkan Liam secara publik bukan hal yang tepat untuk saat ini. "Mengenai orang tuamu?" Lilith melihat bayangan Liam dari kaca spion mobil. Wajah Liam kaku untuk sesaat. Tanpa Lilith sadari, mata yang sejernih kristal hitam dipenuhi banyak emosi yang bercampur aduk. "Tidak. Anggap saja mereka tidak ada." Liam tersenyum lembut, tetapi membawa aura yang mengerikan. Orang tua Liam hanya tinggal satu. Tetapi ia lebih suka menganggapnya meninggal. "Kerabat yang lain?" tanya Lilith lagi. Dia ingin memastikan siapa saja yang akan terlibat dalam pernikahan mereka. "Tidak ada kerabat!" "Tidak ada?" "Tidak ada." …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD