Putus Hubungan

1493 Words
Bryan sudah jadi putra papanya sejak lahir, yang artinya sudah 28 tahun ia hidup bersama pria itu. Namun tidak peduli selama apa ia telah bersama papanya, rasa canggung itu akan tetap ada saat dirinya hanya berduaan saja dengan papanya seperti ini. “Memangnya separah itu?” tanya Papa yang melihat bagaimana Bryan berjalan menghampirinya dengan langkah terpincang-pincang. “Kupikir yang patah hanya tanganmu saja. Kakimu juga sakit?” “Oh, tidak. Ini tidak sakit sama sekali,” kata Bryan yang jadi berani bicara lancang pada papanya saat melihat ada kamera cctv di dekat situ. Sepertinya juga sengaja ingin memancing emosi papanya agar kembali menghajar dirinya jadi ia bisa melaporkan pria itu ke polisi dengan bukti rekamn cctv. “Jika dibandingkan hatiku yang hancur karena perlakuan papa kandungku sendiri, tangan dan kakiku yang patah ini sama sekali tidak ada apa-apanya.” Bryan seharusnya berhenti di sana saat melihat papanya mengerutkan wajah dengan ekspresi tidak senang. Namun memang dasar mulut sialan warisan papanya, ia justru menyiram bensin di atas kobaran api saat menambahkan, “Atau yang memukulku tadi memang bukan papa kandungku. Di mana ya laboratoriumnya? Sepertinya aku butuh tes DNA sekarang.” Papa menghela napas panjang sambil memalingkan wajahnya dari Bryan. Tidak tahan dengan rasa bersalah yang menggerogoti hatinya saat melihat wajah putra semata wayangnya yang babak belur karena ulahnya sendiri. “Mereka sudah menikah lebih dari 20 tahun saat akhirnya anak perempuan yang manis itu lahir.” Ucapan Papa membuat Bryan berhenti menggerutu dalam hati. Ia menegakkan tubuhnya dan memusatkan perhatiannya pada apa yang akan Papa katakan saat sadar jika pria itu sedang membicarakan Ara sekarang. “Sebelum Ara lahir, mereka benar-benar sudah hampir menyerah. Bahkan sudah memutuskan untuk menjadikan dirimu sebagai pewaris mereka karena tidak ada lagi keturunan atau kerabat yang bisa mereka percaya.” Ucapan Papa membuat Bryan jadi berpikir tentang seerat apa hubungan papanya dengan Papa Ara hingga pria itu bisa berencana untuk menjadikan dirinya yang bukan siapa-siapa ini sebagai ahli waris. Bryan banyak mendengar tentang keluarga Ara dari papanya, namun tidak sering bertemu mereka. Bahkan dengan putri keluarga itu dirinya hanya bertemu beberapa kali saat kecil sebelum akhirnya kembali dipertemukan sebagai calon pengantin yang dijodohkan. “Mereka sangat menyayangi Ara, namun juga memiliki banyak kekhawatiran tentang apa yang akan terjadi pada anak itu saat orang tuanya yang sudah tua tidak dapat menjaganya lagi.” Papa lalu menoleh pada Bryan, menghela napas panjang saat melihat wajah tertunduk Bryan yang tampak terpekur. “Karena itulah akkhirnya kami memutuskan untuk menjodohkan kalian. Agar kau bisa menjaga Ara dan perusahaannya saat orang tuanya tidak dapat lagi melakukan hal itu. Tapi...” Bryan menoleh pada papanya saat pria itu menggantungkan ucapannya. Wajah yang menatapnya itu terlihat penuh sesal dan kekecewaan saat berkata, “Coba lihat apa yang telah kau lakukan pada anak perempuan kesayangan mereka. Kau pikir itu sesuatu yang dapat dimaafkan?” “Aku sama sekali tidak menyakiti Ara. Aku hanya—“ “Daripada membela diri seperti itu, kau seharusnya berlutut dan memohon ampun pada orang tua Ara. Kau tidak pernah berubah. Demi melindungi dirimu sendiri kau hanya selalu mencari pembenaran.” Bryan mengepalkan kedua tangannya. Rasanya tidak ada gunanya juga bicara dengan papanya karena sejak awal tidak peduli apapun kebenarannya pria itu sepertinya hanya ingin menjadikan dirinya sebagai pihak yang bersalah. “Perjodohannya sudah dibatalkan. Kau pasti senang karena tidak perlu bertemu dengan Ara lagi, kan?” Bryan ingin membantah, namun papanya tidak memberinya kesempatan untuk bicara. “Kau tidak perlu menikah. Tidak perlu pergi bekerja di perusahaanku lagi. Dan tidak perlu lagi memaksakan diri untuk berhubungan dengan papa yang tidak kau sukai ini. Lakukan semuanya sesukamu. Aku benar-benar sudah menyerah pada anak yang tidak bisa diatur seperti dirimu.” Bryan melihat bagaimana wajah papanya benar-benar terlihat lelah dan kecewa saat pria itu berbalik meninggalkannya. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, hatinya merasa sangat sakit melihat papanya meninggalkannya seperti ini. “Lakukan tes DNA terlebih dahulu!” seru Bryan yang membuat Papa menghentikan langkah tanpa membalikkan badan menghadapnya. “Pastikan kita tidak ada hubungan apapun jadi aku bisa pergi dengan perasaan lega!” Di telinga siapapun, perkataan yang Bryan ucapkan pada papanya ini akan terdengar sangat tidak berperasaan. Namun lihatlah, bagaimana kedua matanya yang digenangi air mata itu tidak dapat menutupi hatinya yang hancur karena papanya yang menyerah seperti ini pada dirinya. “Apa kau papaku?” Bryan kembali berseru saat melihat papanya melangkah meninggalkannya tanpa sedikit pun menoleh padanya meski suara isakan Bryan terdengar sangat jelas di tempat itu. “Apa kau benar-benar papa kandungku? Mengapa kau tega melakukan ini padaku?!” Papa sama sekali tidak menoleh meski suara jeritan dan isakan Bryan terdengar memenuhi koridor yang sepi. Pria itu baru berhenti melangkah setelah berbelok dan menyembunyikan dirinya di balik dinding. Menangis seorang diri menyesali kegagalannya yang telah membesarkan anak nakal seperti Bryan.     ***     “Bryan! Kau mau ke mana? Hentikan, Sayang! Bryan!” Bryan mengabaikan perkataan mamanya dan terus mengemasi baju-bajunya ke dalam ransel sebelum mencangklongnya di pundaknya. “Kau mau ke mana?” Mama berdiri di depan pintu kamar perawatan VIP untuk menghalangi Bryan sebelum putranya itu benar-benar pergi. “Kau masih harus menjalani perawatan dan melakukan terapi untuk—“ “Sudah selesai!” Bryan memotong ucapan mamanya dengan nada yang terdengar dingin. “Aku dan Papa sudah selesai, jadi—“ “Apanya yang sudah selesai? Memangnya kau pikir bagaimana hubungan ayah dan anak bisa diakhiri seperti ini?!” Bryan memejamkan kedua matanya sementara tangan kirinya menggenggam erat tali ransel di dadanya. Biasanya mamanya akan selalu ada pihaknya setiap kali dirinya bertengkar dengan papanya. Namun sepertinya sekarang wanita itu juga ikut merasa marah pada dirinya yang mengakhiri hubungan dengan papanya seperti ini. “Kau selalu menyimpan dendam dalam waktu yang sangat lama pada papamu sementara dia akan selalu memaafkanmu setiap kali kau minta maaf padanya. Tanpa kau sadari, meski kau sering membuat masalah namun papamu akan selalu mengalah padamu.” “Jadi Mama membela Papa sekarang?” “Kau tidak kasihan melihat Mama berada di tengah-tengah pertengkaran kalian terus?” Mama meraih tangan kiri Bryan dan menggenggamnya dengan lemah. “Kali ini kau yang salah, Sayang. Minta maaflah pada papamu agar—“ “Dia yang tidak menginginkanku lagi!” Suara Bryan terdengar melengking saat menyela ucapan mamanya. Pria itu bahkan tidak sadar jika suara kerasnya membuat air mata yang berasal dari rasa sakit hatinya telah merembes dari kedua matanya. “Aku benar-benar muak sekali... Ini benar-benar melelahkan...” Mama menggigit bibir bawahnya saat melihat Bryan yang mulai meracau. Situasi dan apa yang Bryan katakan sekarang mengingatkannya pada pria itu saat akan meninggalkan rumah setelah bertengkar hebat dengan papanya 10 tahun lalu. Hari itu Bryan pergi dari rumah dengan membawa sakit hati yang sangat besar pada papanya yang sepertinya sampai hari ini pun masih belum sembuh dan justru menjadi semakin parah dengan semua pertengkaran yang terjadi di antara mereka. “Sekarang sudah benar-benar berakhir,” lirih Bryan yang membuat mamanya menitikkan air mata dalam diamnya. “Tolong jangan hubungi aku untuk sementara ini. Aku akan menemui Mama lagi saat sudah siap nanti.” Mama masih berdiri diam di ambang pintu kamar perawatan VIP itu, memandangi punggung Bryan yang berjalan menjauhinya dengan langkah terpincang-pincang. Rasanya benar-benar seperti melihat putranya itu meninggalkan rumah mereka 10 tahun yang lalu setelah pertengkaran hebat tentang kebohongan yang Bryan buat mengenai kuliahnya. Membuat papanya menghajarnya habis-habisan dan mengusirnya dari rumah setelah mengetahui jika putra semata wayangnya itu sudah berbulan-bulan tidak kuliah dan hanya bersenang-senang bersama teman-temannya. “Bahkan setelah 10 tahun berlalu kau masih tetap anak nakal yang sama,” lirih Mama sambil menyeka air mata dengan punggung tangannya. “Jika terus begini rasanya bukan hanya papamu tapi Mama juga ingin menyerah saja padamu, Bryan.”     ***     Ara ingat jika semalam ia tidur dalam dekapan papanya setelah menghabiskan banyak waktu untuk melepas rindu bersama pria itu. Namun saat terbangun dari tidurnya pagi ini, ia mendapati dirinya berada di tengah-tengah dekapan hangat papa dan mamanya. Membuat wanita itu nyaris menangis saking  terharunya saat akhirnya bisa pulang dan berkumpul bersama orang tuanya lagi. Namun bunyi deringan ponsel yang berada di atas nakas membuat Ara buru-buru mendudukkan tubuhnya dan menjawab panggilan tersebut sebelum mama dan papanya terbangun. “Halo?” “Ara.” Ara langsung terdiam. Ia sepertinya lupa jika ponsel yang dibelikan oleh Bryan ini hanya menyimpan satu nomor saja. Nomor milik pria itu saja. “Bryan...” Ara menggumamkan nama itu dengan lirih. Dengan penuh kerinduan yang diiringi oleh rasa sakit saat ingatannya kembali membawanya pada kejadian saat Bryan dihajar habis-habisan di depan matanya sendiri tanpa dirinya bisa melakukan apapun untuk menolongnya. “Aku ada di dekat rumahmu sekarang.” Suara Bryan terdengar pelan dan serak. Dan Ara entah mengapa jadi membayangkan ekspresi dingin Bryan yang dulu paling sering membuatnya menangis saat mendengar suara itu. “Ara, ayo ikut kabur denganku sekarang. Aku akan membawamu ke tempat yang sangat-sangat jauh yang tidak akan bisa ditemukan oleh siapapun lagi jadi kita bisa hidup berdua dengan bahagia tanpa ada yang mengganggu.”     **To Be Continue**        
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD