Pacar Sehari

1595 Words
“Beri kami 6!” “Aku sudah memberimu tambahan 1. Enam itu terlalu banyak! Apa kau ingin membuatku tidak berjualan lagi besok?” “Kami akan bertengkar jika jumlahnya ganjil begini. Ayolah, Paman. Ini kencan pertama kami!” Paman penjual telur gulung itu akhirnya menyerah dan menambahkan 1 tusuk telur gulung ke dalam kantong plastik Bryan. “Seharusnya kau tidak menunjukkan sisi pelitmu di kencan pertamamu!” Bryan tersenyum sangat lebar hingga memperlihatkan barisan giginya. “Kekasihku ini sangat pengertian, Paman. Kami tidak akan putus hanya karena aku minta tambahan telur gulung. Kami pergi dulu. Terima kasih.” Bryan kembali menggandeng tangan kiri Ara dan membawanya pergi sambil menyodorkan plastik telur gulungnya. Ara mengambilnya satu dan membuka sedikit masker, memberi jalan agar makanan itu bisa masuk ke dalam mulutnya. “Bagaimana rasanya?” tanya Bryan berharap Ara akan menyukainya seolah dirinya lah yang telah membuat telur gulung itu. “Wah! Ini enak sekali! Bagaimana bisa orang tuaku melarangku makan makanan jalanan yang enak ini?” “Itu pasti karena mereka khawatir perutmu yang manja itu tidak dapat mencerna makanan jalanan dengan baik. Tapi denganku, kau bebas makan apapun yang kau inginkan meski itu mengorek dari tempat sampah.” “Aku tidak akan mengorek tempat sampah hanya untuk mendapatkan makanan, Tuan!” “Itu hanya kiasan, Nona!” Bryan dan Ara berjalan di kawasan pertokoan yang ramai. Hari Minggu memang bukan pilihan yang tepat untuk pergi belanja, apalagi di tengah cuaca panas seperti ini. Orang-orang yang memenuhi jalanan menambah tingkat kepanasan di tempat itu. “Aku benar-benar tidak tahan lagi. Jika aku terus berjalan dengan jaket dan masker ini, maka sebentar lagi aku benar-benar akan pingsan.” Ara sudah tidak melangkahkan kakinya lagi, melainkan menyeretnya. Sengatan matahari ditambah pakaian yang dikenakannya membuat tubuhnya memproduksi banyak keringat yang menjadikan tubuhnya semakin terasa gerah. “Kau boleh buka jaketnya, tapi jangan buka maskernya.” Bryan membantu Ara membuka jaketnya. Wanita itu lalu menggulung ujung lengan kaos Bryan yang kepanjangan untuknya. Bryan memperhatikan penampilan Ara. Wanita itu memakai kaosnya yang kebesaran dan juga celana pendeknya yang kebesaran. Saat ada seorang wanita muda yang memakai gaun berpotongan pendek dengan warna cerah yang melewati Ara, itu membuat Ara terlihat seperti wanita desa yang tersesat di tengah kota.     ***     “Ini saja!” Bryan menyodorkan gaun selutut berwarna putih tanpa lengan yang terlihat manis untuk Ara, namun wanita itu menolaknya dan menyodorkan sebuah piyama berwarna biru dengan gambar beruang pada Bryan. “Ini saja! Akan sangat nyaman jika aku bisa memakai piyama seperti ini sepanjang hari di apartemenmu.” “Oho, kau ini! Apa yang ada di dalam kepalamu itu hanya tidur dan bermalas-malasan saja? Cepat bawa ini dan ganti bajumu, aku akan membayarnya.” Ara kembali meletakkan piyama pilihannya dengan wajah cemberut. Ia tahu Bryan hanya akan membelikan satu pakaian untuknya dan sebenarnya piyama itulah yang lebih ia butuhkan untuk bersantai di apartemen Bryan dibandingkan gaun manis ini. “Kupikir dia hanya suka pada hal-hal yang indah. Mengapa menolak gaun yang bagus hanya untuk piyama ini?” Bryan mengambil piyama yang baru ia tolak itu dan memberikannya pada seorang pramuniaga. “Tolong bungkus yang ini juga.” “Bagaimana perasaanmu setelah pakai baju baru?” tanya Bryan setelah keduanya keluar dari toko pakaian. “Aku tetap lebih suka piyama yang tadi!” Ara berkata dengan suara menggerutu. “Kau ini. Apa kau akan pergi berkencan dengan memakai piyama?” Bryan menghentikan langkahnya di persimpangan jalan, begitu juga dengan Ara yang ia gandeng. “Apa ada tempat yang ingin kau datangi?” "Hmmm..." Ara tampak berpikir. "Pulang." "Oi!" seru Bryan kesal. "Kau mulai lagi ingin membuatku kesal dan memancing pertengkaran dengan minta pulang, uh?" "Bukan ke rumahku, tapi ke apartemenmu. Aku lelah sekali. Berjalan kaki sejauh ini hanya untuk melihat-lihat saja!" "Tapi aku sudah membelikanmu baju, tuh!" "Tapi aku tidak suka, tuh! Lihat ini! Baju dan masker yang kupakai sama sekali tidak cocok!" "Ah, itu cocok! Bagus!" kata Bryan. Ia membawa Ara menyeberangi jalan saat lampu hijau untuk pejalan kaki menyala. "Lihat itu! Kau lelah, kan? Mau coba istirahat di sana?" Ara mengikuti arah telunjuk Bryan. "Beristirahat di sana? Yang benar saja! Kita istirahat di kedai kopi saja!" "Tidak, di sana juga nyaman untuk beristirahat. Ayo!" Tanpa mempedulikan protes Ara, Bryan menarik wanita itu agar mengikuti langkahnya. "Untuk apa kita ke sini? Apa kau ingin beli sesuatu?" tanya Ara. Ia dan Bryan menyusuri deretan sofa dan kursi di sebuah toko furnitur sambil tetap bergandengan tangan. "Hanya ada satu kursi di balkonku dan kau selalu duduk di lantai setiap kali kita menghabiskan waktu di sana. Jadi, bagaimana pendapatmu tentang kursi baru untuk diletakkan di balkon?" "Woah..." Kedua mata Ara langsung berbinar. "Kursi baru? Kursi baru untukku? Aku akan punya kursiku sendiri untuk di balkon?" Bryan menganggukkan kepalanya berkali-kali untuk menjawab pertanyaan Ara. Jadi bersemangat saat melihat betapa senangnya wanita itu saat dijanjikan akan dibelikan kursi baru. "Pilih satu yang kau suka." Kedua mata Ara menyipit, menandakan jika wanita itu sedang tersenyum lebar di balik masker yang dikenakannya. Ia lalu menunjukkan tanda hati yang ia buat dengan jari telunjuk dan jari jempolnya pada Bryan. "Bryan, I love you!" "Tidak, tidak, tidak! Bukan seperti itu!" Bryan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memegang kedua tangan Ara. Ia lalu mengangkat kedua tangan itu hingga ke atas kepala Ara. Membuat tanda hati yang besar. "Jika kau mencintai pacarmu, berikan hati yang sebesar ini untuknya." "Eii..." Ara memicingkan kedua matanya. "Jika aku memberimu hati yang sebesar ini, lalu kau akan membalasnya dengan apa?" "Dengan kursi baru yang bagus, dong. Ayo pilih satu!" "Cih, seharusnya kau juga berikan hatimu untukku!" "Tidak mau, aku memiliki hatiku hanya untuk diriku sendiri!" "Dasar egois! Ya sudah aku ambil lagi hatiku!" "Kalau begitu aku tidak mau membelikan kursi untukmu!" "Oi! Tsk, terserah! Ayo beli sofa yang itu!" Bryan menatap sofa mewah yang ditunjuk Ara dengan kerutan dalam yang menghiasi dahinya. "Kau pikir kita akan meletakkannya di mana? Jika hujan turun sofa itu akan basah. Cari kursi yang biasa saja. Itu, pilih yang di sana. Diskonnya lumayan." "Oho! Aku menyesal memberikan hati sebesar itu untuk orang pelit sepertimu." "Eii, masih masalah hati itu. Baiklah, ini untukmu!" Bryan membentuk tanda hati yang besar di atas kepalanya. "Ini hatiku, kuberikan untukmu. Kau puas?" Hal itu tidak membuat Ara senang, justru semakin membuat wanita itu cemberut. "Aku melakukannya sambil bilang ‘I love you’, lho. Bisa-bisanya kau memberikan hatimu padaku dan bertanya 'kau puas?' seperti itu. Kau membuatku patah hati, Tuan!" Bryan menghela napas. Ia lalu kembali membentuk tanda hati di atas kepalanya dan sambil tersenyum lebar ia berkata, "Nona Muda Ara yang cantik, I love you! I love you sooooo much!" Ara menutup mulutnya yang tertutup masker dengan kedua telapak tangannya. "Nona Muda yang cantik... Astaga, senang sekali mendengarmu memanggilku seperti itu. Ayo ucapkan lagi!" "Nona Muda yang cantik!" "Lagi!" "Nona Muda. Nona. Nona Ara!" "Lagi! Lagi! Lagi!" "Eii, sudahlah! Cepat plih kursimu!" "Baiklah!” "Lihat yang ini, Ara! Warnanya kuning seperti pisang kesukaanmu." Bryan menunjuk sebuah kursi berwarna kuning. Ara menghampirinya lalu menduduki kursi tersebut, mencobanya dengan wajah yang tampak bahagia sekali. "Wah, ini terasa nyaman! Bryan, cepat foto aku!" pintanya. "Kau ingin aku mengambil fotomu?” tanya Bryan yang dijawab dengan anggukan oleh Ara. “Kemarikan ponselmu!" "Bukan dengan ponselku! Foto aku dengan ponselmu dan jadikan itu wallpaper!" "Astaga, mengapa aku harus melakukannya? Aku suka wallpaper ponselku yang sekarang! Aku terlihat sangat tampan di sana!" tolak Bryan yang membuat wajah bahagia Ara berubah menjadi cemberut. "Orang yang sudah punya pacar itu harus menjadikan foto pacarnya sebagai wallpaper agar semua orang tahu jika dia sudah punya pacar! Ah, apa jangan-jangan kau mau pura-pura tidak punya pacar agar bisa menggoda wanita lain? Dasar tukang selingkuh!” hardik Ara. "Mengapa kau menganggapnya seserius itu? Kita hanya akan berkencan hari ini. Kita tidak benar-benar pacaran, tahu!" "Tapi setidaknya hari ini kau harus menghayati peranmu sebagai pacarku! Cepat ambil fotoku!" Ara menyandarkan punggungnya di sofa lalu mulai berpose. Bryan yang tidak ingin berlama-lama terjebak dalam situasi ini mau tidak mau menuruti keinginan Ara dan mengarahkan kamera ponselnya pada Ara. "Buka maskermu!" "Di sini? Bagaimana jika ada yang mengenaliku?" "Sebentar saja. Jika aku memotretmu yang sedang pakai masker seperti itu orang-orang pasti akan berpikir jika wajah pacarku itu jelek." Ara membuka maskernya dan tersenyum. "Apa aku terlihat cantik?" "Hmm, kau cantik sekali." Bryan berpindah tempat, mengambil foto Ara dari sudut yang lain. "Tapi tetap saja kau bukan tipeku." "Oi!" seru Ara tak terima, membuat Bryan buru-buru tersenyum padanya. "Aku bercanda. Ara yang memakai gaun cantik pilihanku ini benar-benar tipe wanita impianku." Dan seperti biasa, kata-kata manis itu bisa langsung mengundang senyuman di wajah Ara. Wanita itu lalu mengeluarkan ponselnya dan mengarahkannya pada Bryan. "Sekarang giliranmu. Bergayalah dengan keren!" "Ah, tidak tidak!" Bryan menghampiri Ara lalu mengambil alih ponsel wanita itu. Ia mengubah kameranya menjadi kamera depan dan mengarahkannya untuk mengambil fotonya bersama Ara. "Ayo kita foto bersama. Tersenyumlah yang cantik!" "Katakan 'Ara' agar senyummu terlihat cantik," kata Ara. "Mengapa harus menyebut namamu? Kita bisa mengucapkan 'Bryan' saja," usul Bryan. "Tidak mau! Mulutmu akan terlihat aneh jika menyebutkan 'Bryan'." "Aneh apa? Mulutmu akan terbuka  dengan imut." "Itu aneh!" "Aku tetap mau menyebutkan 'Bryan' saat mengambil foto." "Terserah kau saja! Aku tetap memilih 'Ara'." "Baiklah, sebutkan nama masing-masing. Lihat sini. Satu, dua, tiga!" "Ara!" "Bryan!" Tidak jauh dari tempat itu, seorang pria mengamati 'pasangan kencan sehari' yang sedang berfoto itu dengan serius. Ia lalu menoleh ke belakang, menganggukkan kepalanya pada pria lain yang juga mengamati objek yang sama dengannya sementara kedua orang itu sama sekali tidak menyadari kisah sedih macam apa yang telah menanti mereka setelah semua kebahagiaan sesaat ini berakhir.     **To Be Continue**
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD