“Anak tidak tahu diri! Tidak berguna! Satu-satunya keahlianmu itu memang hanya membuat malu keluarga!”
Di ruang tamu rumah megah milik keluarga Ara, Papa Bryan yang berhasil menyeret putra dan calon menantunya ke tempat itu menunjukkan amarahnya di hadapan semua orang dengan menghajar Bryan habis-habisan. Terus menendangi tubuh Bryan meski putra semata wayangnya itu sudah terkapar lemah di atas lantai dengan tubuh babak belur.
“Bryan!” Sementara itu, Ara yang bersimpuh di lantai tidak jauh dari tubuh Bryan tidak bisa mendekati pria itu untuk melindunginya karena mamanya serta Bibi Lily yang menahannya. Membuatnya hanya bisa menangis meraung-raung melihat kekasihnya yang sudah tidak berdaya itu dihajar oleh calon ayah mertuanya.
“Papa!” Karena tangisannya sama sekali tidak dihiraukan oleh Papa Bryan, Ara ganti memohon pada papanya yang sejak tadi hanya duduk diam melihat kelakuan calon besan dan menantunya itu dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca di wajah dinginnya.
“Hentikan...” Ara memohon pada papanya dengan air mata yang semakin deras mengalir dari kedua matanya. “Papa, kumohon hentikan mereka...”
Papa Ara memejamkan kedua matanya, tidak tahan dengan rasa sakit yang menyerang hatinya saat ia melihat putri kesayangannya memohon sambil menangis seperti itu padanya.
“Cukup, hentikan!” seru Papa Ara, yang sayangnya sama sekali tidak dihiraukan oleh Papa Bryan. Pria itu terus menendang perut Bryan meski putranya itu sudah memuntahkan darah di lantai.
“Kubilang hentikan!”
Seruan yang sangat keras itu akhirnya berhasil membuat Papa Bryan menghentikan tendangannya. Pria itu melonggarkan dasinya sebelum menatap Papa Ara yang masih duduk di atas sofa.
“Laporkan b******n ini pada polisi.” Papa Bryan berkata sambil menggertakkan giginya saat menyebut putra semata wayang yang telah mempermalukan dirinya ini dengan ‘b******n’. “Aku sama sekali tidak akan menghentikanmu jika kau ingin melaporkan orang yang telah menculik putrimu—“
“Itu bukan penculikan!” Ara menjerit untuk menyela perkataan Papa Bryan. Membuat perhatian semua orang teralih padanya. “Itu salahku... Aku yang memaksanya untuk menyembunyikanku. Aku yang salah. Tolong jangan pukul Bryan lagi. Dia sudah sangat kesakitan.”
Wajah Papa Ara masih terlihat sangat dingin, namun kedua matanya yang berkaca-kaca saat melihat bagaimana putrinya menangis karena membela Bryan itu tidak bisa berbohong tentang keadaan hatinya saat ini. Tentang bagaimana ia merasa begitu terkhianati oleh putri kesayangannya serta calon menantu yang sangat dipercayainya.
“Pergilah!” usir Papa Ara seraya bangkit dari duduknya. “Dan jangan pernah tunjukkan wajah kalian di hadapan keluarga kami lagi!”
Papa Bryan memejamkan kedua matanya saat Papa Ara yang selama bertahun-tahun menjadi panutannya dan telah memberinya begitu banyak bantuan dalam menjalankan bisnisnya meninggalkannya seperti ini setelah memutuskan hubungan di antara mereka.
“Lihat kekacauan yang sudah kau lakukan, sialan!”
Ara kembali menjerit saat Papa Bryan kembali menendang tubuh putranya yang sudah tidak sanggup bergerak lagi. Ara memberontak, berusaha untuk menjangkau tubuh Bryan agar ia bisa mendekapnya dan melindungi pria itu yang mana hal tersebut hanya membuat Mama dan Bibi Lily semakin kuat menahannya.
“Bryan...” Ara mulai kehabisan tenaganya karena terlalu banyak menangis dan memberontak. Air mata yang tidak mau berhenti mengalir mengaburkan pandangannya saat ia melihat ceceran darah di lantai setelah pria itu diseret pergi oleh papanya.
“Kita baru berpikir akan bahagia. Tapi kenapa sekarang jadi seperti ini?”
***
“Bryan... Bawa aku pada Bryan sekarang!”
Semua orang jadi kewalahan saat nona muda yang menghilang selama 2 bulan kini justru terus berusaha untuk kembali melarikan diri setelah akhirnya berhasil dibawa pulang. Sejak Bryan yang tidak sadarkan diri setelah dihajar habis-habisan oleh papanya dibawa pergi dari rumah itu, Ara tidak mau berhenti menangis sambil terus memanggil nama pria itu.
Bahkan meski kini hari telah larut dan suaranya yang serak itu nyaris tidak terdengar, Ara masih terus menangis memanggil-manggil Bryan. Membuat setiap orang di rumah itu yang terbiasa memanjakan nona muda tersebut jadi merasa teriris hatinya melihat kesedihan Ara.
Papa Ara yang sejak tadi berdiri di ambang pintu kamar Ara memperhatikan istrinya yang berusaha menenangkan putrinya itu akhirnya melangkah masuk. Membisikkan sesuatu di telinga Mama yang membuat wanita itu pergi meninggalkan kamar tersebut hingga kini tersisa dirinya bersama Ara yang masih terus menangis.
“Tuan Putriku.” Dengan suaranya yang lembut, Papa memanggil Ara dengan panggilan kesayangannya. “Rasanya sudah sangat lama sekali sejak kau pergi. Kau tidak merindukan Papa, uh?”
Ara menatap kedua mata tua papanya sambil sesenggukan saat berkata, “Biarkan aku menemui Bryan. Aku harus memastikan dirinya baik-baik saja.”
Papa menggertakkan giginya saat rasa sakit itu kembali menyerang hatinya. Di depan dirinya yang menderita karena kehilangan Ara selama 2 bulan, putri semata wayangnya itu hanya terus mengkhawatirkan Bryan. Seolah rasa rindu dan penderitaannya selama wanita itu pergi tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Bryan.
“Kau lahir saat Papa dan Mama sudah hampir menyerah untuk mendapatkan anak.”
“Papa...” Ara merengek, tidak mengerti mengapa papanya tiba-tiba mengatakan hal ini saat dirinya sedang sangat kalut karena mencemaskan keadaan Bryan. Menceritakan kisah yang sudah ia dengar jutaan kali dari mama dan papanya sampai ia hafal setiap detailnya.
“Kau benar-benar anak perempuan yang sangat manis, yang membuat Mama dan Papa bersyukur jutaan kali dalam sehari karena tuhan telah memberi berkat yang sebesar ini pada kami.”
“Papa...” Ara menggelengkan kepalanya, tidak ingin mendengar kisah ini lagi karena sekarang ia hanya mengkhawatirkan Bryan.
Tangan Papa yang telah dipenuhi keriput itu terangkat, dengan lembut menyeka air mata di pipi Ara. “Tapi kami sadar waktu kami untuk bersamamu tidak banyak. Rasanya kami menua dengan cepat saat kau masih jadi anak-anak yang begitu polos seperti ini.”
Ara yang tadinya sudah berhenti menangis jadi kembali menangis saat melihat kedua mata papanya yang berkaca-kaca.
“Bagaimana jika suatu saat nanti Mama dan Papa yang sudah tua ini meninggal? Siapa yang akan menjaga Tuan Putri kami yang cengeng ini?”
“Papa dan Mama tidak akan meninggal,” kata Ara sambil terisak. “Kalian masih akan hidup bersamaku sampai 100 tahun lagi! Makanya aku selalu mengingatkan kalian untuk minum tonik, kan? Papa, Papa tidak melewatkan toniknya sehari pun saat aku pergi, kan?”
Papa yang awalnya sudah hampir menangis jadi tertawa saat mendengar ucapan Ara. Ucapan yang terdengar serius namun dengan kepolosan yang terasa menghiburnya. “Papa dan Mama tidak menyentuhnya sama sekali. Karena tidak ada Ara yang membukakan toniknya untuk Mama dan Papa, kami jadi tidak meminum tonik itu sama sekali.”
Tangisan Ara jadi semakin keras karena pengakuan Papa. “Kenapa tidak minum? Katanya mau hidup dengan Ara sampai 100 tahun lagi... Kalau tidak minum tonik dan jadi sakit bagaimana? Kalau kalian mati nanti bagaimana? Papa dan Mama tidak kasihan pada Ara, uh?”
Papa menggertakkan giginya, namun tidak bisa lagi menahan air matanya. “Lalu mengapa kau pergi? Kau tidak kasihan pada Papa dan Mama sampai tega pergi seperti itu, uh?”
Ara menggigit bibir bawahnya sambil menundukkan kepalanya, membuat air matanya jatuh membasahi kemeja Bryan yang masih dikenakannya.
“Kau pasti takut sekali, ya?” Usapan lembut Papa pada pipinya membuat Ara kembali mengangkat wajahnya. “Saat kami memutuskan untuk menikahkanmu dengan pria asing yang tidak kau kenal, kau pasti sangat ketakutan hingga melarikan diri seperti itu, kan?”
Ara menganggukkan kepalanya. Teringat bagaimana ia menjalani hari-hari yang terasa seperti di neraka saat mama dan papanya memaksanya untuk menikah yang artinya ia harus meninggalkan rumah dan orang tuanya untuk hidup bersama suami yang sama sekali tidak dikenalnya.
“Kami juga sangat takut, Sayang. Mama dan Papa sangat takut dan sedih setiap kali membayangkan kau akan pergi dari rumah ini. Namun saat memikirkan kau akan sendirian tanpa ada yang menjagamu saat kami meninggal, itu membuat Mama dan Papa jadi ingin segera mencarikan pendamping untukmu.”
“Ada Kak Josh,” cicit Ara menyebut nama salah satu pengawal yang telah mengabdi pada dirinya sejauh ia bisa mengingat.
“Itu berbeda,” sanggah Papa. “Kami ingin kau memiliki seseorang yang bisa mencintaimu dan menjagamu. Kami ingin melihatmu berbahagia bersama suami dan juga anak-anakmu. Karena itu Papa memilih Bryan.”
Papa berhenti sejenak, terlihat sangat sedih saat ingat bagaimana ia begitu mengharapkan Bryan sebagai menantunya. “Papa telah melihat Bryan sejak anak itu masih sangat kecil sampai dewasa. Dia anak yang nakal, tapi sangat manis saat bersama mamanya. Melihat bagaimana dia memperlakukan mamanya selama ini, Papa jadi berpikir jika dia juga bisa memperlakukan istrinya kelak sebaik itu. Tapi ternyata...”
Papa mendengus pelan. Mengejek dirinya sendiri yang berharap terlalu banyak pada Bryan. “Tega sekali dia melakukan ini pada kami. Bisa-bisanya dia menyembunyikanmu seperti itu hanya untuk membatalkan pernikahan tanpa memikirkan bagaimana perasaan mama dan papamu.”
“Bryan tidak salah...” Ara kembali membela Bryan dengan suara merengek. “Aku yang memaksanya untuk menyembunyikanku karena aku tidak ingin dipaksa untuk menikah dengannya lagi saat pulang ke rumah. Jangan benci Bryan. Dia sangat baik padaku. Bryan benar-benar menjagaku selama—“
“Ara.” Papa menyela ucapan Ara dengan suara yang terdengar lelah. Kedua telapak tangannya yang hangat ada di masing-masing pipi Ara, membelai pipi yang terasa basah itu dengan sangat lembut seolah takut melukainya.
Dan kemudian, apa yang Papa ucapkan dengan nada lemah yang terdengar seperti permohonan itu terasa seperti bagian dari lelucon takdir yang bernama karma bagi Ara yang saat ini seluruh hatinya telah sepenuhnya jatuh cinta pada Bryan.
“Kau tidak perlu takut untuk pergi meninggalkan rumah dan orang tuamu lagi. Kau tidak perlu khawatir akan menjadi istri seseorang yang membuatmu berpisah dari kami. Karena sekarang, kau bisa seterusnya hidup sebagai putri Mama dan Papa tanpa perlu memikirkan tentang pernikahan lagi.”
**To Be Continue**