***
"Mbak Nina, ayo turun. Akadnya mau dilaksanain."
Duduk dengan kepala menunduk, Syanina menoleh setelah informasi tersebut didapatkannya dari seseorang di ambang pintu.
Tak ada senyuman layaknya calon pengantin lain, Syanina justru dilanda rasa tegang karena bukan pernikahan impian, akad nikah yang akan dilaksanakan sore ini adalah sesuatu hal yang sebenarnya tak ingin dia jalani.
Namun, demi menebus rasa bersalahnya pada Renjana, Syanina bersedia dipinang Gibran karena tak hanya ucapan, Elara memiliki rekaman suara tatkala sang adik menginginkan dirinya untuk menjadi istri Gibran jika seandainya perempuan itu tak ada.
Ironis memang, karena bukannya menjauh, Syanina justru menikah dengan orang yang paling membencinya itu. Namun, sekali lagi dia tak punya pilihan karena selain demi Renjana, Syanina melakukan semuanya demi si bayi tanpa dosa yang harus lahir dua bulan lebih awal dari seharusnya.
"Sekarang, Mbak?" tanya Syanina memastikan. Dalam hati, dia berharap ucapan perempuan di ambang pintu hanyalah tipuan karena untuk sekadar duduk bersebelahan dengan Gibran, Syanina takut.
Empat puluh hari berlalu pasca meninggalnya Renjana, hubungan Syanina dan Gibran tak membaik. Tak pernah bertegur sapa, semua persiapan pernikahan diurus Elara sehingga yang perlu Syanina lakukan usai menerima perintah mertua dari adiknya itu, adalah; pasrah dinikahi Gibran.
"Iya, Mbak, sekarang."
Syanina menarik napas panjang sebelum menghembuskannya secara perlahan. Memupuk keberanian, dia beranjak lalu dengan jantung berdebar kakinya melangkah menuju pintu.
Tak ada pesta meriah di hotel berbintang, akad nikah dilaksanakan di kediaman Gibran. Tak mengundang banyak tamu, yang datang hanyalah keluarga inti karena memang untuk pernikahan kedua, Gibran meminta agar acara digelar seprivat mungkin.
"Jaga jarak. Tubuh saya terlalu alergi dekat dengan pembunuh seperti kamu."
Belum apa-apa, ucapan pedas tersebut Syanina dapat setibanya dia di samping Gibran. Bernada pelan, ucapan pria itu hanya bisa didengar Syanina dan karena tak punya keberanian untuk melawan, Syanina diam sebelum kemudian beralih atensi usai suara penghulu menginterupsi.
"Atas nama Syanina Larasati dan Kalandra Gibran Mahendra, kan?" tanya sang penghulu mengkonfirmasi data diri Syanina dan Gibran.
"Iya, Pak."
"Baik kalau begitu kita mulai akadnya."
Tanpa banyak ba bi bu, selanjutnya akad nikah dilaksanakan. Tak ada drama, dalam satu kali tarikan napas Gibran resmi meminang Syanina dan dengan sahnya pernikahan kedua insan tersebut, status duda yang Gibran sandang selama empat puluh hari, resmi berakhir.
Naik ranjang.
Demi apa pun hal tersebut tak pernah Gibran bayangkan sebelumnya, karena jika mengingat lagi bagaimana romantisnya hubungan dia dengan Renjana, Gibran tak pernah menyangka mereka akan dipisahkan maut.
Ah, jika bukan karena ide yang tiba-tiba saja muncul setelah diminta untuk menikah dengan Syanina, Gibran rasanya tak sudi meminang perempuan yang sudah membuat sang belahan jiwa meninggal.
Jangankan mencintai, melihat wajah Syanina saja Gibran rasanya muak karena setiap bertatapan dengan perempuan itu, bayangan tubuh kaku Renjana selalu melintas—membuat hati Gibran kembali teriris.
"Jana, Kakak takut."
Akad nikah selesai, malam pertama pengantin akhirnya tiba. Tak lagi di kamar tamu, saat ini Syanina berada di kamar bernuansa abu milik Gibran.
Tak bersama siapa pun, Syanina sendirian di sana karena memang setelah acara selesai, Gibran tak kunjung datang—membuat rasa takut terus menghantui.
Mengingat lagi ucapan suaminya itu menjelang akad, Syanina yakin malam ini tak akan berlalu dengan mudah untuknya sehingga selain duduk sambil memainkan jemari, pikirannya sibuk mensugesti diri untuk tetap kuat di depan Gibran.
Ceklek!
Setengah jam lebih sendirian di kamar, Syanina beralih atensi setelah suara pintu dibuka, terdengar. Menunggu kedatangan seseorang, jantungnya kembali dipacu setelah yang muncul dari balik pintu adalah Gibran dengan raut wajah seriusnya seperti biasa.
"Belum tidur kamu, Pembunuh?
Tak ada sikap ramah ataupun senyuman, sapaan tersebut seringkali menyapa telinga Syanina pasca kepergian Renjana. Jika awalnya hati Syanina terasa begitu sakit, maka sekarang sapaan tersebut mulai terdengar biasa sehingga tak ada sanggahan, Syanina memilih untuk tak melakukan protes.
"Belum," ucap Syanina. "Aku nunggu kamu."
"Ngapain nunggu saya?" tanya Gibran dengan gaya bicara yang formal.
Sama seperti sapaan, berubahnya gaya bicara pria itu terjadi setelah Renjana meninggal dan lagi-lagi, Syanina hanya bisa menerima karena menurutnya sendiri, dia memang salah.
"Aku nunggu kamu, karena-"
"Mau dibunuh?" tanya Gibran—sengaja memotong ucapan Syanina. "Belum puas hilangin nyawa Renjana, kamu pengen juga nyingkirin saya. Begitu?"
"Enggak ada untungnya aku lakuin itu, Gibran," kata Syanina. "Ak-"
"Saya enggak butuh pembelaan kamu," potong Gibran lagi. "Di mata saya, kamu tetap pembunuh dan selamanya saya akan beranggapan demikian."
Tak tahu harus menjawab apa, Syanina diam sementara Gibran berjalan menuju meja nakas. Mengeluarkan sebuah amplop putih, Gibran mendekati Syanina kemudian dengan raut wajah yang masih diselimuti benci, dia memberikan amplop tersebut.
"Untuk kamu."
"Amplop apa ini, Gib?" tanya Syanina dengan raut wajah penasaran.
"Buka aja. Kamu enggak akan tahu isinya kalau amplop itu enggak kamu buka."