7). Rencana Pulang

988 Words
*** "Nanti malam aku mau pulang ke apartemen. Aku enggak bisa di sini terus karena aku punya tempat tinggal." Berucap tanpa permisi di kegiatan sarapan, itulah gebrakan Gibran pagi ini—membuat Regan mau pun Elara yang duduk bersamanya, langsung mengarahkan pandangan. Tak ada Syanina, di meja makan hanya ada Gibran dan kedua orang tuanya. Ke mana Syanina? Perempuan itu berada di lantai atas untuk mengasuh Raja, karena memang setelah begadang semalaman kemudian tidur menjelang subuh, bayi mungil tersebut kembali bangun persis ketika jam sarapan tiba. Tak enak pada Syanina, Elara sebenarnya sudah menawarkan agar Raja dijaga dulu oleh salah satu art di rumah. Namun, alih-alih menerima, Syanina justru menolak dengan alasan; dia ingin sesering dan seintens mungkin menjaga Raja. Perihal sarapan, katanya dia bisa menyusul setelah semua orang selesai, karena kenyamanan Raja menjadi prioritas Syanina sekarang. "Udah siap memangnya?" tanya Regan. "Di apartemen banyak kenangan kamu sama Jana. Papa rasa untuk sementara waktu lebih baik di sini dulu." "Sementara waktu berapa lama lagi, Pa? Aku udah empat puluh hari lebih di sini," kata Gibran. "Jadi udah waktunya aku pulang." "Bawa Raja?" tanya Elara dengan perasaan yang cukup khawatir, karena jika melihat bagaimana sikap Gibran pada sang cucu, dia takut putranya itu berbuat yang tidak-tidak. "Terserah," kata Gibran—membuat Regan menaikkan sebelah alis. "Maksudnya terserah?" "Ya itu terserah Syanina," kata Gibran. "Kalau dia mau bawa Raja, ya Raja berarti ikut. Begitu pun sebaliknya. Aku enggak mau ambil pusing soal anak itu." "Berhenti sebut raja pake panggilan anak itu, Gibran, dia anak kamu," kata Elara—tak bosan memberikan teguran, meskipun seperti biasa, Gibran tak menggubris ucapannya. "Aku lebih nyaman pake panggilan itu," kata Gibran acuh. "Jadi enggak usah dipaksa buat ubah panggilan." "Kamu ini emang keras," kata Regan. "Papa ngerasa kamu bukan anak Papa, karena Gibran yang Papa kenal enggak kaya gini. Gibran anak bungsunya Papa itu baik dan penyayang. Sementara kamu sekarang? Kamu seperti monster." "Aku jadi monster juga karena Syanina dan anak itu," kata Gibran—tetap santai sekali pun ucapan Regan terdengar menusuk. "Kalau mereka enggak bikin Renjana pergi, aku enggak akan kaya sekarang." "Gibran!" "Aku harus ngantor," kata Gibran sambil beranjak tanpa menghabiskan sarapan yang sejak tadi disantap. "Tolong bilangin ke Syanina siap-siap biar nanti sore aku tinggal jemput dia. Aku enggak mau nunggu, jadi pas aku sampe ke sini Syanina dan barang bawaannya harus siap." "Mama enggak akan izinin kamu bawa Syanina ataupun Raja, Gibran, mereka biar tetap di sini." "Mama boleh nahan Raja, tapi enggak dengan Syanina, Ma. Dia istri aku dan dia harus ikut kemana pun aku pergi," kata Gibran. "Jadi tolong sampaikan pesan aku yang barusan, karena aku enggak menerima komplen apa pun." Tak ada yang menjawab, Regan mau pun Elara kompak diam sementara tanpa kalimat pamit, Gibran melenggang pergi begitu saja—meninggalkan kedua orang tuanya yang kompak dilanda rasa khawatir. "Aku enggak mau Raja tinggal sama Gibran, Mas, aku takut dia diapa-apain," ucap Elara pada sang suami. "Setidaknya sampai Gibran bisa menerima kehadiran Raja, dia tetap sama kita." "Iya, tapi Syanina gimana?" tanya Regan. "Apa mau dia ninggalin keponakannya? Seperti yang kamu tahu, Nina menerima pernikahan ini demi Renjana dan Raja. Jadi pasti enggak bisa dia dipisahin sama keponakannya." "Kita bujuk, Mas," kata Elara. "Kalau pun Syanina harus ikut Gibran, kita bisa lepas dia dengan perasaan sedikit tenang karena dia bukan anak kecil. Sementara Raja? Dia bahkan masih bayi, Mas. Aku takut Gibran apa-apain dia." "Aku yakin Gibran enggak akan senekad itu, Elara," kata Regan menenangkan. "Dia memang belum bisa menerima Raja, tapi kalau sampai lakuin hal nekad apalagi membahayakan, aku percaya anakku enggak akan setega itu." Tak menimpali, Elara menghembuskan napas kasar sebagai respon. Sarapan berlanjut, tak ada obrolan terjadi diantara dia dan Regan hingga setelah nasi di piring tandas, dengan segera Elara bergegas menuju lantai dua. "Syanina," panggil Elara pelan, tatkala di ruang tengah lantai dua, dia mendapati Syanina yang tengah menggendong Raja. "Tan ... eh, Mama," panggil Syanina pelan. "Raja tidur?" tanya Elara lagi—masih dengan suara pelan, dan Syanina menjawab dengan anggukan. "Tidur, Ma, ada kayanya sepuluh menit lalu." Tak menimpali, Elara tersenyum sebagai respon sebelum kemudian mendekat. Duduk di samping sang menantu, perasaan hangat muncul setelah di pangkuan Syanina, dia melihat Raja nampak terlelap dengan nyaman. "Raja kelihatan enak gitu tidurnya di gendongan kamu," ucap Elara berkomentar. "Mungkin karena kamu kakak dari ibunya kali ya. Jadi dia ngerasain kehangatan yang sama." "Kayanya, Ma," ucap Syanina sambil menatap wajah mungil nan polos sang keponakan. "Raja tuh bayi anteung. Meskipun suka begadang, tapi dia jarang nangis. Aku sayang banget sama dia." "Iya," ucap Elara. Diam sejenak, dia kemudian berkata, "Oh ya, Syanina, nanti malam Gibran katanya mau ajak kamu pulang ke apartemen. Dia udah enggak mau lagi tinggal di sini jadi tadi dia titip pesan ke Mama buat nyuruh kamu packing barang-barang biar nanti tinggal berangkat." "Barang-barang aku, Ma?" tanya Syanina dengan raut wajah kaget. "Iya," kata Elara. "Baju Gibran di sini enggak pernah dibawa ke apartemen, karena di sana juga banyak. Jadi yang dipacking barang-barang kamu aja." "Raja?" "Hm, Raja kayanya enggak usah," kata Elara. "Dia enggak akan tinggal sama kalian, biar sama Mama dan Papa aja di sini." "Ma ...." Syanina memanggil disertai desahan. Di wajahnya, kentara sekali raut tak setuju karena selain untuk mengabulkan permintaan terakhir Renjana, tujuannya menikah dengan Gibran adalah; agar bisa dekat dengan sang keponakan, sekaligus menjaga Raja. "Kenapa? Kamu enggak setuju?" tanya Elara. "Gibran belum menerima Raja, Nina, Mama takut dia macam-macam sama anaknya kalau ikut kalian." "Tapi aku enggak bisa jauh dari Raja, Ma," kata Syanina. "Aku nikah sama Gibran biar bisa dekat sama keponakan aku. Jadi di mana aku tinggal, Raja harus ada." "Syanina ...." "Aku enggak mau ikut Gibran kalau enggak sama Raja." Tak tahu harus menjawab apa, Elara diam hingga tak berselang lama Syanina kembali bicara. "Aku lebih baik diceraikan Gibran asalkan bisa sama Raja, dibanding tinggal terpisah sama keponakan aku, Ma." "Syanina jangan gegabah." "Kalau itu izinin aku bawa Raja, Ma."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD