Saat malam menjelang, Bryan dan Ara menikmati waktu santai di balkon kecil apartemen itu. Pemandangan di depan sana hanya berupa jalan kecil yang sepi, namun saat mendongakkan kepala menatap langit malam, ada jutaan bintang yang berkelap-kelip dengan indah.
Hanya ada satu kursi berwarna putih di balkon itu. Dan setelah memutuskannya dengan suit—yang entah bagaimana batu Bryan bisa mengalahkan kertas Ara—Bryan duduk di kursi itu sementara Ara duduk bersila di lantai.
"Apa kau sudah menyimpan kalung berlianmu?" tanya Bryan.
"Sudah. Aku menyimpannya di tempat yang sangat aman."
"Di mana?"
"Rahasia."
Bryan mendecih pelan. "Rahasia? Apa kau pikir aku akan mencuri kalung berlianmu itu?"
"Siapa yang tahu? Kau sangat miskin sekarang, bisa saja kau menjual kalungku untuk beli beras."
"Bahkan memikirkannya pun aku tidak pernah! Lebih baik aku mati kelaparan daripada harus mencuri!"
Ara mengangkat bahunya. Jari-jari tangan kanannya yang lentik ia mainkan di lantai sementara kepalanya ia tidurkan di pegangan kursi yang sedang diduduki Bryan. "Aku merindukan mamaku. Boleh aku meminjam ponselmu untuk meneleponnya sebentar?"
"Jangan bercanda! Kau ini!"
Ara menghembuskan napasnya. "Aku merindukan mamaku. Aku hanya ingin mendengar suaranya sebentar. Apa dia baik-baik saja? Apa dia sudah makan? Apa dia tidur dengan baik? Apa dia sedang menangisiku sekarang?"
Bryan mengambil ponselnya, membuat Ara segera mengangkat kepalanya. "Kau akan meneleponnya?" tanyanya dengan kedua mata berbinar.
"Hmm. Hanya jika kau tidak berisik. Jangan bersuara sedikit pun!" kata Bryan yang membuat Ara langsung membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangannya sementara kedua matanya tampak berbinar saat ia melihat Bryan benar-benar menghubungi mamanya.
"Halo? Mama, ini aku Bryan."
"Bryan? Oh, kau baik-baik saja? Senang mendengar suaramu, Menantuku."
Ara semakin kuat membekap mulutnya saat mendengar suara mamanya yang sangat ia rindukan itu. Bryan hanya meliriknya sekilas sebelum kembali berbicara pada Mama Ara. "Aku benar-benar menyesal tentang yang terjadi di hari pernikahan itu. Aku sudah membuat kekacauan yang sangat memalukan."
"Mungkin ini salah kami karena memutuskan pernikahan terlalu cepat. Seharusnya kami memberi kalian waktu untuk saling mengenal." Suara tarikan napas Mama Ara terdengar sangat jelas, membuat Ara tanpa sadar ikut menarik napas. "Ara kami, di mana anak itu sekarang? Dia tidak tahu apa-apa soal dunia yang kejam ini. Yang dia tahu dunia adalah tempat yang menyenangkan. Dia masih sangat polos."
Bryan menutup mulut Ara dengan telapak tangan kanannya saat melihat wanita itu mulai terisak. Pria itu menjauhkan ponselnya lalu berbisik pada Ara, "Kau dan aku dalam masalah besar jika mamamu mendengar suaramu. Jangan menangis sekarang!"
Bryan menjauhkan telapak tangannya dari mulut Ara setelah wanita itu menganggukkan kepalanya. Bryan kembali menempelkan ponselnya di telinga kirinya. "Mama, apa kau baik-baik saja?"
"Bagaimana bisa aku baik-baik saja saat anakku menghilang seperti ini?"
"Mama harus kuat. Mama harus makan dan tidur dengan baik. Jangan terlalu banyak menangis, itu tidak baik. Aku... Aku berjanji akan menemukan Ara dan mengembalikannya pada kalian dengan keadaan baik-baik saja." Bryan benar-benar serius dengan kalimat terakhirnya itu.
"Aku bersyukur jika kau benar akan melakukannya, menantuku. Ah, ini Papa Ara ingin bicara denganmu."
Ponsel dialihkan pada Papa Ara. Pria itu tidak banyak bicara. Hanya mengajak Bryan makan malam besok lalu memutus sambungan telepon. Kelihatannya masih sangat sedih hingga tidak bisa mengobrol terlalu lama dengan calon menantunya itu.
"Kau baik-baik saja?" tanya Bryan pada Ara. Wanita itu masih menangis, tapi kali ini tanpa suara.
"Setelah mendengar suaranya, aku jadi semakin merindukan mereka. Bryan... Aku benar-benar ingin pulang."
Bryan mendesah panjang sambil menggosok-gosok matanya dengan telapak tangannya. Menangani Ara lebih sulit daripada menjaga anak sepupunya yang masih balita. Wanita ini banyak maunya, mudah dipengaruhi namun juga mudah berubah omongannya. "Aku akan bertemu dengan papamu besok. Aku akan berusaha meyakinkannya untuk membatalkan pernikahan ini. Karena itu bersabarlah."
Ara tidak menjawab, sibuk menenangkan dirinya sendiri agar berhenti menangis.
"Sebaiknya sekarang tidur saja. Ini sudah malam," kata Bryan.
"Apa kita akan tidur di kamar yang sama lagi?"
"Itu satu-satunya kamar di apartemen ini. Dan lagi, hanya ruangan itu yang memiliki AC. Kau bisa tidur di sofa ruang tengah jika sanggup tidur tanpa AC. Asal tahu saja, malam di tempat ini sangat panas."
"Tapi... Apa aku harus tidur di lantai lagi? Kemarin aku benar-benar tidak bisa tidur. Aku bisa merasakan lantai yang keras di punggungku karena kasurnya sangat tipis," kata Ara. "Bagaimana jika kita melakukan suit sekali lagi untuk menentukan siapa yang akan tidur di atas dan di bawah?"
Mereka melakukan suit. Bryan tersenyum lebar saat ia melihat Ara mengeluarkan gunting untuk melawan batunya.
"Aku... Aku tidur di bawah lagi malam ini?" tanya Ara dengan wajah cemberut.
Bryan menatapnya sejenak sebelum bangkit dari duduknya. "Menyebalkan sekali! Kau mengalahkanku untuk hal seperti ini. Ah, aku benar-benar sial!"
***
Bryan bangun lebih dahulu keesokan paginya. Ara benar, tidur di atas kasur tipis itu seperti tidur langsung di lantai. Punggungnya terasa sangat sakit dan ia tidak bisa benar-benar tidur dengan nyenyak semalam.
"Dia tidur nyenyak sekali. Pasti ini yang namanya karma. Seharusnya aku tidak mencuranginya berkali-kali kemarin." Bryan memandangi wajah Ara yang masih sangat lelap dalam tidurnya itu. "Aku tidak pernah bertemu orang secengeng ini. Dia mudah sekali mengeluarkan air matanya."
Ara menggeliatkan tubuhnya, membuat Bryan segera kembali ke posisi tidurnya dan memejamkan matanya. Pura-pura tidur.
"Ah, ini bukan mimpi." Kalimat pertama yang Ara ucapkan hari ini begitu membuka matanya. “Bibi! Bibi Lily~" serunya.
Bryan pura-pura mengerang kesal, memasang wajah baru bangun tidur dan mendudukkan tubuhnya. "Kau memanggil siapa? Berisik sekali!"
"Tidak ada air di sebelah tempat tidurku. Aku harus minum segelas air setiap baru bangun tidur!"
"Pergilah ke dapur dan ambil airmu sendiri!"
"Menyebalkan sekali!" Ara kembali membaringkan tubuhnya. "Bahkan sekarang aku merindukan Bibi Lily yang cerewet itu."
Bryan juga ikut membaringkan tubuhnya di atas kasur tipisnya itu. "Jika kau akan mengambil air di dapur, bawakan juga untukku."
Ara berguling hingga berada di tepi tempat tidur dan menatap Bryan yang sedang memainkan ponselnya denga posisi telentang. "Apa yang akan kau lakukan hari ini?"
"Tidak tahu. Kau lupa aku ini pengangguran?"
"Ruang tengahnya..." kata Ara dengan suara berbisik yang membuat Bryan meliriknya. "Ruang tengahnya kotor, banyak sekali debunya. Dapur dan balkon juga. Bahkan kamar ini pun sebenarnya sangat kotor. Jika kau tidak sibuk, bagaimana jika kau bersih-bersih hari ini?"
Bryan mengalihkan pandangan dari ponselnya untuk menatap Ara sepenuhnya. Ia lalu mengulurkan tangan kanannya di depan wajah wanita itu. "Kita putuskan dengan suit saja. Bagaimana?"
Dan kita semua tentu tahu siapa yang akhirnya akan bersih-bersih jika mereka menggunakan suit untuk menyelesaikan masalah ini.
***
"Pinjamkan saja sebanyak yang kau bisa. Aku harus membeli setelan jas baru untuk janji makan malam hari ini." Bryan berbicara dengan Henry melalui telepon sementara Ara mondar-mandir di depannya dengan memegang sapu.
"Itu, kau harus mengangkat karpetnya dan menyapu bawahnya! Itu juga, yang di bawah meja! Masukkan sapunya ke sana!" Bryan mengarahkan Ara dengan menggunakan kakinya.
"Kau bicara dengan siapa?" tanya Henry yang merasa diabaikan.
"Dengan seorang Bibi. Aku akan mampir ke rumahmu nanti."
Bryan baru akan berjalan ke dapur saat sesuatu dilempar ke punggungnya. Ia berbalik dan mendapati sebuah kemoceng tergeletak di dekat kakinya. "Oi!" bentaknya pada Ara. Sudah pasti wanita yang tengah menatapnya dengan wajah cemberut itulah yang melakukannya.
"Aku tidak mau melakukannya lagi! Kau pikir aku pembantumu? Berani sekali kau menyebutku 'Bibi'?"
"Lalu aku harus bilang apa? Apa aku harus bilang itu calon istriku yang sedang bersih-bersih?"
"Aku tidak mau tahu! Aku tidak mau bersih-bersih lagi!" seru Ara sambil melepas celemeknya.
"Kalau begitu tidak usah! Bukankah kau yang cerewet soal apartemen yang kotor? Dasar wanita manja!" Bryan mengambil kunci mobilnya lalu berjalan menuju pintu.
"Hei! Kau mau ke mana?"
"Aku harus mendapatkan uang untuk membeli jas! Jangan menungguku, aku akan pulang malam sekali nanti!”
Ara terdiam di tempatnya. Bryan benar-benar telah pergi. "Mengapa dia semarah itu? Seharusnya... Seharusnya dia kan mengatakannya baik-baik."
Dan coba tebak. Kedua mata wanita cengeng itu sudah kembali berkaca-kaca sekarang. Entah kapan Bryan akan mengerti jika ia tidak bisa menggunakan nada yang tinggi seperti itu untuk bicara dengan nona muda yang seperti anak kucing ini.
**To Be Continue**