***
"Ma, Pa, Nina pamit ya. Doain semoga Gibran bisa menerima Nina dan Raja secara perlahan. Dia orang baik, dan Nina yakin dia akan kembali baik."
Sambil menggendong Raja yang kini terlelap, kalimat pamit tersebut Syanina lontarkan pada kedua mertuanya. Sore datang, tiba waktunya Syanina pulang ke apartemen.
Tak berdua dengan Gibran, dia membawa Raja karena memang setelah mendengar janji Gibran siang tadi, pada akhirnya—dengan berat hati, Elara melepas sang cucu tinggal terpisah darinya.
Namun, meskipun begitu Elara berjanji untuk rajin menjenguk karena di kondisi Gibran yang masih sangat buruk, dia khawatir putranya itu macam-macam baik pada Raja mau pun Syanina.
"Aamiin," ucap Elara. "Kamu baik-baik ya di apartemen. Rutin hubungin Mama terus kalau ada apa-apa jangan ragu bilang. Gibran emang anak Mama, tapi kalau dia salah, Mama sama Papa enggak akan bela."
"Iya, Ma," ucap Syanina.
"Jangan terlalu patuh sama perintahnya dia," kata Regan. "Keenakan kalau kamu terlalu nurut."
"Iya, Pa."
Tak berlama-lama di luar rumah, setelahnya Syanina bergegas menuju mobil. Di sana, Gibran sudah menunggu di kursi depan sehingga dengan segera Syanina pun masuk.
Tanpa bertanya, Syanina membuka pintu depan kemudian dengan perasaan berdebar, dia duduk di samping Gibran.
"Enggak apa-apa, kan, aku duduk di sini?" tanya Syanina hati-hati.
"Mau duduk di atas kap mobil pun silakan," kata Gibran tanpa menoleh. "Biar jatuh sekalian kamu sama anak itu."
"Kalau aku jatuh terus mati, kamu enggak bisa nyalahin aku lagi," kata Syanina—membuat Gibran menoleh kemudian memandangnya dengan intens. "Hobi baru kamu kan nyalahin aku dan sebut aku pembunuh?"
Tak menimpali, Gibran diam sebelum akhirnya menyalakan mesin. Melajukan mobilnya pergi, satu kali klakson dinyalakannya sebagai bentuk pamit. Tak ada obrolan, selanjutnya suasana di mobil hening hingga suara Raja dari gendongan Syanina membuat Gibran menoleh sekilas.
"Duh, anak Tante kenapa, sayang?" tanya Syanina. "Geliat ya, Nak? Tidur aja ya. Kita belum sampai rumah."
"Jangan biarin anak itu nangis, saya enggak suka dengar tangisannya," kata Gibran—membuat Syanina menoleh.
"Raja anak yang anteung, kamu enggak usah khawatir," kata Syanina. "Lagian tangisan bayi itu gemesin. Harusnya kamu tahu itu."
"Gemesin kalau bayinya enggak bunuh ibu yang lahirin dia," kata Gibran. "Bayi di gendongan kamu beda. Dia bunuh ibunya. Padahal, selama tujuh bulan, dia dijaga dengan baik oleh Ibunya."
"Gibran," panggil Syanina tak suka. "Raja enggak pernah bunuh siapa pun. Jadi stop bicara kaya gitu. Panggil aku pembunuh sepuas kamu, tapi jangan Raja karena dia enggak tahu apa-apa. Dia bahkan enggak pernah milih buat dilahirin."
Tak menjawab, Gibran memilih fokus pada jalanan sementara Syanina kembali bicara.
"Dia lahir ke dunia ini atas keinginan Renjana. Bukan keinginan dia sendiri," ucap Syanina. "Kalau tahu bakalan kaya gini, aku yakin Raja pun enggak akan mau dilahirin, karena ayah yang seharusnya menyambut kehadiran dia dengan bahagia, justru membenci dia. Padahal, hidup Raja lebih sulit dari kamu."
"Sulit apanya?" tanya Gibran dengan senyuman miring. "Dia diperhatiin sama banyak orang. Padahal, dia udah bikin ibunya enggak ada. Sementara saya? Di sini saya kehilangan belahan jiwa saya, tapi semua orang justru menyudutkan saya. Mereka enggak tahu sesakit apa rasanya kehilangan orang yang paling dicintai."
Tak tahu harus menimpali apa, Syanina diam hingga setelah beberapa detik berlalu, dia kembali buka suara.
"Kamu enggak disudutkan, cuman-"
"Berisik," potong Gibran. "Saya enggak butuh nasihat dari pembunuh macam kamu. Daripada nasihatin saya, mendingan kamu diam karena saya enggak akan segan nurunin kamu dan anak itu kalau kamu ngoceh terus."
Cari aman, pada akhirnya Syanina memilih diam sehingga setelahnya, suasana di mobil kembali hening. Menempuh perjalanan selama empat puluh menit, mobil Gibran akhirnya sampai di apartemen. Tak di luar, Gibran membawa mobilnya masuk ke dalam basemen dan di samping kendaraan lain, dia berhenti.
Tak ada ucapan apa pun, pria itu turun begitu saja kemudian setelah Syanina menyusul, Gibran melenggang—membuat Syanina dengan segera buka suara.
"Gibran."
"Apa?"
"Bisa tolong turunin koper aku sama tas bayi Raja di bagasi?" tanya Syanina. "Aku agak susah kalau sambil gendong."
Tak menimpali, untuk beberapa saat Gibran diam hingga sebuah bunyi dari mobil pria itu terdengar—disusul ucapan yang kemudian terlontar.
"Ambil sendiri, kamu punya dua tangan."
"Gib, tap-"
"Kunci lagi setelahnya," kata Gibran sambil melemparkan kunci mobilnya ke arah Syanina. "Saya mau istirahat."
Tak melakukan protes, Syanina diam sebelum kemudian melangkah untuk mengambil kunci yang Gibran lemparkan. Sambil memastikan Raja aman di gendongan, Syanina menunduk lalu setelahnya berjalan ke arah mobil.
"Tante ambil kopernya pelan-pelan ya, Ganteng, biar bobo kamunya enggak keganggu," ucap Syanina sambil membuka bagasi.
Tak ada meratap, Syanina berusaha tegar. Mengeluarkan koper miliknya kemudian tas perlengkapan bayi milik sang keponakan, hati-hati sekali dia kembali menutup bagasi. Mengunci mobil dengan menekan tombol pada kunci yang dipegang, selanjutnya dia mengambil ancang-ancang dan setelah dirasa koper mau pun tas siap dibawa, dengan segera dia melangkah menuju lift.
"Anak Tante enggak ketekan, kan, sayang?" tanya Syanina sambil melangkah. "Maaf ya, ini tante agak repot dikit."
Menggendong Raja kemudian menenteng tas di tangan kanan dan menggerek koper di tangan kiri, itulah Syanina sekarang. Berdiri di lift, dia menekan angka lima belas karena memang unit apartemen Gibran berada di lantai atas.
"Raja jangan sedih ya," ucap Syanina tatkala lift yang dia naikki mulai naik. "Enggak cuman jagain Raja, Tante janji bikin Papa sayang sama Raja. Papa sebenarnya enggak benci kok sama Raja, dia cuman belum menerima kepergian Mama aja makanya gini. Raja yang kuat ya. Tante kuat kalau Raja juga kuat."
"Anak ganteng."
Mengajak sang keponakan bicara, ingatan Syanina kembali pada Renjana. Tak kuasa menahan sedih, cairan bening mulai menggenang. Namun, karena tak mau bersedih di depan Raja, dengan segera dia mengusap sudut matanya agar tak meneteskan cairan.
"Tante harus kuat. Demi Raja, Tante harus bisa."
Sampai di lantai atas, Syanina berjalan menuju unit. Tak hafal password, sesampainya di depan pintu dia menekan bel hingga tak berselang lama pintu pun terbuka.
Namun, bukan Gibran, yang muncul dari balik daun pintu justru seorang perempuan dan hal tersebut membuat Syanina dilanda rasa kaget, sekaligus heran.
Tak diam saja, selanjutnya dia bertanya, "Kamu siapa?"