IM 5

1073 Words
Auryn keluar dari kamarnya dengan memakai seragam tanpa atribut sekolah. Ia melihat ke bawah di ruang makan hanya ada mommy nya yang menyiapkan makanan. Auryn pun turun. Ia duduk dengan berhadapan sama Anaya. Anaya hanya memandangi anaknya sekilas. Galaksi keluar dari kamarnya dengan menenteng koper. Auryn melihat Galaksi dengan bertanya tanya. "Pindah sekarang?" tanya Anaya saat Galaksi berhadapan dengannya. "Iya kak. Soalnya apartemennya langsung diisi aja." "Lah kok tinggal di apartemen sih bang. Kenapa ngga tinggal disini aja," heran Auryn. Galaksi memang pindah. Ia mau tinggal di apartemen saja. Karna Auryn yang akan menikah dan otomatis ia akan tinggal sendiri di rumah. Daripada merepotkan Anaya dan Ryan ia memilih mandiri saja. Awalnya Ryan menolak kalo Galaksi tinggal di apartemen. Tapi Galaksi meyakinkan bahwa ia sudah tidak bisa menjaga Auryn lagi karna Auryn akan dijaga oleh Taufan. Alasan tepat Galaksi tinggal di rumah Ryan adalah menemani Auryn. "Jaga diri baik baik." Galaksi mencium kening Auryn. "Kenapa harus pindah bang?" tanya Auryn dengan memelas. "Ada alasan khusus Auryn. Galaksi tadi udah pamit sama bang Ryan, kak. Sekarang Galaksi pergi dulu." Anaya mengangguk. Galaksi mencium punggung tangan Anaya dan mengecup pipi Anaya sekilas. Auryn hanya melihat kepergian Galaksi dengan perasaan sedih. Belum berapa lama Ryan pun turun dengan menyeret kopernya juga. "Dad, mau kemana?" tanya Auryn sedih. "....." Tak ada jawaban dari Ryan. Ryan hanya duduk dan sarapan saja. Auryn pun ikut sarapan. "Auryn minta maaf." "Mom," lirih Auryn. "Mommy dan daddy mau ke yunani ketemu sama adik kamu." "Kenapa mom?" "Kita pergi sekarang, sayang. Aku udah lama ngga ketemu sama anak aku. Aku rindu sama Riko," ucap Ryan. "Auryn juga anak kita," kata Anaya. "Anak aku penurut semua ngga pembangkang apalagi kurang ajar!" tajam Ryan. Auryn menundukkan kepalanya. Perbuatannya sangat salah. Baru pertama kali ini melihat daddy nya semarah ini. "Dad, Auryn. Minta maaf." "Simpan kata maaf kamu. Ayo sayang." Ryan dan Anaya pun meninggalkan Auryn di meja makan. Auryn menangis. Sekarang hanya ada dirinya saja di rumah ini. Semua orang pergi meninggalkan dirinya. "Maafin hiks Auryn dad." "Auryn salah." Auryn pun menghapus air matanya. Ia meraih ranselnya dan pergi sekolah. Ia mengunci pintu rumahnya. Auryn berjalan di trotoar. Entah mengapa ia tak mau mengendarai mobilnya. Auryn berjalan dengan menunduk. Hingga klakson motor mengejutkan Auryn. Taufan membuka helm nya dan melihat wajah sedih dari Auryn dengan mata sembab. "Bentar lagi masuk. Ayo naik." Auryn menggeleng. "Naik!" "Gue bisa jalan sendiri." "Seriusan lo mau jalan. Sekolah bukan dekat loh." Auryn tampak menimbang omongan dari Taufan. Dengan terpaksa pun ia naik di atas motor Taufan. Taufan pun melajukan motornya. Ryan memang marah cuman tidak setega itu dengan anaknya. Ia hanya memberi pelajaran kepada Auryn agar bisa menjaga sopan santunnya. Ryan menginap di rumah Nathan dan Agatha. Mereka tidak benar benar ke yunani hanya membuat Auryn merasa bersalah aja dan menerima perjodohan ini. Semarah apapun Ryan ia tetap sayang kepada putrinya itu. Biarkan putrinya sadar atas apa yang diperbuatnya. Sedangkan Galaksi memang berencana lama pindah ke apartemen cuman baru kesampean tadi dan juga baru lunas ia bayar. Auryn hanya mengaduk ngaduk bakso nya saja tanpa minat untuk makan. Tiwi dan Fitri heran melihat Auryn. "Lo kenapa, Auryn?" tanya Fitri. "Orang rumah gue pergi semua gara gara gue nolak perjodohan dan baru kali ini gue lihat daddy marah banget sama gue." "Udah gue bilangin sama lo. Terima aja perjodohan ini. Lo nya sih sok jual mahal," cetus Tiwi. "Bukan gitu Wi. Gue belum siap aja jadi istri di usia muda. Gue takut gagal dalam rumah tangga." "Heh dengerin gue. Kalo satu sama lain saling percaya gue yakin rumah tangga lo adem ayem aja. Lagian Taufan juga baik kok sama lo. Dan udah beberapa bulan yang lalu gue perhatiin kayaknya Taufan suka sama lo," jelas Tiwi. "Iya, Ryn. Gapapa kali lo terima perjodohan ini." "Gue harus ngomong sama Taufan." Auryn pun meninggalkan kantin ia tak peduli dengan panggilan temannya itu. Ia menuju kekelas Taufan dan mengajak Taufan ke rooftop sekolah. Saat ini mereka berada di rooftop sekolah. Tampak Auryn gugup dengan apa yang mau dia bicarain sama Taufan. Mereka duduk di sofa dalam keadaan hening. "Taufan." "Apa?" "Kenapa lo mau nerima perjodohan ini?" "Awalnya gue nolak perjodohan ini. Tapi setelah gue pikir pikir apa salahnya nuruti keinginan bonyok gue. Belum tentu gue bisa balas budi kebaikan bonyok gue yang ngerawat gue dari kecil." "Ngga ada alasan yang logis?" "Dengerin gue. Gue mau nikah sekali seumur hidup dan gue udah mantepin bahwa gue akan membina rumah tangga dengan senyaman kitanya. Gue mau kita terbuka tidak ada yang ditutupi." "Gue belum siap." "Siap ngga siap ya harus siap. Lagian kapan lagi mau ngebahagiain bonyok lo." "Bonyok gue ke yunani. Orang rumah pada pergi semua."  Taufan heran ia mengernyitkan keningnya bingung dan melihat ke arah Auryn yang tampak sedih. Auryn menghela napasnya panjang. "Mereka marah sama gue." "Iyalah mereka marah. Jelas jelas lo saat pertemuan keluarga ngomongnya pake nada tinggi." "Maaf Taufan." "Minta maaf sama orangtua lo." "Ta..." "Gue ada rapat osis. Jadi lo pikir sendiri aja gimana urusannya. Karna itu ulah lo sendirim" Taufan pun pergi meninggalkan Auryn di rooftop. Auryn menghela napasnya panjang. Semuanya angkat tangan dan hanya dirinya saja ini gimana. Terpaksa Auryn menerima perjodohan ini. Siap tak siap ya harus siap kata Taufan kan begitu. Auryn menonton televisi dengan tak semangat. Sehingga bel rumahnya berbunyi. Ia pun beranjak dari duduknya dan ternyata tamu nya adalah Taufan sendiri. Ia pun mempersilahkan Taufan masuk. Taufan ke rumah Auryn karna disuruh kedua orangtuanya dan orangtua Auryn sendiri. Menyuruh menemani Auryn sedangkan para orangtua menyiapkan acara pernikahan. "Diminum Taufan." Auryn mempersilahkan Taufan minum. Ia menghidangkan teh panas kepada Taufan. "Gue udah telpon, mom. Dan bilang gue mau nerima perjodohan ini," ucap Auryn. "Mereka lagi mempersiapkan acara pernikahannya yang akan dihadiri rekan bisnis orangtua kita dan teman teman kita." "Lah kan..." "Bonyok lo di rumah gue. Itu cuman alasan aja." Auryn bernapas lega. Setidaknya orangtuanya masih sayang kepada dirinya. "Jadi?" tanya Auryn. "Gue disuruh nginap disini nemenin lo." "Yaudah lo tidur di kamar gue. Gue tidur di kamar bonyok gue." Taufan mengangguk. Auryn pun membawa Taufan ke kamarnya. Sedangkan Auryn ke kamar orangtuanya. Ia bisa melihat poto dirinya sewaktu kecil dan Riko kecil. Di kamar orangtuanya. Sedangkan di kamar Auryn. Taufan melihat semua foto Auryn dari Auryn kecil hingga besar. Ia tersenyum ternyata Auryn waktu kecil memang cantik. Pantas dirinya menyukai Auryn secara diam diam. Tapi sifat bad dan onar Auryn yang membuat Taufan lelah menghukum Auryn. Apalagi Auryn buat ulah setiap hari dan baru kali ini ia sedikit merasa nyaman karna Auryn tak buat ulah. Taufan pun merebahkan dirinya di kasur Auryn. Kamar Auryn tidak seperti cewek pada umumnya. Kamar Auryn lebih klasik dengan warna abu abu dan rapi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD