“Bibi Li—“
“Ini!”
Ara menghentikan teriakannya saat tiba-tiba sebuah botol air mineral diacungkan ke arahnya. Wanita itu menggulingkan tubuhnya hingga berada di tepi tempat tidur lalu mengambil botol air itu dari Bryan yang masih menyembunyikan diri di dalam selimutnya. Pria itu hanya menyembulkan tangan kanannya yang memegang botol ke arah Ara.
“Selamat pagi,” sapa Ara sambil mengambil air mineral itu. “Kau belum minum air ini? Apa kau berencana akan meminumnya nanti?”
“Tidak, itu untukmu.” Bryan menyingkap selimutnya lalu menendangnya hingga tubuhnya terbebas dari selimut itu. “Karena temanmu yang sangat pengertian ini tahu kau akan selalu berteriak-teriak memanggil bibimu setiap pagi untuk mengambilkanmu air minum, maka aku menyiapkannya semalam. Bagaimana? Kau terkesan?”
Ara langsung menganggukkan kepalanya dengan senyuman lebar yang menghiasi wajahnya. “Wah, kau baik sekali! Aku tidak perlu khawatir kehausan lagi setiap kali bangun tidur sekarang.
“Oho! Itu hanya untuk hari ini. Selanjutnya, kau harus menyiapkan air minummu sendiri sebelum tidur!”
“Aku tahu! Aku tarik kata-kataku yang tadi. Kau tidak baik sekali. Kau hanya baik sedikit. Sedikit baik,” kata Ara lalu keluar dari kamar diikuti Bryan.
“Oi! Aku harus menyelesaikan urusan pagiku terlebih dahulu!” Bryan menarik topi yang menggantung di bagian belakang kaos Ara sebelum wanita itu memasuki kamar mandi.
“Aku juga harus menyelesaikan urusanku!” Ara mencoba memukul-mukul tangan Bryan agar melepaskan topinya.
“Urusanku ini sudah sangat mendesak!” Bryan kini menggunakan kedua tangannya untuk menarik topi Ara, membuat wanita itu harus menahan kerah kaosnya agar ia tidak tercekik.
“Aku juga sudah sangat mendesak! Lepaskan aku! Ini sudah di ujung tanduk!”
“Kita suit saja!” Bryan menawarkan solusi yang tentu saja pada akhirnya akan menguntungkan dirinya. Lihat saja bagaimana ia melenggang masuk ke dalam kamar mandi setelah ‘mengalahkan’ batu Ara dengan guntingnya.
“Tega sekali~ Padahal aku yang lebih dulu sampai dan membuka pintunya tadi,” gerutu Ara seraya menempelkan kepalanya di daun pintu, menunggu giliran untuk dapat memakai kamar mandi yang hanya satu-satunya di apartemen itu. Namun ia buru-buru mundur dengan wajah berkerut jijik saat mendengar suara Bryan yang sedang ‘menyelesaikan urusan’-nya dari dalam sana. “Oi! Nyalakan kran airnya! Aku bisa mendengar suaranya. Kau benar-benar tidak sopan!”
***
“Apa kau akan mencari pekerjaan dengan berpakaian seperti itu?” tanya Ara saat melihat Bryan keluar dari kamar mandi dengan mengenakan celana jeans biru tua dan kaos lengan panjang berwarna putih. “Jangan-jangan kau hanya akan pergi bermain, kan? Kau tidak akan mencari pekerjaan, kan?” tuduhnya sarat akan kecurigaan.
“Main-main apa? Aku tidak punya uang untuk main-main! Aku tidak punya kemeja dan jas lain untuk dipakai hari ini karena yang kemarin sudah sangat kotor.”
“Belilah yang baru. Kau harus punya beberapa setel jas.”
“Kau pikir berapa harga jas? Itu tidak murah!” Bryan menikmati sarapannya. Dua lembar roti tawar isi selai coklat dan segelas s**u vanilla. “Apa yang akan kau lakukan hari ini?”
“Tidak tahu. Aku sudah bersih-bersih kemarin, apa aku harus melakukannya lagi hari ini?”
“Tentu saja. Tempat tinggal itu harus sering dibersihkan agar kau merasa nyaman tinggal di dalamnya. Apa yang akan kau makan untuk makan siang?”
“Apa lagi? Aku selalu makan dengan siang dengan mie instan. Hanya itu yang bisa kumasak.”
“Kau tidak boleh memakannya terlalu sering. Nanti kau bisa cepat mati.” Bryan mengeluarkan dompetnya dan memeriksa isinya. Tidak banyak yang tersisa, mungkin tidak akan cukup untuk digunakan sampai akhir minggu ini. “Kau tahu kantor polisi di jalan depan, kan? Beberapa meter dari sana di dekat tikungan, ada restoran kecil yang menjual sup yang rasanya sangat enak. Bibi yang berjualan di sana sangat baik, kau bilang saja temanku maka dia pasti akan memperlakukanmu dengan baik dan memberimu tambahan daging,” kata Bryan sambil meletakkan 2 lembar uang di atas meja.
Ara menatap uang itu dengan wajah sedih. Sebelumnya ia sempat melihat isi dompet Bryan saat pria itu hendak mengambil uang. “Kau sendiri makan apa untuk makan siang?”
“Apa ini? Apa kau mulai mengkhawatirkan temanmu juga sekarang? Wah… Ini kemajuan.”
“Bukan begitu!” sangkal Ara. Ia menyambar uang di atas meja lalu melambai-lambaikannya di depan wajah Bryan. “Kau memberiku uang untuk makan sup, kau pasti… Kau pasti berencana untuk makan siang enak sendirian sementara aku hanya akan makan sup!”
Bryan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kedua tangan terlipat di depan d**a. “Apa aku harus memberimu semua yang ada di dompetku agar kau berhenti berpikiran buruk tentangku?”
“Bukan begitu. Kau… Kau harus makan tepat waktu, jangan jadi kelaparan seperti orang yang sangat miskin!” Ara membereskan piring-piring dan gelas kotor lalu segera membawanya ke dapur sementara Bryan menatapnya dengan takjub.
“Kau tidak ingin kita suit dulu untuk menentukan siapa yang akan cuci piring?” tawar Bryan, sok baik padaha dirinya selalu curang setiap kali mereka suit.
“Cepat pergi saja! Kau pikir siapa yang akan mempekerjakan orang yang tangannya bau sabun cuci piring?”
“Baiklah. Jangan lupa pakai topi dan masker saat keluar rumah. Kau tidak pernah tahu siapa yang mungkin akan kau temui di luar sana.”
“Aku tahu! Pergilah!” usir Ara terdengar kesal karena Bryan terus saja mengajaknya bicara.
Bryan bangkit lalu memakai sepatunya di depan pintu masuk. “Baik-baiklah di rumah, Temanku. Jangan membuat rumahku kebanjiran atau membakarnya, uh?”
Ara menolehkan kepalanya ke belakang dan menatap Bryan yang sedang tersenyum ke arahnya dengan wajah kesal. “Kau juga berhati-hatilah di luar sana, Temanku. Jangan pulang terlalu malam dan bawa pulang uang yang banyak agar aku bisa beli sabun cuci piring yang bagus, uh?”
***
Hari masih pagi, namun matahari sudah bersinar dengan sangat terik. Nyatanya musim kemarau yang panjang belum benar-benar berakhir. Hujan hanya turun sekali malam itu dan setelahnya cuaca kembali menjadi sepanas sebelumnya.
Ara keluar dari apartemen Bryan dengan mengenakan jaket yang tudungnya ia pakai untuk menutupi kepalanya dan sebuah masker berwarna hitam yang menutupi separuh wajahnya. Ia menuruni tangga sambil mengeluhkan cuaca yang sangat panas dan menebak-nebak apa uangnya cukup untuk beli es krim nanti.
"Jadi kau temannya Bryan? Siapa namamu?" tanya Bibi pemilik restoran yang menjual berbagai hidangan sup itu. Mungkin karena waktu sarapan sudah berlalu dan jam makan siang masih sekitar 1 jam lagi maka tidak ada pegunjung lain di restoran itu.
"Namaku Ara," jawab Ara. "Bibi, apa kau bekerja sendiri?"
"Ada seorang pegawai paruh waktu yang akan membantuku setelah pulang sekolah nanti."
"Anak sekolah?"
"Ya, seorang siswa yang pandai dan rajin." Bibi itu meletakkan pesanan Ara, sup daging sapi yang aromanya sangat harum. "Nona, apa kau tidak mau membuka maskermu? Bagaimana kau akan makan?"
"Aku sedang flu, Bibi. Aku tidak ingin Bibi tertular," jawab Ara.
"Ah, kalau begitu habiskan supnya. Ini bagus untuk orang yang sedang flu. Aku akan ke belakang untuk mencuci piring. Nikmati makananmu."
Setelah memastikan bibi itu tidak memperhatikannya lagi, Ara membuka tudung kepala dan maskernya. "Ah, panas sekali. Mengapa aku makan sup panas di hari sepanas ini?" Ara menyendok supnya, mencicipinya sedikit dan kerutan di wajahnya langsung mengendur. "Hmmm... Ini makanan terbaik yang aku makan setelah kabur dari acara pernikahanku."
***
“Sebagai manajer? Tapi lowongan itu hanya untuk pramuniaga saja.”
“Pramuniaga? Anda yakin tidak sedang mencari manajer? Aku punya kualifikasi yang sangat bagus untuk bisa menjadi manajer di coffee shop ini.”
“Aku adalah manajernya dan aku masih bisa mengurus tempat ini dengan baik!”
Bryan tersenyum kecut pada manajer yang mulai bicara ketus padanya. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaracn kursi, menyesap kopinya sambil mengamati sekitarnya. “Siang hari di musim kemarau benar-benar sangat panas. Jika aku menjadi manajer di sini, aku akan menambahkan beberapa menu baru yang cocok dinikmati saat cuaca panas ke dalam menu. Bagaimana? Anda yakin tidak ingin menjadikanku manajer?”
“Coffee shop kami sudah memiliki beberapa menu ice coffee yang juga sangat cocok dinikmati saat cuaca panas,” kata manajer itu sambil beranjak dari duduknya. “Dan kami bukannya sedang mencari manajer untuk menggantikan posisiku di sini!”
Bryan menatap punggung manajer yang mulai meninggalkannya dan kembali berseru, “Apa kau butuh direktur? Aku bisa jadi direktur di sini!”
***
“Jadi Bryan pernah bekerja di tempat ini sebelumnya?” Ara telah menyelesaikan makan siangnya yang terlalu awal itu dan mengobrol dengan pemilik restoran yang sekarang sedang memotong-motong sayuran. Ia kembali memakai masker dan tudung kepalanya.
“Itu sudah lama, saat dia baru lulus kuliah. Tidak lama, hanya sekitar 3 atau 4 bulan. Tapi anak itu sangat ramah pada semua pelanggan sehingga meninggalkan kesan yang sangat baik.”
Bibir Ara mencibir di balik maskernya. Seharusnya dia juga meninggalkan kesan yang baik padaku, dengan begitu aku pasti tidak akan kabur di hari pernikahanku.
“Ara, kau bilang tadi kau sedang tidak bekerja?”
“Ya, tadi aku bilang begitu.”
“Bagaimana jika bekerja paruh waktu di restoranku?”
“Bekerja paruh waktu?”
“Iya. Aku sangat kerepotan melayani pelanggan sendiri saat waktu sarapan dan makan siang sementara Riu baru akan membantuku untuk mempersiapkan makan malam.”
Ara tampak berpikir, terlihat dari bola matanya yang bergerak ke kanan atas. “Jika aku bekerja paruh waktu di sini… Berapa Bibi akan membayarku?” tanyanya tanpa basa-basi.
***
“Panas sekali! Sepertinya mataharinya bersinar dari barat dan timur!” Bryan memasuki apartemennya sambil mengipasi wajahnya dengan selembar brosur yang ia dapatkan dalam perjalan pulang. Ia mengambil sebotol air dari dalam lemari pendingin dan membawanya ke ruang tengah. Meminumnya sambil duduk dengan merentangkan kedua kakinya di atas karpet.
Tik. Tik. Tik.
Bryan mengerutkan keningnya. Apartemennya sepi sekali hingga bunyi detak jarum jam yang menggantung di dinding itu bisa terdengar dengan sangat jelas.
“Ara!” panggilnya, namun tidak ada sahutan.
Dapur, kamar mandi, kamar tidur, balkon. Bryan memeriksa semua tempat namun wanita itu tidak ada di manapun di apartemen ini. Mengenyampingkan rasa lelahnya, Bryan kembali memakai sepatu yang sebelumnya hanya ia geletakkan begitu saja di depan pintu masuk lalu berlari keluar dari apartemennya.
“Apa dia kabur lagi? Aku salah apa padanya hingga dia melarikan diri lagi?” Bryan mencari Ara di gang-gang sempit, berharap mungkin ia bisa menemukannya di salah satu gang itu seperti sebelumnya.
“Aku sudah bersikap baik padanya. Aku tidak membentaknya dan bahkan memberinya uang untuk—“
Bryan tiba-tiba menghentikan langkahnya saat teringat sesuatu. Ia menepuk dahinya dengan keras sebelum berbalik dan kembali berlari untuk menemukan mantan calon istrinya itu.
**To Be Continue**