Hal Romantis

1756 Words
"Bryaaaaaaan!!!" Ara berteriak sangat keras di puncak menara yang menjadi ikon kota itu, membuat orang-orang yang berada di sana menatapnya dengan aneh. "Oi! Hentikan sikap memalukan itu! Kau ini bukan turis dari negeri yang sangat jauh! Mengapa harus sesenang itu hanya pergi ke menara ini, uh?" tegur Bryan yang merasa malu dengan kelakuan Ara. "Terakhir kali aku datang ke sini saat wisata sekolah ketika aku kelas 2 SD. Itu sudah sangat lama, kan? Ah... Di mana kira-kira gembok yang dulu kupasang, ya? Aku lupa siapa cinta pertamaku yang kutulis di kertas saat itu." Ara berkata sambil mencoba mencari gembok miliknya di antara ribuan gembok yang dipasang oleh para pengunjung di sepanjang pagar menara. "Apa kau besar di luar negeri? Mengapa sampai bertahun-tahun tidak datang ke sini?” tanya Bryan tak percaya. "Itu karena aku tidak memiliki seseorang yang ingin kugembok namanya di sini." "Lalu mengapa sekarang kau minta dibawa ke sini?" "Sekarang aku sudah punnya pacar!" sahut Ara bangga sambil menunjukkan kertasnya pada Bryan. ‘Bryan, aku mencintaimu lebih besar dari sekadar tanda hati yang kubuat di atas kepalaku. Terima kasih karena telah menjadi pasangan kencanku yang pertama. Meski kau hanya membelikanku gaun yang tidak kusuka dan juga kursi diskonan, aku sangat bersyukur untuk hari ini. I love you. Ara.’ "Apa-apaan ini?” Bryan bertanya dengan nada tak senang. “Jika kau ingin menggembok kertasmu di sini maka tulislah sesuatu yang romantis!" "Apa itu tidak romantis? Menurutku itu sangat romantis!” Ara berkata dengan wajah cemberut sambil merebut kembali kertasnya dari tangan Bryan. “Kau saja yang tulis sesuatu yang menurutmu romantis!" "Baiklah." Bryan menerima kertas dan pena dari Ara. Saat Bryan mulai menulis di atas kertas warna kuning itu, Ara ikut menundukkan kepalanya dan membaca tulisan itu dalam hati. ‘Ara, terima kasih karena kau selalu tersenyum untuk hal-hal kecil. Itu membuatku senang saat bisa membuatmu tersenyum dengan hal sederhana yang kulakukan. Kau membuatku merasa sangat hebat setiap kali berhasil mengganti wajah cemberutmu dengan senyuman yang lebar. Teruslah begitu agar aku tenang. Bryan.’ "Yang seperti ini kau sebut romantis? Oi! Kau hanya memuji dirimu sendiri!" protes Ara. "Bagian mana yang aku memuji diri sendiri itu?" tanya Bryan, tidak terima Ara memprotes tulisannya. "Ini, bagian yang ini!" Ara menunjuk bagian 'kau membuatku merasa sangat hebat setiap kali berhasil mengganti wajah cemberutmu dengan senyuman yang lebar.' "Tapi lihat bagian ini!" Bryan menunjuk bagian 'itu membuatku senang saat bisa membuatmu tersenyum dengan hal sederhana yang kulakukan.' "Itu romantis, kan?" "Cih, romantis apa? Kau membuatnya terdengar seolah semua senyumku hanya berasal darimu!" "Memang begitu!" Bryan mulai menghitung dengan jari-jarinya. "Kau tersenyum karena es krim dan selai pisang yang kubelikan untukmu. Kau juga tersenyum saat kubelikan pembalut yang mahal. Lalu kau tersenyum saat aku kalah suit dan mencuci piring kotormu. Kau tersenyum saat melihat wajahku yang tampan. Ada banyak yang bisa kusebutkan jika kau mau dengar satu-satu." "Tapi kau juga sering membuatku cemberut." Ara juga menghitung dengan jari-jarinya. "Kau membuatku cemberut saat kau menumpuk banyak sekali cucian piring dan baju kotor. Lalu saat kau mengotori lantai yang baru kupel, saat kau memakan mieku. Itu, ada banyak sekali jika kau ingin aku menyebutkannya satu-satu." "Tapi kau juga sering membuatku cemberut!" Bryan masih terus mendebat Ara. Tidak mau kalah meski tahu wanita pendendam di hadapannya ini akan mengingat semua hal yang paling kecil sekali pun untuk bisa membalik perkataannya. "Kapan? Kapan aku membuatmu cemberut, uh?" "Pulang!" seru Bryan sambil menunjuk wajah Ara. "Kau membuatku kesal dan cemberut setiap kali kau mulai merengek minta pulang." "Itu kan karena kau membuatku kesal lebih dulu hingga aku ingin pulang. Sudahlah, aku akan menggantung ini." Ara memasukkan kertasnya ke dalam gembok berwarna merah muda. Bryan menyodorkan kertasnya padanya. "Ini, aku titip punyaku." "Titip? Mana boleh seperti itu. Beli gembokmu sendiri!" "Untuk apa menghamburkan uang untuk benda seperti ini? Lebih baik memakai uangnya untuk beli telur gulung lagi. Kau suka sekali itu, kan?" Bryan memasukkan kertasnya ke dalam gembok milik Ara. "Seperti ini terlihat lebih bagus." "Orang yang melihatnya pasti akan berpikir jika kita pasangan yang pelit." Ara menggembok kertas itu di salah satu sisi pagar. Ia lalu menyodorkan kuncinya pada Bryan. “Tolong lempar yang jauh sekali sampai tidak ada orang yang bisa menemukannya hingga tidak ada siapapun yang akan membuka gembok kita ini.” “Bahkan meski kubuang di sini saja juga tidak ada akan ada orang yang sejahil itu untuk membukanya,” kata Bryan sebelum melemparkan kunci tersebut sekuat tenaga. “Oh, itu sepertinya sampai ke depan pintu apartemenku saking kerasnya lemparanku.” “Mana mungkin bisa sampai sana! Kau suka sekali beromong-kosong!” “Kalau benar sampai di depan pintu apartemen kita kau mau apa?” “Aku akan cuci piring dan tidur di lantai tanpa perlu suit lagi nanti malam!” “Oh, benar ya! Pegang ucapanmu!” “Iya! Tapi jika lemparan kuncimu tidak sampai di depan pintu maka kau yang harus cuci piring dan tidur di lantai.” “Oke!” Bryan kelihatan percaya diri sekali saat menerima tantangan dari Ara. Toh dirinya hanya perlu mengambil sebuah kunci yang banyak berserakan di tempat ini dan membawanya pulang lalu meletakkannya di depan pintu apartemennya nanti. Rasanya tidak sabar sekali ingin segera pulang dan melihat kedua mata Ara yang terbelalak kaget saat wanita itu melihat kunci gembok di depan pintu nanti.       ***     “Jika kau makannya digigit seperti itu dan es krimmu habis lebih dulu aku tidak mau membagi milikku denganmu, ya!” “Aku bahkan tidak pernah berpikir seperti itu. Aku sudah tahu sekali jika kau ini sangat pelit!” Dalam perjalanan pulang, Bryan dan Ara berjalan bersisian menaiki tangga sambil menikmati masing-masing es krim rasa pisang untuk Ara dan rasa coklat untuk Bryan. Bryan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat bagaimana wanita bertubuh mungil di sebelahnya itu dengan cepat menghabiskan es krimnya sementara miliknya sendiri masih sangat banyak. “Apa yang kita makan untuk makan malam?” tanya Ara yang membuat Bryan mengangkat plastik yang berisi 10 tusuk telur gulur yang ia beli dalam perjalanan pulang tadi. “Makan itu saja? Itu kan hanya untuk camilan saja!” “Dijadikan lauk untuk makan dengan nasi juga enak, kok.” “Mana mungkin enak makan nasi dengan telur gulung saja?” “Enak, kok. Pakai nasi yang hangat dan dicampur dengan saos telur gulungnya. Aku berani taruhan kau pasti akan minta tambah nanti.” “Kau benar-benar menurunkan standar hidupku, tahu!” “Oh, maaf saja karena sekarang aku tidak punya uang yang banyak yang bisa membuatmu hidup dengan bergelimang kemewahan. Lihat saja nanti jika aku sudah kembali ke perusahaan Papa dan jadi direktur lagi. Jangankan segerobak telur gulung, satu pabrik es krim pisang pun bisa kubelikan untukmu!” “Memangnya aku masih akan terus bersamamu saat kau sudah kembali ke perusahaan papamu?” Ucapan Ara membuat Bryan menghentikan langkahnya. Ia lalu menatap Ara, membuat wanita yang berada satu anak tangga di atasnya itu meringis karena entah sejak kapan ada satu tusuk telur gulung di tangan kanannya yang sudah ia makan separuhnya. “Coba satu,” cicit Ara. “Jadi kurang enak karena sudah mulai dingin. Bryan, kurasa kita harus segera menghabiskannya sekarang atau nanti benar-benar jadi tidak enak jika sudah dingin.” Ara pikir Bryan yang menatapnya dengan kerutan di keningnya itu marah padanya karena ia diam-diam memakan telur gulung yang harusnya untuk makan malam. Dan mengingat bagaimana sikap Bryan, harusnya pria itu memang jadi kesal pada Ara sekarang. Namun rupanya tidak. Kerutan di kening Bryan itu tercipta karena ucapan Ara sebelumnya yang terasa begitu mengganjal di hatinya. “Ara, apa kita akan selesai seperti ini?” “Hmm?” Ara yang tidak mengerti maksud ucapan Bryan menggumam sambil mengunyah. “Apanya?” “Jika aku kembali ke perusahaan papaku dan kau pulang ke rumahmu, lalu kita bagaimana?” “Kita...” Raut wajah Ara meredup. Mulai memikirkan kekhawatiran yang sama dengan yang saat ini mengganggu pikiran Bryan saat membayangkan apa yang akan terjadi pada mereka saat harus kembali ke posisi mereka masing-masing tanpa ada satu sama lain dalam hidup mereka seperti saat mereka belum bertemu dan terjebak dengan perjodohan ini. “Ini sudah hampir dua bulan sejak kita bersama dan aku takut membayangkan bagaimana menjalani hidupku tanpa ada dirimu yang sudah membuatku seterbiasa ini dengan kehadiranmu.” Ucapan Bryan berakhir bersamaan dengan angin yang berhembus menerpa rok dan rambut panjang Ara yang terurai, yang tiba-tiba kedua matanya jadi berkaca-kaca saat ia membayangkan hal yang sama dengan Bryan. “Kita menjadi pasangan kekasih yang bahagia hari ini dan itu jadi membuatku serakah.” Bryan mengulurkan tangan kanannya untuk menyentuh pipi kiri Ara dengan lembut. “Aku berharap untuk bisa jadi kekasihmu lagi besok. Kemudian besok dan besoknya lagi. Karena ini rasanya membuatku sangat bahagia, aku jadi ingin menjadi kekasihmu setiap hari.” Ara menatap jauh ke dalam mata Bryan. Yang entah sejak kapan, ia merasa ada rumah yang membuatnya merasa nyaman untuk tinggal di dalamnya saat ia menatap kedua mata pria yang dulu hanya tahu cara untuk membentaknya dan membuatnya merasa sedih itu. “Kita seperti orang bodoh, kan?” tanya Ara, tersenyum kecut untuk mengejek diri mereka yang begitu naif. “Jika berakhir seperti ini, mengapa kita malah melarikan diri dari pernikahan itu?” “Itu bukan kesalahan yang perlu disesali karena pada hal inilah kita bermuara sekarang.” Tangan Bryan yang lain ikut terangkat, menangkup wajah mungil Ara dengan kedua telapak tangannya yang besar. “Apa kita bisa tetap seperti ini jika aku pulang nanti?” Ara bertanya seolah sedang mengucapkan permohonannya pada Bryan. “Kau ingin kita tetap seperti ini?” “Ya. Seperti ini,” sahut Ara. “Jadi pasangan kekasih yang bahagia seperti ini.” “Kau tidak takut lagi padaku? Tidak akan melarikan diri dariku lagi?” Ara menggelengkan kepalanya. “Aku akan takut jika berpisah denganmu, Bryan.” “Aku juga.” Bryan berkata dengan suara berbisik. “Aku juga takut jika kita berpisah, Ara.” “Kalau begitu jangan berpisah meski aku sudah pulang nanti.” “Ya.” “Janji?” “Ya.” “Ayo kaitkan kelingkingnya agar tidak ada yang ingkar.” Bryan menatap jari kelingking Ara yang terangkat di depan wajahnya, namun kemudian mengalihkan pandangannya dan menguncinya pada sepasang bibir wanita itu. Yang akhirnya membuatnya lebih memilih untuk mengikat janjinya melalui ciuman yang ia daratkan di atas bibir wanita itu. Ciuman pertama mereka yang terjadi di penghujung hari setelah kencan pertama mereka. Yang menjadi pembuka dari babak baru hubungan sepasang calon pengantin yang pernah saling melarikan diri sampai akhirnya takdir menuntun mereka kembali pada takdir yang jalinan tali-talinya jauh lebih kuat dari yang bisa mereka bayangkan.       **To Be Continue**      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD