“Kak Nina, malam ini anginnya dingin banget ya. Jadi pengen tidur dipeluk Kak Nina deh.”
“Kak Nina makasih ya karena selalu peluk aku pas kedinginan. Pelukan Kak Nina hangat deh kaya pelukan Mama.”
“Kak Nina, kalau tidur jangan lupa pake selimut ya. Kamar di panti suka dingin pas malam. Maaf kalau aku ninggalin Kak Nina di panti. Aku janji meskipun udah nikah, aku bakalan rajin berkunjung ke sini.”
Duduk dengan kedua kaki ditekuk, tetes demi tetes air mata Syanina jatuh membasahi kedua pipi. Memeluk kakinya yang ringkih, tatapan sayu Syanina lurus ke depan—memandang gerimis hujan yang perlahan turun membasahi bumi.
Dipaksa mengingat beberapa momennya dengan Renjana, rasa sakit kembali menyelimuti hati karena angin malam yang berembus terasa begitu lekat dengan sang adik, sehingga untuk tak mengingat Renjana, pikiran Syanina tak bisa.
Tak lagi di kamar Gibran yang aman dari angin malam, saat ini Syanina berada di balkon karena setelah ancaman demi ancaman dilontarkan sang suami, Syanina akhirnya pasrah untuk terlelap di atas dinginnya teras balkon kamar.
Tak ditemani selimut mau pun bantal, Syanina benar-benar akan meringkukan tubuhnya tanpa apa pun karena jangankan peralatan tidur, membawa jaket saja dia tak bisa.
“Jana, kamu apa kabar di surga sana?” tanya Syanina dengan suara yang terdengar lirih. “Dulu setiap gerimis apalagi hujan pas malam, kamu selalu minta Kakak buat peluk kamu. Sekarang kamu udah enggak butuh dipeluk Kakak ya? Di surga sana pasti hangat ya, Dek, suasananya? Kalau iya, Kakak bersyukur karena Kakak enggak bisa peluk kamu lagi. Adek udah didekap Mama sama Papa, kan, di surga sana?”
Bermonolog dengan hati yang tercabik-cabik, ingin rasanya Syanina menyusul orang-orang yang sangat dia cintai. Namun, keinginannya tersebut tak bisa dia realisasikan karena selain dirinya, dia harus melindungi Raja—sang keponakan yang ikut menjadi sasaran kemarahan Gibran.
Tak mau terjadi sesuatu pada Raja, Syanina bertekad untuk kuat menghadapi segala perlakuan Gibran. Namun, nyatanya tekad dan realita kadang tak sesuai karena barusaja diminta tidur di balkon, Syanina sudah merasa lelah.
Tak menyangka Gibran akan sekejam ini padanya, itulah yang sejak tadi Syanina pikirkan karena semarah apa pun Gibran, dia pikir hati nurani pria itu masih bekerja. Namun, dugaan Syanina salah karena kemarahan membutakan Gibran dari banyak hal.
“Dek, balkon kamar Gibran ternyata dingin banget ya?” tanya Syanina sambil mengusap kedua kaki yang dibalut piyama guna meredakan rasa dingin yang kini menusuk. “Kakak pikir tidur di sini bukan masalah, tapi ternyata dugaan Kakak salah. Apa karena hujan ya, Dek? Makanya dingin banget.”
Hening.
Selanjutnya yang Syanina dengar hanyalah gemericik air. Memandangi tetes demi tetesan hujan, air matanya kembali banjir hingga setelah mengumpulkan nyali, sebuah ucapan kembali terlontar.
“Jana … peluk Kakak sebentar aja bisa enggak? Dipeluk kamu meskipun itu sedetik, hati Kakak mungkin tenang. Kakak butuh kekuatan buat bangun, Jana. Kakak harus kuat demi Raja karena setelah kamu ikut papa dan Mama, cuman Raja yang Kakak punya.”
Tak henti bermonolog, Syanina tak sadar jika dari dalam kamar, Gibran memperhatikan lewat jendela. Berdiri persis di depan kaca, dia memeluk kedua tangan di d**a sementara senyuman miring terukir dengan jelas di bibir.
“Rasakan dan resapi sakitnya, Syanina,” ucap Gibran tanpa merasa kasihan sama sekali. “Apa yang kamu rasakan malam ini belum sebanding dengan apa yang saya rasakan selama empat puluh hari pasca Renjana pergi.”
Takut mendadak dilanda kasihan, selanjutnya Gibran menjauh dari jendela. Tak peduli hujan yang perlahan deras, dia mengambil posisi di kasur hangatnya kemudian bersiap-siap tidur.
Menarik selimut, Gibran menutupi tubuhnya sampai ke d**a dan tanpa memikirkan Syanina, dia terlelap begitu saja seolah di balkon sana tak ada siapa pun yang tersiksa oleh dinginnya embusan angin malam ini.
Nyaman dalam balutan selimut, tidur Gibran berlangsung dengan nyaman hingga sebuah ucapan yang tiba-tiba saja terdengar, mengganggu tidurnya. Bukan sekadar panggilan, yang Gibran dengar adalah kalimat panjang dan bukan kalimat biasa, yang Gibran dengar adalah sebuah laporan.
“Gibran, bangun, Gibran. Syanina loncat dari balkon!”