Calon Yang Lain

1530 Words
“Sepertinya sudah sangat lama sejak terakhir aku menggendongnya. Dia jadi sangat berat sekarang,” komentar Papa setelah membaringkan tubuh Ara di atas tempat tidur. Wanita itu tertidur di dalam mobil dalam perjalanan pulang setelah kelelahan menangis. Mama menyelimuti tubuh Ara lalu dengan pandangan sendu mengulurkan telapak tangannya untuk kemudian dengan hati-hati menyeka sisa-sisa air mata dan keringat di wajah wanita itu. “Dia berusaha keras tertawa dan terlihat bahagia sepanjang hari agar kita tidak khawatir sementara hatinya sedang sehancur ini. Anak malang ini pasti sangat menderita sekarang karena dipisahkan dengan pria yang dicintainya.” “Kita akan melimpahinya dengan banyak kebahagiaan dan itu akan segera membuat Ara lupa pada pria itu.” Mama mengalihkan perhatiannya pada Papa. Menatap suaminya itu dengan tatapan memohon saat berkata, “Tidak bisakah kita berikan mereka kesempatan sekali lagi?” Papa tidak langsung menjawab. Ia menunduk untuk menatap Ara, mengarahkan tangannya untuk membelai kepala wanita itu sebelum kembali menatap Mama. Tersenyum lembut dengan cara yang tampak getir pada istrinya itu. “Tidak akan sampai 6 bulan. Biarkan aku menjadi egois dan terus bersama malaikatku ini di sisa waktu yang kumiliki.” Ucapan Papa membuat Mama harus menahan gejolak emosinya yang membuat urat-urat di lehernya jadi nampak jelas. Wanita itu meletakkan tangannya di atas punggung tangan Papa dan berbisik lirih, “Kau akan sembuh dan kita akan punya banyak waktu untuk terus bersama malaikat ini.” Perkataan yang maksudnya untuk membesarkan hatinya itu justru membuat senyuman Papa jadi terlihat semakin getir. “Aku tidak bisa lagi mempercayai siapapun untuk menjaga Ara, tapi anak ini butuh seseorang yang akan menggantikanku untuk menjaganya kelak. Bahkan meski mereka saling mencintai, fakta bahwa Bryan sudah berbohong dan membuat kita menderita selama 2 bulan ini tidak bisa membuatku berhenti merasa sakit hati.” Mama yang selama ini selalu ada di sisi Papa tentu paling mengerti sebesar apa penderitaan dan kesedihan pria itu selama Ara menghilang. Papa harus menanggung kesedihan yang begitu besar di tengah proses pengobatannya hanya untuk mengetahui jika kondisinya jadi semakin buruk dari waktu ke waktu dan tidak dapat disembuhkan lagi. “Aku akan memenuhi tugasku padanya sampai akhir.” Papa berkata seolah ia telah membuat keputusan mutlak yang tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun—bahkan oleh Mama yang terus menatapnya penuh permohonan. “Ara akan bersama pria yang dicintainya. Menikah dan memiliki anak dari laki-laki itu. Tapi itu nanti setelah kematianku. Sampai akhir, aku ingin Ara hanya jadi putri kecilku saja. Itu adalah permohonan terakhirku sebagai papanya.”     ***     Bryan berbaring miring di atas kasur lantainya sambil menatap tempat tidurnya yang kosong. Meski tidak ada lagi Ara yang akan berebut tempat tidur itu dengannya, namun pria itu memilih untuk berbaring di lantai seolah sengaja mengosongkan tempat tidur tersebut untuk Ara. Seolah Ara yang telah ia tinggalkan itu akan masuk ke kamarnya dan berbaring di atas tempat tidurnya dengan memakai pakaian miliknya yang kebesaran seperti biasanya yang mereka lalui selama 2 bulan ini. “Kau sudah di rumahmu sekarang,” gumam Bryan seolah ada Ara di atas tempat tidurnya yang mendengarkan ucapannya. “Kau pasti sedang tidur di atas tempat tidurmu yang nyaman di dalam kamarmu yang hangat sekarang. Di rumah mewah yang ada papa dan mama yang sangat mencintaimu. Bahkan meski tadi kau menangis karena patah hati, namun semua kebahagiaan itu pasti akan membuatmu segera melupakanku dan kau akan kembali menjadi Ara seperti sebelum bertemu denganku, kan?” Bryan sadar ia berpikir seperti itu untuk mengurangi rasa bersalahnya karena telah meninggalkan Ara seperti ini. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, ia tidak bisa berhenti mengutuk dirinya sendiri karena lagi-lagi menciptakan kesedihan untuk Ara. “Kau memang sangat cengeng, tapi wanita yang periang sepertimu tidak akan tahan untuk bersedih terlalu lama.” Sekali lagi, Bryan berusaha untuk meyakinkan dirinya jika Ara akan baik-baik saja nanti meski kini perpisahan mereka mematahkan hati wanita itu. “Kuharap kau bisa segera melupakanku, Ara. Karena ini begitu menyakitkan, jadi biarkan aku saja yang merasa menyesal dan terus mencintaimu bahkan setelah aku memutuskan perpisahan ini.”     ***     Setelah tubuhnya kelelahan karena bermain seharian, Ara tidur sangat lelap di atas kasur empuknya yang nyaman. Benar-benar tidur sangat nyenyak dan baru terbangun saat jam telah menunjukkan pukul 11 siang. Dengan rambutnya yang berantakan, Ara duduk bersila di tengah-tengah tempat tidurnya. Menatap lantai di sebelah tempat tidurnya yang membuatnya menghela napas saat tidak mendapati kasur lantai Bryan di sana. Tentu saja di dalam kamar mewahnya ini tidak mungkin ada kasur lantai apalagi Bryan yang berbaring di atasnya. Namun hatinya yang masih bersedih dan tidak bisa menerima perpisahan ini malah berharap ada Bryan yang berbaring di atas kasur lantainya di bawah sana. “Dia tidak butuh kasur lantai itu lagi. Dia bisa kembali tidur di tempat tidurnya sekarang,” gumam Ara sambil berusaha menghentikan dirinya untuk membayangkan ada Bryan yang berbaring di atas lantai kamarnya. “Selamat pagi, Putri Tidurku!” Saat hendak menuju dapur, Ara berpapasan dengan Josh yang sudah rapi dengan setelan jasnya. “Aku baru akan pergi ke kamarmu karena kupikir kau kena kutuk dan tidak akan bangun jika tidak dapat ciuman dariku.” “Ini masih pagi, lho!” Ara memperingati Josh dengan suara seraknya. Tidak ingin ribut dengan pengawalnya itu saat kepalanya masih pusing karena baru bangun tidur. “Ini sudah siang, lho!” Josh menunjuk jam dinding untuk mengingatkan Ara jika wanita itu bangun kesiangan hari ini. “Mama dan Papa mana?” tanya Ara setelah mendudukkan dirinya di kursi meja makan sementara Bibi Lily dengan sigap langsung menyiapkan sarapan yang kesiangan untuk nona mudanya itu. “Papa cari uang, Mama menghabiskan uangnya Papa. Seperti biasa,” sahut Josh yang membuat Ara mencebikkan bibirnya karena tidak diajak keluar oleh mamanya. “Mau ikut jalan-jalan denganku saja?” “Tidak mau!” tolak Ara, membuat Josh mengerutkan keningnya heran karena biasanya nona mudanya itu paling suka jika diajak jalan-jalan. “Aku sedang patah hati, lho. Aku mau kembali ke kamarku saja dan menangis sambil mendengarkan lagu-lagu sedih.” “Anak kecil sepertimu memangnya bisa patah hati?” ejek Josh. “Mandi sana! Kuajak jalan-jalan dan kubelikan es krim nanti.” “Bujukan macam apa itu? Memangnya aku anak kecil?” “Memangnya bukan?” Ara mendengus kesal karena Josh yang tidak berhenti menggodanya saat dirinya sedang dalam mode mood patah hati seperti sekarang. “Bibi, pukul orang jahat ini dengan wajanmu!” pinta Ara pada Bibi Lily yang meletakkan piring berisi sarapan di hadapannya. “Berhentilah menggoda Nona Muda. Kau tidak ingat bagaimana kau menangis setiap hari saat Nona hilang, uh?” kata Bibi Lily yang membuat Josh melotot padanya sementara Ara menatapnya penuh minat. “Kapan aku pernah menangis?” sangkal Josh tak terima. “Setiap hari,” sahut Bibi Lily sebelum menunjuk salah satu sudut dapur. “Itu, kau biasa menangisi Nona Muda di sana setiap malam karena kesepian tidak punya teman bertengkar.” “Bohong!” Josh menyangkal dengan keras saat melihat Ara yang seperti mempercayai bualan Bibi Lily yang sedang menggodanya. Memang benar dirinya sangat sedih dan kesepian saat Ara menghilang, tapi tentu saja tidak sampai menangis di pojokan dapur setiap malam. “Kakak pasti benar-benar mencintaiku, ya?” tanya Ara yang membuat Josh melotot padanya. “Mana ada yang begitu?!” “Ah~ Aku jadi merasa bersalah karena selama pergi dari rumah tidak pernah memikirkan Kakak sekali pun.” “Kau tidak pernah memikirkanku? Tidak sekali pun?” tanya Josh tak percaya yang dijawab dengan anggukan polos oleh Ara sementara Bibi Lily terkekeh pelan melihat ekspresi kecewa Josh. Rasanya ia benar-benar merindukan pertengkaran antara nona muda dan pengawalnya yang selalu meramaikan rumah ini setiap hari. “Ara sudah bangun, ya?” “Oh?” Ara yang mendengar suara mamanya langsung menghentikan perdebatannya dengan Josh. Memasang ekspresi ceria di wajah baru bangun tidurnya sambil merentangkan kedua tangannya yang membuat mamanya menghampirinya untuk memeluknya. “Jalan-jalan, ya? Kok tidak mengajakku?” “Tidak jalan-jalan, kok. Ada urusan sebentar,” sangkal Mama yang tidak menjelaskan secara rinci jika dirinya baru saja menemani Papa ke rumah sakit. “Kalau begitu setelah ini ayo pergi jalan-jalan!” ajak Ara dengan riang yang membuat perkataannya tentang mood patah hati sebelumnya jadi terasa sebagai bualan saja. “Kak Josh bilang mau mengajakku jalan-jalan setelah ini.” “Tapi kau kan tidak mau. Katanya mau di kamar saja mendengarkan lagu sedih dan—“ “Mau, kok! Mau!” potong Ara cepat sebelum Josh mengatakan tentang patah hatinya di depan Mama. Sudah susah payah berakting seceria ini jika Josh membahas tentang patah hatinya maka semuanya akan sia-sia. “Aku mandi dulu, ya. Mama ikut juga. Kak Josh bilang akan mentraktir es krim.” Josh mencibirkan bibirnya. “Padahal tadi bilang tidak mau.” “Tadi kan baru bangun tidur, jadi masih capek. Kalau sekarang kan sudah segar,” sahut Ara seraya bangkit dari duduknya. “Aku pergi mandi, ya.” “Dia cepat sekali berubah pikirannya,” gumam Josh. “Kalau begitu aku akan memanaskan mobil terlebih dahulu.” “Josh.” “Ya, Nyonya?” Josh mengurungkan langkahnya saat Mama memanggilnya. Majikannya itu menatapnya dengan serius untuk beberapa saat sebelum mengatakan sesuatu yang membuat kedua matanya terbelalak tak percaya. “Apa kau bersedia jika seandainya kami menikahkanmu dengan Ara?”     **To Be Continue**      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD