Seorang lelaki dengan tato naga di tengkuknya, duduk di balik kaca pembatas di ruang kunjung tahanan. Kaos hitam tanpa kerah membalut tubuh rampingnya yang penuh otot. Wajah lelaki ini maskulin, memiliki bekas luka kecil di sudut rahang, dan matanya yang sewarna malam, bagaikan gua kuno tanpa dasar.
Lelaki itu berdiri di balik kaca pembatas, menyelipkan gagang telepondi antara bahu dan telinganya, menatap wanita di depannya yang mengenakan dress putih sewarna melati.
Ini adalah ruang kunjungan khusus untuk tahanan. Beberapa orang saling berdiri berurutan, sibuk berbicara dengan para tahanan di balik pembatas kaca melalui sambungan telepon. Ada yang penuh senyum, ada yang penuh tangis, ada yang bersikap normal, semua ekspresi bervariasi.
"Mas Reza!" Fiska, wanita muda dengan kelembutan murni yang menawan, menatap lelaki di baliknya dengan senyum tulus.
"Apa tujuanmu ke sini?" Reza terlihat malas, menatap wanita di hadapannya tanpa minat.
"Aku cuma ingin melihat Mas Reza. Lama Fiska nggak berkunjung ke sini!" Fiska tak tersinggung, masih menatap Reza dengan tatapan kelembutan yang langka.
"Ini lapas, bukan mall!" Reza mencibir dingin. Bibirnya yang tipis tertarik pelan, seolah ingin mencemooh. Lama berkunjung? Memangnya lapas ini mainan?
"Aku nggak tau kenapa Mas Reza selalu dingin sama aku dari dulu. Padahal aku selalu berusaha bersikap baik sama Mas." Fiska mendesah panjang, menatap langit-langit ruangan yang diwarnai cat putih. Beberapa lampu dibiarkan menyala, menambah cahaya dan kehangatan di ruangan ini.
"Sudah? Itu saja?" Semakin lama melihat Fiska, semakin muak Reza menatapnya.
Reza adalah orang yang liar dan kasar. Apa yang ia pikirkan selalu ditampakkan dalam ekspresinya. Sekali ia membenci seseorang, semakin kuat ia memberikan reaksinya. Tak ada kepalsuan sama sekali.
"Mas, tunggu!" Melihat Reza yang ingin menyudahi pembicaraan, Fiska berusaha menahannya. "Aku punya kabar tentang Kak Lilith!"
Mendengar nama Lilith, Reza yang sudah muak dengan Fiska, berusaha menahan diri dan menatap wanita itu serius. Jika Fiska mempermainkannya, awas saja nanti.
"Kemarin Kak Lilith pulang ke rumah utama, membawa seorang lelaki bernama Liam. Liam Kusuma."
"Lelaki?" Mata Reza menyipit, menunjukkan suasana hati yang tidak baik.
"Ya. Lelaki. Lelaki itu akan menjadi calon suami Kak Lilith. Pernikahan mereka mungkin nggak akan lama lagi!"
Reza mematung, napasnya tertahan tanpa sadar Seluruh jari-jarinya mencengkeram gagang tetepon dengan erat, seolah ingin menghancurkan benda kecil ini.
"Mas Reza sepertinya belum tau. Apa Kak Lilith belum mengatakan informasi ini sama Mas?" Fiska menjatuhkan bom, senyumnya semakin merekah sempurna.
…
Setumpuk dokumen berada di atas meja, bersama dengan secangkir kopi yang kini tinggal setengah. Lilith memeriksa satu demi satu dokumen-dokumen di depannya, membuat catatan kecil di sebuah kertas notes.
Pertemuan Liam dengan keluarga Lilith kemarin berjalan dengan lancar. Setidaknya, Opa setuju. Itulah intinya. Mengenai pendapat Papa atau Fiska, Lilith tak terlalu peduli. Dua orang itu sudah lama Lilith anggap sebagai lalat belaka.
Lilith telah membuat latar belakang fiktif untuk Liam. Dia menjadikan Liam sebagai broker properti, dan menutupi beberapa riwayat kelam Liam di belakangnya. Lilith tak tahu apakah ini bisa bertahan lama atau tidak. Tapi yang jelas, untuk saat ini, jangan sampai keluarganya tahu identitas Liam sesungguhnya. Sekarang posisi Liam masih rapuh. Lilith harus mencari cara untuk menguatkan akar Liam dan membuatnya memiliki prestasi yang cukup.
"Lilith! Kamu tadi nanyain tentang perkembangan produk A12 kan? Nah, baru aja aku dapat info ada permintaan dari USA dari sampel sofa tipe A12 sebanyak dua ratus set. Sepertinya pasaran produk ini bagus. Manager pemasaran, Pak Nyoto, mengusulkan untuk membuka pasaran tipe ini ke banyak customer. Saatnya produk itu go public!" Mia, asisten sekaligus teman masa kuliah Lilith, membawa berkas dan menyerahkannya ke Lilith, menunjukkan permintaan terbaru produk A12.
Salah satu perusahaan yang Lilith pegang adalah PT. Akbar Furniture, yang bergerak dalam bidang manufaktur furniture. Lilith sendiri menjabat sebagai direktur.
Meskipun perusahaan ini bertempat di Jakarta, tapi memiliki kontrak kerja sama dengan banyak supplier dari perusahaan daerah Jepara. Jepara adalah tempat di mana furniture tangan pertama diproduksi. Lilith membeli produk dari sana sebagai bahan baku, kemudian diolah kembali sesuai dengan standar yang customer minta. Sebagian besar proses yang perlu ditambahkan adalah proses finishing.
Produk Akbar Furniture selain dijual di dalam negeri dalam kapasitas partai, juga merambah ke manca negara, Amerika, Jepang, Belanda, dan Belgia.
"Tahan dulu. Produk itu terlalu membutuhkan banyak bahan kayu jati, sementara supplier sudah mengatakan untuk saat ini, persediaan pasar akan kayu jati mengalami penurunan. Kalau kita terlalu memaksakan, produksinya akan kacau. Kita coba beralih ke tipe yang lain. Bukannya Soni sempat mengajukan proposal desain sofa baru? Coba lihat itu dulu!" Lilith melambaikan tangan, meminta Mia untuk menagih proposal Soni.
Soni dulunya adalah staff administasi di bawah divisi personalia. Tapi berhubung dia memiliki bakat dalam mendesain furniture, Lilith melemparkannya ke divisi lain dan sekarang dia menjadi staff desaign furniture yang ia percayai. Kinerjanya sebenarnya baik, tapi Soni adalah orang pemalas dan selalu membutuhkan "pacuan" dari berbagai pihak. Alih-alih bekerja, sebenarnya Soni lebih mirip dianggap buronan. Dia selalu kucing-kucingan dengan banyak orang.
"Ah. Orang itu. Dia mau kerja kalau kita sudah siap mencekik lehernya dan siap membunuhnya. Desain yang sebelumnya aja baru kelar setelah dicaci maki sama Pak Ilham."
"Oh ya? Apa ancaman Pak Ilham waktu itu?" Teringat dengan wajah pemalas Soni, Lilith bisa membayangkan bagaimana kerja keras Pak Ilham selama ini. Pak Ilham adalah manager desain, atasan Soni langsung. Selama dia menjadi atasan Soni, jangan tanyakan berapa keluhan yang telah Pak Ilham suarakan. Hampir semua orang bersimpati padanya.
"Katanya, dia akan menahan bonus tahunan Soni lima tahun ke depan kalau proposal itu nggak kelar! Pak Ilham berkonspirasi sama Sintia, staff akunting yang pegang gaji demi mengancam Soni!"
Lilith tersenyum samar. Kebetulan sekali. Di balik sifat pemalas Soni, tersembunyi otak jenius yang terpendam. Jika saja Soni tak secerdas itu dalam mendesain, Lilith mungkin sudah menendang karyawan itu ke luar pintu dari dulu.
Deringan ponsel menarik konsentrasi Lilith dari pekerjaannya. Dia mendorong beberapa dokumen ke sudut, meraih ponsel, sedikit terkejut saat melihat identitas si pemanggil.
Panggilan ini dari Reza. Lapas membolehkan narapidana melakukan panggilan telepon dengan batasan-batasan tertentu. Meskipun Reza sering menghubungi Lilith, tapi baru kali ini dia melakukannya pada jam kerja Lilith.
"Mia, kamu atur dulu orang-orang untuk mewakili pameran minggu depan, ya!" Lilith memberikan perintah yang langsung diangguki oleh Mia, kemudian wanita itu keluar dari ruangan Lilith. Memberikan ruang dan waktu pribadi untuk atasannya.
"Ya, Mas?" Lilith membuka percakapan, menggeser tombol hijau di layar ponsel. Dia meraih beberapa anak rambut liar di wajahnya, mendorong kembali di belakang telinga.
"Kamu ingin menikah dengan laki-laki lain?" Suara yang biasanya lembut, kini terdengar dingin dan berjarak. Lilith membeku di tempat. Dia menekan ponselnya tanpa sadar.
" Ya. Aku …."
"Setelah semua yang aku lakukan, inilah hasil akhirnya? Ditinggalkan dan dicampakkan?" Tawa Reza terdengar getir. Penuh kesinisan dan kemarahan.
"Aku bisa menjelaskannya. Ini hanya untuk dua tahun."
Bagus. Lilith memukul dahinya sendiri. Kebohongan yang tadinya ia rencanakan tak akan terbongkar, kini sudah diketahui bahkan sebelum semuanya dijalankan.
…