Aku sedang santai pada saat ini, karena liburan akhir pekan dan juga semesteran. Aku menunggu kabar selanjutnya dari Brumi.
Tanpa terasa waktu pun berlalu, dan sekarang ini telah memasuki jam 15.00 Wrd, dan beberapa jam lagi kami akan berangkat.
Aku telah mengabarkan kepadanya Risa, bahwa kita akan bertemu dan berjalan ke kafe Gula-Guli. Tadinya telah aku katakan, bahwa Brumi merubah acaranya kesana.
Beberapa menit kemudian, aku mengirimkan pesan SMS kepadanya Risa. Sepertinya kami akan berangkat dan tidak adanya kendala.
"Halo selamat sore dek, kita jadi jalannya ke Kafe Gula-Guli ya, tadi dikabarin olehnya Brumi begitu," Kataku pada Risa.
"Halo selamat sore juga Kak, loh... kok ga di RK Resto kemarinnya, kenapa ya Kak,?" Tanyanya ia.
"İya dek, ini tadi si Bruminya baru saja mengabarkannya ke Kakak, katanya di sana tempatnya lebih luas," Kataku.
"Oh begitu, baiklah deh, nanti jemput saja jam 4.30 dirumah ya Kak,! Katanya ia.
"Oke," Kataku.
Aku sudah cukup mengerti, tapi ku tetap heran kepadanya Risa, karena tadinya ia mengenalkanku kepada wanita lainnya.
Begitu juga dengannya Brumi, yakni selalu menanyakan tentangnya Risa kepadaku. Tentu saja aku mempunyai suatu kecurigaan, tapi tidak begitu aku pedulikan.
Karena bagiku yang terpenting ialah, bagaimana bisa mendapatkan kesuksesan dalam belajar dan yang lainnya.
Risa adalah seorang wanita yang cukup penting bagiku, siapapun yang hadir dan telah pernah memenuhi hari-hariku, maka mereka pun sudah aku anggap berarti.
RİSA EMERTA
Hmm...kenapa ya,? kok acaranya tidak jadi di RK Resto, ada apa ya,? aneh.
Aku punya rencana sore nantinya. Aku ingin mengenalkan pacarku Jemi kepadanya Brumi dan yang lainnya.
Semoga saja mereka cukup mengerti. Akan tetapi, aku punya sedikit kekhawatiran, soalnya Brumi itu teman dekatnya Rori.
Aku tahu jika Rori suka kepadaku, namun Kak Jemi tidak mengetahuinya. Bahkan, sudah beberapa kali ia mengajakku bertemu dan jalan.
Tapi aku masih mempertimbangkannya, soalnya pada sekarang ini, diriku masih dalam status hubungan bersama dengannya Kak Jemi.
Tentu aku menjaga perasaan Kak Jemi, karena ia telah lebih dulu kenal kepadaku, daripada si Rorinya.
Tapi aku merasa, adanya sesuatu getaran yang lebih besar ku rasakan terhadapnya Rori. Sehingga hal itu membuatku sedikit menjauh darinya Kak Jemi, Risa berkata dalam benaknya.
BRUMİ BRUMA
Aku ingin mengenalkan juga sepupuku padanya Kak Jemi, tentunya kalau dia sudah tidak lagi dengan Risa nantinya. Maka Rori pun akan lebih leluasa kepadanya Risa.
Aku tahu kalau Rori punya rasa kepadanya Risa, karena ia cukup sering bercerita tentangnya kepadaku.
Bahkan terkadang aku sampai bosan mendengar ceritanya, tapi yang namanya berteman, tentu akan tetap ku ladeni.
Aku cukup kagum dengannya Kak Jemi Kimer. Aku dengar-dengar ia membentuk perkumpulan yang beranggotakan para mahasiswa. Bagiku hal yang seperti itu, ialah merupakan sesuatu yang mantap.
Maka dari itu aku pun jugalah ingin belajar, setidaknya aku bisa mengenalnya terlebih dahulu, Brumi berkata dalam benaknya.
JEMİ KİMER
Setelah kami berbincang sejenak tadinya, kemudian aku bersiap-siap untuk berangkat ke rumahnya Risa Emerta.
Aku ingin menggunakan motor, tapi karena cuacanya cukup mendung, dan kemungkinan nantinya akan hujan, jadinya aku menggunakan mobil.
Pada sekarang ini jam telah memasuki sore hari, dan aku bersama mobilku berjalan pelan ke jalan Kanaya 3 di dekat jalan Yuhuy.
Karena belum terlalu sore, aku berjalan santai dan pelan. Namun sewaktu di perjalanan aku terbayang kepadanya Risa.
Akan tetapi, mengapa pada saat-saat ini aku telah merasa cukup jauh kepadanya, yang ada hanyalah komunikasi saja, dan ku telah merasakan itu.
Aku berkuliah di jurusan sastra, terutamanya pada bidang bahasa seni. Sambil menyetir mobil dan tiba-tiba aku berpikir.
Kemudian aku berkata dengan pelan, dan membayangkannya, lalu aku menjadikannya sebuah puisi. Aku pikir hal ini cukuplah indah, karena tentu waktu-waktu yang seperti ini, biasanya tidak dapat terulang kembali.
Puisiku sewaktu di perjalanan dan Berjudul "Selamat Sore Risa Emerta".
PUİSİ
Pada suatu sore hari aku berjalan
Dan aku menyusuri jalanan yang sepi
Tanpa terasa waktu pun berlalu
Lalu aku harus bagaimana Risa Emerta?
Kemudiku seolah-olah tak terkendali
bahkan sepertinya aku tidak merasakannya
Kemana aku akan melangkah
Dan aku harus bagaimana Risa Emerta?
Suasana hari ini begitu cerah
Seperti senyummu yang cukup menawan
Walau aku tak begitu memahaminya
Apa yang harus aku lakukan Risa Emerta?
Kalau kau rindu pada masa-masa itu
jadikanlah kenangan saja
Kalau kau suka puisiku
jadikanlah sebagai senyum dan bahagiamu...Risa Emerta.
Aku baru saja berpuisi dan sambil berjalan pelan menuju kerumahnya. Aku sering berkutat dengan yang namanya seni, mungkin karena di jurusan sastra.
"Tepatnya di Jurusan Sastra Seni di Universitas Kimer Techno Zhilogic."
Tentunya, hal-hal yang seperti itu akan selalu ada di dalam hari-hariku, dan ku akan selalu belajar, yakni menjadi lebih baik dari yang sebelumnya.
Aku sempat termenung, karena aku terpikirkan olehnya. Beberapa saat kemudian SMS pun masuk lagi ke handphoneku.
"Halo Kak Jem, sedang apa dan dimana sekarangnya,? sudah jalan kerumah apa belum,?" Tanyanya Risa.
"Halo juga dek, iya Kakak lagi di jalanan ini, sekarang sedang menuju kerumahmu, sebentar lagi sampai kok,!" Kataku.
"Oke baik, nanti telepon dan kabarin ya,! kalau sudah di depan rumah,!?" Kata dia.
RİSA EMERTA
Waduh, aku cukup senang pada sore hari ini, terutamanya kami akan jalan dan ketemu dengan yang lainnya.
Karena pada biasanya memang begitu, apalagi bulan ini kami sedang libur semesteran. Tapi, aku tidak begitu fokus pada jurusan tari, karena aku senangnya pada bidang ekonomi.
Hmm... bagaimana ya?.
Aku ingin pindah kuliah, atau kerja dulu begitu. Mungkin akan aku pikirkan terlebih dahulu. Setidaknya pada saat ini aku sudah cukup senang bersama dengannya Kak Jemi.
Namun aku masih juga terpikirkan kepadanya Rori. Apa yang seharusnya aku lakukan?.
Karena telah beberapa waktu ini, Rori sepertinya ingin mendekatiku, namun Kak Jemi tidak mengetahuinya.
Aku harapkan nantinya, tidak ada Rori di acaranya, karena pada biasanya jika ada Brumi, maka disitu juga ada Rori, dan mereka itu adalah teman baik.
Hmm... bagaimana ya sebaiknya,? Risa berkata dalam benaknya.
JEMİ KİMER
Jalanan pada sore Sabtu ini tidak begitu ramai, jadinya aku bisa sedikit leluasa. Rumahnya Risa tidak begitu jauh dari rumahku, mungkin sekitar beberapa kilo saja.
Jika berjalan pelan, 15 menit lebih bisa sampai. Aku cukup senang karena ku punya kegiatan, dan ku juga ingin mengenal mereka-mereka semuanya.
Risa tidak bercerita lebih kepadaku, dan mereka itu adalah kenalanku dan juga kenalannya Risa.
Jadi kami bertemu dan ingin saling mengenal satu sama lainnya. Semoga saja pikirku ada sesuatu yang dapat menyenangkan.
Berjalan pelan dan perlahan-lahan kemudian aku sampai di depan rumahnya Risa.
Beberapa menit kemudian ia pun keluar dan aku melihatnya. Aku menyalaminya dan menyapa keluarganya, sejenak kemudian ortunya mengizinkan kami berjalan.
Beberapa menit setelahnya, kami berdua berjalan menuju ke acaranya Brumi, tadinya telah dikatakan bahwa acaranya ada di Kafe Gula-Guli.
Aku cukup tahu kafe itu, karena minumannya banyak yang manis dan populer.