***
"Mimpi barusan kerasa banget kaya nyata."
Bergumam dengan posisi yang masih berbaring, itulah Gibran setelah beberapa waktu ke belakang sebuah mimpi tiba-tiba saja menghampirinya.
Bukan mimpi bertemu Renjana, Gibran bermimpi dirinya dibangunkan Elara, dan bukan untuk memintanya mandi kemudian pergi bekerja, di mimpi yang Gibran alami, dia dibangunkan karena sesuatu hal besar terjadi yaitu; Syanina meloncat dari balkon kamarnya.
Tak ada lanjutan, mimpi berakhir sampai di situ karena di detik berikutnya Gibran terbangun, dan jika boleh jujur dia lega karena bukan sungguhan, Syanina yang melompat dari balkon hanyalah bunga tidurnya.
Bukan karena khawatir atau takut terjadi sesuatu pada Syanina, leganya Gibran disebabkan oleh dendamnya yang belum terbalas. Jika Syanina meninggal, niat Gibran untuk membalaskan rasa sakitnya tak akan terealisasi sehingga setidaknya sampai dia puas, perempuan itu harus tetap hidup agar tahu dan sadar seberapa hancur Gibran atas kepergian Renjana.
"Cek jangan ya?" tanya Gibran yang setelahnya menoleh ke arah jendela. "Siapa tahu dia loncat beneran."
Berpikir selama beberapa saat, selanjutnya Gibran beringsut. Turun dari kasur, kedua kakinya berpijak di lantai dan tak diam, Gibran melangkah menuju pintu balkon untuk mengecek Syanina.
Tak berhasil mengintip lewat pintu, Gibran menyingkap gorden dan dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat Syanina yang kini terlelap.
Tak meringkuk, perempuan itu tidur dengan posisi duduk. Memeluk kedua tangan di d**a, Syanina terlihat kedinginan. Namun, Gibran tentunya tak peduli karena memang itulah tujuan dia meminta sang istri tidur di sana.
"Syukurlah kalau masih hidup," ucap Gibran pelan. "Dia enggak boleh meninggal sebelum aku selesai kasih dia hukuman."
Tak terus di dekat kaca, selanjutnya Gibran menutup kembali gorden. Berniat untuk kembali tidur, rasa haus justru melanda tenggorokannya sehingga alih-alih ke kasur, selanjutnya Gibran justru melangkah menuju dapur.
"Mama lagi ngapain jam segini?"
Mendapati Elara di dekat meja kompor, pertanyaan tersebut Gibran lontarkan—membuat sang mama dengan segera menoleh.
"Gibran," panggil Elara. "Mama lagi bikinin s**u buat Raja. Bangun dia barusan, haus kayanya."
Rajaksa Jendral Mahendra.
Itulah nama untuk putra sulung Gibran bersama Renjana. Bukan nama dari Elara, Rajaksa Jendral adalah nama yang dibuat oleh Renjana untuk calon putranya.
Seolah tahu akan kehilangan nyawa, di malam ketika Renjana dan Elara mengobrol via telepon, nama tersebut dibocorkan sehingga ketika bayi mungil yang lahir secara prematur itu hadir, dengan segera Elara menyematkan nama gagah tersebut.
"Diemin aja harusnya, Ma, ngerepotin banget."
Tak hanya Syanina, nyatanya Raja pun menjadi pelampiasan amarah Gibran atas kepergian Renjana. Berpendapat jika Raja menjadi salah satu penyebab sang istri meninggal, Gibran enggan merawat putranya itu bahkan jangankan merawat, sentuhan saja tak pernah dia berikan.
Empat puluh hari Raja lahir, bayi mungil tersebut ada di bawah asuhan Elara juga Regan. Bukan tak dinasehati, berkali-kali Gibran diminta untuk tak membenci Raja. Namun, seolah tak mempan, pria itu tetap bersikap sama sehingga alih-alih terus membujuk, Elara memilih untuk fokus merawat cucunya tersebut.
"Kamu ngomong apa sih?" tanya Elara. "Raja itu anak kamu. Enggak pantes banget ucapan itu kamu lontarin."
"Kenapa enggak pantas?" tanya Gibran yang justru menantang. "Bayi itu udah bikin Renjana meninggal. Jadi jangankan ngomong kaya barusan, diumpatin sama aku pun pantas dia dapatin karena gara-gara dia, perempuan yang aku cinta pergi."
"Renjana pergi bukan karena Raja, Gibran," desah Elara yang rasanya frustasi karena sang putra terus menyalahkan cucu mungilnya. "Renjana meninggal karena emang usianya udah habis. Jadi mau lahirin Raja atau enggak, kalau udah waktunya, Renjana tetap bakalan meninggal. Berhenti salahin orang-orang karena kepergian Renjana bukan salah siapa pun termasuk Syanina."
Tak menimpali, Gibran diam dengan sebelah tangan mengepal. Hening, selanjutnya itulah yang dia lakukan hingga tak berselang lama Elara kembali bicara.
"Sedih pasti istri kamu lihat kamu kaya gini, Gib," ucap Elara. "Enggak cuman kakaknya, anaknya juga kamu sakitin. Kecewa pasti dia sama kamu."
Masih tak bersuara, Gibran membisu—membuat Elara yang barusaja selesai menyiapkan sebotol s**u, pergi begitu saja. Namun, belum jauh dia melangkah, sebuah panggilan dilontarkan.
"Ma."
"Kenapa?" tanya Elara. "Jangan lama-lama ngomongnya karena Raja pengen s**u, kasihan dia, haus."
"Raja bawa aja ke panti asuhan," kata Gibran. Bukan pertama kali, ucapan tersebut sudah beberapa kali dia lontarkan dan sama seperti sebelumnya, emosi Elara pasti menanjak. "Sakit hati aku kalau anak itu ada di rumah ini, karena setiap dengar suara dia apalagi lihat wajahnya, aku ingat Renjana dan-"
"Kamu sana yang pergi kalau enggak mau lihat Raja," potong Elara dengan segera. "Rajaksa Jendral Mahendra itu cucu Mama. Jadi sampai kapan pun enggak akan pernah Mama simpan dia di panti asuhan. Kalau pun harus memilih, lebih baik kamu aja yang pergi karena Mama capek hadapin sikap kamu. Mama tahu kamu berduka atas kepergian Renjana, tapi lampiasin kesedihan dengan nyalahin orang-orang terdekatnya Renjana itu bukan hal baik. Syanina Kakak kandung Renjana, jadi dia enggak mungkin sengaja apa-apain adiknya."
"Kenapa enggak mungkin?" tanya Gibran. "Di luaran sana aja ba-"
"Stop, Gibran!" bentak Elara—semakin naik pitam. "Kalau tujuan kamu manggil Mama cuman buat nyalahin Nina ataupun Raja, enggak usah ngomong karena Mama enggak mau dengar. Capek tahu enggak Mama tuh hadapin kamu. Berubah banget sikap kamu semenjak Jana meninggal. Enggak kenal mama sama anak sendiri."
Kembali diam, itulah Gibran sementara Elara melanjutkan langkahnya—meninggalkan Gibran yang masih berdiri di dekat meja. Mengatur napas, untuk beberapa saat itulah yang dia lakukan sebelum kemudian mengambil segelas air putih untuk diteguk.
"Semua orang enggak ngerti apa yang aku rasain," ucap Gibran. "Mereka enggak tahu sesakit apa aku ditinggal Renjana."
Diam lagi sejenak, itulah Gibran sebelum kemudian kembali berkata, "Ya Tuhan, kenapa harus Renjana yang pergi? Kenapa enggak Syanina atau bayi itu aja yang pergi? Kenapa harus istri aku?"
"Syanina ... lihat aja apa yang akan aku lakuin ke kamu setelah ini."