bc

Pesona Istri yang Tak Diinginkan

book_age18+
319
FOLLOW
4.8K
READ
HE
arrogant
stepfather
heir/heiress
tragedy
bxg
affair
like
intro-logo
Blurb

"Kamu pembunuh!"Syanina hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah setelah menjadi penyebab kematian adiknya.Masalah tak selesai di situ, kini dia terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Gibran, adik iparnya yang penuh amarah.Hubungan mereka bukanlah tentang cinta, melainkan pelampiasan dendam Gibran yang membara. Setiap hari, Syanina menerima luka, bukan kasih sayang, dan ketika dia hampir menyerah, sebuah kejadian tak terduga mengubah segalanya. Dihadapkan pada pilihan sulit, Syanina dilema. Tetap pergi meninggalkan Gibran atau bertahan sekali lagi bersama suaminya itu. Opsi manakah yang akan dia ambil?

chap-preview
Free preview
1). Pembunuh!
*** "Ya Tuhan, aku udah bikin adikku meninggal." Syanina duduk terpaku di kursi rumah sakit. Jauh dari keramaian, tangannya gemetar sementara suara mesin-mesin di sekitarnya terasa hampa di telinga. Pikirannya berputar tanpa henti, mengulang-ulang kejadian mengerikan yang baru saja terjadi. Dua jam lalu, Syanina diminta untuk mengantar Renjana—sang adik pergi check up kandungan. Tak ada feeling atau firasat aneh, Syanina dengan lancar mengemudikan mobil sang adik menuju rumah sakit hingga di tengah perjalanan, sebuah tragedi terjadi. Kehilangan keseimbangan setelah rem mobil mendadak tak berfungsi, Syanina dan Renjana mengalami kecelakaan dan hal tersebut membuat Renjana yang tengah mengandung terjebak di kondisi darurat. Harus segera melahirkan bayi yang dikandungnya usai mengalami pendarahan hebat, Renjana kehilangan nyawa setelah berjuang selama satu jam di ruang operasi, dan hal tersebut jelas menjadi pukulan berat untuk Syanina. Tak kuasa menahan kepedihan, Syanina pergi setelah kabar buruk tersebut diterimanya karena untuk sekadar percaya tentang kepergian sang adik, rasanya dia tak bisa. "Aku harusnya ngecek dulu mobil Renjana, aku harusnya pastiin mobil itu aman dan-" "Jadi di sini kamu, pembunuh?" Tak selesai ucapan dari mulut Syanina, sebuah ucapan lebih dulu terdengar—membuat dia mau tak mau menoleh. Di detik berikutnya, degupan jantung Syanina seketika tak menentu karena bukan orang asing, yang barusaja berucap adalag Gibran—sang adik ipar sekaligus suami Renjana. "G-Gibran," panggil Syanina terbata. Tak terus duduk, dengan kedua kaki yang masih terasa lemas, Syanina berdiri sementara pria bersweater coklat yang barusaja datang, mendekat dengan raut wajah yang jauh dari kata bersahabat. Terlihat diselimuti emosi, rahang Gibran mengeras sementara tatapan mata pria itu nampak menusuk—membuat Syanina rasanya ingin pergi saja sejauh mungkin. Namun, hal tersebut tak bisa dia lakukan karena untuk yang terjadi pada Renjana, Syanina harus mempertanggungjawabkan semuanya. "Kamu apakan istri saya, Syanina?" Datang untuk menyerang, Gibran tanpa ragu mendorong Syanina ke tembok, kemudian memberikan remasan kuat di bagian bahu—membuat gadis dua puluh delapan tahun itu meringis. "G-Gibran sakit," cicit Syanina, karena tak main-main, cengkraman Gibran di bahu kirinya terasa sangat kuat. "Sakit?" tanya Gibran dengan raut wajah yang justru semakin memerah. "Kamu bilang sakit? Diginiin doang kamu ngeluh sakit? Lalu apa kabar dengan saya sekarang, Syanina? Istri saya kehilangan nyawanya di meja operasi, dan sekarang dia pergi ninggalin saya untuk selama-lamanya. Apa kamu pikir itu enggak menyakitkan?" "Gibran, aku-" "Saya jauh lebih sakit dari kamu, Syanina!" teriak Gibran dengan cengkraman yang semakin menguat—membuat Syanina tak kuasa menahan air matanya untuk jatuh. "Saya kehilangan Renjana dan itu gara-gara kamu! Dia pergi gara-gara kelalaian kamu, Syanina! Kamu pembunuh!" "Aku minta maaf, Gibran," ucap Syanina dengan air mata yang semakin banjir. "Aku sama sekali enggak bermaksud bikin Renjana celaka. Aku sayang sama dia dan-" "Kalau sayang, kamu enggak akan bunuh dia, Syanina!" teriak Gibran berapi-api—tanpa peduli semua atensi yang kini tertuju padanya juga Syanina. "Kamu pasti jaga Renjana dengan baik, dan kamu pasti akan memilih untuk menyelamatkan Renjana, bukan anaknya! Kamu jahat, Syanina! Kamu perempuan paling jahat yang pernah aku kenal dan perempuan seperti kamu enggak pantas buat dipanggil Kakak!" Tak hanya satu bahu, selanjutnya Gibran tanpa ragu meremas kedua bahu Syanina—membuat gadis itu hanya bisa menangis. Antara sakit karena remasan di bahu yang dia terima pun sakit karena kehilangan sang adik, dua hal tersebut membuat air mata Syanina enggan berhenti. Beruntung, di menit berikutnya kedua orang tua Gibran datang sehingga amukan suami Renjana tersebut bisa diredakan, dan tak hanya itu, selanjutnya Gibran bisa dibawa pergi sehingga di tempat yang cukup sepi tersebut, tersisa Syanina yang masih terduduk di lantai. "Demi Tuhan, Kakak enggak punya niat buat bikin kamu begini, Renjana," ucap Syanina dengan suara yang lirih. "Kalau bisa milih, lebih baik Kakak yang pergi dibanding kamu." Hanyut dalam rasa sakit, tangisan Syanina perlahan mereda. Meratapi nasib, selanjutnya itulah dia hingga sebuah panggilan membuat atensinya beralih. "Syanina." "Tante Elara," panggil Syenina pada seorang perempuan yang tak lain adalah ibu kandung Gibran. Tak menjawab, perempuan yang dipanggil Elara tersebut mendekat. Mensejajarkan posisi dengan Syanina, dia menatap lekat kakak dari menantunya itu sebelum kemudian berkata, "Ini mungkin bukan waktu yang tepat, tapi kamu harus menikah dengan Gibran sepeninggalnya Renjana." "M-menikah?"

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.4K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.4K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.9K
bc

TERNODA

read
199.4K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
71.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook