BAB 15. BELUM WAKTUNYA BERCERITA

1458 Words
Sepeninggal semua orang. Rey masih tetap bertahan dengan keadaannya. Rasa sesak itu kini semakin menjadi. Tatkala memori akan kebersamaan antara ia dan keluarganya nyatanya masih bisa dihitung menggunakan jari.     Ditambah pula dengan kerinduannya pada Sang Nenek. Membuatnya semakin nampak rapuh. Sosok pria kuat nan tampan. Pria yang selalu terlihat cool dan jutek tersebut, ternyata begitu merindukan kebersamaan dan kehangatan dari apa yang dikatakan sebuah keluarga. Terlebih dari kedua orang tuanya. Yang seakan melupakan kewajiban mereka bahwa anak tak melulu harus selalu di limpahi dengan materi. Namun, juga dengan curahan kasih sayang. Serta perhatian dan pengawasan.     Beruntung, Rey bisa tetap menjaga dirinya dan kewarasannya hingga saat ini. Hal itu terbukti dengan keberhasilan yang ia peroleh hingga sekarang.     Jika saja, dulu ia salah bergaul dan berteman. Apa jadinya dirinya yang pastinya akan terseret dalam arus kehancuran yang pastinya tak di inginkan oleh kedua orang tuanya.      Uang yang dengan mudah ia dapatkan. Pengawasan orang tua yang tidak ada sama sekali. Pastilah cukup untuk menjadikan alasan akan kenakalan yang ia lakukan. Tapi tidak, Rey tak ingin mencari perhatian orang tuanya dengan cara seperti itu.      Karena ia punya cara tersendiri untuk itu.      ***      Setelah cukup tenang. Bunda melepaskan pelukannya dan tersenyum lembut. “Bagaimana perasaanmu? Sudah lebih tenang bukan?” tanya Bunda dengan senyum menenangkannya. Khas selayaknya senyum lembut seorang Ibu.      “Terima kasih Bunda. Dan maaf, karena saya membuat semuanya pergi. Saya hanya...” Rey merasa tak sanggup lagi bicara.     Ia pun membuang napasnya berat. Lalu menunduk, menatap piring makanannya yang sama sekali belum tersentuh olehnya.      “Bunda tahu apa yang kamu rasakan. Tapi ingatlah satu hal. Biar bagaimanapun, mereka adalah orang tuamu. Dua orang yang berperan penting dalam kehidupanmu. Seburuk apapun mereka menurutmu. Mereka tetap orang tuamu. Yang tanpa mereka, kau pun tak akan ada di dunia ini. Tanpa mereka juga, kamu nggak akan bisa bertemu dengan Kanaya. Kamu mengerti kan? Bunda hanya ingin kamu bisa menerima semuanya. Dan yakinlah, bahwa apa yang mereka lakukan sejak dulu adalah demi kebaikan dirimu. Anak mereka satu-satunya.” Nasehat Bunda dengan suara lembutnya.      Rey hanya mengangguk pelan. Tak mampu bibirnya berucap apapun lagi. Hatinya masih terlalu sakit setiap kali teringat semua itu.        Rey selalu berpikir bahwa, Apakah ia anak kedua orang tuanya atau tidak? Pasalnya, setiap harinya hanya pembantu, tukang kebun dan Neneknya yang selalu ada dirumah menemaninya. Bahkan untuk sekedar mengambil raportnya ke sekolah saja, Rey akan meminta tolong Mang Sholeh. Selaku tukang kebunnya. Karena tidak mungkin Neneknya yang sudah tua itu mengambinya ke sekolah.     Setelah makan bersama Bunda sembari mendengarkan cerita Bunda tentang Kanaya. Rey pamit untuk masuk ke dalam kamarnya yang merupakan kamar Kanaya. Sebab, Kanaya akan tidur di kamar Bunda.     CEKLEK .   Derit pintu yang terbuka. Membuat aktivitas Kanaya yang tengah mencari baju di almari pun terhenti. Ia sontak menoleh dan terbeliak lebar.      Bagaimana tidak. Saat ini ia hanya mengenakan handuk sebatas setengah pahanya saja. Ditambah lagi dengan keadaannya yang baru saja mandi. Pria normal mana yang akan sanggup bertahan melihatnya.     Maka dari itu, tanpa menunggu lama. Rey segera mengunci pintu kamar dan bergerak cepat mendekati Kanaya yang tanpa sadarnya mundur kebelakang. Hingga punggungnya menghantam dinding di belakangnya.      Rey secepatnya mengunci pergerakannya dengan meletakkan kedua tangannya di sisi tubuh Kanaya. Tanpa bicara apapun. Rey segera membungkam bibir Kanaya yang baru saja akan melayangkan aksi protesnya.      Ciuman yang sangat lembut. Namun terasa menyakitkan. Ada rasa sedih yang terasa dalam cecapan bibir pria yang dicintainya ini.      Ada pula rasa kecewa yang besar. Dan entah apa itu, Kanaya belum tahu. Ia tak ingin menanyakan perihal itu pada Rey. Ia akan bersabar dan menunggu sampai Rey sendiri nantinya yang akan mengungkapkan apa yang selama ini di pendamnya.      Perlahan, Kanaya mulai membalas ciuman Rey. Ia pun mengalungkan kedua tangannya ke leher Rey. Mencoba menenangkan resah yang kini bersarang di hati Sang kekasih. Berharap agar ia bisa sedikitnya mengurangi beban hati yang tengah pria itu pikul.      Dengan napas tersengal-sengal. Rey melepaskan ciumannya. Ia mengusap lembut wajah cantik Kanaya. Ibu jarinya pun mengusap lembut bibir basah Kanaya akibat ulahnya.     “Maaf karena membuatmu bingung tadi. Aku pasti akan mengatakannya. Tapi tidak sekarang. Tunggu! Tunggu sampai aku benar-benar siap untuk berbagi segalanya padamu. Termasuk semua rasa sakitku.” Ujarnya lirih.     Setelahnya, Rey menarik Kanaya dalam pelukannya. Begitu erat, hingga ia seakan takut. Bahwa esok hari, ia tak bisa lagi memeluknya.      “Ya, sudah. Pakai baju sana. Aku mau mandi. Baju aku ada kan? Tolong siapkan yah, sayang!” pintanya manja dan mengecup sekilas pipi Kanaya. Lalu masuk ke dalam kamar mandi.      Rey takut, jika ia lebih lama lagi berdekatan dengan Kanaya. Bukan tidak mungkin, ia akan menarik Kanaya ke atas ranjang dan mengungkungnya di bawah sana. Yang mana pastinya, hanya akan ada suara-suara desahan serta rintihan kenikmatan yang akan Kanaya dan ia perdengarkan.      “s**t! Kenapa di saat seperti ini bahkan 'kau' bisa terbangun bung? Haish! Alamat sudah!” keluhnya sembari menatap nanar ‘senjatanya’ yang tengah berdiri tegak di bawah sana. Akibat dari melihat tubuh sintal nan menggoda milik sekretarisnya yang cerewet itu.      Tok...tok...tok..      Kanaya mengetuk pelan pintu kamar mandi. “Rey, bajunya sudah aku siapkan di atas ranjang yah! Aku mau ke kamar Bunda. Selamat malam sayang dan selamat mandi air dingin. Hehehe...” kikiknya geli saat mendengar desahan Rey dari balik pintu kamar mandi.     Kanaya menggeleng dan bergegas pergi menuju ke kamar Bunda. Ia sangat merindukan wanita itu. Wanita yang bagi Kanaya adalah wanita paling berjasa besar dalam hidupnya. Tidur sambil memeluk bunda dan menceritakan apa saja yang ia alami selama bekerja di Perusahaan Reynand. Termasuk kisah cintanya dengan sang bos besar.     ***     Pagi harinya.      Rey bangun dengan perasaan yang lebih tenang dari kemarin. Entahlah. Ia hanya merasa sedikit lega karena telah menceritakan kepada Bunda. Serta pelukan dan nasehat Bunda. Ia merasa sedikitnya tahu, bahwa orang tuanya tak seburuk yang ia sangka. Hanya saja, rasa kecewanya masih bercokol di hatinya.     Rey keluar dari kamar Kanaya. Ia melihat ke depan. Dimana Kanaya dan Bunda juga anak-anak tengah sibuk membersihkan halaman rumah yang banyak ditumbuhi rumput.     Kebersamaan yang mereka perlihatkan pada Rey. Membuat pria tersebut ikut tersenyum. Ia lantas mendekati Sang kekasih. Lalu mencuri satu kecupan di pipinya. Membuat Sang wanita terkejut dan membalikkan tubuhnya.      “Ish! Bukannya bantuin malah curi-curi kesempatan!” omelnya ketus.     “Itu namanya morning kiss dari aku. Mana yang bisa aku bantu? Aku pasti akan bantuin kamu dong. Dengan senang hati. Tapi ada imbalannya yah?” Ucapnya sambil mencabuti rumput bersama Kanaya yang telah berjongkok di sebelahnya.     “Ish! Pamrih itu namanya. Mending nggak usah deh! Bantuin kok nggak ikhlas!” cibirnya kesal.     Rey tergelak dan mencuri lagi sebuah kecupan di pipinya. Membuat Kanaya semakin kesal. Akhirnya mereka berdua malah saling melemparkan rumput yang telah di cabuti. Layaknya anak kecil yang tengah bercanda dengan teman sebayanya.      Asyik bercanda dan tertawa bersama. Bahkan anak-anak pun ikut turut andil dalam gelak tawa yang di sebabkan oleh Kanaya dan Rey tersebut.      Sejenak, ya, hanya sejenak saja. Rey ingin ikut masuk dalam suasana hangat dan nyaman yang keluarga berbeda darah ini tawarkan. Setidaknya, Rey masih bisa merasakan kebahagiaan itu disini.     “Ayo! Semuanya masuk kamar dan mandi. Lalu ganti baju yah, kita sarapan bersama!” seru Bunda menginterupsi semuanya.      Anak-anak pun berhamburan untuk masuk ke dalam kamar. Meninggalkan Kanaya dan Rey serta bunda yang kini membereskan kekacauan yang disebabkan oleh Kanaya dan Rey serta anak-anak tadi.     “Kalian juga cepat mandi sana. Itu bajunya pada kotor penuh tanah semuanya.” Perintah Bunda sambil menggeleng dan tersenyum. Melihat tanah yang memang menempel di baju Kanaya dan Rey.     “Kanaya mandi di kamar Bunda aja. Biar Rey bisa segera mandi di kamar kamu.” Ucap Bunda lagi.     “Iya, Bun. Ayo, Rey! Aku sekalian mau ambil baju.” Ajak Kanaya yang berjalan lebih dulu. Di susul oleh Rey di belakangnya selepas berpamitan kepada bunda.     “Rey, kamu mandi dan ini bajunya. Aku keluar yah?” tukas Kanaya yang meletakkan baju ganti Rey di atas ranjang. Kemudian ia menutup pintu lemari dan berniat untuk pergi.     Namun, tangannya malah ditarik oleh Rey hingga ia bersandar di pintu almari yang tertutup. Dan langsung saja, Rey menciumnya disana. Kali ini, ciuman Rey terasa lembut dan penuh cinta. Serta rasa syukurnya telah dipertemukan dengan Kanaya.     Lama keduanya saling bertautan bibir. Hingga akhirnya, Rey melepaskan ciumannya dan mengecup sekilas kening Kanaya.      “Terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Aku sayang kamu, sekretarisku yang bawel!” serunya sambil mencubit gemas kedua pipi Kanaya. Lalu segera beranjak ke kamar mandi. Begitu melihat mata Kanaya mulai nampak kesal dan marah.      “IHH, DASAR BOS GILA!!” Teriaknya jengkel. Namun tak memungkiri juga bahwa kini pipinya telah merona.     Bukan akibat di cubitan Rey. Melainkan oleh kata-katanya barusan. Seolah-olah terasa bagaikan Kanaya adalah seseorang yang telah lama ia nantikan kehadirannya.     Kanaya dengan senyum mengembang segera saja berjalan pergi. Keluar dari kamarnya dan menuju ke kamar Bunda untuk bersih-bersih.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD