Anak Manja

1042 Words
"Hanya ini yang diberikan padamu?" "Ya ampun! Mengapa Papa tidak mempercayaiku? Apa aku harus membuka bajuku di depan Papa agar Papa percaya padaku?" "Kalau begitu buka bajumu!" "Sayang!" Mama Bryan mencoba memprotes suaminya saat pria itu dengan tega menyuruh putranya membuka bajunya di hadapan mereka. "Ini salahku. Bryan sama sekali tidak meminta uang padaku. Aku yang memberikannya padanya." "Itulah mengapa aku tidak suka jika kalian terlalu sering menghabiskan waktu bersama! Kau selalu memanjakannya! Kau tidak pernah mendukungku untuk menjadikannya seorang pria dewasa yang bertanggungjawab!" Papa membentak Mama sementara Bryan hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia berlutut di hadapan Papa sambil mengangkat kedua tangannya yang terkepal tinggi-tinggi. Terlihat kekanakan, namun Papa selalu menggunakan cara ini untuk menghukum Bryan sejak pria itu masih sangat kecil. "Kau! Apa kau tidak malu terus berada di bawah lindungan mamamu di usiamu sekarang ini?" "Maafkan aku, Papa." "Kau tahu, Papa Ara mempercayakan putri kesayangannya padamu karena dia pikir kau adalah pria dewasa yang baik. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika dia melihat bagaimana kau bermanja-manja pada mamamu hari ini. Disuapi es serut dan menerima uang jajan darinya. Itu benar-benar memalukan!" Bryan mengangkat wajahnya, namun Mama yang berdiri selangkah di belakang Papa memberi isyarat agar ia kembali menundukkan kepalanya. Tidak ada gunanya membela diri saat Papa sedang marah seperti ini. Yang perlu Bryan lakukan hanyalah terus menundukkan kepalanya, menerima amarah papanya itu sambil diselingi kata-kata 'maafkan aku'. "Kupikir aku berhasil menjadikanmu pria dewasa saat mengirimmu sekolah ke luar negeri. Kau berhasil selama di sana. Kau hidup mandiri, melakukan berbagai pekerjaan untuk bertahan hidup dan belajar dengan rajin. Tapi begitu kau kembali ke negaramu dan bertemu teman-teman lamamu, kau kembali lagi ke kehidupan lamamu sebagai anak manja. Kau menghabiskan uang yang kau kumpulkan dengan susah payah untuk bersenang-senang dengan teman-temanmu!" Sesuatu di dalam d**a Bryan bergejolak. Tidak semua yang Papa Bryan tuduhkan itu benar. Hidupnya tidak selalu mudah hanya karena ia adalah putra tunggal dari keluarga kaya ini. Ia justru harus belajar lebih rajin dan bekerja lebih keras dari anak-anak lain yang seusia dengannya karena beban tanggung jawabnya sebagai calon pewaris tunggal. Namun semua hal yang bisa diingat oleh papanya untuk diungkit di situasi seperti ini hanyalah sisi buruknya saja. Bryan sudah hampir bersuara untuk membela dirinya saat melihat wajah memohon mamanya yang mengisyaratkan agar dirinya terus diam. "Maafkan aku, Papa." "Dan masalah pernikahanmu... Kau tahu, Papa masih sangat marah padamu! Kau pikir ini hanya pernikahan perusahaan? Kau pikir Papa menikahkanmu dengan Ara hanya karena latar belakang keluarganya?" ‘Memangnya apa lagi? Tidak mungkin dia akan memaksaku menikah dengan wanita manja itu jika ia hanya anak petani.’ Itu sesuatu yang hanya bisa Bryan gemakan di dalam hatinya. "Ara itu wanita yang sangat istimewa! Dia belum tersentuh kehidupan keras yang kejam. Dia sangat dijaga, sangat murni. Di mana kau bisa menemukan wanita seperti itu di zaman yang mengerikan seperti ini?" ‘Dia itu wanita manja. Wanita bodoh yang bahkan tidak tahu caranya suit. Penakut. Manja. Menyebalkan. Manja. Berisik. Banyak maunya. Manja. Manja sekali!’ Bryan terus menyangkal ucapan papanya dalam hatinya. "Kau..." Bryan mengangkat wajahnya terkejut saat papanya mencengkeram kerah kemejanya. "Kau tidak tahu bagaimana perasaan orang tua yang kehilangan anaknya itu. Papa dan Mama Ara, mereka pasti melalui hari-hari panjang yang menyedihkan dan sepi tanpa putri kesayangan mereka. Melihatmu masih bisa tertawa menikmati es serut saat calon istrimu menghilang entah ke mana benar-benar membuatku sangat marah." Papa Bryan melepas cengkeramannya lalu berkata dengan suara yang lebih dalam. "Jika sesuatu terjadi pada Ara, aku tidak akan mau melihat wajahmu lagi!" Papa Bryan meninggalkan ruangan itu dengan langkah-langkah lebar. Mama segera menghampiri Bryan yang masih berlutut. "Kau pasti terkejut, ya? Tidak apa-apa. Kau tahu papamu selalu begitu saat marah. Dia hanya sedih melihat keluarga Ara yang masih belum menemukan anak itu dan melampiaskan perasaannya dengan marah padamu. Kau tidak usah memasukkannya ke dalam hati." Bryan bergeming. Kedua tangannya yang sejak tadi terangkat kini berada di kedua sisi tubuhnya, masih dengan terkepal erat. "Ini. Bawa ini bersamamu dan jual semuanya." Mama Bryan berkata sambil melepas gelang-gelang dan cincin-cincin yang dipakainya. "Mama..." "Tidak usah pedulikan papamu. Apa gunanya memiliki banyak harta jika Mama harus melihat anak semata wayang Mama hidup menderita?" Mama menyelipkan perhiasannya itu di telapak tangan Bryan, namun pria itu dengan cepat menarik tangannya. "Mama!" Bryan berseru keras. Nada tingginya hampir sama seperti saat ia membentak Ara hingga membuat wanita itu menangis. "Lupakan saja! Tidak perlu seperti ini lagi." Bryan bangkit dan segera berjalan pergi, membuat perhiasan mamanya itu berhamburan di lantai dan menimbulkan bunyi dentingan yang cukup keras. Papa yang diam-diam mengawasi keduanya hanya menyaksikan semua itu dengan wajah tanpa ekspresi. "Es serut ini..." gumam Papa saat melihat dua bungkus es serut di meja makan. "Pelayan! Cepat buang es serut ini!"   ***   "Ya ampun!" Ara yang sedang menyiapkan makan siang untuk dirinya sendiri terkejut hingga menjatuhkan sendoknya saat pintu tiba-tiba terbuka dan membentur dinding dengan keras. "Oi! Apa-apaan itu?” "Pergi!" Bryan berkata dengan suara mendesis setelah berdiri di hadapan Ara. Wajahnya yang memerah itu tampak sangat marah "Bryan..." Ara yang sebelumnya masih bisa berseru keras pada pria itu kini hanya berani menyuarakan nama Bryan dengan lirih. Ia memundurkan tubuhnya, merasa sangat ketakutan saat Bryan melangkah mendekatinya. "Seistimewa itukah dirimu? Mengapa aku harus menikah dengan wanita manja yang tidak berguna sepertimu?" desis Bryan. Gigi-giginya saling menekan dengan kuat di dalam mulutnya. "Bukan hanya bagi orangtuamu, bahkan juga papaku. APA KAU YANG TIDAK BISA MELAKUKAN APA-APA INI SANGAT ISTIMEWA?!" Ara bahkan tidak bisa bersuara lagi, ia hanya bisa berdiri di atas kedua kakinya yang gemetar sementara kedua tangannya berpegangan pada tepian tempat cuci piring untuk menahan tubuhnya agar tetap berdiri di hadapan Bryan. Seumur hidupnya ia dibesarkan seperti seorang putri. Tidak ada yang pernah berkata dengan nada tinggi padanya, tidak ada yang pernah membentaknya. Tidak ada, sampai ia bertemu dengan OBryan, calon suami yang sering membentaknya dan membuatnya menangis ini. "Aku tidak akan peduli lagi padamu. Pergilah! Kali ini kau harus benar-benar pergi sangat jauh, sangat sangat sangat jauh hingga aku tidak perlu melihatmu lagi!” Ara bahkan tidak sadar saat Bryan mendorong tubuhnya keluar. Ia baru bisa mengedipkan kedua matanya saat Bryan membanting pintu di depan wajahnya. Satu pengalaman buruk lagi yang Bryan tinggalkan dalam memori wanita itu. "Apa... Apa yang telah kulakukan hingga dia semarah itu?"       **To Be Continue**    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD