Pekerja Paruh Waktu

1506 Words
“Ya ampun! Lihat siapa yang datang!” Bibi pemilik restoran langsung meninggalkan kursi kasir dan dengan langkah tergopoh menghampiri Bryan yang berdiri di depan pintu restorannya. “Sudah lama sekali sejak terakhir kali kau datang ke sini. Duduklah! Akan kusiapkan sup untukmu. Yang baaaaanyak dagingnya. Seperti biasa.” “ Ah tidak, Bibi. Aku sedang mencari—“ “Ini pesanan Anda, selamat menikmati!” Bryan menoleh ke sebelahnya saat mendengar suara yang sangat familiar dan sedetik kemudian kedua matanya sudah membesar saat melihat seorang wanita berambut panjang memakai masker berwarna hitam berjalan ke sana ke sini dengan membawa nampan. Melayani pembeli yang terus berdatangan di jam makan siang yang sangat ramai ini. “Oh, kau sedang mencari wanita itu? Baiklah, aku akan kembali bekerja saja.” kata Bibi pemilik restoran dengan wajah kecewa yang dibuat-buat. “Ara, kau—” “Duduk saja di sana, aku sedang sibuk! Kau mau pesan apa? Sup daging sapi, kan? Bibi! Satu sup daging sapi lagi!” Ara bahkan tidak membiarkan Bryan menyelesaikan perkataannya dan langsung pergi untuk melayani pembeli yang lain. “Ya ampun, gayanya itu seperti dia pelayan paling hebat di dunia,” gumam Bryan, masih sambil terus mengamati setiap gerakan Ara. Jam makan siang yang sibuk akhirnya berlalu. Satu per satu pembeli meninggalkan restoran itu hingga akhirnya hanya Bryan satu-satunya pembeli yang tersisa di restoran tersebut. Ia menghabiskan sisa air di gelasnya lalu menghampiri Bibi pemilik restoran yang sedang mengistirahatkan dirinya di depan kipas angin di balik meja kasir⸺masih sibuk mengipasi wajahnya yang penuh keringat dengan kertas brosur meski kipas angin yang menyala sudah terarah langsung padanya. “Bibi…” ”Bryan, duduklah di sini! Panas sekali kan cuacanya?” Bibi itu menarik tangan Bryan agar menduduki kursi kosong di sebelahnya. “Ara, tolong ambilkan 2 bungkus es krim di dalam lemari pendingin. Ah, kau juga ambillah untuk dirimu sendiri!” Ia berseru pada Ara yang sedang mencuci piring. Terdengar sahutan wanita itu dan beberapa saat kemudian ia muncul dengan dua buah es krim rasa coklat.  Ara hanya menatap Bryan sekilas sementara Bryan terus saja memandanginya. Ia tidak bisa membaca ekspresi wanita itu karena separuh wajahnya tertutup masker. Namun melihat bagaimana kaos yang dikenakan wanita itu basah oleh keringat, Bryan membayangkan jika di balik maskernya itu Ara sedang cemberut karena kelelahan. “Bibi, apa yang dia lakukan di sini?” tanya Bryan setelah Ara kembali ke belakang untuk melanjutkan mencuci piring. “Dia bekerja paruh waktu di sini.” “Bekerja paruh waktu?” tanya Bryan tak percaya yang langsung diangguki oleh pemilik restoran. “Dia bekerja sampai sore hari, kemudian digantikan oleh Riu. Dia membantuku mencuci piring dan melayani pembeli.” “Jam berapa tepatnya dia selesai bekerja?” Bibi pemilik restoran melihat jam dinding dengan kedua mata menyipit. “Jika Riu datang tepat waktu… Sekitar 2 jam lagi.”   ***   Matahari sudah hampir terbenam. Meski cuacanya tidak panas lagi, namun Ara tampak kepayahan membawa tubuhnya menaiki puluhan anak tangga untuk sampai di apartemen Bryan. Ia beberapa kali berhenti, berjongkok di salah satu anak tangga untuk mengistirahatkan kakinya lalu kembali berjalan lagi. “Bryan~” Di anak tangga tempat mereka menikmati es krim sebelumnya, tampak Bryan yang duduk sambil memainkan ponsel yang langsung mendongak saat mendengar suaranya. “Kau menungguku?” tanya Ara setelah mendudukkan dirinya di sebelah Bryan. “Siapa yang menunggumu? Aku hanya bosan di rumah.” “Benar kan, apartemenmu itu sangat membosankan! Bayangkan betapa menderitanya aku saat kau mengurungku di sana.” “Aku tidak mengurungmu! Kau bisa kabur kapan saja jika mau melihat hal menakutkan lain dari dunia ini!” Ara mendecih lalu membuka maskernya. Menggunakannya untuk mengipasi wajahnya yang berkeringat. “Mengapa kau tiba-tiba bekerja di restoran itu? Aku hanya menyuruhmu makan siang tadi, bukan bekerja di sana,” kata Bryan. “Aku memang datang untuk makan siang tadi, lalu Bibi itu menawariku pekerjaan.” “Kau yakin akan terus melakukannya? Kau bisa?” “Apa maksudmu aku bisa? Tentu saja aku bisa! Kau tidak ingat, kau terus menyuruhku cuci piring dengan sabun jelek tanpa memberiku bayaran sementara Bibi itu akan membayarku untuk piring-piring yang kucuci. Kupikir apa susahnya itu? Aku butuh uang untuk beli pembalut yang bagus, mie instan yang pakai mangkuk, bra yang ada pitanya, sabun cair yang bagus, dan juga sikat gigi yang cocok untuk gigi dan gusiku!” sahut Ara yang tujuannya lebih untuk menyindir Bryan. “Oh, itu bagus jika kau akhirnya mencari uang untuk dirimu sendiri! Aku jadi bisa menggunakan seluruh uangku untuk diriku sendiri!” ketus Bryan. “Kau sendiri, apa kau sudah mendapat pekerjaan?” “Belum. Kau pikir mendapat pekerjaan itu mudah?” “Itu mudah!” sahut Ara cepat. “Kau yang katanya sibuk mencari pekerjaan setiap hari masih menjadi penganguran seperti sekarang padahal aku saja bisa langsung mendapatkan pekerjaan tanpa perlu berusaha keras.” “Mengapa bicaramu sombong sekali? Apa menjadi tukang cuci piring itu sesuatu yang dapat disombongkan?” “Tentu saja! Itu lebih baik daripada menjadi pengangguran! Aku mulai curiga sekarang, apa sebenarnya yang kau lakukan di luar setiap hari? Apa kau benar-benar mencari pekerjaan?” tanya Ara dengan nada sanksi sambil memicingkan kedua matanya. “Tentu saja aku mencari pekerjaan! Mencari pekerjaan yang sesuai dengan kriteriaku itu tidak mudah, memangnya kau pikir aku mau jadi tukang cuci piring?” “Oho! Dengar siapa yang bicara! Aku tahu masa lalumu sebagai tukang cuci piring di restoran itu, Tuan Bryan!” “I-itu… Itu hanya masa lalu! Saat itu aku masih muda dan asal mencari pekerjaan saja. Kalau sekarang ini kan tanggung jawabku sudah banyak.” Bryan mengulurkan tangan kirinya, lalu mulai menghitung dengan jari-jarinya. “Tagihan listrik, air, gas, membeli keperluan rumah, keperluan sehari-hari, makanan, macam-macam iuran, asuransi… Apa menurutmu aku bisa membayar semua itu jika aku hanya seorang tukang cuci piring di restoran kecil? Aku harus mencari pekerjaan yang gajinya besar untuk menutupi semua pengeluaran itu!” Ara mengangkat bibir bawahnya hingga dagunya tampak berkerut-kerut. “Ternyata hidup seperti ini rumit sekali.” “Itu benar! Sangat rumit! Karena itu, kau harus bersyukur karena terlahir dari orang tua yang bisa memenuhi semua kebutuhanmu dengan baik” “Ya. Aku bersyukur karena orang tuaku melahirkanku ke dunia ini sebagai putri tunggal yang sangat kaya dengan segala kecantikan yang sudah kubawa dari lahir ini.” “Kau mulai bicara omong kosong!” “Tidak, ini bukan omong kosong! Untuk yang satu ini aku benar, kan? Aku sangat cantik, kan?” “Hmm, kau sangat cantik! Tapi kau bukan tipeku!” Bryan lalu bangkit. “Ayo masuk dan siapkan makan malam!” Ara mengulurkan tangan kanannya, membuat Bryan menariknya hingga ia berdiri lalu mereka berjalan beriringan kembali ke apartemen. “Siapa yang akan cuci piring nanti?” “Tentu saja kau. Kita sudah sepakat itu menjadi tugasmu, kan?” “Tapi aku sangat lelah! Aku sudah mencuci sangat banyak piring tadi. Itu sekitar seribu piring, tahu! Aku sudah bosan!” “Kau tidak boleh bosan! Itu akan jadi rutinitasmu mulai sekarang!” “Bryan~ Ayo kita suit saja! Yang kalah harus cuci piring.” Ara yang malang... Kau seharusnya bisa belajar dari pengalaman, kan?     *** ‘Bryan, selamat pagi! Aku harus berangkat kerja sebelum pukul 7 untuk membantu Bibi melayani pembeli yang datang untuk sarapan. Roti tawarnya hanya tersisa 3 lembar, karena kau tidak mungkin hanya makan 1 lembar roti tawar, maka aku makan semuanya. Karena buru-buru, aku tidak sempat mencuci piring dan gelas kotorku. Tolong urus itu, ya! Hari ini kau harus mendapat pekerjaan yang bagus dan jangan lupa beli roti untuk sarapan besok. Sampai jumpa nanti^^’ Saat bangun tidur pagi ini, Bryan tidak menemukan Ara di tempat tidurnya. Yang ia temukan justru secarik kertas berisi pesan Ara yang ditempel di pintu lemari pendingin. “Lalu aku harus sarapan apa? Orang itu benar-benar masih belum memahami konsep berbagi, uh!” Bryan menuang s**u vanilla ke dalam gelasnya dan meneguknya perlahan sambil tetap berdiri di depan lemari pendingin. “Aneh sekali jika pagi hari di apartemen ini menjadi setenang ini.”     ***     Bryan memasuki ruang kerja Nathanyang langsung menyambutnya dengan hangat. Saat sedang berkeliling mencari pekerjaan tadi, Nathan meneleponnya dan menawarinya pekerjaan yang mungkin akan membuatnya tertarik. “Ada sebuah proyek di luar kota yang sedang perusahaan kami tangani. Ini adalah proyek yang sangat besar dan kami telah mengirim karyawan terbaik kami untuk menanganinya secara langsung di sana. Namun tetap saja kami kekurangan orang dan tiba-tiba aku teringat padamu.” “Proyek di luar kota? Apa itu artinya kau ingin mengirimku ke sana?” tanya Bryan. “Ya, tidak lama. Hanya sekitar 1 minggu. Tapi jika kalian bisa menanganinya dengan cepat, maka kalian akan kembali ke sini lebih cepat,” jelas Nathan. “Aku tahu kemampuanmu, Bryan. Karena itulah aku langsung terpikirkan olehmu dan mengharapkan bantuanmu. Soal bayaran, aku akan memberikan yang pantas untuk ukuran direktur dari perusahaan besar sepertimu.” Bryan terdiam cukup lama saat memikirkan tentang Ara. Meski satu minggu itu tidak lama, memangnya anak manja yang ada di apartemennya itu bisa ditinggal sendirian tanpa membuat masalah yang akan membuat dirinya repot nantinya?       **To Be Continue**        
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD