***
"Jana, maafin Kakak."
Dari balik sebuah pohon berukuran sedang, suara lirih itu terdengar. Bukan hantu atau semacamnya, suara beserta tangisan pelan tersebut berasal dari Syanina yang kini hanya bisa memperhatikan pemakaman sang adik dari jauh.
Dicap sebagai pembunuh Renjana oleh Gibran, sejak siang tadi Syanina tak diizinkan untuk mendekati jenazah sang adik, sehingga selain memperhatikan dari jauh, dia tak bisa berbuat apa-apa lagi.
Tak peduli sakit di kepala karena kecelakaan yang menimpanya siang tadi, Syanina berdiri dalam jangka waktu yang lama. Tak hanya ingin memperhatikan, dia tentunya ingin pula menghampiri pusara sang adik. Namun, untuk melakukan hal tersebut dia harus menunggu semua orang—terutama Gibran, pergi dari pemakaman.
"Kalau bisa mengulang waktu, Kakak bakalan lebih hati-hati lagi pas nyetir, Jana, dan andai waktu bisa diputar ke belakang, Kakak enggak akan ikutin apa yang kamu minta karena kehilangan kamu ternyata sesakit ini."
Tak hanya perihal berkendara, penyebab Syanina dituduh membunuh Renjana adalah surat persetujuan operasi yang dia tandatangani.
Sempat pesimis mampu menyelamatkan Renjana dan bayi yang dia kandung, pihak tenaga medis memang meminta Syanina untuk memilih salah satu yang harus diutamakan keselamatannya.
Di kondisi panik, Syanina hendak meminta dokter untuk mengutamakan Renjana. Namun, sang adik yang tiba-tiba saja tersadar membuat dia mengubah jawaban.
Bukan keinginan Syanina, permintaan untuk mengutamakan si jabang bayi dilontarkan Renjana di tengah kondisi kritisnya, sehingga ketika kondisi darurat terjadi, pihak tenaga medis menyelamatkan sang bayi—membuat Gibran murka karena dibanding sang putra, pria itu lebih menginginkan Renjana yang tetap hidup di dunia.
"Ayo pulang, Gibran. Sebentar lagi maghrib."
Tak hanya Syanina, Gibran menjadi orang yang paling terpukul atas kepergian sang istri. Tak menyangka akan ditinggal secepat ini oleh Renjana, hati Gibran rasanya remuk sehingga untuk sekadar bernapas, dia nyaris tak sanggup.
Beribu sesal juga bersemayam di dalam hatinya karena jika tahu tragedi ini akan menimpa Renjana, dia tak akan meminta sang istri pergi ke rumah sakit tanpa dirinya.
"Kalian pulang duluan, aku masih mau di sini."
Tak beranjak sedikit pun, Gibran masih berjongkok di samping gundukan tanah dengan jasad sang istri di dalamnya. Menatap nanar nisan kayu bertuliskan nama Renjana, ingin sekali dia menggali kembali tanah merah di depannya.
Namun, sial, hal tersebut tak bisa dia lakukan karena sekali pun dirinya mendekap erat tubuh Renjana, perempuan itu tak akan kembali hidup.
"Ada yang mau kami bicarakan di rumah, jadi pulang."
Setelah sebelumnya Elara, kali ini yang buka suara adalah Regan, yang tak lain adalah ayah kandung Gibran. Lantas ke mana kedua orang tua Syanina? Jawabannya adalah tak ada, karena sejak berusia lima belas tahun dan Renjana tiga belas tahun, kedua orang tua mereka meninggal dalam sebuah kecelakaan.
"Apa?" tanya Gibran.
"Kita bicarakan di rumah, karena tak etis kalau masalah ini dibicarakan di sini."
Tak menjawab, Gibran membisu. Menimang selama beberapa detik, pada akhirnya dia beranjak kemudian bersama kedua orang tuanya, Gibran bergegas.
Sampai di rumah pukul setengah tujuh malam, Gibran dan kedua orang tuanya berkumpul di ruang tengah dan tanpa ditagih, Elara melontarkan maksudnya.
"Mama mau minta kamu menikahi Syanina."
Berhasil membuat Gibran membelalak, itulah ucapan Elara dan tak didiamkan, di detik berikutnya Gibran memberikan tanggapan.
"Mama gila, Ma?" tanya pria itu tak habis pikir. "Syanina udah bikin Renjana meninggal. Jadi mana mungkin aku nikahin dia."
"Renjana enggak salah, Gibran," kata Regan—tanpa ragu membela Syanina. "Yang terjadi pada mereka murni kecelakaan, dan perihal surat persetujuan operasi, Renjana yang minta dokter buat nyelamatin anaknya. Bukan Syanina."
"Dan Papa percaya gitu aja sama perempuan jahat itu, Pa?" tanya Gibran tak terima. "Syanina enggak mungkin jujur soal surat persetujuan operasi, Papa. Jadi Papa atau Kama seharusnya enggak semudah itu percaya karena-"
"Ini permintaan Renjana, Gibran," potong Elara—membuat atensi Gibran beralih.
"Maksud Mama?"
"Semalam Mama sama dia sempat teleponan dan enggak tahu kenapa istri kamu tiba-tiba bahas kematian," ucap Elara dengan ingatan yang kembali ke obrolannya dan Renjana semalam. "Katanya kalau ada apa-apa sama dia pas lahiran, dia pengen kamu nikah sama Kakaknya karena cuman dia yang bisa dipercaya buat jaga anak kalian dan urus kamu."
"Ma ...."
"Kalau kamu memang menyayangi Renjana, laksanakan apa yang dia minta, Gibran," ucap Regan. "Secara enggak langsung, itu permintaaan terakhirnya sebelum pergi."
Tak memberikan jawaban, Gibran yang masih diselimuti rasa kaget, diam membisu. Berpikir keras, itulah dia hingga sebuah ide tiba-tiba saja menghampirinya.
Menimang kembali ide tersebut, Gibran coba memantapkan pikiran hingga panggilan dari Elara membuatnya sedikit tersentak.
"Gibran."
"Apa, Ma?"
"Kamu mau ya menikah dengan Syanina."