Sekali lagi, Reynand mendesah pelan. Ia benci jika harus terjebak dalam posisi sulit seperti ini. Di satu sisi, ia harus menahan amarahnya sendiri. Terlebih lagi ia juga tidak ingin semakin menyakiti hati Istrinya. Akan tetapi, disisi lainnya. Ia ingin agar istri tercintanya tersebut bisa memahami dan mengerti keadaannya. Perasaannya yang tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk terhadap kandungan istrinya itu. Reynand pergi ke Korea bukan untuk berlibur. Akan tetapi untuk bekerja. Memenuhi kewajibannya sebagai seorang CEO. Yang memang memiliki sebuah tanggung jawab yang besar. Terhadap semua perusahaan yang berada di bawah kuasanya. Serta nasib dari ribuan karyawannya yang tersebar di seluruh anak cabang perusahaannya. Di raihnya kedua telapak tangan Kanaya yang sejak tadi terkepal ka

