GULA-GULİ DAN DAMBANYA KAFE

1046 Words
Kami berbincang sejenak dan hari Jum'at ini pun terlewati. Aku menganggapnya hal itu adalah sebagai kenangan dalam perjalanan kehidupanku. Seperti yang aku katakan tadinya, apapun dan siapapun yang datang dan hadir, hal itu merupakan sesuatu yang berharga. Karena aku pikir, waktu tidak akan bisa terulang kembali. Maka dari itu aku mencoba dan menjalaninya sebaik yang bisa ku lakukan. Hari Sabtu 6 Desember 2008 Hari ini masih pagi. Aku melihat jam dan sekarang sekitar jam 10.00 Wrd. "Wrd, Waktu Negara Republik Damba." Aku telah cukup bersiap untuk sore hari nantinya, tentu ku tidak akan pernah tahu akan seperti apa. Namun pada saat ini aku telah membayangkannya. Perasaan senang pun hadir, seperti deg-degan, gugup dan begitulah adanya. Sekarang aku sedang di rumah dan santai. Kemudian aku mengobrol sebentar dengan Adikku. "Wey Ki..., ngapain Sabtu malam Minggu ini, ada acara ga,?" Tanyaku padanya Rizki Kimer. Dia sedang duduk-duduk santai di Sofa dan menjawab pertanyaanku. "Hmm... ga ada sih Kak, aku pengennya nongkrong, ayolah kita nongkrong bareng,!?" Katanya ia. "Wah... Kakak ada acara sore nantinya, besok-besok saja ya,!" Kataku. Kami berdua sering menongkrong bersama, terutamanya jika ada waktu-waktu luang, karena kebersamaan itu merupakan hal yang penting juga bagiku. Karena kupikir, tidak semua orang dapat meluangkan waktunya, terutamanya untuk orang-orang terdekat dan yang disayangi. Pada biasanya mereka itu pada sibuk bekerja dan belajar. RİZKİ KİMER Wah, tumben ya Kak Jemi bertanya padaku pada malam Minggu ini. Aku tadinya tidak begitu sibuk, tapi aku punya acara nanti malamnya. Apa aku ajak saja ya Kak Jeminya?. Soalnya aku mau jalan-jalan sama pacarku yang bernama Satya Seniya. Kami seringnya jalan ke Kafe Gula-Guli, karena disana minumannya cukup enak dan manis. Kalau Kak Jemi, ia lebih senangnya ke Dambanya Kafe. Aku bilangnya kafe itu bagus, dan Gula-Guli pun juga begitu. Hmm... setahuku ia punya pacar kan, kemarinnya ia pernah bawa pacarnya, Mbak Risa Emerta sepertinya. Aku ga kenal dengannya, tapi aku pernah melihat mereka berdua berjalan, Rizki berkata dalam benaknya. JEMİ KİMER Gula-Guli Kafe memang bagus, tapi aku lebih senang ke Dambanya Kafe, mungkin karena aku punya kenangan yang indah disananya. Kemudian waktu pun berjalan, dan sekarang telah memasuki siang hari, tentu akan beranjak ke sore hari. Namun sampai pada saat ini, aku belum juga mendapatkan kabar darinya Brumi. Tampaknya acaranya dia pada hari ini, sepertinya tidak jadi juga. Aku tidak begitu antusias, karena itukan hanyalah undangan, tentu aku sangat menghargainya. Kafe Gula-Guli itu tempatnya lumayan dekat dengan Dambanya kafe, jaraknya mungkin hanya sekitar satu kilo saja. Letaknya ada di jalan YUHUY, dan pada biasanya terdapat beberapa Kafe. Ada yang mewah dan berkelas, termasuk Gula-Guli dan juga Dambanya kafe. Aku masih mengobrol dengannya Adikku, dan kami saling berbagi cerita tentang nongkrong bersama. "Hey dek, kau kalau jalan-jalan, biasanya kemana saja,? dan kafe apa yang kamu senangi,?" Tanyaku. "Hmm... banyak sih Kak, tapi aku lebih suka ke Gula-Guli atau ke Satia Gulaya kafe, soalnya disana itu ramai banget loh,! apalagi kalau malam Minggu seperti ini," Dia menjelaskan dan bercerita kepadaku. "Hmm... Kenapa memangnya dek,? Dambanya kafe kan, juga keren loh,!" Kataku. "İya sih keren, tapi aku lebih senang Ke Satia Gulaya kafe Kak, biasanya banyak para pembalapnya loh disananya Kak, seperti moge-moge gitu, itu yang aku suka," Katanya dia. "Oh begitu, motor gede itu ya, baiklah," Kataku. RİZKİ KİMER Aku lebih senang ke Kafe Satia Gulaya, soalnya disitu tempat tongkrongannya pemuda-pemudi masa kini. Apalagi kafenya berkelas dan mewah, terutamanya banyak moge-moge keren disananya. Aku pernah berdua sama pacarku kesana, dan kami rasanya betah banget, suasananya adem dan tentram begitu. Tapi kalau aku lihat-lihat, Kak Jemi sepertinya lebih senang ke Dambanya Kafe, mungkin karena ia punya banyak kawan disananya, sepertinya begitu, Rizki berkata dalam benaknya. JEMİ KİMER Aku suka motor besar, terlebih lagi adekku yang suka kepada moge-moge seperti itu, karena pada biasanya, memanglah ramai para pemuda-pemudi dan nongkrong disana. Apalagi jika hari Minggu tiba, biasanya ada acara jalan pagi. Kalau mereka bilang sih katanya jalan Sunday Morning. Kalau di Dambanya kafe tidak ada yang seperti itu, hanya menongkrong-nongkrong biasa saja, tapi kalau hari minggu, ada juga acaranya, yakni Minggu Ceria. Atau lebih dikenal dengan MC Damba. "Oh gitu ya dek, kalau di Damba kafe ada juga loh acara yang seperti itu, namanya MC Damba, Minggu ceria," Kataku padanya. "Yaelah Kak, lebih seruan Sunday morning dong, lebih asik dan keren gitu," Katanya dia. "Ya ya ya, terserah kamulah dek, hehe," Kataku. Cukup lama juga kami berdua mengobrol sebentar tadinya, tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat. Ketika aku melihat, dan rupanya sekarang telah memasuki jam 13.00 Wrd, dan tentu akan beranjak ke sore hari. Kami biasanya libur pada hari Sabtu dan Minggu, jadinya kami tidak pergi kemana-mana, kecuali jika ada hal-hal yang penting. Beberapa hari ini aku cukup rindu kepadanya Risa, karena bulan lalu aku sedang sibuk dengan perkuliahanku, kiranya sore nanti bisa menjadi waktu yang tepat untuk menuai rindu dan bertemunya. Pada saat ini aku sedang menunggu kabar darinya Brumi, tentunya tentang kejelasan acaranya. Kemudian tiba-tiba ada SMS yang masuk ke handphoneku, dan itu dari Brumi. Padahal aku baru saja memikirkannya, dan ia langsung mengirimiku pesan. "Halo selamat siang Kak Jemi, jadi kan kita ketemuannya hari ini,?" Tanyanya Brumi. "Ya halo, selamat siang juga Bru, ya jadi, kalau tidak ada kendala, dan dimana,?" Apa masih di RK Resto yang kemarin,?" Tanyaku. "Oh iya Kak Jem, ini ada sedikit perubahan, acara kita pindahkan ke Kafe Gula-Guli saja, karena tempatnya cukup besar dan luas, kemungkinan akan banyak yang hadir, dan ajak Risanya ya Kak Jem,!" Katanya dia. Aku sempat cukup heran kepadanya Brumi, setiap ia mengirimiku SMS, biasanya ia selalu menanyakan juga tentang Risa, tentu aku bertanya-tanya. "Apakah ia juga suka kepadanya Risa.?" Aku tidak mengetahuinya dengan jelas, namun Risa pernah bercerita kepadaku, kalau Brumi pernah mengajaknya jalan pada beberapa waktu yang lalu. Aku mulai membaca itu dengan pelan dan perlahan-lahan, hal itu agar ku bisa mengerti dengan lebih baik. Aku pernah bertemu dengannya Brumi, namun karena tidak terlalu dekat, jadinya komunikasi kami hanya lewat SMS saja. Tapi kawan-kawanku yang lainnya pernah mengatakan, sepertinya Brumi juga menyukainya Risa, namun ia segan kepadaku karena Risa masih dalam status hubungan sebagai pacarku. Aku pikir hal itu adalah sesuatu yang biasa, tentunya agar bisa saling kenal. "Gimana Kak Jem,? jadi ya sore ini,? ajak Risa ya,?" Tanyanya Brumi lagi. "Ya baik, nanti saya kabarkan lagi, dan kamu juga kabari ya,!" Kataku padanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD