Hampir satu jam lamanya Bryan mendengar tangisan Ara sebelum akhirnya wanita itu kelelahan dan tidur. Bryan memandangi wajah terlelap Ara yang masih dipenuhi keringat yang bercampur dengan air mata.
“Tsk, aku seperti merawat anak 5 tahun yang sangat rewel!” Bryan melihat sekitarnya dan tidak mendapati tisu di sana. Merasa tidak punya pilihan, ia menggunakan ujung lengan kemejanya untuk menyeka air mata dan keringat wanita itu. “Apa semua wanita memang selalu seperti ini setiap bulannya atau hanya wanita manja ini saja yang melebih-lebihkannya?”
Malam sudah sangat larut saat Bryan sampai di minimarket yang berada tidak jauh dari apartemennya. Seorang pramuniaga yang sejak tadi mengamati Bryan yang berdiri cukup lama di depan konter pembalut menghampiri pria itu untuk menawarinya bantuan.
“Yang mana yang ada sayapnya? Apa ini pembalut yang pakai sayap itu?” tanya Bryan pada pramuniaga itu.
“Benar sekali, ini pembalut yang pakai sayap. Dan ini pembalut untuk malam hari.” Pramuniaga itu menyodorkan pembalut lain pada Bryan.
Bryan mengambilnya dan membandingkannya dengan pembalut yang ia pegang. “Ini terlihat sama saja. Apa bedanya?”
“Ah, itu…” Pramuniaga itu tersenyum canggung. Aneh rasanya menjelaskan hal semacam ini pada pembeli pria. “Pembalut malam ini lebih panjang dan lebih nyaman digunakan saat tidur. Meski orang yang memakainya banyak bergerak saat tidur, pembalut ini tidak akan mudah bergeser sehingga tidak usah khawatir bocor.”
Bryan menggaruk-garuk alisnya dengan jari telunjuknya. “Aku tidak mengerti hal semacam ini. Aku akan ambil yang ada sayapnya ini dan yang untuk malam hari ini.”
“Apa Anda membelinya untuk pasangan Anda? Anda benar-benar baik, biasanya pria tidak mau berurusan dengan hal seperti ini.”
“Ah, ya, aku memang pria yang baik,” sahut Bryan sambil tertawa. “Ini… Aku membelinya untuk seorang Bibi yang berada di rumahku.”
“Bibi? Ah, maksud Anda pembantu di rumah Anda?”
“Hmmm… Kau bisa menganggapnya begitu. Baiklah, terima kasih karena telah membantuku.” Baru dua langkah berjalan, Bryan berhenti dan kembali menghadap pramuniaga itu. “Apa kau tahu apa yang harus dilakukan untuk meredakan sakitnya? Bibi itu sepertinya sangat kesakitan sampai tidak bisa berjalan. Dia bahkan terus mengeluarkan banyak keringat meski telah tertidur.”
***
Ara membuka kedua matanya perlahan dan mengerang saat merasakan silaunya matahari yang masuk melalui jendela.
“Oh!” Wanita itu terpekik saat melihat pakaian di bagian perutnya yang menggembung. Ia merabanya dan mencoba mengeluarkannya. “Apa ini? Apa… Apa dia meletakkan air minum di perutku?”
“Kau sudah bangun?” Bryan masuk ke dalam kamar sambil menggosok-gosok rambutnya yang basah dengan handuk kecil berwarna putih. “Apa kau sudah merasa lebih baik?”
“Ini apa? Mengapa ada botol air di dalam bajuku?” tanya Ara sambil mengacungkan botol air itu.
Bryan menghampirinya dan duduk di atas kasur di sebelah kepala Ara, membuat wanita itu beringsut menjauh. “Kudengar botol berisi air hangat itu bisa digunakan untuk mengompres perut untuk meredakan nyeri. Airnya sudah tidak hangat lagi, kau bisa memanaskannya dan menggunakannya untuk mengompres perutmu lagi jika kau merasa perutmu masih nyeri. Atau kau bisa meminumnya. Bukankah kau bilang selalu minum saat bangun tidur?”
“Aku tidak mau minum air seperti ini!” Ara melemparkan botol air itu sembarangan lalu bangkit menuju lemari pakaian. Ia sempat tertegun saat melihat pembalut mahal yang biasa ia pakai di situ, bahkan ada pembalut malamnya juga. “Bryan, kapan kau beli ini?”
Bryan yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin menoleh pada Ara yang menyembulkan kepalanya dari balik pintu lemari. “Jika kau bisa mencuci dan menggunakannya lagi, sebaiknya kau melakukannya. Benda satu itu benar- benar sangat mahal!”
Ara mencibirkan bibirnya dan kembali sibuk memilih pakaian Bryan yang akan ia kenakan. Tapi tiba-tiba ia berhenti dan menyembulkan kepalanya dari balik pintu lemari untuk menatap Bryan yang sekarang sibuk melipat kasur lantainya. “Bryan, terima kasih. Karena telah menggendongku, membelikanku pembalut ini, dan juga karena telah meredakan nyeri perutku dengan botol air hangat itu.”
Bryan menolehkan kepalanya namun Ara telah berlari keluar dari kamar. “Wanita manja itu…” gumamnya. “Ternyata dia juga tahu caranya berterimakasih." Bryan melanjutkan melipat selimutnya sambil tersenyum. Namun saat melihat kasur tempat Ara yang berantakan, senyumnya langsung menghilang. “Ara! Rapikan tempat tidurmu!” serunya.
“Nanti!” sahut Ara dari arah kamar mandi.
“Lantainya juga! Lantai yang di dekat pintu masuk itu, jangan lupa untuk membersihkannya juga!”
“Nanti!”
“Beri banyak pembersih lantai dan gosok sampai sangat sangat sangat sangat bersih!”
“Aku tahu! Aku tahu! Mama… Orang ini menyebalkan sekali!”
***
Setelah mandi dan sarapan masing-masing dengan 2 lembar roti tawar yang diolesi selai coklat dan segelas s**u, Bryan dan Ara seperti biasa duduk bersebelahan di karpet ruang tengah.
“Jadi bagaimana hasilnya yang semalam?” tanya Ara. Karena sibuk memikirkan perutnya yang sakit semalam, wanita itu melupakan tentang pertemuan Bryan dengan orang tuanya.
“Buruk sekali. Semuanya ada di sana. Orang tuaku dan orang tuamu. Aku tidak bisa mencerna makan malamku dengan baik semalam.”
“Siapa yang peduli dengan makan malammu? Aku bahkan tidak bisa makan malam kemarin!” Perkataan Ara kembali terdengar ketus. “Apa kau akhirnya bisa meyakinkan mereka?”
“Aku bahkan tidak bisa berkata apa-apa. Bukan salahku jika orang tuamu sangat menyukaiku yang berkepribadian menawan ini. Ah… Aku sering sekali tanpa sadar membuat orang lain menyukaiku karena sikap rendah hatiku ini.”
“Hah!” Ara mengangkat ujung kiri bibirnya, memasang ekspresi jijik yang merendahkan. “Tentu saja, kau menyembunyikan sifat aslimu yang sangat menyebalkan itu dengan baik, Tuan!”
“Lihat siapa yang bicara! Kau sedang sekarat semalam dan akulah yang menolongmu!”
“Ya ampun! Kau mengungkit-ungkit kebaikanmu?”
“Tidak, aku tidak mengungkit-ungkit kebaikanku! Aku hanya mengingatkanmu!”
“Caramu mengingatkanku sangat menyebalkan!”
“Menyebalkan bagaimana? Bagian mana memangnya yang menyebalkan itu?”
“Kau! Kau sangat menyebalkan!”
“Tsk! Apa selain ‘pulang’, ‘menyebalkan’ adalah kata favoritmu yang lain? Kau terus saja mengulang-ulang dua kata menyebalkan itu!”
“Itu! Itu! Kau juga baru saja mengucapkan kata ‘menyebalkan’!”
“Hah!” Bryan mendengus keras. Ara benar-benar wanita yang tahu bagaimana cara membuatnya sering mendengus kesal atau menghela napas frustrasi. “Sampai kapan pembicaraan tidak penting ini akan terus berlanjut? Kau sudah tidak penasaran lagi tentang pertemuan semalam?”
“Kau yang memulainya! Jika kau tidak mulai bersikap menyebalkan—“
“Ya ampun! Baiklah, sebaiknya aku pergi saja!” Bryan hendak bangkit namun Ara dengan cepat menarik tangannya hingga ia pria itu kembali duduk di sebelahnya.
“Baiklah, aku akan diam! Sekarang kau bisa menceritakannya.”
“Sampai di mana kita tadi?" tanya Bryan.
“Aku juga lupa, sebaiknya kau ulangi dari awal.”
“Ah, baiklah. Pertemuan semalam, intinya kita tetap akan menikah.”
“Apa? Mengapa bisa seperti itu? Apa sih yang sebenarnya kau lakukan semalam selain hanya mengisi perutmu?”
“Oi! Lidahmu itu tajam sekali, uh? Sudah kukatakan aku bahkan tidak bisa makan dengan nyaman! Orang tuaku menyukaimu sebagai menantu mereka dan orang tuamu juga menyukaiku sebagai menantu mereka. Mereka sama sekali tidak memusingkan alasan kita kabur dan hanya berfokus untuk menemukanmu agar kita bisa segera dinikahkan. Kau dan aku yang kabur saat acara pernikahan seperti hanya gertakan kecil yang tidak berarti apa-apa bagi mereka.”
Ara menghembuskan napas dengan sangat keras dan membiarkan kedua bahunya terkulai lemas. “Apa aku harus pulang dan pasrah saja untuk dinikahkan denganmu?”
“Enak saja! Aku tidak mau menikah denganmu!”
“Kau pikir aku mau menikah denganmu? Tapi apa gunanya aku terus bersembunyi di sini, mempersulit diriku sendiri, jika pada akhirnya aku tetap akan dinikahkan denganmu?”
“Kau tidak akan menikah denganku!” seru Bryan. “Aku tidak mau terperangkap seumur hidup bersama wanita manja sepertimu. Aku akan menggunakan segala cara untuk menolak pernikahan ini!”
“Oh, itu bagus sekali jika Tuan Muda ini bisa menggunakan segala cara untuk membatalkan pernikahan ini,” kata Ara dengan nada yang terdengar seperti ejekan bagi Bryan. “Lalu selagi kau berusaha seperti itu, apa yang harus kulakukan?”
“Teruslah bersembunyi!” kata Bryan. “Cukup jangan sampai ketahuan. Dan… Oi! Kau ini, bagaimanapun latar belakang keluargamu, kau ini tetap seorang wanita, kan? Apa hatimu tidak merasa tergerak saat melihat apartemen yang kotor atau cucian kotor yang menumpuk?”
“Kau mulai lagi mendiskriminasiku karena wanita, uh? Ini!” Ara menyodorkan telapak tangan kirinya pada Bryan. “Ayo suit! Yang kalah bersih-bersih.”
Nah, sebenarnya bukan Bryan yang 100% jahat. Tapi itu juga karena Ara yang suka mancing-mancing dan menciptakan masalah untuk dirinya sendiri. Tidak percaya? Coba lihat apa yang dilakukan wanita itu di chapter berikutnya.
**To Be Continue**