Menantu Pilihan

1554 Words
Bryan tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya saat ia tiba di ruangan yang telah disewa Papa Ara untuk makan malam dengannya. Karena bukan hanya calon mertuanya yang ada di sana, melainkan kedua orang tuanya juga. "Papa, Mama, kalian juga di sini?" "Mengapa kau hanya berdiri di sana? Kau sudah membuat orang-orang tua ini menunggu lama. Cepat duduk!" hardik Papa Bryan yang membuat Bryan segera mendudukkan dirinya sebelum sifat asli papanya keluar di hadapan calon mertuanya ini. Makanan telah dihidangkan hingga memenuhi meja besar yang menjadi pemisah di antara dua keluarga itu. Makan malam itu berjalan dengan Papa Bryan dan Papa Ara yang lebih mendominasi pembicaraan. "Apa kau tidak menyukai makanan ini? Kau belum menyentuh makananmu sejak tadi," kata Mama Bryan yang membuat perhatian orang-orang terpusat pada Mama Ara yang sama sekali belum menyentuh makanan yang tersaji di hadapannya. "Ah, bukan begitu," kata Mama Ara. "Aku hanya berpikir... Apa ini benar saat aku makan di restoran mewah seperti ini sementara putriku masih belum ditemukan dan entah bagaimana keadaannya?" Bryan berhenti memotong dagingnya setelah mendengar perkataan Mama Ara, begitu pula dengan orang tuanya dan juga Papa Ara. "Sayang..." Papa Ara menyentuh punggung tangan istrinya yang mulai berkeriput itu. "Ara adalah anak kami satu-satunya. Anak yang sangat kami harapkan yang lahir setelah hampir 12 tahun pernikahan kami." Mama Ara berkata dengan suara sedih. Ia sama sekali tidak menyentuh makanannya, membuat Bryan merasa sungkan jika terus menggenggam garpu dan pisaunya hingga akhirnya pria itu memilih untuk melupakan makan malam yang terhidang di hadapannya dan memfokuskan perhatiannya pada Mama Ara.  "Kami memilikinya di usia lanjut dan sangat memanjakannya. Ara kami, sejak kecil dia selalu berada di bawah lindungan kami hingga tidak ada anak yang berani menjadi temannya. Dia anak yang mudah menangis dan tertawa karena hal-hal kecil. Ara kami yang manis..." "Maafkan aku, Mama." Bryan menanggapi ucapan Mama Ara dengan mengungkapkan penyesalannya. "Tidak, ini sama sekali bukan salahmu, Menantuku." Mama Ara menghembuskan napas perlahan. Mata tuanya tampak sangat sedih. "Ara kami, dia tidak memiliki kehidupan masa muda seperti orang lain. Dia tidak punya teman atau orang yang dicintai. Yang dia miliki hanya kami, papa dan mamanya yang sudah tua serta para pelayannya. Mungkin saat kami memutuskan untuk menikahkannya dan menyerahkannya pada orang lain, anak itu pasti merasa takut." "Ara benar-benar wanita yang polos," timpal Mama Bryan. "Kami sangat menjaga Ara, mungkin karena itulah dia menjadi manja. Meski umurnya sudah 25 tahun, tapi cara berpikirnya masih seperti anak-anak. Selama ini kami berusaha menyembunyikan sisi buruk dunia padanya dan hanya melimpahinya dengan kebahagiaan. Dia memiliki hati yang masih sangat murni karena tidak mengetahui wajah buruk dunia yang ditinggalinya ini." Rasa bersalah menguasai Bryan. Karena kelalaiannya, ia membuat wanita itu melihat keburukan dunia. Ia membiarkan Ara ketakutan saat dunia menunjukkan sisi lainnya yang selama ini disembunyikan darinya. "Lalu... Mengapa aku? Untuk putri kalian yang sangat berharga itu, mengapa kalian mempercayakannya padaku?" Pertanyaan Bryan membuat Papa Bryan memelototinya. Namun Bryan mengabaikannya. Dengan wajah serius ia menantikan jawaban atas pertanyaannya. "Kami mempercayaimu karena kau adalah putra papamu," jawab Papa Ara yang membuat Papa Bryan tersenyum padanya. "Kami sudah menjalin kerja sama sangat lama. Meski jarang bertemu karena kesibukan kami, tapi aku tahu bagaimana selama ini papamu membesarkanmu, Bryan." “Dia membesarkanku dengan cara yang kejam,” batin Bryan sambil melirik papanya.  "Kau anak satu-satunya, namun dia bisa mendidikmu dengan tegas tanpa memanjakanmu hingga kau bisa menjadi seseorang yang mandiri. Kau tahu, bagi orang tua sangat sulit untuk tidak memanjakan anak mereka, apalagi jika itu  anak satu-satunya. Itu sesuatu yang tidak dapat kami lakukan sebagai orang tua,” terang Papa Ara. "Ah, tidak. Anak ini masih sangat manja. Dia masih harus banyak belajar lagi," kata Papa Bryan merendah. "Bryan memiliki senyum ramah yang akan membuat orang lain merasa tenang dan juga sangat rendah hati. Pengawal Ara, Josh, berkata bahwa dia sempat bertemu denganmu yang sedang mencari Ara. Aku sempat tidak percaya saat dia berkata kau berkeliaran di jalanan dengan hanya mengenakan kaos dan celana pendek," kata Mama Ara sambil berusaha menyembunyikan senyum gelinya sementara Papa dan Mama Bryan menatap putra mereka takjub. "Kau benar-benar melakukannya?" tanya Papa Bryan. Sulit percaya jika putranya yang manja itu bisa melakukan hal semulia itu. "A-ah... Itu hanya..." "Kau pasti sangat mengkhawatirkan Ara dan menyesal karena meninggalkan pesta pernikahanmu," tambah Mama Bryan "Ya, sebenarnya..." "Menantuku," kata Papa Ara sambil menarik tangan kanan Bryan ke dalam genggamannya. "Kau adalah menantu yang kami cari selama ini. Kau adalah orang yang paling kami percaya untuk menggantikan kami menjaga Ara." "Pa-Papa..." "Ara juga calon menantu kami yang sangat berharga. Kami akan mengerahkan tenaga sebanyak yang kami bisa untuk mencarinya," kata Papa Bryan. Bryan tidak bisa berkata apa-apa selain menyunggingkan senyum terpaksa yang menurut Mama Ara adalah 'senyum ramah yang akan membuat orang lain merasa tenang' itu.       ***     "Astaga!" Meski ini adalah yang kedua kalinya, namun Bryan tetap saja terkejut saat masuk ke dalam apartemennya dan mendapati Ara yang tidur dengan posisi duduk memeluk kedua kakinya di dekat pintu masuk. "Oi!" Bryan menendang kaki Ara dengan ujung sandal rumahnya, namun wanita itu sama sekali tidak bergeming. “Oi! Bangun! Jika kau terus tidur di sini kau bisa mati digigiti nyamuk!” “Ma-Mama…” Bryan mengerutkan keningnya saat mendengar suara lirih Ara. Ia berjongkok di depan Ara dan mencoba mengintip wajah wanita itu. “Kau kenapa?” “Mama…” Ara bersuara sangat lirih. Napasnya terdengar berat dan putus-putus, membuat Bryan khawatir terlebih saat melihat wajah Ara yang dipenuhi keringat dingin. “Ara, apa kau sakit? Mengapa kau begini?” “Ah, sakit…” Bryan semakin bingung saat Ara mulai menangis. Ia tidak tahu di bagian mana yang membuat Ara kesakitan karena wanita itu hanya terus menangis tanpa menjawab pertanyaannya. “Oh!” Bryan berseru terkejut saat melihat bercak darah di lantai sebelah Ara duduk. Wanita itu segera menutupi lantai itu dengan telapak tangannya yang gemetar dan menatap Bryan dengan wajah memerah. “Ara, apa kau…” “Mama…” Tangisan Ara pecah, memenuhi seluruh ruangan apartemen kecil itu. Ia menenggelamkan kepalanya di antara lipatan tangannya sambil terus memanggil-manggil mamanya sementara Bryan hanya bisa mengusap-usap tengkuknya salah tingkah. “Ara, kurasa kau harus—“ “Jangan mengajakku bicara! Aku tahu aku sangat memalukan dan kau pasti ingin mentertawaiku!” “Ah, tidak. Aku bukan pria semacam itu,” sangkal Bryan. “Apa kau… Apa kau ingin aku keluar sebentar agar kau bisa membersihkan ini?” “Aku… Aku tidak bisa berjalan. Perutku sakit sekali. Aku sekarat…” “Bagaimana ini?” Bryan semakin dibuat pusing dengan suara tangisan Ara yang sangat kencang itu. Ia tidak mungkin meninggalkan wanita itu begitu saja dan pura-pura tidak peduli. Tapi saat melihat bercak darah yang tertinggal di lantai itu, ia merasa kasihan sekaligus jijik pada wanita itu. “Ah! Bryan!” “Ternyata tubuh pendekmu ini bukan apa-apa. Kau sangat berat, uh!” kata Bryan sambil menggendong tubuh Ara menuju kamar mandi. Ara hanya bisa terdiam sementara kedua tangannya dengan sendirinya telah melingkar di leher Bryan saat pria itu mengangkat tubuhnya tadi. “Sekarang kau bersihkan dirimu!” Bryan mendudukkan tubuh Ara di kloset yang tertutup dan hendak pergi saat wanita itu menahannya dengan memegangi ujung kaosnya. “Aku… Aku harus menggantinya,” bisik Ara. “Mengganti apa?” tanya Bryan. Namun saat melihat Ara kembali menundukkan wajahnya yang memerah, pria itu paham apa yang ingin Ara ganti. “Apa aku harus menyentuhnya? Bahkan aku tidak pernah berurusan dengan milik mamaku,” keluh Bryan sambil mengambil celana dalam dan pembalut milik Ara. “Yang jelek saja. Akan kuberikan celanaku yang paling jelek untuknya.” Bryan mengambil celana pendek berwarna biru yang sudah tampak usang lalu membawanya ke kamar mandi. “Apa kau baik-baik saja?” tanya Bryan saat melihat Ara keluar dari kamar mandi dan dengan langkah tertatih berjalan menuju kamar. “Kau butuh sesuatu?” “Aku butuh pembalut.” “Pembalut? Bukankah kau sudah memilikinya?” Ara mendudukkan dirinya di tepian tempat tidur, dari wajahnya tampak jika ia sudah ingin sekali menangis. “Aku benar-benar tidak bisa memakainya. Pembalut murahan itu tidak ada sayapnya~” rengek Ara. “Sayap?” tanya Bryan. Ia benar-benar buta tentang hal semacam ini. Ia sama sekali tidak tahu jika pembalut itu ada sayapnya atau tidak. “Kau ingin pembalut yang ada sayapnya?” “Pulang… Aku ingin pulang…” Ara akhirnya kembali menangis sambil memegangi perutnya yang terasa nyeri. “Aku ingin mamaku. Kau sama sekali tidak tahu apa-apa soal ini. Ini menyakitkan sekali.” “Berhentilah berkata ‘pulang, pulang’! Itu menyebalkan sekali!” Meski mencoba sabar, namun tetap saja Bryan meninggikan suaranya yang membuat Ara semakin mengencangkan suara tangisannya. “Baiklah, baiklah. Apa yang biasanya dilakukan mamamu di saat-saat seperti ini?” “Mama akan membuatkanku seduhan herbal untuk mengurangi rasa sakitku.” “Apa saja isi seduhan itu? Kau bisa membuatnya?” “Aku tidak tahu! Aku butuh mamaku sekarang!” “Tidak bisakah kau tidur saja? Kau akan baik-baik saja jika tidur.” “Aku tidak bisa tidur! Kau tidak mengerti betapa menyakitkannya ini! Mama~” Ara menangis lagi dan Bryan hampir gila lagi. Rasanya sulit sekali untuk pria itu hanya memiliki simpati saja pada Ara saat kenyataannya wanita itu juga membuatnya jadi sangat jengkel sepanjang waktu. Ara yang cengeng dan sekarang sedang datang bulan. Bisa jadi seburuk apa lagi hal ini untuk Bryan?       **To Be Continue**    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD