Anak Dan Calon Menantu Yang Berbahaya

1499 Words
“Kenapa? Kenapa tidak mau menikah denganku? Aku kan sangat kaya dan cantik luar biasa tapi kenapa kau tidak mau menikahiku? Huaaa~ Kenapaaaa~” Josh menatap Ara yang sedang menangis itu dengan wajah aneh. Terlalu bingung apakah dirinya harus merasa kasihan atau kesal pada nona mudanya itu. Josh masih belum lupa bagaimana Ara menangis sangat histeris saat mendapat kabar akan dijodohkan dengan Bryan, namun sekarang tangisannya bahkan lebih hebat lagi saat Bryan berkata tidak akan menikahinya. “Ara...” Bryan mengulurkan kedua tangannya untuk menangkup wajah Ara, memaksa wanita yang masih menangis itu untuk menatapnya. Melihat kesungguhan di kedua matanya saat ia bicara pada Ara. “Lihat keadaanku sekarang. Menurutmu dengan keadaanku yang seperti ini bagaimana mungkin aku bisa menikahimu yang sangat kaya dan luar biasa cantik ini, uh?” Meski tahu Bryan bicara begitu karena meniru dirinya yang berulang kali memuji dirinya sendiri seperti itu, namun entah mengapa itu membuat Ara jadi sangat kesal. Bukan kesal dengan fakta bahwa ia adalah orang yang sangat kaya dan cantik luar biasa, namun kesal karena Bryan menjadikan hal itu untuk menolaknya seperti ini. “Tidak apa-apa! Aku kan tidak matre! Lagipula nanti setelah menikah jika kau tetap miskin begini aku tidak masalah jika kau menumpang hidup padaku. Sama sekali tidak masalah!” Ara berkata dengan entengnya dan itu justru membuat Bryan jadi menghela napas berat sementara di sebelahnya Josh menatap Ara dengan kerutan yang sangat dalam. Heran karena nona mudanya itu punya kepercayaan diri yang sebesar ini saat dirinya sendiri masih menumpang hidup pada kedua orang tuanya. “Aku sudah muak selalu dipandang sebelah mata oleh papaku dan aku tidak ingin orang tuamu juga melakukan hal yang sama karena keadaanku sekarang,” kata Bryan yang langsung dijawab dengan gelengan tegas oleh Ara. “Tapi orang tuaku itu baik dan mereka tidak akan‒” “Nona, tidak usah menentangnya seperti itu.” Josh yang sudah terlalu gemas dengan Ara langsung membekap mulut wanita itu agar tidak mengatakan sesuatu yang bodoh lagi. “Kau tidak bisa menyuruh laki-laki yang sedang ingin berjuang untuk menumpang hidup padamu saja. Itu rasanya seperti penghinaan ta‒ Aw!” “Aku tidak menghina!” Ara berseru tidak terima setelah sebelumnya menggigit telapak tangan Josh hingga pria itu melepaskan  bekapannya. Wanita itu lalu kembali menatap Bryan dengan wajah cemberut. “Aku sama sekali tidak bermaksud untuk menghina atau mematahkan semangatmu. Aku hanya tidak ingin kita berpisah lagi. Itu menyakitkan sekali rasanya.” Bryan menatap kedua mata Ara dan meski wajah wanita itu terlihat kekanakan karena ekspresi cemberutnya, Bryan bisa merasakan ketulusan Ara dari kedua mata wanita itu. “Aku punya janji yang harus ketepati padamu, kan?’ tanya Bryan yang membuat Ara mengerutkan keningnya karena sepertinya wanita itu tidak ingat dengan apa yang telah Bryan janjikan padanya. “Cincinnya,” kata Bryan yang membuat Ara membuka mulutnya karena akhirnya mengingat dengan janji yang pria itu ucapkan di malam terindah yang akan mereka kenang seumur hidup mereka sebagai malam pertama mereka. Malam yang benar-benar terasa seperti mimpi indah karena saat mereka bangun keesokan paginya kenyataan yang kejam langsung menampar mereka dengan cara yang sangat menyakitkan. “Aku kan sudah bilang cincin yang biasa saja juga tiddak apa-apa. Tidak usah memaksakan diri hanya untuk membelikanku cincin yang mahal. Aku akan suka dengan apapun yang kau berikan padaku,” kata Ara. Yang lagi-lagi ketulusan di kedua mata wanita itu kembali melelehkan hati Bryan meski Ara masih berwajah cemberut saat mengucapkannya. “Tapi aku hanya ingin memberimu cincin yang bagus,” kata Bryan yang membuat Ara menghembuskan napas kesal karena sadar ppria itu akan butuh waktu untuk bisa membelikannya cincin bagus yang mahal dengan keadaannya yang sekarang. “Aku akan bekerja dengan keras dan mengumpulkan banyak uang agar bisa membelikan cincin yang bagus untuk melamarmu dan beli rumah yang besar agar setelah menikah nanti kita bisa tinggal di tempat yang lebih baik dari apartemen kecil ini.” Bryan menjabarkan tentang rencananya itu sambil tersenyum, namun Ara yang sudah pernah merasakan betapa sulitnya hidup tanpa uang dan nama besar keluarganya itu tidak bisa ikut tersenyum bersamanya. Karena seperti yang sebelumnya telah dikatakan oleh Mama Bryan, bahkan meski bekerja sampai 100 tahun pun Bryan tidak akan bisa mengumpulkan uang sebanyak yang bisa ia dapatkan dari mewarisi kekayaan papanya. “Kemudian setelah beli ruumah, aku akan menabung lagi untuk beli‒” “Rahasia perusahaannya,” potong Ara yang membuat Bryan langsung terdiam. Dan kemudian, dengan tampang polos yang sama sekali tidak sebanding dengan ide jahatnya ia menambahkan, “Kalau kau menjual rahasia perusahaan papamu pasti bisa dapat uang yang sangat-sangat banyak, kan?” Bukan hanya Bryan, tapi juga Josh yang ikut terkejut dengan ucapan Ara sampai tanpa sadar membuka mulut mereka dengan wajah melongo tak percaya. Karena...Mengapa wanita yang wajahnya begitu polos ini bisa memikirkan hal yang begitu jahat? “Atau diracun saja? Mamamu bilang lebih baik untuk meracun papamu saja kan ahgar semua hartanya jatuh ke tanganmu.” Mulut Josh terbuka semakin lebar sementara Bryan menyangga kepalanya yang terasa pusing dengan telapak tangannya. Masalahnya, Bryan tahu betul jika semua hal jahat yang selama ini mamanya rencanakan untuk papanya itu hanyalah candaan karena ia telah berada di sisi wanita itu cukup lama untuk mengetahui betapa mamanya begitu mencintai papanya terlepas dari semua perkataan buruk dan konflik yang terjadi di antara mereka. Dan jika itu Ara yang mengatakannya dengan cara seserius ini... Itu artinya wanita tersebut benar-benar serius ingin Bryan menjual rahasia perusahaan atau meracuni papanya, kan? “Ini salahmu!” Bryan mengerjapkan kedua matanya terkejut saat telunjuk Josh menunjuk wajahnya tepat di antara kedua matanya yang membuatnya menjadi juling saat menatap ujung telunjuk pria itu. “Padahal nonaku ini wanita yang sangat polos dan berhati malaikat. Dia jadi seperti ini pasti karena salah pergaulan dengamu! Iya, kan?” tuduh Josh yang membuat Bryan menatapnya tak terima. Namun saat tatapannya jatuh pada Ara dan melihat betapa polosnya wanita itu, Bryan jadi kehilangan kekuatan untuk membela diri. Karena bahkan dirinya sendiiri setelah mendengar apa yang Ara katakan itu tetap tidak bisa percaya jika wanita sepolos Ara bisa memikirkan hal yang begitu licik dan jahat. “Jangan pikirkan hal seperti itu.” Bryan berkata dengan serius pada Ara yang ikut menyimak ucapannya dengan serius. “Entah itu bbercanda atau bukan, kaus ama sekali tidak boleh memikirkan apalagi mengatakan hal seburuk itu. Wajahmu itu terlalu polos, jadi jika harus ada yang jaddi jahat di antara kita berdua maka akulah yang akan melakukannya dan kau harus terus jadi wanita manis yang polos!” “Jadi kau akan melakukan bagian jahatnya?” tanya Josh yang membuat Bryan dan Ara secara serempak menoleh padanya. “Kau akan menjual rahasia perusahaan lalu meracuni papamu?” “Tentu saja tidak!” Bryan langsung menyanggah hal itu dengan tegas. “Itu hanya pilihan paling akhir yang kuharap tidak akan pernah kupilih,” tambahnya dengan suara pelan yang membuat Josh mendecih padanya. Tiba-tiba ia jadi merasa kasihan sekali pada Papa Bryan yang sama sekali tidak dikenalnya itu karena memiliki putra dan calon menantu yang bisa membahayakan nyawanya seperti ini. “Oh, ini Nyonya Besar,” gumam Josh saat melihat ponselnya yang tiba-tiba berdering. Ia menjawab panggilan tersebut sementara Ara dengan kedua mata membulat menatap Bryan sambil meletakkan jari telunjuk di depan mulutnya sendiri sebagai isyarat agar pria itu tidak bersuara. “Tentu, Nyonya. Kami sudah selesai dan akan segera pulang,” kata Josh yang membuat Ara menatapnya dengan ekspresi cemberut paling jelek di wajahnya karena perkataan ppria itu yang menandakan jika pertemuan rahasianya dengan Bryan ini akan segera berakhir. “Baik, Nyonya. Aku akan menyetir dengan hati-hati. Sampai jumpa di rumah.” Josh memutus sambungan telepon dan kembali menyimpan ponsel di saku jasnya sambil menatap Ara yang langsung merangkul lengan Bryan dengan erat menggunakan kedua tangannya. “Ini sudah waktunya pulang, Nona.” “Tidak mau~” tolak Ara dengan nada merengek. “Kangennya belum habis,” tambahnya dengan manja. “Kau harus pulang sekarang jika mamamu menyuruhmu pulang,” kata Bryan yang membuat Ara gantian merengut padanya. “Kau sudah cukup menyulitkan pengawalmu dengan minta dibawa ke sini. Jangan semakin menyulitkannya atau itu akan membuatnya jera untuk membawamu bertemu denganku lagi.” Ara kembali menatap Josh. Masih dengan wajah cemberut ia berkata, “Kalau begitu janjikan aku sesuatu!” Josh menghela napas panjang, mengumpulkan kesabaran untuk menghadapi nona mudanya yang mulai bertingkah kekanakan ini. “Baiklah, aku akan membelikan Nona es krim rasa pisang‒” “Bukan es krim!” potong Ara sambil menggelengkan kepalanya. “Hmm... Coklat? Permen? Jus pisang?” Josh bertanya bertubi-tubi yang juga dibalas dengan gelengan bertubi-tubi oleh Ara. Pria itu kembali menghela napas sebelum dengan sabar bertanya, “Lalu Nona ingin kujanjikan apa agar mau pulang denganku sekarang, uh?’ Sebuah senyuman terbit di wajah Ara. Wanita itu mendongak menatap Bryan sebelum kembali menatap Josh dengan senyuman yang jadi semakin lebar. “Kakak harus janji mengantarku bertemu Bryan setiap hari. Se-ti-ap ha-ri! Jika tidak, aku akan ngambek dan menyulitkan Kakak tentang perjodohan kita di depan Mama dan Papa nanti! Janji, ya? Janji! Pokoknya harus janji!”     **To Be Continue**            
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD