8). Sebuah Janji

906 Words
*** "Perempuan ini ... ganggu aja." Mendapati panggilan di tengah kegiatannya bekerja, keluhan tersebut keluar dari mulut Gibran setelah di layar ponsel, dia mendapati nama Syanina terpampang. Entah mau apa perempuan itu menghubunginya, Gibran tak tahu. Namun, yang jelas moodnya seketika memburuk karena jangankan bertemu langsung, melihat atau menyebut namanya saja Gibran emosi. Tak peduli bagaimana kronologi kecelakaan yang menimpa Syanina dan Renjana tempo hari, bagi Gibran, Syanina tetap penyebab sang istri meninggal, sehingga jangankan cinta, bersikap baik pada perempuan itu pun rasanya enggan untuk dia lakukan. "Halo," sapa Gibran singkat, setelah sebelumnya memutuskan untuk menjawab panggilan. "Halo, Gibran." "Ada apa kamu telepon saya? Ganggu tahu enggak? Saya lagi kerja, bisa-bisanya dihubungin. Buta waktu?" Gatal jika tak memaki, semprotan pedas tersebut langsung Gibran lontarkan. Tak ada balasan, selanjutnya yang dia dengar justru sebuah permintaan maaf. "Aku minta maaf, aku enggak tahu kamu lagi sibuk." "Ada apa?" tanya Gibran—tanpa merespon permintaan maaf sang istri. "Aku mau bahas soal kepulangan kita nanti malam," ucap Syanina. "Mama bilang kamu mau balik ke apartemen terus ajak aku, kan? Nah, aku mau bawa Raja." "Terus?" tanya Gibran sambil menaikkan sebelah alis. "Mama enggak kasih izin aku buat bawa Raja, karena khawatir dia diapa-apain sama kamu," kata Syanina. "Sementara aku enggak bisa kalau enggak dekat sama Raja. Jadi aku mau minta jaminan sama kamu, karena Mama bilang, beliau baru akan ngizinin aku bawa Raja kalau kamu janji satu hal." "Janji apa?" tanya Gibran. "Janji buat enggak apa-apain Raja," kata Syanina. "Mama takut kamu lakuin sesuatu ke dia. Jadi buat dapat izin dari Mama bawa Raja, kamu harus janji sama aku buat enggak apa-apain dia apalagi sampai nyakitin." "Saya enggak akan ngapa-ngapain anak itu selagi kamu patuh sama saya," kata Gibran. "Ikuti semua perintah saya, kabulin apa yang saya mau, terus enggak banyak tingkah. Intinya, kamu yang pegang kendali tentang Raja." "Oke," ucap Syanina. "Kalau itu bisa bikin Raja aman tinggal di apartemen, aku bakalan lakuin apa pun yang kamu minta." "Oke." "Bisa dipegang, kan, omongan kamu?" tanya Syanina. "Aku enggak mau kamu ingkar karena kalau terjadi sesuatu pada Raja, aku enggak akan bisa maafin diri aku sendiri." "Omongan saya tergantung kamu," kata Gibran. "Kalau kamu bisa pegang omongan, saya juga akan melakukan hal serupa. Begitu pun sebaliknya." "Aku pasti pegang omongan aku buat patuh sama kamu." "Bagus," kata Gibran. "Sekarang matiin teleponnya karena terlalu lama ngobrol sama kamu bikin perasaan saya enggak nyaman. Bagi saya, kamu tetap pembunuh Renjana soalnya." "Iya, aku matiin teleponnya sekarang," kata Syanina tanpa membantah pernyataan Gibran. Tak hanya berucap, setelahnya perempuan itu memutuskan sambungan telepon—membuat Gibran dengan segera menurunkan ponsel miliknya itu dari samping telinga. Tak langsung bekerja, untuk beberapa saat yang dia lakukan adalah diam. Namun, bukan sembarangan diam, pikiran Gibran kini sibuk mencari ide hingga setelah hampir lima menit berlalu, sebuah ide didapatkannya. Tersenyum tipis, Gibran memantapkan idenya itu sehingga tak diam, yang dia lakukan setelahnya adalah; mengambil gagang telepon di atas meja untuk menghubungi seseorang. "Halo, Pak, gimana?" "Bisa ke ruangan saya?" tanya Gibran. "Ada yang mau saya bicarakan." "Baik, Pak, meluncur." Bukan orang lain, yang barusaja Gibran hubungi adalah Windy. Siapakah dia? Jawabannya adalah sekretaris Gibran di kantor tempatnya bekerja. Bukan sekadar karyawan, Windy adalah teman semasa kuliah Gibran sehingga tak terlalu canggung, interaksi keduanya cukup akrab. Namun, meskipun begitu di kantor, keduanya profesional sehingga panggilan saya atau bapak, sudah pasti dipakai setiap kali mengobrol—terlebih itu masalah pekerjaan. "Ada apa, Pak, panggil saya?" tanya Windy setibanya dia di ruangan Gibran. "Apa ada sesuatu?" "Ada, duduk," perintah Gibran—membuat Windy mendekat, kemudian menarik kursi di depan pria itu. "Jadi ada apa, Pak?" tanya Windy lagi. "Kamu butuh bonus tambahan enggak?" tanya Gibran to the point—membuat Windy refleks mengerutkan kening. "Kalau butuh, saya mau nawarin kamu kerjaan." "Kerjaan apa emangnya, Pak?" "Sebelum saya jawab kerjaannya, kamu jawab dulu pertanyaan saya barusan. Kamu butuh uang tambahan apa enggak?" "Ya butuh dong, Pak," kata Windy sambil tersenyum. "Siapa coba yang enggak butuh bonus atau semacamnya? Lumayan juga buat ditransfer ke orang tua saya di Palembang." "Oke," ucap Gibran. "Saya bisa kasih kamu bonus tambahan dua puluh juta buat dua bulan. Mau enggak?" "Bapak serius?" tanya Windy—dengan kedua mata yang seketika berbinar. "Itu uang lumayan besar lho, Pak, gaji saya bahkan belum sampe segitu." "Serius," kata Gibran. "Tapi kamu harus ikutin semua yang saya perintahin." "Itu kerjaannya, Pak?" "Iya," kata Gibran. "Kerjaannya tuh kamu patuhin semua perintah yang saya kasih, enggak peduli apa pun perintahnya." Memandang Gibran dengan raut wajah yang terlihat sedikit ragu, selanjutnya Windy bertanya, "Enggak akan macam-macam, kan, Pak, perintahnya? Maksud saya, enggak akan sampai hati kan saya disuruh makan seblak atau semacamnya? Saya enggak biasa soalnya makan makanan kaya gitu." "Menurut kamu apa saya segabut itu minta kamu makan makanan pedas?" tanya Gibran. "Saya bayar kamu buat diminta lakuin hal serius, bukan hal main-main seperti yang kamu sebutkan barusan." "Ya barangkali aja, Pak," kata Windy. "Oh ya, itu bayarannya dibayar dimuka apa gimana? Terus masa berlakunya dua bulan aja apa lebih?" "Masa berlakunya sampai saya puas," kata Gibra . "Dan bayarannya, saya bayar dimuka sepuluh juta. Sisanya nanti." "Oh gitu ya," kata Windy. "Mau?" "Mau, Pak," kata Windy sambil mengangguk. "Tapi boleh kasih tahu enggak salah satu perintah Bapak apa? Biar ada bayangan gitu." "Bisa." "Apa?" "Tidur sama saya." Refleks membulatkan mata, itulah Windy usai mendengar ucapan Gibran. Kaget, sekiranya itulah yang dia rasakan sehingga setelahnya sebuah tanya pun terlontar. "Pak, Bapak serius?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD