“Papa~”
Ara yang baru sampai di rumahnya langsung berlari menghampiri papanya yang duduk di sofa ruang tengah. Wanita itu naik ke pangkuan papanya dan melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu sebelum mendaratkan ciuman di pipi kanan dan kirinya secara bergantian.
“Kau pergi ke mana saja dengan Josh, uh? Papa merindukanmu seharian ini,” protes Papa.
“Kami pergi kencan tadi,” jawab Ara yang membuat Papa tergelak pelan.
“Jadi kalian benar-benar perrgi berkencan?”
“Tentu saja! Kencannya menyenangkan sekali. Aku jadi ingin kencan setiap hari dengan Kak Josh,” ujar Ara sambil tersenyum manis pada Josh yang menatapnya dengan kedua mata memicing. Tahu betul jika kencan dengannya itu hanya akal-akalan Ara untuk pergi menemui Bryan setiap hari.
“Lho? Ini apa?” Plester kecil yang berada di punggung tangan kiri Papa menarik perhatian Papa. Papa buru-buru menarik tangannya dari genggaman Ara dan menyembunyikannya di balik punggungnya, yang mana hal itu sudah terlambat karena Ara telah terlanjur melihatnya.
“Itu bekas infus, ya? Papa diinfus?” Ara bertanya dengan khawatir.
“Tidak, Sayang. Bukan infus, kok. Hanya disuntik biasa,” kata Papa yang meski ia tersenyum dengan lembut untuk menenangkan Ara namun tidak berhasil melenyapkan ekspresi cemas di wajah wanita itu.
“Papa sakit, ya? Sakit apa?”
“Tidak sakit, Sayangkuu. Benar-benar hanya disuntik biasa, bukan infus,” sanggah Papa. “Mama ada di dapur. Dia membelikanmu cake pisang kesukaanmu.”
“Sakitnya parah, ya?”
Ara bertanya dengan wajah serius, dan itu justru membuat Papa merasa geli hingga tidak sanggup untuk menahan kekehannya. Jarang-jarang Ara tidak bisa dialihkan perhatiannya dari pisang kesukaan wanita itu.
“Tidak sakit, kok. Papa bisa memangku Ara seperti ini mana mungkin sedang sakit, uh?” Papa berkata dengan lembut sambil membelai wajah Ara dengan tangannya yang dipenuhi keriput. “Ambil cake pisangmu sana. Papa juga ingin memakannya.”
“Satu suapan saja, ya. Kalau banyak-banyak nanti Pak Dokter marah padaku.”
Papa kembali tergelak, kali ini lebih lepas dari sebelumnya karena merasa lega sebab ekspresi cemas di wajah Ara telah lenyap.
“Aku ambilkan untuk Kak Josh juga, ya. Kakak harus makan kue dariku dan besok pergi kencan denganku lagi, uh,” kata Ara yang membuat Josh menghela napas lesu. Merasa kesal sekali karena Ara lagi-lagi mencoba menyuapnya dengan cake pisang untuk mempertemukan wanita itu dengan Bryan sementara dirinya tidak bsia melakukan apa-apa untuk menentang keinginan nona mudanya itu.
“Apa dia benar-benar bersenang-senang hari ini?” Papa bertanya pada Josh setelah Ara meninggalkan mereka.
“Iya, Tuan. Nona kelihatan sangat senang hari ini,” jawab Josh. Yang meski jawabannya itu benar adanya namun membuatnya merasa sangat bersalah pada majikannya itu karena telah bersekongkol dengan Ara dan Bryan untuk membohonginya.
“Setelah apa yang terjadi, aku jadi tidak bisa percaya pada laki-laki mana pun untuk menjadi pendamping hidup ara. Rasanya tidak akan ada laki-laki yang cukup baik yang bisa menggantikanku untuk menjaganya. Tapi jika itu kau, Josh...” Papap menatap Josh dengan tatapan dalam sebelum mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. “Kurasa aku bisa mempercayakan Ara padamu.”
Josh membuka mulutnya, namun tidak tahu harus berkata apa sementara di dalam hatinya ia terus mengutuk dirinya sendiri. Karena sungguh, semakin besar kepercayaan yang Papa Ara berikan padanya ia merasa dosanya karena telah berbohong pada orang itu juga jadi semakin besar.
***
“Kau yakin kau akan pergi?” Nathan bertanya pada Bryan yang hari ini sudah datang ke kantornya sejak pagi. Kelihatan sudah sangat siap untuk bekerja meski lebam di wajahnya masih terlihat dan jalannya masih agak pincang.
“Tentu saja aku harus pergi karena aku sudah tanda tangan kontrak dan menerima bayaran darimu.” Bryan berkata dengan semangat untuk meyakinkan Nathan.
“Tapi kau kelihatan masih sakit.”
“Aku sudah sangat sehat!” Bryan menyahut dengan tegas. “Aku siap kapanpun kau akan mengirimku ke lokasi proyek.”
“Mereka akan berangkat satu jam lagi,” kata Nathan yang membuat senyuman di wajah Bryan langsung lenyap seketika. “Jadi jika kau tidak siap untuk perrgi, aku sudah menyiapkan seseorang yang bisa menggantikanmu‒”
“Aku siap!” potong Bryan dengan cepat dan tegas meski wajahnya terlihat agak linglung saat mengatakannya. “Berangkatnya satu jam lagi, kan? Kalau begitu aku akan bersiap dengan cepat dan segera bergabung dengan rombongan nanti. Sampai jumpa satu jam lagi!”
Nathan mengerjap-ngerjapkan kedua matanya melihat bagaimana bryan berlari terpincang-pincang meninggalkan ruangannya. “Tapi kau bisa menyusul besok saja jika perlu bersiap dulu!” seru Nathan sementara Bryan telah keluar dari ruangannya, tetap cepat meski kakinya sedang pincang. “Dia tidak dengar, ya? Memangnya cukup bersiap-siap sejam saja?”
***
“Kenapa tidak diangkat juga? Apa sih sebenarnya yang sedang dia lakukan?”
Bryan bohong soal ucapannya yang berkata akan menggunakan waktu satu jamnya untuk bersiap-siap. Nyatanya ia langsung mengemudikan mobilnya ke rumah Ara dan ini sudah lebih dari setengah jam ia berada di dalam mobilnya tidak jauh dari rumah Ara sambil terus mencoba menghubungi Ara yang tidak kunjung menjawab panggilannya.
“Dia tidak sedang ttidur, kan?” Sementara tangan kanannya memegang ponsel yang ditempelkan ke telinganya ia mengangkat tagan kirinya untuk melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia mengerang frustrasi saat melihat jam yang masih menunjukkan pukul 9 pagi.
“Tentu saja dia belum bangun! Mana mungkin wanita pemalas itu bangun sepagi ini saat dia tidak punya kesibukan apa-apa untuk dilakukan di pagi hari.”
Bryan melemparkan ponselnya dengan kesal ke dashboard saat lagi-lagi panggilannya terputus karena Ara yang tidak kunjung mengangkat telepon darinya.
“Satu minggu itu kan lama,” gumam Bryan sambil menatap sendu ke arah rumah paling mewah yang berada di lingkungan itu yang merupakan kediaman tempat tinggal Ara. “Bagaimana kami bisa melalui satu minggu ini tanpa sempat bertemu untuk mengucapkan perpisahan?”
Bryan masih diam di sana selama beberapa menit sambil terus mencoba menghubungi Ara. Namun saat waktu satu jam yang diberikan padanya tersisa 10 menit, Bryan akhirnya menyerah.
“Minggu deppan setelah aku kembali kita harus pergi kencan. Jadi sekarang tidak perlu sedih apalagi sampai menangis karena kutinggal pergi sebentar, uh.” Bryan berkata dengan lembut sambil terus menatap rumah Ara seolah ia sedang mengatakan kalimat tersebut secara langsung pada Ara.
“Tuan Pputri tukang tidur,” gerutu Bryan sambil mulai menyalakan mobilnya. “Kau harus belajar bangun pagi nanti agar tidak melewatkan hal-hal baik yang bisa terjadi di pagi hari!”
***
“Eungh~ Aaaah~”
Ara bangun dengan suara berisik sambil meregangkan otot-ototnya. “Bibi Li‒”
“Aku di sini, Nona,” potong Bibi Lily yang membuat teriakan Ara untuk memanggillnya langsung terhenti. Wanita itu menoleh ke sebelah kanannya dan mendapati Bibi Lily yang menyodorkan segelas air padanya. “Minum dulu, Nona.”
Ara menerima segelas air dari Bibi Lily sambil tersenyum bahagia. Rasanya benar-benar sangat senang karena akhirnya saat ia bangun tidur ada Bibi Lily yang langsung memberinya air putih seperti ini. Seuatu yang sangat ia rindukan selama dirinya tinggal di apartemen Bryan dan harus berdebat setiap pagi dengan pria itu hanya karena masalah air minum.
“Ah~ Tubuhku rasanya segar sekali karena langsung minum segelas air setelah bangun tidur,” kata Ara seraya mengembalikan gelas yang telah kosong pada Bibi Lily. “Apa aku bangun terlalu pagi hari ini?”
“Ini sudah pukul setengah 12 siang, Nona,” sahut Bibi Lily yang membuat Ara mengerang kecewa.
“Padahal aku ingin bangun lebih pagi untuk pergi kencan tapi kenapa malah bangun lebih siang,” sesal Ara sebelum kembali berbaring dan menyelimuti tubuhnya. “Kalau aku akan menggenapkan tidurku sampai waktunya makan siang. Kepalaku rasanya pusing sekali jadi aku akan beristirahat sebentar lagi.”
“Kau pusing karena terlalu banyak tidur, Nona,” kata Bibi Lily yang membuat Ara kembali membuka matanya.
“Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi selain tidurl,” keluh Ara sebelum mengulurkan ponselnya. “Bibi, tolong ponselku.”
Bibi Lily mengambilkan ponsel Ara yang berada di nakas sebelah tempat tidur dan menyerahkannya pada wanita itu.
“Wow,” gumam Ara saat melihat ada notifikasi 37 panggilan dan 12 pesan. “Pasti mau pinjam uang,” tambahnya sebelum meletakkan ponselnya di bawah bantalnya dan kembali memejamkan kedua matanya.
Namun saat ingat jika sekarang ia punyta kekasih yang akan dengan rajin menelepon dan mengirim pesan untuknya, kedua mata Ara langsung terbuka lebar dan dengan cepat ia mengambil ponselnya lagi.
“Kalau begitu Bibi akan menyiapkan air untuk Nona mandi dan‒”
“Huaaaa!”
Bibi Lily sampai berjengit kaget saat tiba-tiba Ara menjerit dengan keras. Benar-benar sangat keras hingga membuat Josh yang sejak tadi berjaga di depan pintu kamar Ara langsung berlari masuk karena berpikir sesuatu yang berbahaya barus saja terjadi pada nona mudanya itu.
“Kenapaaaaa? Kenapa taddi tidak ada yang membangunkanku lebih pagi? Huaaaa~ Aku seharusnya bangun pagi tadi!”
**To Be Continue**