***
(Selamat datang di neraka yang akan saya ciptakan, Syanina. Semoga kamu menikmatinya, karena pembunuh seperti kamu pantas mendapatkan hukuman setimpal.)
Tubuh Syanina menegang. Masih memegang erat kertas yang beberapa detik lalu dia keluarkan dari amplop, perasaan takut, kaget, bahkan tegang kini bercampur menjadi satu.
Mendapat amplop dari Gibran, Syanina pikir isi di dalam amplop tersebut adalah surat perjanjian pranikah yang sering orang lain buat setelah resmi menjadi suami istri.
Namun, ternyata dugaannya salah, karena tak sepanjang perjanjian pranikah, tulisan di kertas yang Syanina dapatkan dari dalam amplop adalah: kalimat sambutan.
Entah harus berkata apa pada Gibran, Syanina bingung karena kalimat yang pria itu tulis terlalu menakutkan untuknya sehingga jangankan berucap, mengangkat kepala saja rasanya Syanina tak berani.
"Fokus sekali kamu baca tulisan yang saya buat, Syanina," ucap Gibran dengan senyuman miring. Berlagak layaknya bos, itulah dia sekarang karena melihat sang istri terintimidasi, Gibran puas. "Suka ya kamu lihat tulisan indah saya?"
Masih tak bergeming, atensi Syanina tak berpaling dari kertas yang dia pegang semakin erat, hingga sesuatu yang Gibran lakukan membuat dia tak bisa lagi menghindar untuk tak beradu tatap dengan pria itu.
Cengkraman di dagu.
Entah kerasukan setan apa, Gibran yang dulu bersikap ramah pada Syanina kini berubah seratus delapan puluh derajat. Bukan lagi adik ipar yang baik, di mata Syanina, Gibran layaknya monster.
Namun, untuk menyalahkan Gibran pun Syanina tak bisa karena secara tak langsung, dialah yang membuat pria itu seperti sekarang.
"Tiba-tiba kehilangan pendengarankah kamu, Syanina?" tanya Gibran dengan tatapan yang cukup mengintimidasi. "Ucapan saya harusnya dijawab, bukan didiamkan. Enggak sopan."
"Aku enggak ngerti maksud tulisan kamu apa, Gibran," cicit Syanina dengan kedua mata yang tiba-tiba saja basah. "Aku enggak dengan sengaja hilangin nyawa Renjana, karena sama seperti kamu, aku sayang sama dia dan-"
"Bulshit, Syanina," potong Gibran dengan segera. "Kalau kamu sayang sama Renjana, di kondisi dia yang kritis, kamu bakalan cegah dia buat nyelamatin bayinya, tapi hal itu enggak kamu lakuin, kan? Kamu biarin istri saya berkorban nyawa demi bayinya. Padahal, bayi bisa hadir kembali, tapi nyawa Renjana? Dia enggak bisa kembali setelah pergi. Harusnya kamu paham itu."
Tak tahu harus menimpali apa, rasa takut kini menguasai Syanina sehingga selain menatap Gibran, dia tak melakukan apa-apa sampai akhirnya pria itu melepaskan cengkramannya—membuat dagu Syanina terbebas.
"Saya menikah dengan kamu bukan hanya karena permintaan Renjana, tapi karena saya ingin membalas semua perbuatan kamu ke istri saya," kata Gibran setelahnya. "Kalau kamu beranggapan saya jahat, kamu dan bayi itu lebih jahat karena kalian sudah bikin saya kehilangan orang yang saya cintai."
"Kamu boleh nyalahin aku, tapi tolong jangan benci anak kamu sendiri, Gibran," ucap Syanina dengan suara bergetar. "Dia enggak tahu apa-apa dan dia enggak patut disalahkan karena kehilangan ibu ketika dia lahir, bukan keinginannya."
"Enggak usah sok nasihatin saya," potong Gibran dengan raut wajah dingin. "Pembunuh macam kamu enggak pantas menasihati korban."
"Aku enggak dengan sengaja bunuh Renjana, Gibran," ucap Syanina sedikit mendesah. "Aku juga enggak mau kehilangan dia, bahkan kalau bisa, aku pengen tukar nyawaku sama nyawanya dia, tapi hal itu enggak bisa. Kamu boleh marah sama aku, boleh benci juga sama aku, tapi tolong jangan libatkan anak kamu dan Renjana karena di surga sana Renjana pasti sedih."
Tak menimpali, Gibran diam sementara kedua tangannya yang semula terbuka, kini mengepal hebat. Diselimuti emosi juga rasa sakit yang bercampur menjadi satu, itulah dia hingga selang beberapa detik setelahnya sebuah perintah terlontar.
"Tidur di luar, Syanina. Saya enggak mau tidur satu kamar sama pembunuh."
"Kalau aku tidur di luar, apa kata Tante Elara, Gibran?" tanya Syanina. "Ini malam pertama kita dan-"
"Bukan di dalam rumah," potong Gibran. "Ada dua pintu keluar di kamar ini. Satu pintu yang menghubungkan kamar ini dengan ruangan di dalam rumah. Dua, pintu yang menghubungkan kamar dengan balkon. Dan yang saya maksud barusan, kamu malam ini tidur di balkon kamar."
"Gibran ...."
"Apa?" tanya Gibran—kembali menatap Syanina dengan perasaan benci yang masih bergejolak. "Mau nolak? Silakan, tapi jangan harap bisa ketemu keponakan kamu lagi karena kalau kamu menolak permintaan saya, bayi itu enggak akan ragu saya bawa ke panti asuhan terjauh."
"Jangan gila, Gibran," desah Syanina. "Bagaimanapun juga dia anak kamu."
"Yang saya tahu bayi itu udah bikin Renjana meninggal dan otomatis sikap saya ke bayi itu harus sama dengan sikap saya ke kamu," kata Gibran. "So, silakan keluar dan tidur di balkon kamar kalau kamu masih pengen dekat dengan bayi itu."
"Tanpa selimut dan bantal?"
"Iya," kata Gibran. "Kamu tidur di atas lantai langsung tanpa membawa apa pun. Bantal dan selimut saya terlalu berharga untuk pembunuh macam kamu."
Tak menimpali ataupun beranjak, Syanina menatap Gibran lekat hingga yang ditatap akhirnya buka suara.
"Kenapa diam? Sana ke balkon, Syanina. Muak saya lihat wajah kamu."