Pertemuan Rahasia

1087 Words
"Apa kau makan dengan baik? Di mana kau tinggal? Kau punya uang?" "Mama... Aku tidak bisa makan dengan baik. Aku tinggal terlunta-lunta dari satu rumah temanku ke teman yang lain. Dan uang... Ah, sudah tidak ada yang tersisa di dompetku. Aku saja pergi ke sini dengan naik bus." Di sebuah kafe yang cukup ramai, Bryan mengadakan pertemuan rahasia dengan  mamanya. Sepasang mama dan anak itu memakai kacamata hitam. Mama Bryan memakai topi warna coklat muda dengan hiasan pita besar sedangkan Bryan memakai topi berbahan jeans berwarna hitam. Melihat bagaimana mereka berbicara saat ini—dengan saling berpegangan tangan dan berbisik-bisik dengan mendekatkan wajah mereka—orang-orang mungkin akan salah mengira Mama Bryan adalah tante girang yang sedang berkencan dengan anak muda di belakang suaminya. "Aduh, aduh... Kasihan sekali anakku ini. Apa rumah temanmu nyaman? Bagaimana kamar mandinya? Lalu AC-nya bagaimana? Belakangan ini cuacanya sangat panas, kau pasti sangat menderita." "Aku sangat menderita, Ma. Karena itu, tolong bujuk Papa agar mau menerimaku di rumah dan kantor lagi." "Jika papamu sudah memutuskan sesuatu, siapa yang bisa membujuknya? Bahkan saat Mama mulai menyebut namamu, dia langsung membentak Mama. Meski sifatnya keras, tapi memiliki anak perempuan yang manis adalah harapan terbesar papamu. Itulah mengapa dia sangat marah padamu." "Tapi bukan aku yang membawa kabur Ara! Wanita itu kabur sendiri!" Awalnya memang begitu, jadi anggap saja apa yang Bryan ucapkan ini benar. "Ini salah kalian berdua! Karena itu kalian tetap harus dinikahkan untuk mempertanggungjawabkannya!" Bryan mendecakkan lidahnya dan memilih untuk kembali menikmati es serut kacang merahnya. Mama Bryan menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, memastikan jika tidak ada yang memperhatikannya lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. "Sayang, ambil ini!" "Apa ini?" Pertanyaan basa-basi karena Bryan sudah tahu dengan pasti apa isi amplop berwarna coklat itu. "Mama! Kau memberiku uang yang sangat banyak!" "Gunakan uang itu untuk memenuhi kebutuhanmu. Jika kau butuh lagi, kau harus segera menghubungi mamamu ini! Jangan berhemat dan menyusahkan dirimu sendiri! Belilah apapun yang kau inginkan, Sayangku." Bryan menurunkan sedikit kacamatanya lalu mengerjap-ngerjapkan matanya seperti anak kucing yang genit pada mamanya itu. "Nyonya Besar, kau memang yang terbaik. Aku mencintaimu." "Aduh... Anak ini! Dari mana asalnya semua kemanisanmu ini?" "Aduh... Nyonya ini! Nyonya tahu, tidak mungkin dari suami Nyonya yang galak itu," kata Bryan yang membuat Mama memukul lengannya sambil tertawa. Tidak sadar jika tingkah mereka menarik perhatian dua wanita muda yang duduk tidak jauh dari mereka. "Dunia ini semakin aneh saja. Jika pria tampan yang masih muda hanya suka menggoda wanita tua yang kaya, lalu apa yang harus dilakukan wanita muda yang biasa saja seperti kita?" "Apa lagi? Kita juga harus menggoda pria tua kaya." "Ekhem!" Kedua wanita muda yang sedang menggosipkan Bryan dan mamanya sebagai 'pasangan cinta terlarang' itu menolehkan kepalanya ke belakang. Seorang pria berumur yang mengenakan setelan jas coklat, kacamata hitam, dan topi hitam duduk dengan menyilangkan kakinya. "Cuaca yang panas pasti membuat orang-orang kehilangan pikiran warasnya." "Apa itu? Apa dia mendengar pembicaraan kita dan sedang menggoda kita?" Meski maksudnya berbisik, namun ucapan wanita muda itu masih bisa terdengar dengan jelas oleh pria berjas coklat. "Aku tidak mau jika pria tuanya seperti dia. Caranya menyilangkan kaki saja terlihat seperti orang m***m. Ayo kita cepat pergi!" "Anak-anak itu!" Papa Bryan segera menghentakkan kedua kakinya dengan keras di lantai. Namun saat sadar tindakannya barusan cukup menarik pehatian, ia segera kembali menyandarkan punggungnya di kursi dan menutupi wajahnya dengan buku menu. Ia masih ingin tahu apa saja yang akan dibicarakan oleh istri dan anaknya tercinta yang diam-diam melakukan pertemuan di belakangnya. "Hmmm... Mama, apa Mama  sering kesakitan setiap bulannya?" tanya Bryan yang membuat Mama mengerutkan dahinya. "Maksudku saat Mama datang bulan. Apa Mama merasa kesakitan?" "Apa ini? Mengapa kau tiba-tiba menanyakan sesuatu yang aneh seperti itu?" Mama balik bertanya dengan curiga. "Bukan apa-apa. Hanya saja... Ada seorang wanita muda di bus tadi. Dia sedang datang bulan dan tampaknya sangat kesakitan. Benar-benar kesakitan." "Oh! Kasihan sekali dia. Apa tidak ada yang menemaninya? Seharusnya dia naik taksi saja. Wanita itu pasti sangat tersiksa."  "Ya... Apa memang sesakit itu? Mama juga merasakannya?" "Jika Mama mengingatnya... Mama melewati satu hari setiap bulan di masa muda dengan merasakan kesakitan itu. Rasanya sangat sakit, kau tahu, seperti ada tangan di dalam perutmu yang meremas-remas isi perutmu." Membayangkannya saja membuat Bryan meringis. "Itu sungguh sakit. Tapi setelah Mama menikah dengan papamu, rasa sakit itu berangsur-angsur menghilang." "Bagaimana bisa?" "Itu karena..." Mama Bryan mengangkat tubuhnya lalu membisikkan sesuatu di telinga Bryan yang membuat putranya itu membuka mulutnya lebar-lebar. "Mama!" Mama hanya tertawa melihat reaksi terkejut Bryan. "Kau sudah menjadi pria dewasa, uh? Pertanyaanmu tidak lagi tentang mengapa bintang ada sangat banyak atau mengapa air hujan bisa buat demam. Tapi karena kau akan segera menjadi suami, kau memang harus memiliki banyak pengetahuan tentang hal semacam ini." Bryan mengabaikan godaan mamanya dan memilih untuk menghabiskan sisa es serutnya. "Ah, selain memberiku vitamin yang—" "Mama!" Bryan segera memotong ucapan Mama saat tahu ke mana arah pembicaraannya. "Baiklah! Mama hanya ingin bilang, meski papamu terlihat keras, namun sebenarnya dia sangat penyayang. Setiap kali Mama menangis dan tidak bisa tidur karena kesakitan, papamu akan menggosok-gosokkan telapak tangannya hingga terasa hangat lalu memasukkannya ke dalam pakaian Mama dan—" "Mama!" Bryan kembali memotong pembicaraan mamanya. Ia sungguh menyesal telah membicarakan hal seperti ini bersama mamanya. "Tsk! Mama hanya ingin bilang papamu akan mengusap-usap perut Mama! Dia mengusapnya perlahan dengan telapak tangannya yang hangat hingga Mama merasa nyaman dan akhirnya tertidur. Pikiranmu itu sudah sampai mana, uh?" Bryan ingat apa yang ia lakukan semalam saat Ara menangis kesakitan. Ia bersembunyi di dalam selimutnya dan menutupi telinganya dengan bantal. Wanita itu tertidur bukan karena telah merasa nyaman, tapi karena ia lelah menangis tanpa ada yang mempedulikannya. "Mama akan bayar. Kau mau satu untuk dibawa pulang?" tawar Mama sambil membereskan barang-barang yang dibawanya. "Dua," kata Bryan sambil tersenyum. "Cuacanya sangat panas. Aku akan makan dua bungkus es serut kacang merah yang lezat ini."     ***     "Hati-hati di jalan, Sayang! Jika kau tidak ada keperluan di luar, lebih baik di rumah saja. Matahari yang seterik ini bisa membuat kulitmu jadi hitam," pesan Mama seraya memasuki mobilnya. Bryan menutupkan pintu untuknya. "Aku tahu. Mama juga hati-hati. Makanlah dengan baik, aku akan baik-baik saja." Setelah mobil yang membawa mamanya pergi, Bryan melangkahkan kakinya menuju halte bus. Langkah kakinya terasa ringan saat mengingat jumlah uang yang ia miliki di dompetnya sekarang. "Astaga!" Bryan terpekik kaget saat tiba-tiba sebuah mobil berhenti di hadapannya. Namun ia menjadi lebih kaget lagi saat jendela mobil diturunkan dan melihat siapa yang duduk di dalam mobil itu. "Cepat masuk!"     **To Be Continue**      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD