Akhir Dari Mimpi Indah

1509 Words
“Apa yang akan kau lakukan hari ini?” tanya Ara sambil mengoleskan selai coklat di roti tawarnya. Kemeja yang semalam dikenakan Bryan kini membalut tubuhnya. Membuat kemeja tersebut menenggelamkan tubuh mungilnya hingga ia tidak perlu lagi memakai celana untuk menutupi kakinya yang dihiasi bekas bibir Bryan di beberapa tempat. “Aku akan pergi ke kantor, membicarakan tentang proyek dan menyiapkan beberapa hal lain. Kau sendiri, apa yang akan kau lakukan hari ini?” “Aku akan menyapu dan mengepel lantai, bersih-bersih, cuci piring, cuci baju… Ah, ya, bicara soal cuci baju mengapa baju kotor cepat sekali menumpuk? Kau ganti baju berapa kali sehari, uh?” “Aku ganti baju setiap kali mandi. Itu tidak lebih dari 2 kali.” “Mukai sekarang kau hanya boleh memakai satu baju setiap hari, jika tidak cuci bajumu sendiri!” “Aku akan melakukannya sendiri jika aku tidak sibuk! Lagipula apa susahnya mencuci baju? Kau hanya memasukkan semuanya ke dalam bak cuci lalu menginjak-injak cucian itu. Bajuku hanya menjadi wangi, tapi tetap kotor!” Bryan lalu mengambil botol selai coklatnya yang tinggal sedikit. “Mengapa kau memakai selaiku? Aku kan sudah membelikanmu selai pisang. Pakai itu saja! Aku hanya suka selai coklat dan selai kacang!” Ara meletakkan roti yang telah diolesi selai coklat itu di atas piring lalu mendorongnya ke hadapan Bryan. “Aku membuatkannya untukmu. Selai pisangku itu jauh lebih enak dari ini, tahu! Jadi jangan khawatir aku akan menghabiskan selaimu!” “Kau membuatkannya untukku? Tumben sekali.” Ara tersenyum pada pria itu dengan cara yang manis saat berkata, “Tolong belikan aku es krim pisang sepulang kerja nanti sebagai ganti tenagaku yang sudah mengoleskan selai untuk rotimu.” “Ah, tentu saja ini tidak gratis.” Bryan mulai menyantap rotinya. Mengunyahnya sambil tersenyum saat tatapannya bertemu dengan Ara. “Kenapa senyum-senyum?” tanya Ara. “Itu karena kau kelihatan lebih manis pagi ini.” “Eh? Tapi aku masih sama dengan yang kemarin-kemarin, kok.” “Ah... Kalau begitu itu pasti karena aku yang jadi lebih menyukaimu pagi ini.” “Ah...” Ara mengangkat roti tawarnya untuk menutupi senyuman yang tidak bisa ditahannya. “Ya, pasti itu alasannya.” Bryan masih menggenggam roti di tangan kanannya saat ia mengulurkan tangan kirinya pada Ara. “Kemarilah,” pintanya yang membuat Ara menerima uluran tangannya dan membiarkan Bryan membimbingnya untuk duduk di pangkuan pria itu. Tangan kiri Bryan melingkar di perut Ara, membuat Ara bisa menghirup aroma parfum Bryan yang segar saat pria itu menyurukkan wajah di lehernya. “Tapi karena kau jadi begitu manis pagi ini, aku jadi tidak ingin pergi kerja,” kata Bryan sambil menggesek-gesekkan ujung hidungnya pada sisi kiri leher Ara. “Rasanya aku hanya ingin bersamamu sepanjang hari.” “Eii, tentu saja kau harus pergi kerja dan mengumpulkan uang yang banyak untuk membelikanku cincin.” Ucapan Ara membuat Bryan mengangkat wajahnya untuk menatap wanita itu. “Kau ingin kubelikan cincin?” “Tentu saja,” jawab Ara. “Kau mengajakku untuk menikah lagi semalam, jadi harus disahkan dengan sebuah cincin agar lamarannya jadi nyata!” “Ah... Cincin lamaran, ya?” Ara menganggukkan kepalanya yang telah bersandar dengan nyaman di d**a Bryan sementara kedua tangannya memainkan jari-jari Bryan yang melingkari perutnya. “Kau tahu, calon suamiku yang sebelumnya sama sekali tidak melamarku apalagi memberiku cincin hingga aku memutuskan untuk meninggalkannya. Karena itu, pastikan kali ini kau memberiku cincin bahkan meski yang paling murah sekali pun agar pernikahan ini bisa berjalan baik, uh!” Bryan terkekeh pelan, tahu betul jika calon suami yang sedang dibicarakan Ara adalah dirinya. Dan tiba-tiba jadi sedih saat membayangkan bagaimana dulu mereka hanya duduk diam menerima pernikahan ini dengan pasrah tanpa melakukan apapun hingga membuat mereka kehilangan banyak kesempatan untuk saling mengenal seperti sekarang. “Itu bukan cincin yang murah. Aku akan membelikanmu cincin lamaran yang sangat cantik yang akan serasi dikenakan bersama kalung berlian warisan keluargamu,” janji Bryan sebelum membawa tangan kanan Ara ke depan bibirnya dan mendaratkan ciuman di atas punggung tangannya. “Aku akan melamarmu dengan cara yang tidak akan membuatmu bisa menolaknya, menyematkan cincin lamaran yang sangat cantik di jari manismu, lalu merencanakan pernikahan impian yang sesuai dengan keinginan kita berdua,” kata Bryan yang tidak bisa menahan senyuman di wajahnya saat membayangkan semua itu. “Apa aku boleh memilih gaunku sendiri nanti?” tanya Ara yang membuat Bryan mengerutkan keningnya. “Memangnya gaun yang kau pakai waktu itu tidak kau pilih sendiri?” Ara menggelengkan kepalanya. “Aku menangis seharian dan menolak untuk pergi saat Mama mengajakku mencari gaun. Jadi Mama yang memilihkannya untukku,” kata Ara. “Itu bukan seperti gaun yang selalu kuimpikan. Aku kan inginnya pakai gaun yang ekornya panjaaaaang sekali. Bukan yang mengembang dan beraaaat sekali seperti yang dipilihkan Mama.” “Ya. Nanti kita cari gaun cantik yang ekornya panjaaaang sekali untukmu,” kata Bryan yang membuat Ara terkekeh karena pria itu menirukan caranya mengucapkan kata ‘panjang’. “Lalu dibandingkan gedung mewah seperti sebelumnya, aku ingin acara yang lebih sederhana,” ujar Ara. “Mungkin di kebun bunga yang udaranya sejuk atau di tepi pantai yang pasirnya putih. Aku ingin punya pernikahan sederhana yang diadakan di luar ruangan seperti itu.” “Kebun bunga terdengar bagus,” komentar Bryan. “Karena Araku ini terlihat secantik kupu-kupu, kau pasti akan sangat cocok berdiri di antara bunga-bunga yang indah.” “Aku suka mendengarmu mengucapkan itu.” “Apa? Kau yang secantik kupu-kupu?” “Bukan. Saat kau bilang ‘Araku’.” Ara lalu menolehkan kepalanya pada Bryan. Tersenyum hingga kedua matanya menyipit saat menambahkan, “Rasanya senang sekali bisa menjadi milikmu, Bryan.” Bryan menundukkan kepalanya, menempelkan bibirnya di atas bibir Ara untuk  menunjukkan jika dirinya juga sangat bahagia karena bisa memiliki wanita itu seperti ini. “Aku akan melakukan apapun yang bisa membuatmu menjadi pengantin paling bahagia di hari pernikahan kita nanti, Araku.” Bryan berucap seolah ia sedang mengikrarkan janji yang sangat tulus pada Ara. “Kau tidak akan menangis lagi nanti. Kau hanya akan tersenyum dan tertawa. Kau akan jadi sangat bahagia. Aku janji.” Ara lama menatap kedua mata Bryan, menikmati bagaimana ketulusan yang terpancar dari kedua mata pria itu terasa memeluk hatinya yang sedang jatuh cinta sehagat pelukan yang pria itu berikan pada tubuhnya sekarang. “Kau juga akan bahagia, Bryan. Kau sama sekali tidak akan mengerutkan keningmu lagi di hari pernikahan kita nanti dan hanya akan tersenyum serta tertawa karena sangat bahagia,” kata Ara yang membuat Bryan tertawa saat ingat bagaimana dulu ia sering mengerutkan keningnya saat melihat Ara yang sama sekali tidak ia kehendaki untuk menjadi istrinya itu. “Ya. Kita berdua akan sangat bahagia nanti. Aku janji.” Bryan mendaratkan satu kecupan di pelipis kiri Ara sebelum menepuk kedua bahu wanita itu. “Tapi karena untuk mewujudkan pernikahan yang bahagia itu kita butuh uang banyak, jadi sekarang biarkan calon suamimu ini pergi bekerja, uh.” Ara bangkit dari duduknya, tetap menunjukkan senyum manisnya saat membantu merapikan dasi Bryan meski sebenarnya ia tidak ingin ditinggalkan pria itu. “Mau makan apa untuk makan malam?” “Oho, bukankah seharusnya aku yang tanya begitu?” Bryan balik bertanya dengan bingung. “Mau kubelikan apa untuk makan malam?” Ara meringis pelan. Baru sadar jika dirinya yang tidak bisa masak ini tidak bisa menawarkan makan malam buatannya pada Bryan seperti yang biasanya dilakukan semua wanita saat melepas pasangan mereka untuk pergi bekerja. “Belikan apa saja asal ada telur gulung dan es krim pisang untuk pencuci mulut.” “Es krim pisang dan telur gulung,” ulang Bryan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Dan kau tahu kau punya bibirku yang mewah ini kapan saja kau ingin ‘cuci mulut’, kan?” godanya yang membuat Ara memukul dadanya. “Aku akan belajar masak,” kata Ara sambil menyerahkan tas kerja Bryan setelah pria itu memakai sepatu di depan pintu masuk yang masih tertutup. “Jadi nanti aku bisa menawarimu makan malam buatanku sebelum kau berangkat kerja.” “Ya. Aku tidak keberatan selama kau hati-hati dan tidak menghancurkan dapur,” sahut Bryan yang lagi-lagi membuatnya menerima pukulan dari Ara. “Aku akan pulang secepat yang aku bisa.” Bryan berucap sambil menolehkan kepalanya pada Ara sementara tangan kirinya terulur membuka pintu. “Jadi nanti kita bisa pergi bersama untuk makan ma... lam...” Bryan memperlambat ucapannya, merasa bingung karena tiba-tiba kedua mata Ara membesar dengan ekspresi terkejut di wajahnya saat dirinya telah membuka pintu. Membuat Bryan menolehkan kepalanya ke arah pintu untuk memeriksa apa yang— PLAK! Itu sebuah tamparan yang sangat keras. Bryan belum sempat tersadar dari keterkejutannya saat satu tamparan kembali mendarat di pipi kirinya sementara Ara yang sama terkejutnya dengan dirinya hanya bisa menutup mulut dengan kedua telapak tangan untuk menahan pekikannya. “Anak kurang ajar! Kau pikir apa yang selama ini sudah kau lakukan?!” Itu adalah teriakan penuh amarah yang keras. Namun tanpa ada satu pun yang menyadarinya, ada suara yang bahkan jauh lebih keras dari kemarahan itu. Itu adalah suara takdir yang tertawa melihat betapa kejamnya permainan yang sedang ia mainkan untuk sepasang kekasih itu.       **To Be Continue**      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD