Tuan Putri Kesayangan

1215 Words
“Kau kelihatan sangat cantik hari ini, Ara.” Dengan penampilannya hari ini, Ara sudah menerima pujian seperti itu dari banyak orang. Dari mama dan papanya, dari Josh, dari para pelayannya. Namun tidak ada yang bisa menggetarkan hatinya hingga membuatnya hampir menangis seperti yang Bryan lakukan saat memujinya dengan suara pelan yang terdengar serak. “Apa kau baik-baik saja?” tanya Ara yang tidak bisa menahan rasa cemasnya saat melihat lebam di mata kiri Bryan. Tangan kanannya terulur, menyentuh pipi kiri Bryan dengan sangat hati-hati seolah khawatir sentuhannya akan menyakiti pria itu. “Kau kelihatan baik-baik saja.” Bryan berkata dengan mengacuhkan pertanyaan Ara sebelumnya sambil tangan kirinya menggenggam tangan kanan Ara yang masih ada di pipinya. “Kau bermain dan tertawa dengan bahagia bersama mama dan papamu dan juga makan banyak makanan lezat sesuka hatimu. Aku senang melihat bagaimana kau begitu menikmati harimu bersama orang tua yang kau rindukan.” “Dasar bodoh!” Tangan kanan Ara masih berada dalam genggaman Bryan di atas pipi pria itu sementara tangan kirinya memukul d**a Bryan dengan kedua matanya yang dengan cepat berkilat oleh genangan air mata. “Kau membuatku cemas sejak kemarin! Menurutmu bagaimana bisa aku benar-benar bahagia saat aku melihatmu dipukuli sampai babak belur seperti itu?” Air mata yang seharian ini Ara tahan dan sembunyikan dengan baik di balik keceriaan yang menenangkan hati orang tuanya kini ia biarkan mengalir begitu saja. Tidak lagi menahan tangisan yang membuatnya terisak-isak di hadapan Bryan. Bryan hanya diam melihat Ara yang menangis karena terlalu mencemaskannya. Mengingat betapa cengengnya wanita itu, rasanya Bryan sudah melihat Ara menangis jutaan kali saat mereka tinggal bersama. Namun tidak ada yang terasa semenyakitkan saat ia melihat tangisan wanita itu sekarang. “Aku mengikutimu seharian ini dan melihat dengan mataku sendiri bagaimana orang tuamu memperlakukanmu,” kata Bryan sambil kedua telapak tangannya menghampiri wajah Ara dan membantu wanita itu menghapus air matanya meski Ara belum berhasil menghentikan isakannya yang kini justru membuatnya jadi cegukan saat ia berusaha keras untuk menahannya. “Mereka mendandanimu dengan cantik dan pakaian yang manis seperti ini.” Bryan berkata sambil memperhatikan baju terusan yang terlihat sangat manis untuk Ara. Membuatnya jadi merasa bersalah saat memberikan pakaian seadanya miliknya untuk wanita itu selama mereka tinggal bersama. Membiarkan Ara berjalan ke mana-mana dengan pakaian miliknya yang kebesaran untuk wanita bertubuh mungil itu tanpa memikirkan apa wanita itu merasa malu atau tidak dengan penampilannya yang seperti itu. “Mereka membelikanmu semua makanan yang kau inginkan. Membelikanmu es krim yang sangat besar. Dan bahkan menyuapimu dengan penuh kasih sayang.” Melihat bagaimana Mama dan Papa Ara menunjukkan kasih sayangnya pada Ara dengan menyuapi makanan-makanan lezat untuk wanita itu membuat Bryan jadi sedih saat membandingkannya dengan apa yang selama ini ia berikan untuk Ara selama mereka tinggal bersama. Roti dan s**u untuk sarapan. Mie instan untuk makan siang. Dan makanan apa saja yang ia beli di pinggir jalan dalam perjalanan pulang untuk makan malam. Ara selalu mengeluh namun tetap menerima semua pemberiannya karena tidak diberi pilihan lain untuk menolak. “Mereka selalu menggandengmu dan membiarkanmu melakukan apapun yang bisa membuatmu senang.” Bryan yang membuntuti Ara sepanjang hari ini tahu pasti betapa melelahkannya mengikuti keinginan bermain wanita itu. Namun mama dan papa Ara yang sudah berumur itu—yang tentu saja akan merasa lebih lelah dari yang bisa Bryan rasakan—sama sekali tidak berhenti tersenyum saat melihat Ara yang menikmati waktu bermainnya. Itu membuat Bryan jadi tidak bisa berhenti mencela dirinya sendiri saat ingat bagaimana ia begitu sering membentak dan membuat Ara menangis. Membuat wanita itu ketakutan dan merasa frustrasi. “Orang tuamu benar-benar memperlakukanmu seperti tuan putri seperti itu, berani-beraninya aku yang hanya bisa membuatmu sedih dan menangis ini berpikir untuk merebutmu dari mereka dan membawamu kabur agar bisa kumiliki seutuhnya hanya untuk diriku sendiri.” “Bryan...” Ara menyebut nama Bryan dengan suara berbisik yang terdengar tak percaya saat melihat pria galak di hadapannya ini menitikkan air mata di penghujung kalimatnya. “Aku tidak bisa memperlakukanmu sebaik yang dilakukan orang tuamu atau mencintaimu sesempurna mereka. Namun meski aku sadar memiliki begitu banyak kekurangan, aku tetap ingin bersamamu. Aku tetap ingin terus mencintaimu dengan diriku yang banyak kekurangan ini.” Kotak bianglala yang mereka naiki berhenti tepat di puncak yang tertinggi. Berbagai macam suara ramai yang memenuhi taman bermain itu tidak lagi terdengar oleh Ara saat yang memenuhi pendengarannya saat ini adalah suara tangisan Bryan. Ara pikir Bryan adalah pria galak yang hanya tahu caranya membuat dirinya takut dengan bentakan dan kemarahannya. Namun ternyata, pria itu juga bisa membuat hatinya ikut merasa hancur dengan tangisannya yang menyayat hati seperti ini. “Aku mencintaimu. Aku benar-benar sangat mencintaimu, Ara...” Bryan masih terisak, namun kembali mengangkat kedua telapak tangannya untuk membingkai wajah Ara. Menariknya mendekat hingga bibir Ara nyaris menyentuh bibirnya yang masih tertutup oleh masker. “Maafkan aku...” Ara tidak tahu untuk apa permintaan maaf itu terucap dari bibir Bryan. Namun sebelum ia sempat berpikir untuk menemukan jawabannya, Bryan menciumnya dengan bibir yang masih terhalang masker. Bianglala yang mereka naiki perlahan bergerak turun. Kedua telapak tangan Bryan yang menangkup pipi Ara terasa dingin namun air matanya yang mengalir di antara ciuman itu terasa begitu panas. Seolah ada kesedihan yang begitu besar yang membakar hatinya hingga membuat air matanya jadi terasa sepanas itu. “Kau sudah pulang sekarang.” Bryan kembali berbisik setelah menyudahi ciuman tidak langsung itu. Kedua mata sembabnya tidak bisa berbohong tentang seberapa besar kesedihannya saat ini meski ia berusaha begitu keras untuk bisa menghentikan tangisannya. “Kau harus jadi lebih bahagia dari sebelumnya. Seperti saat kau belum bertemu denganku yang hanya tahu caranya membuatmu sedih dan menangis ini.” “Bryan!” Ara menahan kedua tangan Bryan untuk tetap berada di pipinya saat ucapan pria itu seperti menyiratkan perpisahan yang langsung membuat hatinya berdenyut sakit. “Maaf karena aku memperlakukan wanita seberharga dirimu dengan sangat buruk selama ini, Ara.” Bryan melepaskan tangannya dengan gerakan yang terasa lemah, namun Ara bahkan jadi lebih lemah dari pria itu untuk dapat mempertahankannya karena perkataan Bryan yang menyiratkan keputusasaan itu. “Maafkan aku. Aku mencintaimu, Ara.” Ara belum sempat mengatakan apapun saat pintu bianglala yang entah sejak kapan telah kembali ke bagian paling bawah itu terbuka. Membuat Bryan bisa segera keluar dan melarikan dirinya dari Ara sebelum air mata yang kembali merebak di kedua matanya jatuh di hadapan Ara. “Dia bahkan tidak membiarkanku bicara,” lirih Ara sambil menatap punggung Bryan yang terus menjauh dengan pandangannya yang disamarkan oleh genangan air mata. “Dia... Sampai akhir dia tetap jadi pria jahat.” Di dalam bianglala yang menjadi saksi perpisahannya dengan Bryan, Ara melepaskan kesedihannya dengan tangisan keras yang membuat mama dan papanya berlari menghampirinya dengan khawatir. Sama-sama kebingungan karena putri kesayangan mereka yang terus tertawa sepanjang hari kini justru menangis meraung-raung begitu selesai menaiki bianglala yang merupakan salah satu wahana favoritnya. “Sepertinya aku sudah membuat keputusan yang salah,” gumam Josh dengan wajah sendu saat menatap Ara yang tidak bisa menghentikan air matanya meski kini mama dan papanya sudah memeluknya untuk menenangkannya. Namun tatapan pria yang sudah bertahun-tahun mengabdikan dirinya sebagai pengawal Ara itu berubah tajam saat ia melihat punggung Bryan yang sudah berada jauh di depannya. “Dia pasti kurang puas dihajar oleh papanya sampai berani membuat nona mudaku menangis seperti ini.”       **To Be Continue**        
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD