Pendukung Setia

1609 Words
Hal terakhir yang Bryan ingat sebelum kesadarannya hilang adalah suara tangisan Ara yang memohon agar papanya berhenti memukuli dirinya. Dan sekarang, hal pertama yang ia dengar saat kesadarannya perlahan kembali juga suara tangisan yang terdengar begitu pilu. Bukan Ara, melainkan mamanya yang menangis sambil menggenggam erat tangan kirinya. Menyadari jika kenyataan yang telah menunggunya sangat menyedihkan, Bryan kembali menutup matanya. Rasanya tidak ingin membukanya lagi jika yang dilihatnya sekarang hanya wajah menangis mamanya yang membuatnya teringat pada Ara yang ia tinggalkan dalam kondisi yang sama. “Lihat apa yang orang jahat itu lakukan pada putra kesayanganku.” Mama sudah berhenti menangis, namun masih ada genangan air mata di kedua matanya saat ia melihat keadaan Bryan yang jadi sangat mengenaskan setelah papanya menghajarnya habis-habisan. “Mama akan menceraikannya dan kita akan hidup berdua saja mulai sekarang. Tidak usah pedulikan tua bangka sialan itu lagi!” “Mama akan jadi miskin lagi jika bercerai dengan Papa,” kata Bryan yang nada bercandanya membuat mamanya yang sedang sangat sedih itu jadi mendengus kesal padanya. “Apa pentingnya bicara harta sekarang jika Mama harus melihat putra kesayangan Mama jadi seperti ini?” Mama mengulurkan kedua tangannya, yang kemudian segera menariknya menjauh dengan wajah hampir menangis saat melihat Bryan meringis hanya karena sentuhan kecil darinya di wajah yang dipenuhi lebam dan luka itu. “Dia itu gangster atau apa? Bisa-bisanya dia melakukan ini pada anaknya sendiri? Harusnya kuracun saja dia dari dulu supaya dia tidak bisa menyiksamu seperti ini!” “Lalu siapa yang akan memeluk Mama saat tidur jika gangster itu tidak ada, uh?” “Mama tidak perlu pelukan! Mama tidak perlu suami seperti dia jika ini yang dia lakukan pada putra Mama!” Bryan menghela napas sebelum memperhatikan peralatan medis di sekitarnya dan juga tangan kanannya yang digips. Sepertinya rasa sakit yang dirasakannya sampai sekarang ini tidak berlebihan karena kelihatannya keadaannya memang separah itu setelah dihajar oleh papanya sendiri. “Ah, aku ingat tadi Papa juga memukul wajahku,” kata Bryan. “Mama, coba ambilkan cermin agar aku bisa memeriksa wajahku.” Mama mengerjapkan kedua matanya. Tahu pasti jika putra manjanya ini akan lebih hancur hatinya jika melihat wajah tampan kebanggaannya yang sekarang tidak karuan ini dibandingkan dengan patah tulang yang dialaminya. “Kau bilang ingin jadi lebih tampan lagi, kan? Mama pikir ini saat yang tepat jika kau sekalian ingin operasi plastik sekarang.” Bryan membulatkan kedua matanya. “Wajahku jadi separah itu sampai harus dioperasi?!” “Ah, bukan! Bukan begitu!” Mama berkilah seraya melambaikan kedua telapak tangannya. “Tapi... Ada Dokter Marcus di sini yang bisa mengoperasi wajahmu sampai jadi setampan Choi Si-Won jika kau mau.” Bryan memicingkan kedua matanya. “Si Tua Bangka itu benar-benar menghancurkan wajahku, kan?” tanyanya yang sekali lagi hanya membuat Mama mengerjapkan kedua matanya dengan wajah sok polos. “Mama, kau ceraikan saja orang jahat itu biar tahu rasa!” “Eii, kau bilang Mama akan jadi miskin jika sampai bercerai dengan papamu.” “Jadi tidak mau? Yang tadi hanya basa-basi saja?” cecar Bryan yang membuat Mama menggembungkan kedua pipinya sambil mengangkat kedua bahunya. “Harusnya aku tahu tidak ada yang benar-benar memihakku! Aku ini benar-benar anak paling malang di seluruh dunia!” “Sayang, jangan bicara begitu. Kau membuat hati Mama jadi sedih.” Mama kembali meraih tangan kiri Bryan dan membelai jari-jarinya dengan lembut. Wanita itu menghela napas panjang karena bahkan ada bagian yang terluka di punggung tangan Bryan saking brutalnya aksi suaminya ketika memukuli putra mereka tadi. “Tapi... Bagaimana bisa kau sampai nekad menculik—“ “Menculik apa?!” Bryan memotong ucapan mamanya tak terima. “Itu bukan penculikan, itu...” Bryan menggantungkan kalimatnya. Jika biasanya ia akan membela dirinya habis-habisan dengan melimpahkan kesalahan pada orang lain, kini ia tidak bisa melakukannya saat ingat wajah menangis Ara yang membelanya tadi. Ara yang memohon ampunan berkali-kali agar papanya berhenti memukuli dirinya. “Papamu benar-benar marah besar sekarang,” bisik Mama seolah jika ia bicara dengan suara yang normal Papa yang entah ada di mana itu bisa mendengarnya. “Dia sangat marah karena sekarang hubungannya dengan keluarga Ara jadi rusak.” “Dia yang merusaknya dengan melakukan semua ini,” kata Bryan dengan nada penuh sesal. “Andaikan dia diam saja dan membiarkan aku mengurusnya sendiri dengan Ara...” Bryan menatap mamanya, dengan jujur menunjukkan kesedihan di kedua matanya pada wanita yang telah melahirkannya itu. “Kami pasti akan kembali bersama di altar atas keinginan kami sendiri.” Mama membulatkan kedua matanya. “Kau dan Ara memutuskan untuk menikah?” tanya Mama tak percaya. “Jika ingin menikah lalu kenapa kabur dan membuat kekacauan seperti ini?” “Menurut Mama kenapa?!” Bryan balik bertanya dengan sengit. Jadi merasa kesal lagi saat ingat semua kekacauan yang telah ia lalui bersama Ara. “Kami tidak saling kenal dan kalian memaksa kami menikah hanya dengan bertemu beberapa kali. Tidakkah kalian sudah sangat keterlaluan pada anak-anak tunggal kalian?” Mama menatap Bryan dengan wajah sedih sebelum berkata, “Yang keterlaluan itu kan papamu bukan Mama. Dia yang memaksamu untuk menikah walaupun kau tidak mau.” Nah, sekarang kita tahu dari mana sifat buruk Bryan berasal. “Tapi... Apa akhirnya kau dan Ara saling jatuh cinta?” Bryan tidak langsung menjawab. Kenangannya membawanya pada hari-hari yang ia lalui bersama Ara selama menyembunyikan wanita itu di apartemennya. Ara yang awalnya banyak menangis saat bersamanya berubah jadi Ara yang banyak tertawa karena dirinya. Ara yang saat pertama kali datang ke apartemennya terasa begitu menyebalkan dan mengganggu namun kini begitu membuatnya rindu karena ketiadaannya di sisinya. “Kau tahu kan walaupun papamu itu pria tua yang jahat sekali tapi kau masih punya mama yang cantik dan akan selalu mendukungmu?” Bryan menatap mamanya dengan kedua mata berkaca-kaca. Rasanya ingin kembali jadi anak kecil saja agar ia bisa selalu bersembunyi di dalam dekapan wanita nomor satunya ini. “Anak malang itu mungkin juga sedang menangisi perpisahan kalian saat ini.” Perkataan Mama mengingatkan Bryan pada tangisan Ara sebelum dirinya kehilangan kesadaran. “Karena itu cepatlah sembuh lalu datang padanya. Lakukan semua yang kau bisa untuk membuatnya berhenti menangis. Itu adalah apa yang harus dilakukan setiap pria untuk memperjuangkan wanita yang dicintainya.” Bryan menganggukkan kepalanya. “Aku tidak akan menyerah bahkan meski Papa memukuliku lagi.” “Jika dia berani memukulmu lagi Mama akan meracunnya nanti, Sayang.” “Mama akan meracunnya sungguhan? Tidak mengatakannya hanya untuk basa-basi?” “Anak nakal ini... Jangan jadi jahat begitu! Biar Mama saja yang bicara jahat tentang papamu, kau jangan!” Bryan yang awalnya hampir merasa terharu sekarang malah dibuat tertawa, yang kemudian membuatnya meringis saat hal itu membuat perutnya yang terluka jadi terasa sakit. “Aku akan cepat sembuh dan pergi menemui Ara.” Bryan berucap seolah tengah membuat janji yang dibalas dengan anggukan oleh mamanya. “Kemudian aku akan segera membawanya kembali ke altar untuk menikahinya,” tambah Bryan yang membuat Mama berhenti menganggukkan kepala dan menatap putranya itu dengan kerutan di keningnya. “Kau tidak perlu buru-buru sembuh juga. Tinggallah di sini lebih lama. Ini kamar VIP, jauh lebih baik dari apartemenmu yang akan jadi tempatmu pulang karena orang jahat yang mengusir anaknya sendiri itu,” kata Mama yang kini gantian membuat Bryan mengerutkan keningnya. Menunjukkan dengan jelas jika dirinya tidak suka ada orang yang menghina apartemen yang ia beli dengan susah payah dari hasil kerja kerasnya sendiri. “Tentu saja aku harus segera sembuh. Ara sedang menungguku sekarang!” “Tinggallah di sini lebih lama,” pinta Mama yang wajah dan nada memelasnya saat memohon terlihat identik sekali dengan Bryan. Yang artinya dari wanita itulah sebagian besar yang ada pada diri Bryan berasal. “Mama masih kangen dengan anak manis ini. Mama hampir gila karena sekarang hanya ada papamu yang suka marah-marah di rumah.” “Aku kan juga suka marah-marah,” kata Bryan yang tumben sekali mau dengan sukarela mengakui keburukannya. “Iya, sialan sekali pria tua itu berani menurunkan sifat buruknya pada putra kesayangan Mama yang manis ini.” Perkataan Mama membuat Bryan jadi ingin tertawa lagi. Namun karena ingat pada perutnya yang sakit, pria itu jadi mendengus untuk menahannya. Ia lalu menggeser tubuhnya hingga menciptakan ruang yang kosong di atas tempat tidurnya. “Sini,” cicit Bryan sambil menepuk tempat kosong itu. “Tidur denganku.” Mama menatap Bryan beberapa saat sebelum mengacak pelan rambut putranya itu. Anak laki-lakinya yang tidak peduli berapa pun umurnya akan selamanya jadi bayi kecilnya yang manis.     ***     Bryan belum tidur saat mendengar bunyi pintu yang terbuka. Pria itu mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang datang sebelum dengan cepat kembali menjatuhkannya di bantal saat tatapannya tidak sengaja bertemu dengan Papa. Bunyi langkah kaki Papa yang mendekat membuat Bryan semakin erat memejamkan kedua matanya sambil menyurukkan kepalanya di lengan Mama. Terlihat seperti anak kecil yang sedang mencari perlindungan dari orang jahat yang ingin mengganggunya. “Kau bisa berjalan?” Bryan mengepalkan kedua tangannya saat mendengar suara papanya yang walaupun diucapkan dengan berbisik namun mampu membuat tubuhnya meremang.  “Aku melihatmu belum tidur tadi,” kata Papa. Namun tidak berhasil membuat Bryan berhenti berpura-pura sedang tidur. “Dia sudah menangis sangat banyak tadi. Jadi biarkan dia beristirahat sekarang.” Ucapan Papa membuat Bryan berhenti menarik-narik lengan mamanya, berharap wanita itu akan terbangun dan mengusir papanya dari tempat itu. Suara napas mamanya yang terdengar berat seolah menunjukkan betapa lelahnya wanita itu setelah melalui hari yang panjang ini dengan terus menangisi dirinya. “Ayo keluar dan bicara,” bujuk Papa. Masih berusaha merendahkan suaranya meski Bryan yang terus berpura-pura tidur itu mulai membuatnya jengkel. “Ini tentang Ara.” Dan memang hanya perlu satu nama itu untuk membuat Bryan mau membuka mata untuk menatap papanya.       **To Be Continue**        
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD